
Happy Reading 🌹🌹
Nampak gedung yang megah dan luas telah di sulap dengan cantik, bunga-bunga segar memenuhi setiap sudut ruangan, gelas-gelaskristal di susun menjadi sebuah menara di sudut kanan dan kiri.
Bagian depan nampak sangat lapang dengan pencahayaan yang lebih terang di banding bagian lainnya. Hanya ada satu meja untuk pendeta yang akan menikahkan dua insan anak manusia.
Kursi-kursi yang di balut dengan sebuah kain sutra dan pita besar di masing-masing kursi semakin mempercantik ruangan tersebut.
Meja bundar dengan enam kursi untuk para tamu undangan, di atas meja tidak luput dari kemewahan acara ini.
Karena pantulan lampu yang sedikit remang-remang membuat pantulan cahaya yang mengenai gelas dan peralatan makan di dalam ruangan seperti terdapat serpihan kristal.
Meskipun acara pernikahan hari ini di siapkan secara mendadak. Namun, tidak luput dari pantauan sang penyelenggara.
"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya Citra pada orang kepala WO.
"Sudah, Nyonya." Jawabnya.
"Bagus, pastikan semua berjalan lancar hingga acara selesai." Kata Citra yang kemudian melenggang pergi.
Hari ini adalah hari pernikahan Kenan dan Selena, sesuai dengan rencana awal. Keduanya menikah secepat mungkin sesuai keinginan Citra dan Selena.
Acara pernikahan keduanya dilaksanakan, di hotel mewah bintang lima. Tidak tanggung-tanggung dana yang di gelontorkan oleh Citra untuk pernikahan Kenan yang kedua.
Tidak seperti pernikahan Kenan dan Alice dulu, yang terbilang mewah namun kali ini dua kali lipatnya lagi.
Di salah satu kamar hotel, nampak seorang wanita tengah di rias oleh MUA dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajah cantiknya.
Selena, dia sangat bahagia karena sampai hari pernikahannya. Kenan tidak melakukan sesuatu hal seperti menggagalkan pernikahan mereka, hal itu membuat perasaan Selena menjadi tenang terlebih Kenan sudah menandatangani surat perceraian dua hari lalu.
"Aku ingin lipstik warna merah." Ucap Selena yang melihat ke arah MUA melalui cermin.
"Baiklah, Nona." Jawab MUA mengikuti permintaan costumernya.
MUA padahal sudah di brifing oleh Citra agar merias Selena se alami mungkin, agar orang-orang tahu jika menantunya sangat cantik terlebih tengah mengandung cucunya.
Akhirnya, MUA sedikit merombak make up Selena agar cocok dengan lipstik berwarna merah menyala. Memberi kesan mata yang tajam dan rahang yang tegas.
__ADS_1
Jemari yang lentik dan lincah terus memolehkan warna demi warna di wajah cantik Selena, memang Selena wanita yang cantik tak kalah dengan Alice.
Selain sibuk dengan riasan, penata rambut juga tengah sibuk di belakang Selena. Nampak pria yang kemayu iti tengah membuat sanggul kecil sesuai permintaan Citra.
Terus menata rambut Selena agar terlihat rapi dan cantik, tidak lupa di beri japit bunga-bunga kecil berwarna perak di sekeliling sanggul rambutnya.
Di sebelah kanan Selena, seorang wanita dengan mengenakan masker tengah duduk di kursi yang lebih rendah dari Selena.
Wanita itu dengan telaten tengah mengukir kuku Selena dan memberikannya kuku palsu yang sudah di pesan jauh hari oleh Citra dan Selena. Kedua wanita itu datang ke salah satu gerai di mall untuk memesan kuku palsu yang akan di kenakan saat acara pernikahan sehingga sangat cocok dengan gaun yang akan di kenakan.
Dengan tenang, Selena menerima semua perlakuan istimewa di hari pernikahannya dengan Kenan.
"Tujuanmu sudah di depan mata, Sel." Teriak Selena di dalam hati.
Berbeda dengan suasana kamar Selena, di kamar Kenan nampak lebih hening bahkan Kenan masih mengenakan kaos berwarna putihnya.
