
Happy Reading 🌹🌹
Hari ini Ken dan Alice di antar oleh sopir perusahaan Wijaya. Terlihat Ken melirik Alice yang duduk di sampingnya tengah memperbaiki make up.
Terlihat Alice memoleskan lipstic yang sedikit hilang karena sarapannya pagi ini, seringai tipis muncul di bibir Ken.
"STOP!"
Ken berteriak hingga sang sopir yang tengah menyetir mengerem mendadak, membuat ketiganya terhuyung kedepan termasuk Alice.
"Ada apa tuan?" Tanya sang sopir cepat dengam menoleh ke arah belakang.
Ken beraedekap dada memandang Alice yang masih terlihat kaget membuat Ken menjagi gemas.
"Ada apa?" Tanya Alice heran.
"Keluar." Ucap Ken.
"Baik tuan." Jawab sang sopir cepat.
Terlihat sang sopir akan membuka seat belt miliknya, namun Ken kembali bersuara.
"Bukan kamu. Tapi dia." Tunjuk Ken pada Alice menggunakan dagunya.
Alice terperangah bagaimana ada manusia seperti pria yang sekarang menjadi suaminya. Alice pikir kejadian senalam membuat Ken sedikit berbaik hati dengannya dengan memberi tunpangan hingga ke kantor.
"Nona Alice?" Ucap sang sopir yang kaget.
"Hemm, cepat keluarlah. Ini sudah 500 meter jaraknya dari mansion."
Ken berucap sembari menggerakkan tangannya mengusur Alice dari dalam mobil.
Alice mendengus kesal, dengan kasar memasukkan alat make up miliknya ke dalam tas dan keluar dari mobil.
Blam!
__ADS_1
Pintu mobil terdengar tertutup keras, Alice menyalurkan rasa kesalnya dengan pintu mobil yang tidak bersalah.
Alice menatap nanar mobil yang mulai melaju namun terlihat lampu merah menyala karena mengerem, menandakan jika mobil berhenti.
"Syukurlah dia tidak serius dengan ucapannya." Ucap Alice dengan tersenyum lebar.
Mobil hitam tersebut mundur dengan cepat ke arah Alice, terlihat pintu kaca belakang di buka ada Ken yang tengah menatapnya.
"Aku tidak mau naik mobilmu." Ucap Alice berbohong.
Ken berdehem karena tahu Alice berbohong. Terlihat dari wajahnya yang terlihat senang berbanding terbalik dengan ucapannya.
"Jangan pede, aku hanya ingin megatakan jika lipstikmu belepotan." Jawab Ken dengan senyum mengejek.
Mobil yang di tumpangi Ken benar-benar pergi seletah mengatakan hal tersebut kepada Alice.
Alice masih terperangah di tempatnya, dan segera mengeluarkan kaca untuk mengecek apakah benar ucapan Kenan.
"Ini juga karena ulahmu!" Kesal Alice.
Alice mengusap pipinya dengan tisu basah yang dia bawa, ngusap dan membenarkan make upnya. Alice lesal mengingat kejadian Ken meminta sopir berhentu mendadak pasti Ken memang sengaja melakukannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, sebuah sepeda motor yang di kendarai oleh seseorang berjaket dan helm ijo mendekat ke arah Alice.
"Atas nama Alice." Tanyanya.
"Benar." Jawab Alice.
Pengendara tersebut menyerahkan satu helmbyang sama dikenakan olehnya, segera Alice memasang jelm di kepala dan naik ke jok belakang.
Alice yang mengenakan rok span sedikit risih karena saat duduk di jok terangkat cukup tinggi.
"Seperinya mulai besok aku harus memakai celana panjang terus." Gumam Alice dalam hati.
Transportasi roda dua tersebut segera bergerak menuju titik tujuan yang muncul pada layar hp pengendara motor.
__ADS_1
Terlihat banyak mobil bergerak seperti ulat karena jam pagi hampir semua menggunakan kendaraan pribadi, terlihat mobil Ken dan Bara yang berselisihan namun penumpang sibuk dengan gandget masing-masing.
"Wah, Non sepertinya macet." Ucap tukang ojek.
"Bisa nyalip-nyalipkan pak? Kita kan pakai motor." Jawab Alice.
"Bisa sih Non, tapi Non pakai rok seperti itu bagaimana jika jatuh." Jelas tukang ojek.
"Saya pegangan pak." Ucap Alice.
"Baiklah jika begitu, pegangan yang erat ya Non. Besok-besok pakai celana panjang saja." Kata tukang ojek.
"Iya pak."
Alice melingkarkan kedua tangannya pada perut tukang ojek yang sudah cukup berumur tersebut, terlihat tukang ojek dengan lihat menyalio di antara celah mobil-mobil mewah.
Hingga akhirnya motor berhenti karena sudah tidak ada celah lagi, "Gimana pak?" Tanya Alice.
"Non kita bersabar dulu, di depan benar-benar macet tidak ada celah lagi." Jawab tukang ojek.
Tanpa di sadari oleh Alice, kedua pria dari dalam mobil berbeda tengah menyincingkan kedu matanya karena sopir mereka menunjuk ke arah Alice.
"Tuan, bukan kah itu Nona Alice?" Tunjuk Jundi dan sopir Ken secara bersamaan (tidak sengaja)
Baik Ken dan Bara meletakkan tabletnya dan melihat ke arah seseorang yang di tunjuk oleh sopir mereka, terlihat kaki jenjang Alice yang ter ekspose hingga memperlihatkan paha mulusnya yang putih.
Tubuh Alice yang sangat menempel dengan pengendara motor sembuat keduanya kesal dan geram secara bersamaan.
"Tuan, mau kemana?" Tanya Jundi yang melihat Bara keluar.
"Aku akan mengajak Alice untuk berangkat bersamaku." Jawab Bara yang sudah membuka pintu mobilnya.
Secara bersamaan lagi, pintu mobil Ken juga terbuka hingga keduanya kaget dan saling memandang.
"Bara... Kenan!" Ucapnya.
__ADS_1
Hingga bunyi klakson yang saling menyahut memaksa mereka harus kembali masuk, terlebih sudah tidak ada Alice di depan mereka.
... 🐾🐾...