
Happy Reading 🌹🌹
Ken mengusap wajahnya dengan kasar setelah mendengar ucapan Ferdy, "Kenapa aku begini." Ucap Ken dengan menjambak rambutnya frustasi.
Ken menghela nafasnya panjang, "Aku harus pulang agar tidak membuat Alice sakit hati."
Segera Ken berjalan keluar yang sebelumnya sudah menelfon bagian penjaga untuk menyiapkan mobilnya, segera kaki lebarnya melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai satu. Tidak membutuhkan banyak waktu Ken telah sampai yang kemudian berjalan menuju pintu utama.
"Tuan." Ucap penjaga dengan membukakan pintu depan.
"Terima kasih." Jawab Ken cepat dan melaju meninggalkan perusahaa.
Ken mengendarai mobil dengan kecepatan sedang mengingat jam makan siang banyak para karyawan yang tengah keluar untuk sekedar membeli kopi, hingga kedua netra Ken menangkap sosok Selena yang tengah duduk seorang diri di halte bis.
Tanpa berfikir panjang, Ken segera menepikan mobilnya dan membunyikan klaksonnya hingga membuat Selena yang menundukkan kepalanya mengangkat wajahnya. Ken membuka kaca sedikit agar Selena segera masuk dengan memberi kode dari dalam.
Senyum Selena nampak tercetak sempurna di wajah cantiknya, segera Selena berjalan menghampiri mobil Kenan dan membuka pintu depan hingga keduanya duduk bersebrangan.
"Bukankah kamu akan pergi makan siang dengan Ferdy?" Tanya Selena to the pint.
"Tidak, aku hanya ingin pulang." Jawab Ken jujur.
"Lalu kenapa menyuruhku masuk?" Tanya Selena memiringkan kepalanya.
Ken memutar kepalanya menatap lekat wajah wanita yang duduk di sampingnya, wajah yang selalu dia rindukan setiap saat bahkan membuat Ken susah untuk move on, lamunan Ken buyar saat Selena menepuk pundak Ken dengan lembut.
"Oh, di mana rumahmu?" Tanya Ken yang langsung menghadap ke depan dan mulai menjalankan mobilnya.
"A-aku menumpang dengan temanku." Ucap Selena dengan menundukkan kepalanya.
Ken dengan cepat melihat ke arah Selena dengan tatapan yang sulit di artikan, hingga ponsel Ken berdering membuat pria tampan itu segera merogoh saku celananya. Nampak nomor istrinya Alice memanggil.
"Halo, sayang ada apa?" Ucap Ken di sebrang telfon.
"Tidak apa-apa hanya ingin menelfon saja, oh iya Mas sudah makan?" Tanya Alice dengan suara lembutnya.
Mendengar perhatian Alice membuat hati Ken merasa damai apalagi mendengar suara merdunya, "Belum, Mas akan pulang. Bisakah kamu memasakkan sesuatu untuk makan siang?" Jawab Ken lembut.
Alice tersenyum di sebrang sana, "Tentu saja Mas, baiklah hati-hati di jalan. Aku menunggumu di rumah." Kata Alice yang kemduain mematikan sambungan telfonnya.
__ADS_1
Selena yang mendengarkan percakapan kedua insan itu hanya dapat menahan gemuruh yang ada di dalam hatinya, melihat suara lembut dan perhatian Ken yang dulu untuknya kini harus terbagi dengan wanita lain.
"Itu istrimu?" Tanya Selena pelan dengan menahan emosinya.
"Iya." Jawab Ken singkat.
Selena hanya tersenyum getir mendengar jawaban Ken, padahal Selena berharap jika Ken tidak mengakui wanita sia*lan itu sebagai istrinya.
"Selamat atas pernikahanmu, aku tidak mendapatkan kabar jika kamu sudah menikah." Ucap Selena dengan lembut.
"Terima kasih, aku juga mengucapkan selamat atas pernikahanmu meskipun terlambat." Kata Ken dengan wajah datar yang masih fokus dengan jalan raya.
Selena menggigit bibir bawahnya dengan menahan perasaan sesak dan ingin menangis saat ini, Selena membuang pandangannya ke luar jendela mengingat pria bia*dap yang sudah menghancurkan hidupnya selama bertahun-tahun.
Ken hanya menoleh sekilas, ingin sekali bibirnya bertanya banyak hal namun melihat kegundahan hatinya di urungkan niatan tersebut, "Di mana alamat rumah temanmu, aku akan mengantarkanmu hingga depan." Tanya Kenan.
"Berhenti saja di jalan Merpati, rumah temanku harus masuk gang dan mobil tidak cukup." Jawab Selena.
