
Happy Reading
Josh dengan wajah cemas dan marah terus menggedor pintu kamar mandi, meski sudah mendapatkan jawaban dari sang istri tapi tidak membuat perasaan cemasnya langsung tenang. Tanpa banyak berfikir, Josh mundur beberapa langkah dan berlari dengan lengan kanannya yang menabrak ke arah pintu.
Brak!
Satu dobrakan langsung membuat pintu kamar mandi terbuka dengan paksa, dengan nafas memburu. Josh menatap wanita yang tengah berjongkok dengan menggenggam sesuatu di kedua tangannya. Menelisik dengan wajah dingin dan marahnya, hingga membuat wanita itu berdiri dan menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.
"Serahkan." Pinta Josh dengan nada rendah.
Selena menggeleng cepat dengan kedua mata berkaca-kaca, dirinya sangat takut saat ini. Bagaimana jika suaminya marah atau hanya ketahukan dia saja.
Dengan kasar Josh menggapai lengan kanan Selena dan memutar setengah tubuh wanita yang berada di depannya, mengambil sesuatu di kedua tangan Selena dengan paksa. Membuka dan membaca apa yang tertulis di dalam bungkus itu.
Kedua matanya melebar menatap sejenak wajah wanita yang tampak ketakutan di depannya, kemudian membuka telapan tangan kirinya yang memegang suatu alat kecil nan panjang. Keningnya berkerut karena ada dua garis merah di sana, membuat Josh kembali membaca tulisan yang ada di bungkus.
"Beb, aku hamil." Ucap Selena dengan wajah bahagia, senyumnya menghiasi wajah cantiknya.
Selena melangkah ke arah Josh ingin memeluk pria tersebut, tapi dirinya terpaku kaget di tempatnya. Justru Josh berjalan mundur dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Ke-kenapa beb?" Tanya Selena terbata karena sedih melihat penolakan Josh.
"Siapa yang menyuruhmu hamil." Josh melontarkna pertanyaan dengan nada dingin dan rendah.
Mendengar ucapan Josh membuat hati Selena sakit, dia mencengkram kuat piyama tiurnya. Kedua matanya sudah berkabut karena sedih mendapatkan penolakan dari Josh.
"Bukankah kita selalu melakukannya hampir setiap hari, tentu saja konsekuensinya aku akan hamil. Apa kamu tidak bahagia memiliki anak denganku?" Tanya Selena dengan suara bergetar menahan tangis nya.
"Apa kamu tidak meminum vitamin yang aku berikan." Ucap Josh dengan masih nada yang sama.
Selena menggeleng pelan dengan menundukkan kepalanya, melihat jawaban dari Selena membuat Josh naik pitam. Dengan kasar pria itu melempar tespek dan mungkusnya ke arah Selena.
"Gugurkan." Perintah Josh tegas.
Kedua mata Selena membulat sempurna mendnegar ucapan Josh, dengan cepat dia mengangkat wajahnya dan menatap penuh luka ke arah suaminya.
"Josh, ini anak kita. Darah daging kita." Ucap Selena dengan sedikit nada tinggi.
Air mata yang sudah di tahan oleh Selena, lolos begitu saja mebasahi kedua pipinya. Josh menatap nyalang waita di depannya dengan kasar tangan kekar itu mencengkram rahang Selena hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Apa kamu membantahku, gugurkan atau aku yang akan melenyapkannya." Josh mengancam dengan berkata tapat di depan wajah Selena yang masih terus menangis.
Selena tidak dapat menggerakkan kepala ataupun bibirnya untuk menjawan Josh, kedua tangan rampingnya mencengkram pergelangan tangan Josh karena merasa rahangnya benar-benar sakit. Dengan kasar Josh mendorong Selena hingga punggungnya terbentur di dinding kamar mandi.
"Jika hari ini belum kamu gugurkan, jangan salah kan aku bertindak lebih." Ucap Josh yang langusng berlalu dari dalam kamar mandi.
Selena meneteskan air matanya, tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai. Tangis yang tersednat-sendat menjadi deras, tangisnya pecah begitu saja dengan lengan yang menutup kedua matanya tapi masih dapat melihat air matanya yang deras membasahi wajah cantiknya.
