
Happy Reading 🌹🌹
Josh duduk dengan tenang sembari mengecek oekerjaan dan membaca surat kabar elektronik, untuk mengetahui sedang ada berita aoa di negara asalnya.
Duduk di meja makan dengan di temani secangkir kopi dan sepotong sandwitch, dia menunggu isitrinya pulang karena melakukan pengintaian.
Bagaimana Josh tahu? tentu saja dari pengawal dan mata-mata yang dia sewa. Tidak berselang lama pintu apartemen di buka dengan kasar, Josh mengangkat kepalanya yang tengahnfokus dengan tabletnya.
Melihat Selena kembali pulang yang berlari masuk ke dalam kamar utama, pintu terdengar tertutup dengan keras dan di kunci dari dalam.
Di belakang di susul oleh dua pengawal dengan banyak kotak susu di tangannya, "Untuk kalian saja." Ucap Josh.
"Terima kasih, Tuan." Jawab kedua pengawal secara bersamaan.
Kedua pengawal keluar dari apartemen Josh menuju apartemen yang di sewakan oleh perusahaan mereka, tepat di sebelah apartemen Josh.
Josh sarapan seorang diri, dia tidak mengganggu Selena yang mungkin sedang menangis di dalam kamar. Josh memutuskan akan menemui Luna seorang diri hari ini.
Di dalam kamar, Selena langsung menyembunyikan wajah cantiknya di bantal. Tubuhnya bergetar dengan hebat, suara tangisnya teredam dengan bantal.
Dia seolah tidak peduli dengan keberadaan Josh di apartemen ini saat ini hatinya sangat sakit melihat Luna yang tidak terawat berbeda saat terakir kali wanita itu meninggalkannya seorang diri.
Kembali pada Josh, nampak pria itu telah selesai melakukan sarapannya hari ini. Dia berjalan menuju wastafel dan mencuci sendiri bekas sarapannya.
Langkah lebarnya berjalan keluar apartemen setelah selesai mencuci piring, pengawal segera mengikuti langkah Josh.
"Kita mau ke mana, Tuan?" Tanya pengawal yang sudah menyalakan mesin mobil.
"Menuju swalayan X." Jawab Josh.
"Baik." Pengawal segera menjalankan mobilnya menuju swalayan yang di maksud oleh Josh.
Dia sudah tau jalannya karena pernah pergi dengan Selena menggunakan taxi online, meskipun tidak menyetir secara langsung tapi dia menghafal jalan yang di lalui.
Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, Josh telah sampai. Namun, Josh tidak langsung keluar karena melihat swalayan yang masih tertutup.
"Biasanya buka jam berapa?" Tanya Josh pada pengawal.
"Mungkin agak siang jam sembilan, Tuan." Jawab pengawal dengan sedikit ragu.
"Kita tunggu saja." Kata Josh.
__ADS_1
Josh menyandarkan punggungnya dan memejamkan kedua matanya, dia sangat lelah karena harus begadang demi mengerjakan pekerjaan yang menumpuk apalagi dia sempat bertengkar dengan Selena.
Memikirkan ucapan Selena kemarin, benar. Dia sangat takut menjadi orang tua yang gagal, tapi dia sudah berubah. Dia ingin memiliki keluarga kecil yang bahagia, tapi mengingat kondisi Selena membuat Josh pusing.
Apakah ini karma untuknya, karena sudah membunuh darah dagingnya sendiri sehingga Tuhan tidak mempercayakan anugrah terindah lagi dalam kehidupan manusia.
Bagaimana jika benar Selena bisa hamil, tapi resiko yang harus mereka tanggung akan semakin besar yaitu sebuah nyawa. Josh tidak ingin kehilangan Selena untuk kedua kalinya.
"Lebih baik mengadopsi saja." Putus Josh dalam benaknya.
Pengawal yang melihat Luna datang dengan mengayuh sepedanya hingga di parkiran , segera membangunkan Josh.
"Tuan, orang yang anda tunggu sudah datang." Ucapnya.
Josh segera membuka kedua natanya dan menegakkan duduknya, "Panggil dia kemari." Ucap Josh.
Pengawal segera keluar dan berjalan menuju Luna yang akan masuk ke dalam swalayan, namun langkahnya terhenti saat suara asing menyapanya.
Luna shock karena melihat pria yang tadi pagi bersama Selena, "Di mana Selena?" Tanya Luna dengan cepat.
