
Happy Reading 🌹🌹
"Kenapa kamu masih di perusahaan?" Tanya Bara dengan wajah datar kepada Jundi.
"Ini hari Senin, jadi benar saya berangkat bekerja tuan." Jawab Jundi pura-pura lupa.
"Bukankah kamu ingin liburan?" Tanya Bara lagi.
"Setelah saya pikir, saya tidak memerlukan liburan Tuan." Jawab Jundi dengan yakin.
"Kamu yakin? Aku akan memberikanmu waktu libur terpanjang." Tawar Bara kepada asistennya.
"Tidak, Tuan. Terima kasih." Jawab Jundi.
"Aku akan meminta pihak HRD membatalkan membuka lowongan asisten pribadi untukku." Ucap Bara yang mengambil ponselnya.
Jundi terlihat shock mendengar ucap Bara. Bara yang melihat wajah kaget dari Jundi membuat dirinya mengulu*m senyum.
"Apa jadwalku hari ini?" Tanya Bara.
"Se-sebentar."
Jundi membuka tabletnya dengan tangan gemetar, membuat Bara tertawa pelan melihatnya.
"Jadwal hari ini ada pembahasan kerjasama dengan perusahaan Wijaya, Tuan." Lapor Jundi dengan suara gugupnya.
"Baiklah, ayo kita ke sana."
Bara segera bangkit dari duduknya dan berjalan melewati Jundi, terlihat Jundi menghela nafas lega dan menyeka sedikit keringat yang muncul di keningnya.
Jundi mengendarai mobil menuju perusahaan Wijaya, selama perjalanan Bara mengevek pekerjaannya di tablet.
"Kenapa kamu tidak menjemput Alice hari ini?" Tanya Bara kepada Jundi.
"Nona Alice tidak ada di tenpat biasanya Tuan, sepertinya Nona Alice naik bis atau taxi." Jawan Jundi jujur.
Bara terlihat menganggukkan kepalanya paham, ingin sekali Bara meminta nomor ponsel pribadi Alice namun seperti biasa Alice menolak dengan alasan dapat menunggunya di dekat halte bis di jam pagi.
Tidak membutukan waktu lama, Bara dan Jundi telah sampai di perusahaan Wijaya. Para karyawan yang sudah tahu hubungan kedua perusahaan tidak heran lagi kedatangan bara yang suka wara wiri di perusahaan Wijaya.
Bara berjalan dengan di iringi Jundi di sampingnya, hawa yang menguar di tubuh mereka berbanding terbalik jika saat hanya berdua saja yang lebih sering bertengkar seperti kakak dan adik.
Pintu lift terbuka Bara dan Jundi segera menaikinya untuk menuju ruangan Ken, hingga lift berhenti dan kembali terbuka pintunya karena sudah sampai di tempat tujuan.
Segera Bara berjalan keluar menuju ruangan Kenan, meja kerja Alice kosong menoleh ke arah kiri ruangan Ken terbuka lebar dan terdengar suara orang bertengkar dari dalam.
__ADS_1
Bara dan Jundi sangat familiar dengan suara tersebut, ya itu suara Alice dan Kenan.
"Bukankah kamu lulusan dari luar negri, bahkan lulusan terbaik di universitasmu. Itu hal mudah untuk otak kecilmu." Kata Ken sedikit menyindir Alice.
"Lulusan terbaik jika belum memiliki pengalaman ibarat kamu mengisi air dalam gelas berlubang Kenan Wijayakusuma." Ucap Alice penuh penekanan kepada Kenan.
"Maka belajarlah, aku membutuhkan pegawai yang kompeten bukan pemalas belajar sepertimu." Sentak Ken dengan tajam.
"Pemimpin harusnya dapat memberi contoh yang baik dan benar kepada pegawainya, bukan hanya menyuruh tanpa memberi contoh sepertimu!" Seru Alice dengan nafas memburu.
"Dengan satu syarat." Kata Ken bersandar di punggung kursinya.
"Syarat?" Beo Alice.
"Mengandunglah anakku." Ucap Ken tanpa bercanda.
Bara dan Jundi yang mendengarnya dari luar terpaku, apalagi Bara yang sudah mengepalkan kedua tangannya di samping.
"Bedebah sia*lan." Umpat Bara dalam hati.
Alice tertawa sinis, "Ken, aku harap kamu tidak lupa apa yang kamu ucapkan kepadaku waktu pertama kali kita resmi menikah. Kamu bahkan jijik menatapku, berdekatan denganku, apalagi mengandung anakmu. Pernikahan ini tidak lebih dari bisnis Kenan Wijayakusuma, aku juga tidak sudi mengandung anak untuk untukmu untuk keluargamu." Jawab Alice panjang lebar dan tegas.
