
Happy Reading 🌹🌹
Selama berjalannya rapat, otak Bara tidak fokus dengan pembicaraan bisnis ini. Meskipun bukan proyek skala besar, namun Bara selalu memberi kesempatan perusahaan kecil yang sedang berkembang.
Tatapan Bara tertuju pada wanita cantik yang tengah tertawa bersama rekannya, "Kenapa Alice semakin cantik." Gumam Bara dalam hati.
"Tuan!"
"Tuan!"
Jundi berteriak hingga membuat para pengunjung termasuk Alice dan Mourin mengarahkan pandangannya ke meja Bara.
Bara berdecak kesal, menatap tajam ke arah Jundi seakan mengulitinya hidup-hidup.
"Maaf, Tuan. Saya sudah memanggil anda sejak tadi." Kata Jundi gugup.
Bara mendengus kesal, "Baik, saya setuju. Saya harao kita dapat bekerjasama dengan baik di masa depan." Ucap Bara yang mengulurkan tangan kepada koleganya.
Jundi nampa mengantar kolega hingga di depan parkiran, sedangkan Bara berjalan menuju ke meja Alice.
"Apa kamu belum selesai?"
Suara deep Bara membuat obrolan dua wanita itu terhenti, dengan tatapan kagum Mutia memandang pemilik perusahaan Santosa itu.
Mutia menendang kaki Alice karena dirinya sangat gugup berdekatan dengan para atasan termasuk Bara.
"Mutia, apa kamu mau makan siang bersama kami?" Taya Alice lembut.
"Tidak." Mutia menjawab sembari menganggukkan kepalanya.
Alice terkekeh melihat tingkah sabahatnya itu, Mutia yang sadar merutuki tingkah konyolnya.
"Alice, lebih baik aku pulang saja untuk istirahat. Tidak ada dua kali kesempatan dapat pulang kerja setengah hari." Ucap Mutia lagi dengan memasukkan ponsel di dalam tasnya.
__ADS_1
Alice mengulas senyum tulus kepada Mutia, "Baiklah, lain waktu kita makan bersama." Kata Alice.
Mutia segera meninggalkan dua orang penting tersebut, Alice juga berdiri dan menerima uluran tangan Bara.
Bara begitu erat menggemgam tangan lembut Alice seakan tidak ingin melepaskannya, Alice tersenyum getir seharusnya dia bersama Kenan namun apa ini. Kenan lebih memilik melakukannya dengan Selena, maka Alice melakukannya dengan Bara.
"Kamu ingin makan siang apa, Alice?" Tanya Bara.
"Spagetti saja, perutku sudah cukup kenyang karena memakan kue di cafe." Alice berkata lembut dengan senyumnya.
Ah, gila. Beginikah rasanya berkencan dengan wanita yang kamu idamkan terlebih istri sahabatmu sendiri.
Jundi yang melihat Alice segera memberi salam, karena sudah lama tidak pernah berjumpa.
"Siang, Nona Alice." Sapa Jundi sopan.
"Siang Jundi, ayo ikut bersama kami."
Alice mengajak Jundi dan berjalan kebarah mobil Bara, Jundi yang tidak paham situasinya nampak bahagia karena dapat makan satu meja lagi bersama Alice.
"Kenapa tidak jalan?" Tanya Bara dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Nona Alice tidak duduk di depan?" Bukannya menjawab, Jundi justru bertanya.
Duk
Kursi belakang Jundi di tendang oleh Bara, "Apa, aku hanya bertanya." Gerutu Jundi.
"Cepat jalan! Atau aku turunkan kamu di sini." Ucap Bara dengan menatao tajam Jundi dari spion tengah.
Jundi segera meninggalkan area parkir Cafe Kaktus dan menuju restoran yang sudah di tunjuk oleh Alice.
Alice yang melihat Jundi habya dapat tertawa renyah, entah mood boster sekali jika sedang bersama Jundi.
__ADS_1
Bara yang melihatnya tidak suka hanya melengos saja, "Ck, kenapa dia bahagia sekali." gerutu Bara yang masih dapat di dengar oleh Alice.
Alice semakin kencang tertawa hingga perutnya begah, "Oh astaga! Kalian berdua apakah kakak adik yang tertukar?" Tanya Alice di sela tawanya.
Bara langsung menoleh ke arah Alice sama dengan Jundi yang melihat dari spion tengah.
"Apa makhsudmu." Ucap Bara yang merasa tidak terima.
"Ha ha ha, kalian jika sedang bersama seperti ini seperti saudara. Aduh... Perutku rasanya kram karena ada kalian." Kata Alice yang masih tertawa.
Entah, tawa Alice apakah benar-benar karena sikap konyol dari Jundi dan Bara atau, menertawakan dirinya dan kisah rumah tangganya.
Baik Jundi dan Bara hanya diam melihan dan mendengarkan Alice yang tengah tertawa, namun sedetik kemudian Alice menghela nafas panjang dan membuang pandangannya ke luar jendela.
*
*
*
Di mansion, nampak Kenan yang hanya berbaring saja di atas kasur king sizenya. Menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Kapan Alice pulang ... Kenapa lama sekali." Ucap Ken dengan kepala yang menggantung di pinggir kasur.
Mau menghubungi Alice percuma karena ponsel Kenan sudah rusak, Ken akhirnya menbuang waktunya untuk menonton televisi.
Jakunnya turun naik saat melihat iklan usus sapi korea yang tengah viral. Suara mendesis yang di tumbulkan serta asap mengepul.
Usus yang awalnya besar menciut menjadi kecil, di potong dengan gunting dan siap di makan bersama berbagai saus.
Usus sapi di cocolkan dengan saus merah menyala dan hap! Minyak dari usus tersebut sampai menetes bersamaan dengan air liur Kenan.
"Aku ingin memakannya!"
__ADS_1
Segera Kenan bangkit dari tidurnya dan berjalan ke lantai satu untuk menghubungi Ferdy, air liur Kenan seperti pralon banjir jika mengingat usus sapi bakar tersebut dengan cocolan saus pedas.
...🐾🐾...