
Happy Reading 🌹🌹
Tok
Tok
Tok
Terdengar ketukan di ruangan Bara.
"Masuk!" Teriak Bara.
Pintu terbuka, masuklah Ferdy bersama Jundi yang bersembunyi di balik punggungnya.
Terlihat Bara memutar kursi ke depan setelah menunggungi pintu masuk, "Ada apa?" Tanya Bara tanpa basa basi.
"Maaf Tuan, saya ingin meminta tanda tangan untuk berkas proyek." Jawab Ferdy yang berjalan ke arah meja Bara.
Jundi juga ikut berjalan namun ke arah lain, Bara yang tahu kehadian Jundi bersuara.
"Berhenti."
Seketika langkah Jundi berhenti dengan tubuh kaku, "Mampus kau Jundi." Umpatnya dalam hati.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" Tanya Bara dengan suara deepnya.
Jundi menutar tubuh dan berdiri tegap, "Hehe, tidak ada Tuan, saya hanya ingin menyelesaikan pekerjaan saja." Jawab Jundi tersenyum kaku.
"Keluar." Ucap Bara.
"Ampun... Ampun, Tuan." Rengek Jundi pada Bara.
Bara hanya berdecih, "Kau tadi membohongiku dan sekarang kamu seperti korban kejahatan." Kata Bara sinis.
"Maaf." Cicit Jundi.
"Keluar! Jangan membuatku semakin marah." Kata Bara.
Jundi tertunduk lesu, "Baiklah. Bye Ferdy, bye Tuan Bara." Pamit Jundi seperti tereliminasi dari sebuah ajang pencarian bakat.
Baik, Bara maupun Ferdy hanya memutar bolanya malas. Jundi memang terkenal lebay jika di depan orang yang sudah akrab salah satunya Ferdy asisten dari Kenan.
Jundi melangkah pelan dengan sesekali melirik ke arah meja Bara berharap dirinya di hentikan, namun naas hingga mencapai pintu Bara tidak berkata apapun.
"Berikan dokumennya, di sebelah mana harus aku tanda tangani?" Tanya Bara pelan.
" Sebelah sini, sini, dan sini."
Ferdy menunjukkan tiga tempat yang memerlukan tanda tangan basah milik Bara, segera Bara menandatangani berkas tersebut dengan cepat.
"Terima kasih, jika begitu saya langsung kembali ke kantor." Pamit Ferdy kepada Bara.
"Emm, salam untuk Paman Kalevi." Jawab Bara.
Ferdy mengangguk dan turun berjalan menuju pintu, Ferdy berhenti sejenak di depan Jundi yang masih berdiri tidak jauh dari pintu keluar.
__ADS_1
Puk... Puk
"Fighting!"
Ucap Ferdy yang melakukan hal sama saat Jundi menyemangatinya satu minggu lalu.
Sepeninggalan Ferdy, Bara menyandarkan punggung di kursi kebesarannya dengan bersedekap dada.
"Kenapa kamu belum keluar?" Tanya Bara dingin.
"Oh, saya jadi keluar." Ucap Jundi pura-pura bodoh.
Bara menatap datar namun tajam ke arah Jundi, otak Jundi mencari cara licik, segera dirinya merogoh kantung celana dan pura-pura menelfon.
"Halo, Nona Alice?"
Bara langsung menegakkan duduknya dengan wajah terkejut, Jundi melirik ke arah Bara dengan tersenyum miring.
"Saya sudah mengirimkan semua hasil proyek ke email."
Jundi semakin memorovokasi keadaan.
"Tuan Bara? Hah, Tuan Bara pergi bermain golf selama seminggu ini dan hanya aku yang bekerja. Hiks."
Dengan membuka pintu ruangan Bara, Jundi berjalan keluar namun tidak menutup pintu dengan rapat.
Bara yang mendengar jika Jundi menjelekkannya merasa tidak terima, segera langkah lebarnya berjalan mengendap ke arah pintu dan menguping pembicaraan Alice dan Jundi.
"Terima kasih, Nona. Aku ingin makan siang dengan Nona Alice saja apakah boleh?"
"Apa! Makan malam? Tentu saja saya sangat setuju Nona, apa perlu saya mengajak Tuan Bara?"
"Alice mengajakku makan malam?" Gumam Bara yang berbinar senang.
"Oh begitu, aku setuju. Yang bekerja keras harus yang mendapatkan hadiah Nona. Jadi hanya kita berdua yang makan malamkan Nona?"