Dia menangis tergugu seorang diri di dalam kamar mandi, hatinya begitu sakit dan sesak saat ini. Bahkan udara di dalam ruangan itu seakan mencekik dirinya, Selena tidak pernah berfikir jika Josh dengan sangat amat tega menghilangkan nyawa yang tidak bedosa.
Bukan tanpa sebab jika Selena tiba-tiba takut dengan Josh, karena festis yang Josh miliki menyumbang rasa takut Selena. Tidak jarang pula, Josh ringan tangan kepadanya. Membuat Selena tiba-tiba takut jika melihat mimik wajah suaminya berubah.
__ADS_1
Mendengar barang pecah yang begitu keras membuat Selena menutup kedua telinganya, tubuhnya semakin gemetar ketakutan. Bukankah dalam pernikahan memiliki anak sesuatu yang lumrah, terkadang karena seorang anak dapat menyebabkan keretakan rumah tangga selain ekonomi. Lalu, kenapa suaminya begitu marah dan enggan memiliki anak. Apakah ada yang salah dengannya atau pernikahan mereka?
Sejuta pertanyaan berkeliaran di pikiran Selena, hatinya berkecamuk ingin mengetahui Josh yang sebenarnya. Dirinya diam hanya karena malas mencari keributan, lagipula juga sudah tidak memiliki keluarga. Jika dia pergi dari sisi Josh siapa yang akan menghidupinya? Dia bukan wanita mandiri dan tahan banting dengan segala keadaan, terbesit Selena ingin menghubungi mantan kekasihnya tapi dia urungkan. Apakah sudi Kenan akan menolongnya, apalagi mengingat kebencian Kakek Wijaya kepadanya.
Josh yang keluar dari dalam kamar mandi, berjalan cepat ke ruang tengah. Dia meraup wajahnya dengan kasar, tergambar jelas di wajahnya kemarahan yang sudah siap meledak. Kedua netranya menelisik ruangan itu, melihat vas bunga yang ada di beberapa sudut ruangan, dengan langkah lebar, dan tanpa berfikir panjang. Josh membantik semua vas bunga itu dengan penuh emosi di atas lantai hingga semua pecahannya berceceran dengan jarak yang jauh.
"Aaaa!" teriak Josh dengan menarik taplak meja hingga menjatuhkan apa saja yang berada di atas meja makan.
Dada Josh naik turun dengan cepat, menandakan betapa emosi dirinya saat ini. Josh berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan menjambak rambut belakangnya. Kedua matanya sudah memanas, perasaan takut, sakit, dan amarah menjadi satu.
*
*
*
Salju setiap jamnya semakin turun dengan lebat hingga malam menjelang, menutupi jalanan, dan berbagai benda yang berada di luar ruangan. Membawa hawa dingin semakin menusuk, membuat hidung dan pipi memerah menandakan betapa dinginnya malam ini.
Sunyi terpecah dengan suara langkah kaki berbalut sepatu kulit yang tengah berjalan menembus tebalnya salju di jalanan, terlihat dua orang tengah melakukan sebuah transaksi di dalam gang yang sepi dan kumuh. Memastikan barang asli dan segera menyerahkan sejumlah uang yang entah berapa jumlahnya.
"Thank you!" Ucapnya
"Senang berbisnis denganmu." jawabnya dengan memasukkan uang ke dalam jas tebal.
Di sebuah ruangan yang gelap, lembab, dan pengap. Seseorang wanita tengah meringkuk di sela-sela rak berisi barang yang sudah tidak terpakai lagi. Dengan mengenakan pakaian hangat, Selena bersembunyi dari suaminya.
Jam sudah menunjukkan waktunya josh pulang bekerja, yang berarti Josh akan mempertanyakan apakah Selena sudah melakukan aborsi. Memikirkan nya saja sudah membuat dia pusing apalagi jika benar harus kehilangan buah hatinya.