Ken mengangguk dan segera melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi, Ken ingin segera pulang dan menjaga jarak dengan Selena karena mengingat Alice yang saat ini sudah sah menjadi istrinya. Tidak membutuhkan waktu lama mobil pribadi Ken telah sampai di jalan yang di maksud oleh Selena.
"Terima kasih, Ken."
Ken masih nampak terpaku di tempatnya, nampak masih shock dengan apa yang baru saja dirinya alami. Kedua netra Ken hanya menatap lekat punggung Selena yang menjauh memasuki gang kecil tersebut.
*
*
*
Di mansion Wijaya, nampak Alice tengah sibuk bersama beberapa maid untuk memasak makan siang Kenan. Alice memasak beberapa makanan kesukaan suaminya tersebut, bagaimana Alice bisa tahu tentu saja dari ketua maid yang sudah bertahun-tahun mengabdikan dirinya bekerja di keluarga Wijaya.
"Ah, akhirnya selesai. Terima kasih semuanya." Ucap Alice dengan senyum yang mengembang.
"Sama-sama Nona." Jawab maid serentak.
"Tolong siapkan di atas meja ya." Kata Alice lembut.
"Baik, Non." Jawab pada maid.
__ADS_1
Para maid segera meletakkan piring yang sudah berisi beraneka jenis sayur dan lauk pauk di atas meja makan, sedangkan Alice berjalan menaiki anak tangga untuk berganti pakaian. Akibat berkutat dengan masakan membuat bau masakan menempel di pakaian dan tubuh Alice.
"Aku harus mandi lagi." Gumam Alice pelan.
Alice berjalan dengan riang hingga ponselnya berdenting menandakan jika ada pesan masuk, tanpa rasa curiga Alice mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Kening Alice mengerut dalam dan alisnya bergelombang karena ada nomor asing yang menghubunginya.
"Siapa." Gumam Alice.
Alice segera membuka pesan tersebut, nampak kedua bola mata Alice bergetar dengan tangan kiri menutup mulutnya kaget, kedua kaki Alice perlahan mundur seakan tidak kuat menopang bobot tubuhnya, dengan tangan bergetar Alice meng zoom sebuah foto di mana suaminya tengah menjemput seorang wanita di halte bis dan juga foto di mana Ken di cium oleh wanita itu.
Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Alice, hingga kembali ada pesan yang masuk dari nomor yang sama.
DIA SUDAH KEMBALI ALICE, KAMU AKAN SEGERA DI SINGKIRKAN DARI SISI KENAN. HANYA DIA WANITA YANG DI CINTAI KENAN SEJAK DULU HINGGA SAAT INI.
Alice segera menghubungi nomor asing tersebut namun hanya suara operator yang dia dapatkan, kembali lagi mencoba meskipun harus menahan perasaan sakit, marah, dan penasaran.
"Tidak Alice, jangan percaya ini semua hanya jebakan untuk menghancurkan rumah tanggamu." Ucap Alice pelan namun air mata Alice tidak dapat di bendung.
Sebuah mobil mewah memasuki pelataran mansion Wijaya, Kenan keluar dengan terburu-buru. Nampak hidangan sudah tertata apik di meja makan segera kaki lebarnya melangkah menaiki anak tangga, mungkin istrinya tengah berada di dalam kamar.
"Sayang!" Ken berseru memanggil Alice.
"Ya, Mas. Tunggu sebentar." Jawab Alice dari dalam walk in closed.
Ken segera meletakkan jasnya di punggung sofa dan membuka dasinya juga dua kancing atas kemejanya. Hingga muncul sosok wanita cantik dan sexy yang membuat sekujur tubuh Ken meriang.
"Sa-sayang... gluk!" Tenggorokan Ken terasa tercekat saat melihat Alice keluar dari walk in closed dengan mengenakan baju haram.
"Ya, Mas." Jawab Alice mendayu sexy.
Alice berjalan mendekat ke arah suaminya membantu melepaskan dasi yang mengikat leher Ken sejak pagi hingga hampir sore hari, "Segeralah mandi Mas, Alice akan tunggu di meja makan." Jawab Alice sedikit berbisik di telingan Ken hingga membuat pria itu meremang.
"Dengan pakaian seperti itu?" Tanya Ken menyelidik.
"Hem... kenapa? Di mansion sepi." Jawab Alice dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Kenan membuat pria itu makin sesak bernafas.
Alice segera berjalan dengan mengenakan luaran piyama yang panjang dan berlalu dari kamar, menyisakan Ken yang masih terpaku pada tempatnya.
...🐾🐾...
__ADS_1