"Hati-hati di perjalan Nona Alice."
"Apa! Si*al Jundi, kenapa dia tidak mempertahankan aku agar di ajak makan malam bersama Alice." Umpat Bara.
Jundi menutup telfonnya dan berlalu dari depan ruangan Bara. Berjalan cepat ke arah tangga darurat dan mulai meledakkan tawanya.
"Tau rasa kamu Tuan, huh! Anda yang jatuh cinta kenapa orang lain terkena imbasnya." Omel Jundi yang berbicara di depan tembok.
Bara yang mendengar suara langkah kaki menyembulkan kepalanya keluar, ingin rasanya memanggil Jundi namun dirinya gengsi lantaran sudah memarahinya dengan keren namun harus luntur lantaran rasa penasaran dengan Alice.
"Huh, enak saja ingin makan malam dengan wanitaku." Omel Bara.
*
*
*
Suara bersin terdengar beberapa kali dari wanita cantik yang kini menyeret koper besar.
__ADS_1
"Hakcing... Hakcing... astaga siapa yang membicarakanku." Ucap Alice pelan dengan menggaruk hidungnya yang gatal.
Ken hanya tersenyum dan menggeleng, "Apa hubungannya bersin dengan orang yang membicarakanmu sayang." Ucap Ken.
"Aku juga tidak tahu, aku hanya membaca novel saja." Jawab Alice jujur.
Ken tertawa mendengar jawaban polos dari istri cantiknya, "Kita makan dulu sebelum pulang ke mansion." Ucap Ken.
Alice mengangguk saja menuruti ucapan suaminya, Ken memutuskan makan siang di dalam bandara lantaran lebih efisien tentang waktu dan juga untuk beristirahat sejenak.
Ken menggandeng Alice menuju tempat makan cepat saji, "Duduk di sini dulu, kamu ingin makan apa?" Ucap Ken dengan meletakkan kopernya.
"Ayah goreng bagian paha, kentang goreng, softdrink dan satu hamburger doubel chees." Jawab Alice dengan semangat.
Ken sedikit kaget dengan pesanan Alice sebanayak itu, "Yakin habis?" Tanya Ken memastikan.
"Yakin, cepat pesanlah Mas. Keburu habis nanti." Ucap Alice.
"Baiklah, tunggulah di sini." Kata Ken.
Ken berjalan menuju antrian para pembeli yang lain , selangkah demi selangkah. Dirinya melihat ke arah Alice terlihat istrinya yang tengah menataonya.
Ken melambaikan tangannya dan di balas oleh Alice, "Hahaha, lucunya suamiku. Kenapa aku merasa jadi ABG." ucap Alice.
Kepala Ken menatap sekeliling bandara karena masih beberapa antrian di depan, hingga tubuhnya terpaku di tempat dirinya menatap seorang wnaita yang sangat familiar bahkan dalam kehidupannya.
Deru jantung Ken berdetak tidak beraturan, seolah ruangan sebesar bandaran tidak ada oksigen. Wanita itu juga menatap lekat ke arah Ken.
Ingin rasanya Ken berlari namun kedua kakinya seakan terpaku di tempatnya berpijak, suaranya hilang ketika akan memanggil.
Hingga suatu benda menyentuh kakinya membuat Ken tersikap, seorang anak kecil berlari mengambil bola di dekat kaki Kenan.
"Maaf paman." Ucap anak kecil tersebut.
"Tidak apa-apa, ini bolamu." Kata Ken dengan menyerahkan bola karet.
"Ah, terima kasih. Maafkan putraku Tuan." Ucap seorang ibu paruh baya.
"Tidak apa-apa Nyonya." Jawab Ken.
Ken mengelus kepala anak kecil tersebut dengan lembut dan mulai berdiri lagi. Kini gilirannya, Ken seakan lupa apa yang di pesan oleh Alice.
Akhirnya, Ken memutuskan memesan semua menu satu per satu. Sembari menunggu Ken kembali melihat ke arah bandara di mana wanita yang sangat dia kenal berada namun nihil tidak ada wanita itu.
"Sadarlah Ken, dia sudah bahagia." Ucapnya dalam hati.
Tanpa Ken dan Alice sadari seorang wanita menatap jauh dari keduanya dengan pandangan sedih.
"Aku kembali Ken. Aku kembali." Ucapnya lirih.
...🐾🐾...
__ADS_1