Brak!
"Ingat Alice, aku suamimu dan berhak untuk mendapatkannya meski kamu suka dan tidak suka, sudi dan tidak sudi, bahkan aku dapat memintanya meski bertindak kasar." Ucap Ken yang sedikit mengancam Alice.
Sekali lagi, Bara di tampar oleh kenyataan. Ada sesuatu yang retak dan pecah namun tidak dapat di lihat orang lain. Hanya dirinya ... Hanya Bara yang dapat merasakannya.
Jundi menoleh ke arah bosnya, terlihat wajah Bara yang setenang air namun terlihat guratan kesedihan di sana.
"Turut berduka Tuan, semoga Tuan mendapatkan wanita yang masih singel." Do'a Jundi dalam hati.
"Jika itu terjadi, kau pria yang paling aku benci di dunia ini Kenan!" Tegas Alice.
"Jadi selama ini Alice dan Kenan adalah suami istri. Lalu kenapa mereka seperti orang asing." Gumam Bara dalam hati.
Bara langsung berjalan pergi meninggalkan area ruangan Kenan, Jundi segera menyusulnya dengan sedikit berlari karena langkah Bara yang lebar.
Segera Bara menaiki lift dan memencet nomor lantai satu, Ferdy yang sejak tadi hanya mengintip merasa jika apa yang dia curigai selama ini benar adanya.
Bahwa Bara telah jatuh cinta kepada Nona Muda mereka yaitu Alice, "Hah! Ya Tuhan ini akan semakin rumit." Ucap Ferdy pelan.
Kini Bara telah sampai di lantai satu dan segera berjalan keluar meninggalkan perusahaan Wijaya.
"Tuan, kita tidak jadi pergi rapat." Tanya Jundi basa basi meski terkesan bodoh daripada tidak bicara sama sekali.
__ADS_1
"Kembali ke perusahaan." Ucap Bara dingin.
Jundi menghela nafas, Bara kembali menjadi seperti sedia kala. Kaget? Tentu saja, Jundi juga kaget mengetahui kenyataan jika Alice adalah istri dari Kenan Wijaya.
Salah Jundi juga tidak menyelidiki latar belakang Alice untuk Bara, karena dari situasi dan kondisi Alice yang tidak menggambarkan ada hubungan dengan Kenan.
Bara langsung masuk ke dalam mobil begitu juga Jundi, mobil mereka keluar dari basement menuju perusahaan Santosa.
Bara terlihat membuang pandangannya ke luar jendela dengan berfikir langkah apa yang harus dia lakukan saat ini, ingin sekali Bara mempersunting Alice untuk dirinya.
Kenyataannya, wanita yang dia cintai adalah istri dari sahabatnya sendiri. Apakah salah jika Bara merebut Alice dari sisi Kenan, mengingat ucapan Alice jika itu hanya pernikahan bisnis.
"Jundi." Panggil Bara pelan.
"Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Jundi.
"Kumpulkan aemua informasi tentang Alice tanpa terlewat sedikitpun." Jawab Bara dengan suara bassnya.
"Baik, akan segera saya laporkan secepatnya." Kata Jundi cepat.
"Antarkan aku pulang." Ucap Bara lagi.
Jundi melihat Bara dari kaca spion tengah, terlihat wajah Bara yang sedih dan orang patah hati.
"Baik."
Jundi hanya dapat menuruti permintaan Bara, terlihat mobil hitam melaju cukup kencang memasuki area mansion yang mewah di mana salah satu pemiliknya adalah Kakek Santosa.
Dari kejauhan penjaga yang melihat mobil Bara segera membukakan pintu, mobil menyalakan lampu utama seakan berkedip untuk mengucapkan terima kasih.
"Kita sudah sampai tuan." Ucap Jundi yang melihat Bara memejamkan kedua matanya.
"Kembalilah ke kantor. Aku akan libur hari ini." Kata Bara yang kemudian keluar dari mobil.
Jundi belum menyalakan mesin mobil, dirinya lebih khawatir dengan keadaan Bara saat ini. Terlihat Bara membuka dasinya dengan kasar bahkan jas yang dia kenakan di sandarkan pada sofa.
Jundi memungutinya satu per satu dan segera membawanya ke belakang kepada maid yang bertugas mencuci pakaian.
Cklek!
Terdengar suara pintu kamar terbuka dan tertutup, Bara melemparkan dirinya di atas kasur king size miliknya.
Menatap langit-langit dan menghela nafasnya panjang, "Apa yang harus aku lakukan Alice, apa kamu senang jika membuatmu berpisah dengan Kenan." Ucap Bara pelan.
...🐾🐾...
__ADS_1