*Aborsi dilegalkan di Amerika Serikat melalui putusan hukum pada tahun 1973, yang sering disebut sebagai kasus Roe vs Wade. Pada Jumat (24/6) waktu setempat, memutuskan untuk membatalkan hak aborsi, *tidak ada lagi hak pemerintah federal untuk melegalkan aborsi. Sehingga, hak aborsi akan ditentukan oleh masing-masing negara bagian kecuali Kongres mengambil sikap.
Sekitar 57% dari aborsi yang dilaporkan pada tahun 2019 dilakukan pada wanita berusia antara 20 hingga 29 tahun.
Mayoritas negara bagian melaporkan data aborsi ke Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), tetapi beberapa lainnya tidak.
Rachel Jones, seorang peneliti senior di Institut Guttmacher, kelompok penelitian pro-aborsi mengatakan kepada BBC: "Pasien aborsi pada umumnya berusia 20-an tahun, tidak memiliki banyak uang dan memiliki satu atau lebih anak."
Penelitian lembaga tersebut menunjukkan bahwa 75% perempuan di AS yang melakukan aborsi diklasifikasikan sebagai berpenghasilan rendah atau miskin (berdasarkan definisi kemiskinan resmi AS).
Selena sudah mencari informasi terkait aborsi di negara asal sang suami terlebih di kota yang mereka tempati, beruntung tidak semua bagian negara Amerika melegalkan aborsi seperti negara bagian konservatif Midwestern menjadi negara bagian AS pertama yang melarang aborsi.
Josh yang tidak mendapati sang istri terus memanggil-manggil nama Selena dengan membuka semua ruangan yang ada di dalam apartemennya. Hingga, menyisakan satu ruangan yang memang sangat jarang dia sambangi. Perlahan Josh mendekat ke ruangan tersebut dan langsung membukanya dengan kasar.
Nampak, Selena kaget karena mendapati Josh yang sudah membuka pintu gudang selebar mungkin. Kening Josh mengkerut karena melihat istrinya yang tengah mencari sesuatu.
"Apa yang kamu lakukan, beby?" Tanya Josh lembut.
"Kamu sudah pulang beb, aku hanya mencari vas yang mungkin kita masih memilikinya beberapa di dalam gudang. Maaf aku tidak mendengar jika kamu sudah pulang." Jawab Selena berbohong.
Yang sebenarnya terjadi, Selena langsung berpura-pura mencari sesuatu saat suara langkah kaki Josh mendekat ke arah gudang. Memang seharusnya Selena lari saja atau bersembunyi di tempat lain menjah dari sang suami.
Helaan nafas terdengar kasar, "Maaf aku sudah memecahkan vas bunga di rumah, ayo kita beli di toko." Ajak Josh lembut.
__ADS_1
Selena menelan ludahnya susah payah, apakah Josh sudah melupakan masalah bayi yang ada di dalam kandungannya atau bagaimana? Seketika kepala Selena berdenyut memikirkannya.
"Baby, ayo!" Teriak Josh yang sudah menjauh dari gudang.
Selena lantas bangkit dan menepuk mantelnya beberapa kali agar debunya tidak menempal, Josh berjalan mendekat dengan membawa topi rajut dan tas jinjing milik nya.
"Kamu harus tetap hangat, aku tadi membeli vitamin untukmu sayang." Kata Josh dengan berjalan ke arah dapur setelah memakaikan topi rajut berwarna abu-abu.
Kedua mata Selena berkedip cepat, "vi-vitami? vitamin apa Josh?" Tanya Selena dengan kaget dan curiga.
"Tadi aku ke apotik dekat apartemen untuk membeli obat pusing dan aku ingat kamu pasti membutuhkan vitamin juga." Jawab Josh dengan memandang ke arah Selena.
Selena mengikuti arah pandang Josh, pandangan menuju arah perutnya. Secercah cahaya seakan menyinari hati Selena. Mungkin Josh hanya kaget dan terbawa emosi saja tadi pagi.
"Terima kasih." Ucap Selena dengan menerima dua tablet obat dan segelas air putih.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju pusat perbelanjaan, Selena terus tersenyum dan sesekali memandang ke arah Josh yang fokus di jalan raya. Hingga merasa perutnya perlahan terasa perih, hingga rasa sakit itu semakin intens menyerang punggung dan perut Selena.