"Apakah kamu yakin, Fer?" Tanya Kenan yang tengah menatap pemandangan kota.
"Sangat yakin, Ken. Kita tunggu Rasyah sebentar lagi akan sampai." Jawab Ferdy dengan tenang.
Hembusan nafas kasar terdengar di bibir Kenan, "Aku akan membongkar semuanya hari ini." Ucap Kenan dengan geram.
"Tidak perlu, aku yakin Alice juga tidak akan sudi datang ke acara ini Fer. Kamu tahu bagaimana Alice jika sudah membenci sesuatu." Kata Kenan dengan tenang.
"Baiklah, lebih bagus seperti itu." Ferdy setuju dengan Kenan.
Hingga pintu kamar terbuka, Dokter Rasyah masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Wesh! Selamat untuk pernikahanmu Ken. Aku bingung bagaimana memanggilmu duda, calon duda, atau melepas masa duda?" Ucap Dokter Rasyah yang langsung merunah suasana ruangan.
"Kau!" Kenan melempar bantal ke arah Domter Rasyah dengan kencang.
Dokter Rasyah hanya tergelak, menangkap bantal putih yang empuk itu, dan duduk di samping Ferdy.
"Ana kemana?" Tanya Ferdy.
"Di sini." Tunjuk Dokter Rasyah di dadanya.
__ADS_1
Ferdy hanya memutar bolanya malas dan berdecak kesal, "Bucin." Umpatnya.
"Heleh, lebih baik aku bucin jelas memiliki kekasih. Daripada kau, sudah menyebalkan dan jomblo." Sungut Dokter Rasyah ke pada Ferdy.
"Cukup! Setiap kalian bertemu selalu membuat kepalaku pusing." Tegur Kenan dengan nada frustasi.
"Oh, iya. Di mana Bara?" Tanya Dokter Rasyah yang melihat sekeliling kamar.
Ferdy hanya menaikkan kedua bahunya saja, sedangkan Kenan tidak memperdulikan keberadaan salah satu sahabatnya itu.
"Semua sudah siap, aku harap kau tidak mengamuk saat acaramu berantakan." Kata Dokter Rasyah kembali.
"Aku hanya ingin mengungkapkan orang yang menjadi dalang di balik semua ini." Ucap Ken.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan kepada Selena? Kamu tahu sendiri kita tidak memiliki bukti jika kamu menidurinya atau tidak. Mungkin kamu harus tetap menikahinya sampai bayi itu lahir." Jawab Dokter Rasyah dengan wajah setenang air.
Tekat Kenan yang awalnya sebulat tahu bulat, kini tiba-tiba menjadi tempe yang letoy karena sudah dingin.
Ken dengan kasar mendudukkan dirinya di kasur, mencengkram rambut bagian belakangnya dengan kuat.
"Kau harus segera bersiap-siap untuk turun, sudah banyak tamu yang datang. Tidak mungkin mempelai wanita akan sendirian di altar pernikahan." Dokter Rasyah tertawa terbahak membayangkan jika benar seperti itu.
Ferdy yang awalnya diam ikut tertawa karena merasa konyol melihat Selena sendirian, sedangkan Kenam entah di mana.
"Puas-puaskanlah kalian tertawa, aku yang akan membuat kalian duduk sendirian di pelaminan kelak yang akan datang." Ucap Kenan dengan senyum menyeringai.
"Wah, sepertinya aku harus menyusul kekasihku sebelum ada duda yang mendekatinya. Hahahaha...." Dokter Rasyah berkata dengan meninggalkan kamar Kenan.
"Breng*sek." Ucap Kenan kesal.
"Cepatlah bersiap, bagaimana pun ini harus kamu lalui." Ferdy berkata dengan melihat arlojinya.
Dengan malas, Kenan beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah lemari hotel. Satu jas berwatna hitam dari brand ternama sudah tergantung di dalam sana.
Kenan segera mengenakannya dengan wajah dingin, ingin segera menyelesaikan semuanya dan mengejar kembali cinta sang istri.
...🐾🐾...
__ADS_1