Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Datang Ke Perusahaan Santosa


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mobil yang di bawa oleh Ferdy telah sampai di depan perusahaan Wijaya, segera Alice keluar setelah Ferdy memberhentikan mobil di depan pintu utama.


Mutia yang melihat kedatangan Alice melambaikan tangannya dengan riang, "Alice!" Serunya.


Alice tersenyum hangat membalas sapaan Mutia, rekan kerja pertama yang dia miliki di kantor Wijaya.


"Kamu datang dengan mobil Tuan Kenan lagi?" Tanya Mutia polos.


"Iya, Tuan Ken sedang sakit. Tadi pagi asistennya Pak Ferdy menjemputku." Jawab Alice yang sepenuhnya tidak berbohong.


"Apakah rumahmu jauh? Atau kamu mengontrak di sini?" Tanya Mutia yang belum mengetahui identitas Alice.


"Aku hanya mengontrak." Jawab Alice.


"Sama, lain waktu aku akan berkunjung ke kontrakanmu Alice." Kata Mutia dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Nona Alice, ayo segera ke atas."


Suara bariton mengagetkan Alice san Mutia, terlihat Ferdy yang sudah berdiri di belakang Alice dengan wajah datarnya.


"Baiklah, aku duluan ya Mutia. Bye." Pamit Alice kepada temannya.


Ferdy hanya melirik sekilas ke arah Mutia dan berlalu bergitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.


"Bos dan asisten kenapa kaku sekali wajahnya." Omel Mutia dalam hati.


Alice dan Ferdy keluar dari dalam lift yang membawa mereka ke labtai tiga puluh.


"Nona bisa siapkan semua berkas-berkas kerjasamanya sebelum pukul setengah sembilan." Kata Ferdy dengan cepat.


"Baik." Jawab Alice.


Alice segera mengunpulkan berkas-berkas kerjasama dan juga membuat beberapa berkas baru untuk rapat dengan Bara.


Sedangkan Ferdy tengah menelfon seseorangbdi sebrang sana dengan suara bariton yang dingin.


"Jangan biarkan dia lolos." Perintah Ferdy kepada seseorang.


Tanpa mendengar jawaban dari sebrang telfon, Ferdy segera menutup sambungan telfonnya dan mulai membantu menyiapkan rapat.


Sebisa mungkin Ferdy akan menahannya sampai cinta Kenan kuat terhadap Alice, cukup satu kali Ferdy melihat Kenan hancur kini tidak ada yang kedua kalinya.


Cukup tergesa-gesa dengan semua persiapan rapat hari ini, baik Ferdy mauoun Alicebtidak banyak bicara. Mereka fokus dengan persiaoan rapat.


Ferdy akui jika Alice sangat cekatan dalam bekerja, apa alasan ini yang membuat Kenan memutuskan Alice yang mengurusnya padahal Ken pasti tahu jika Bara menaruh hati kepada istrinya itu.


"Ayo kita berangkat." Kata Alice dengan menyelempangkan tas dan membawa semua berkas.


"Kamu bawa ini saja, yang lain biar aku." Ucap Ferdy.


Alice menurut saja toh buang-buang waktu jika harus berdebat dengan Ferdy, karena waktu mereka sudah cukup tipis belum lagi dalam perjalanan menuju perusahaan Santosa.

__ADS_1


*


*


*


Perusahaan Santosa, terlihat Bara tengah tenggelam dalam pekerjaannya. Hingga suara ketukan pintu sedikit membuyarkan konsentrasi.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Seru Bara.


Pintu ruangan kerja Bara terbuka, terlihat Jundi dengan banyak dokumen di tangan kanannya.


"Tuan, lima belas menit lagi kita akan rapat dengan Nona Alice." Kata Jundi sopan.


Bara menghentikan gerakan tangannya, mendingakkan kepala menatap asisten pribadinya.


"Jam berapa?" Tanya Bara.


"Pukul sembilan, Tuan." Jawab Jundi.


Bara menatap arloji mewah yang melongkar di tangan kanannya, sisa lima belas menit lagi.


"Apa dia sudah sampai?" Tanya Bara cepat.


"Belum." Jawab Jundi menggelengkan kepala.


Bara segera beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan masuk ke dalam kamar rahasia yang berada di belakang kursi.


Jundi hanya berkedip saja melihat kepergian bosnya, lebih baik duduk diam dan menunggu Bara sekaligus Alice datang.