"Awhsss!" Selena meringis dengan mencengkram handel mobil dengan kencang, kening nya sudah muncul butir-butir keringat, keningnya semakin berkerut dalam, wajah yang awalnya sedikit merona merah kini pucat, dengan bibir yang di gigit dengan dalam untuk menyalurkan rasa sakitnya.
"Beb." Panggil Selena dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Tahan sebentar saja sayang, selepas itu kamu tidak akan merasakan kesakitan." Jawab Josh tanpa menoleh ke arah istrinya.
Selena memandang sedih dan marah ke arah Josh, "Apa yang kamu berikan kepadaku." Ucap Selena dengan nada lirih tapi menekan.
Senyum tipis terbit di wajah tampan suaminya, "Hanya obat untuk menggugurkan bayi." Jawab Josh tanpa rasa bersalah.
Kedua mata Selena melebar sempurna, kedua mata yang sudah memerah, dan berkaca-kaca. Namun, rasa perih terus mendera dirinya.
"Aku akan membencimu hingga sisa usiaku jika sampai bayi ini hilang Josh!" Ucap Selena dengan serius dan penuh penekanan.
Setelah mengatakan itu, Selena tidak sadarkan diri karena tidak kuat emnahan rasa sakit yang membuat nyawanya seakan di permainkan pada ubun-ubun kepalanya. Josh yang mendengarr ucapan Selena sejenak tertegun, melihat Selena pingsan membuat Josh langsung menekan gas mobil menuju rumah sakit.
Beruntung sudah dekat sehingga nyawa Selena terselamatkan, tapi bayi tetap meninggal di dalam rahim. Sejak awal tujuan Josh memanglah rumah sakit bukan di tempat perbelanjaan, saat mendengar penerangan dokter bagaimana efek obat itu membuat Josh merasa sakit dalam hatinya seakan dunianya runtuh jika membayangkan Selena pergi dari sisinya.
"Tuan, karena obat yang keras membuat lapiran rahim Nyonya Selena terluka cukup parah. Kemungkinan bisa sulit hamil atau saat hamil bisa mengalami kecacatan. Tapi yang lebih di takutkan adalah nyawa dari salah satu antara keduanya." Jelas dokter dengan memperlihatkan hasil USG.
"Bagaimana agar dapat sembuh?" Tanya Josh linglung.
"Mendapatkan perawatan dengan intensif, Tuan. Meskipun nanti tidak bisa kembali secara sempurna, setidaknya dapat meminimalisir hal-hal yang tidak di inginkan." Jawab sang dokter.
"Lakukan yang terbaik dok, berapapun biayanya. Berikan yang terbaik untuk istri saya." Kta Josh dengan nada dan wajah memohon.
Dokter mengangguk,"Tuan, darimana istri anda mendapatkan obat itu? Karena di negara bagian ilegal aborsi." Tanya sang dokter penuh selidik.
"Saya tidak tahu, dok. Karena saya baru pulang kerja dan akan pergi ke pusat perbelanjaan." Bohong Josh kepada dokter.
Dokter hanya menganggukkan kepalanya saja tanda mengerti, mempersilahkan Josh melihat kondiri sang istri. Sejak kejadian itu, sikap Selena yang hangat lenyap di ganti dengan sikap dingin dan kasarnya. Dia selalu menentang apa yang Josh inginkan dan katakan, dalam hubungan badan Selena selalu melawan hingga berujung Josh melakukan kekerasan dan menggagahinya secara paksa.
Kaburnya Selena dari kehidupan Josh, membuat pria itu menggila dan mengeluarkan semua tabungannya untuk menyusul sang istri yang kembali di negara asalnya. Bagaimana Josh tahu di mana Selena pergi, semua karena keluarga William dan Wijaya.
__ADS_1
Meskipun dua keluarga itu sudah menawarkan semua fasilitas, Josh menolaknya. Bagi Josh, cukup tahu di mana sang istri berada selebihnya biarlah Josh yang melakukannya.