"Ikuti saya, Nyonya." Jawab pengawal.
Pintu belakang di buka oleh pengawal, Luna nampa ragu-ragu untuk masuk ke dalam mobil.
"Silahkan masuk." Kata pengawal dengan sopan dan tegas.
Luna sedikit menundukkan tubuhnya agar bisa masuk ke dalam mobil, tapi dia kaget karena pria asing yang berada di dalam mobil bukan Selena.
"Siapa kamu?" Tanya Luna yang memundurkan duduknya hingga menyentuh pintu mobil.
"Jalan." Josh memerintahkan pengawal yang baru saja masuk ke dalam mobil untuk melajukan mobilnya.
Segera pengawal menjalankan mobilnya begitu saja, mengindahkan teriakan Luna yang ingin keluar dari dalam mobil.
"Hey! Hentikan mobilnya, kamu percuma menculik wanita tua yang miskin sepertiku." Ucao Luna dengan tangan gemetar.
"Tenanglah, Mama. Aku tidak akan menyakitimu." Jawab Josh dengan menolehkan kepalanya menatap wajah pias Luna.
"Mama?" Beo Luna.
"Kenalkan, aku Josh. Suami dari putri mu Selena." Ucap Josh memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
Kedua bola mata Luna bergetar, "Ba-bagaimana Lena menikah denganmu seharusnya dia menikah dengan Kenan Wijayakusuma." Kata Luna dengan rasa tidak percaya.
Josh hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Luna, "Karena Selena jodohnya denganku." Jawab Josh santai.
Luna masih tidak percaya, jika Selena tidak menikah dengan Kenan. Bagaimana kehidupan putrinya saat dia tinggal lari dulu.
"Anda sedang memikirkan apa?" Tanya Josh dengan wajah datarnya.
"Ka-kapan kalian menikah?" Luna tidak menjawab melainkan melemparkan pertanyaan.
"Hem... Mungkin dua tahun yang lalu, aku lupa kapan tepatnya." Jawab Josh dengan wajah berfikir.
Luna menggelengkan kepalanya cepat, Josh hanya diam dengan mengamati Luna yang berada di depannya.
"Ma, aku langsung pada intinya saja. Laporkan suamimu dan lakukanlah visum, kami tahu jika Mama selalu mendapatkan kekerasan selama menikah dengan pria lain." Lanjut Josh dengan serius.
"Tidak, dia akan semakin marah jika aku melaporkannya." Tolak Luna dengan cepat.
"Ada kami yang akan melindungi Mama, ah sebelumnya aku meminta maaf memanggilmu Mama tanpa persetujuanmu. Karena kamu adalah ibu dari istriku tentu saja orang tuaku." Kata Josh dengan tenang.
Luna merasa terharu karena Selena mendapatkan suami sebaik Josh, meskipun tidak menjadi istri dari Kenan tetapi memiliki suami sebaik Josh tidak masalah. Asalkan putrinya hidup bahagia.
"Ya, tidak apa-apa." Jawab Luna pelan.
"Jadi bagaimana, Ma. Setidaknya lakukan untuk putri mu, cukup selama ini dia memendam kesakitannya sendiri Ma." Kata Josh pelan.
"Tapi, bagaimana jika Hardi berbuat nekat." Gumam Luna yang masih dapat di dengar oleh Josh.
"Mama percayalah padaku, aku akan menjebloskan pria sia*lan itu ke dalam penjara dan Mama fokus saja dengan Selena. Setidaknya jelaskan kenapa Mama meninggalkan Selena saat itu, harus jujur meskipun membuat istriku sakit." Ucap Josh tegas.
Luna mencengkram kuat kedua tangannya, dia sangat takut jika Selena tidak akan pernah memaafkan dirinya dan justru semakin membencinya.
"Bagaimana, Ma?" Tanya Josh kembali.
"Bagaimana jika Selena semakin membenciku." Kata Luna pelan.
"Setidaknya Mama jujur dulu kepada Selena, perihal istriku membenci atau memaafkan Mama itu harus Mama terima dengan lapang dada. Karena semua awal kesakitan Selena adalah Mama." Jelas Josh dengan menggebu.
"Baiklah, aku akan melaporkan Hardi. Antarkan Mama ke kantor polisi." Kata Luna dengan cepat.
...🐾🐾...
__ADS_1