Di dalam kamar, Bara mencopot semua pakaiannya. Terlihat Bara begitu terburu-buru mandi untuk kedua kalinya hari ini.


Suara gemericik air terdengar berbarengan dengan tetesan air yang keluar dari shower, "Aku harus wangi." Kata Bara pelan.


Meskipun sudah tau jika Alice istri sahabatnya, Bara masih ingin mencoba mendekati. Bukan mengharapkan rumah tangga Kenan hancur namun mendengar ucapan Ken kemarin Bara masih berharap jika Alice belum jatuh cinta kepada Kenan.


Tak lama mandi, Bara keluar dengan mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil dan bagian tubuh bawah di lilit handuk cukup besar.


Segera Bara membuka lemari pakaiannya, beruntung Jundi selalu menyiapkan pakaian dinas di sana membuat Bara tidak kelimpungan.


Dengan cepat, Bara mengenakan pakaian dan jas baru hari ini. Terlihat Bara tengah berkaca takut jika wajahnya terlilah lelah.


"Tetap tampan seperti biasanya." Kata Bara lagi.


Bara menyawalah hairdraiyer untuk mengeringkan rambut sebelum memberinya minyak rambut agar gampang menata rambutnya.


Suara bising memenuhi kamar pribadi Bara di kantor, bersamaan dengan Bara yang tengah mengeringkan rambut Alice dan Ferdy telah sampai di kantor Santosa.

__ADS_1


Ferdy memarkirkan mobil di depan pintu utama dan keluar bersama Alice, keduanya segera mengambil dokumen yang sudah mereka bawa sebelumnya dari kantor.


Penjaga yang melihat kedatangan keduanya segera mengarahkan ke meja resepsionis.


"Dari perusahaan Wijaya Corp." Ucap Ferdy cepat dan dingin.


"Mari ikuti saya." Jawab resepsionis yang segera berdiri menuntun kedua tamu penting atasannya.


Alice dan Ferdy berjalan di belakang resepsionis yang tengah menunjukkan arah ruangan rapat, ketiganya masuk ke dalam lift menuju ruangan tersebut.


Tidak ada suara sama sekali hanya keheningan yang melanda, beruntung lift yang biasa di gunakan atasan perusahaan sedikit lebih cepat daripada lift pegawai biasa.


Resepsionis berjalan menuju ruangan dengan dinding kaca yang dapat di lihat dari luar, "Silahkan Tuan dan Nona, akan Saya panggilka Tuan Bara." Ucap resepsionis membukakan pintu untuk Alice dan Ferdy.


"Terima kasih." Jawab Alice.


Alice segera berjalan kensalah satu kursi di ikuti Ferdy, mereka meletakkan barang-barang yang sudah di bawa dari perusahaan.


"Jangan gugup." Kata Ferdy kepada Alice.


"Ekhm, iya. Ini pengalaman pertamaku." Jawab Alice jujur.


Ferdy tersenyum tipis, "Tidak masalah selama masih berusaha belajar." Kata Ferdy pelan.


"Benar." Ucap Alice dengan menggenggam tisu di tangannya.


Di ruangan Bara, Jundi tengah bermain dengan gawai miliknya. Berselancar di dunia maya hingga ketukan pintu membuatnya berhenti.


"Masuk!" Seru Jundi.


Pintu terbuka terlihat resepsionis berdiri di ambang pintu, "Maaf Tuan, tamu dari perusahaan Wijaya Corp telah menunggu di ruang rapat." Jelas sang resepsionis.


"Baik, pergilah." Jawab Jundi.


Jundi segera berjalan menuju kamar pribadi Bara, "Tuan! Nona Alice sudah sampai." Seru Jundi dengan sengaja.


Bara yang kaget mendengar teriakan Jundi tidak sengaja menempelkan ujung hair draiyer ke jidatnya.


"Aduh... Aduh! Astaga Jundi." Geram Bara.


Bara membuka sedikit poninya melihat apakah jidatnya terluka, perlahan jemari menyentuhnya terasa agak sakit.


"Astaga, aku akan membunuhmu Jun." Lanjut Bara yang kesal.


Sedangkan Jundi hanya terkikir di luar pintu tanpa mendengar apa yang di ucapkan oleh atasannya.


"Tuan! Nona Alice audah datang." Kata Jundi lagi mengulangi.


...🐾🐾...


...Autor membawakan karya bagus untukmu 🌹...


__ADS_1


__ADS_2