
Happy Reading
Seorang pria dengan kacamata hitam yang bertengger indah di hidung mancungnya tengah berjalan tegap dengan alangkah lebarnya, rahang tegas, kulit seputih porselen menghipnotis kaum hawa. Di belakangnya di susul oleh pria dengan wajah tampan namun imut, meskipun memasang wajah datar tetap membuat siapa saja yang melihatnya akan tertawa karena kesan cool tidak pantas dia perlihatkan kepada khalayak umum.
"Apa acaraku hari ini?" Tanya Bara berjalan cepat di dalam bandara.
"Anda harus pulang ke mansion Tuan, Tuan Santosa telah menunggu anda." Jawab Jundi cepat dengan sesekali melihat ke arah jam tangannya.
"Bagaimana persiapannya?" Tanya Bara yang kini memasuki mobil yang sudah di siapkan oleh Jundi sebelumnya.
"Nona Alice menunggu kepulangan anda untuk menyiapkan semuanya," jawab Jundi yang duduk di kursi depan.
Seulas senyum terbit di bibir Bara, Jundi hanya menatap atasannya sekilas. Mobil mulai berjalan meninggalkan area bandara, terlihat Bara mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dengan memutar-mutar benda pipih tersebut seakan tengah berfikir dan memutuskan sesuatu.
Dengan kaki di tumpangkan pada kaki lainnya, Bara mulai menyalakan ponsel yang sejak tadi padam. Jemarinya memencet menu kontak dan mulai mencari nama Alice.
Bara dan Alice semakin dekat dengan seiring berjalannya waktu, lebih tepatnya Bara seikit memaksa agar Alice akrab dengannya. Bara selalu di proyek dengan alasan melakukan pengamatan langsung agar tidak terjadi masalah lagi, Alice dengan polosnya percaya apa yang Bara katakan.
Ingat, Alice profesional dalam pekerjaannya tidak mencampur adukkan masalah pribadi dan pekerjaan. Karena itu Alice tidak mengetahui maksud terselubung dari Bara.
Alice yang tengah menyemangati dirinya, memutar kepalanya ke arah nakas karena ponselnya berdering, dengan sedikit mencondongkan tubuhnya Alice mengambil ponselnya. Tertera nama Bara di ponsel pribadinya, dengan cepat Alice menjawabnya.
"Halo, Bara." Ucap Alice dengan suara serak.
Bara sedikit tertegun sesaat, "Kamu habis menangis?" Tanya Bara.
"Tidak, aku baru bangun tidur." Jawab Alice berbohong dengan berdehem.
Bara dengan cepat menjauhkan ponselnya dan mulai mengalihkan ke panggilan video call, Alice sedikit panik. Bagaimanapun tidak ada yang boleh tahu kondisinya, akan di pastikan jika pasti Bara akan mencecar dirinya. Biarlah keburukan rumah tangganya hanya dirinya dan Ken yang tahu.
Alice menolak panggilan video itu, "Aku baru bangun tidur, jangan panggilan video." Ucap Alice dengan tegas.
Di sebrang telfon terdengar helaan nafas panjang dan kasar, "Baiklah, kapan kita bertemu?" Tanya Bara mengalah.
__ADS_1
"Aku sudah memberitahu Jundi, selepas kau kembali dari Eropa." Jelas Alice lembut.
"Besok aku kembali, datanglah ke apartemen." Kata Bara lembut seperti tahu sutra.
"Oke." Jawab Alice.
"Kau ing...."
Ucapan Bara terputus seperti panggilan telfonnya kepada Alice, kebiasaan Alice suka mematikan panggilan telfon begitu saja jika di rasa sudah selesai pecakapannya.
"Astaga, apa dia tidak tahu berbasa basi." Kezal Bara kepada Alice.
Jundi hanya melipat bibirnya ke dalam karena melihat Bara tengah kesal akibat ulah Alice, "Bukankah sudah kebiasaan Nona Alice begitu, Tuan." ucap Jundi mengingatkan.
'Ya, tapi... hah! sudahlah." Lebih Baik bara diam menerima kebiasaan Alice yang menurutnya tidak normal itu.
Bara hanya membuang nafasnya kasar, baru kali ini bertemu wanita yang tidak tergila-gila dengannya meskipun sudah sering datang ke apartemen. Jangankan untuk sekedar basa basi, untuk bercanda saja rasanya Bara sangat sulit mendekati Alice.
*
*
*
"Kapan Selena kembali?" Tanya Citra pelan.
"Hampir empat bulan, Ma." Jawab Ken jujur.
"Kapan Selena tinggal di apartemennya lagi?" Tanya Citra kembali.
"Setelah, Ken bertemu dengannya ke dua kali." Ucapnya.
Helaan nafas panjang namun lembut jelas keluar Citra, pandangan wanita tersebut menatap jauh ke depan.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan Ken? Tidak mungkin kamu membiarkan dua wanita di sisimu." Ucap Citra tanpa menoleh ke arah Kenan.
"Ma! Ken sudah katakan, Ken hanya membantu Selena tidak lebih, oke! memang Ken salah karena tidak meminta ijin kepada Alice istri Kenan itu kesalahan Kenan." Kata Ken dengan frustasi.
"Apa kamu masih mengharapkan Selena?" Tanya Citra yang kini menolehkan kepalanya ke arah Kenan.
Ken membuang wajahnya ke samping, dirinyapun juga gundah gulana bagaimana tentang perasaannya. Melihat kediaman Ken, Citra dapat menebak jika Ken masih mencintai Selena. Ini hal bagus, Citra dapat menyingkirkan Alice sebagai menantu Wijaya.
"Ceraikan Alice dan menikahlah dengan Selena." Ucap Citra pelan namun menohon perasaan Kenan.
"Mama!"
"Apa? Mama tahu kamu masih mencintai Selena, Mama tidak pernah melarangmu berpacaran dengan Selena selama ini. Mama akan mendukungmu dengan Selena, rajutlah mimpimu yang sempat tertunda bersamanya." Jawab Citra panjang lebar kepada Kenan.
"Ken tidak ingin bercerai dengan Alice." Ucap Ken pelan.
"Maka kamu hanya akan menyakitinya Kenan, apa Alice mengetahui apa yang sudah kalian lakukan di belakangnya?" Kata Cotra yang mulai mengintrograsi anaknya.
Ken mengangguk, "Lalu apa yang Alice laukan?" Tanya Citra.
"Dia hanya diam, dan baru hari ini dia meluapkan amarahnya setelah mengangkat telfon Selena." Jelas Ken lirih.
Bibir Citra nampak tersenyum, "Kamu tahu Ken, diamnya Alice menyimpan luka dan duka. Jika kamu tidak melepaskan Alice hanya akan membuatnya mati secara perlahan." Kata Citra yang mengumpankan Alice agar Ken ingin melepaskannya.
"Tapi, Ma."
Ken merasa tidak rela jika sampai melepaskan Alice, bagaimanapun keduanya sudah hampir satu tahun sudah tinggal satu atap.
"Coba kau mulai lagi hubunganmu dengan Alice, jauhi Selena." Kata Citra dengan tenang namun tegas.
"Baiklah akan, Ken coba."
Ken akan memastikan perasaan cintanya, apakah benar Ken sudah melupakan Selena di dalma hatinya atau justru hatinya sudah sepenuhnya terisi oleh Alice sang istri. Citra meminum tehnya dengan senyum melengkung sempurna.
__ADS_1
"Tanpa mengotori tanganku, Selena datang sendiri dan mengabulkan doaku." Gumam Citra di dalma hatinya.