Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BABY NAT


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Kenan terus menghujani wajah istrinya dengan kecupan-kecupan kecil, menggambarkan bagaimana letupan letupan bahagia yang ada di dalam hatiny.


"Mas." Panggil Alice kembali.


"Hemm, apa sayang? Apa yang kamu inginkan?" Tanya Kenan mengusap peluh sang istri dengan lembut.


"Sepertinya aku menarik ucapanku." Katanya dengan wajah gelisah.


Ken menyerengitkan alisnya, "Menarik ucapan? Makhsudnya?" Tanya Ken dengan wajah bingung.


"Alice tidak ingin melahirkan sepuluh anak untukmu." Jawab Alice yang sudah berkaca-kaca.


Dokter Ana yang mendengar ucapan Alice menjadi tersedak ludahnya sendiri, "Gila, memang ada yang ingin melahirkan sepuluh anak selain Geng Halilintar." Ucap sang dokter dalam hati.


Kenan tertawa pelan mendengar ucapan istrinya, dirinya juga sudah cukup di buat spot jantung melihat perjuangan istrinya yang melahirkan putra mereka dengan selamat.


"Tidak perlu sepuluh, secukupnya saja sayang. Mas sudah sangat bahagia jika memang hidup bertiga saja." Jawab Ken mengecup bibir Alice.


Melihat keuwuan pasangan yang berada di depannya membuat Dokter Ana menjerit dalam hati, "Rasyah! Aku ingin segera menikah!"


Seorang perawat datang mendekat ke arah Dokter Ana memberitahu kan jika bayi sudah selesai di bersihkan, "Tuan, silahkan anda mengikuti perawat. Nona Alice akan kami pindahkan di kamar rawat." Ucap Dokter Ana.


"Baik, sayang aku ke baby dulu." Ucap Ken yang kembali mengecup dahi Alice.


Alice hanya menganggukkan kepalanya saja dan melihat sang suami yang pergi meninggalkan ruang persalinan dengan mengenakan baju steril yang sudah tak berbentuk akibat ulahnya.


Melihat Kenan keluar dari ruang persalinan membuat kedua orang tuanya dan mertuanya yang entah sejak kapan datang langsung menghampirinya.


"Bagaimana Alice dan cucu kami?" Tanya Citra cepat dengan memegang lengan Kenan.


Ken memeluk tubuh ibunya dan menangis sesenggukan, "Mereka selamat, Ma. Putraku lahir dengan selamat dan istriku juga selamat Ma. Dia wanita yang hebat, maafkan Ken jika sering membuat Mama bersedih." Ucap Ken dalam pelukan Citra.


Citra yang mendengar ucapan Kenan menjadi menangis tapi tetap tegar tidak boleh rapuh di depan anak semata wayagnya, Kalevi dan yang lainnya terharu mendengar ucapan Kenan.


"Kamu tahu bagaimana putriku mempertaruhkan nyawanya, oleh sebab itu jangan sekali-kali kamu menyakitinya." Ucap Elizabet kepada Kenan.


Kenan melepas pelukannya dari Citra dan beralih menatap Elizabet, pria tampan berbadan kekar itu memeluk tubuh Elizabet. "Terima kasih, Ma sudah melahirkan wanita sehebat istriku dan maaf belum bisa menjadi menantu yang baik untukmu." Kata Kenan tulus.


*

__ADS_1


*


*


Ruangan luas dengan dominasi warna putih, satu brangkar yang berada di tengah dengan satu box bayi berada di sebelah kiri. Alice yang sudah selesai di bersihkan segera di pindahkan ke ruang rawat biasa beserta bayi yang sudah lebih dulu berada di dalam ruangan dengan kakek dan neneknya.


"Maaf Nona, saya buka dulu pakaian bagian depan. Anda akan melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) ini berguna untuk mendekatkan ikatan batin ibu dan anak, selain itu juga bayi lebih mudah mencari ****** susu ibunya." Jelas sang perawat.


Alice hanya mengangguk dengan tersenyum, dia sangat bahagia karena bisa memberikan keluarga yang lengkap untuk sang suami. Kenan yang melihat Alice akan polos seketika mengusir dua pria paruh baya yang sejak tadi hanya duduk di sofa bercengkrama.


"Ayah, silahkan pergi dari ruangan ini." Usir Ken tanpa basa basi.


"Kenapa?" Tanya Kalevi dengan dahi mengerut dalam.


"Sesuatu yang hanya boleh aku lihat." Ken menarik kedua tangan pria paruh baya berjalan keluar dari dalam ruangan.


Kalevi dan William hanya menurut saja meskipun bingung ada apa, karena keduanya tidak fokus dengan permbicaraan yang berada di dekat Alice.


"Kenapa dengan anakmu?" Tanya William bingung.


Kalevi hanya mengendikkan kedua bahunya, "Entah, mungkin kepalanya terbentur saat menemani Alice lahiran." Jawab Kalevi seadanya.


Kenan menutup pintu, melihat putanya di telungkupkan di dada sang istri yang terpampang nyata tanpa mengenakan apapun bahkan kedua bukit yang sering dia panjat sangat jelas. Bayi merah itu menggeliat dengan bibir yang terbuka lebar seakan mencari sumber kehidupan yang hanya di dapat dari Alice.


Alice tersenyum penuh haru sedangkan kedua neneknya begitu sangat bahagia dengan memandang cucu mereka yang tengah berusaha menggapai sesuatu, "Ayo, cucu nenek. Sedikit lagi." Ucap Citra girang.


Hingga bibir mungil itu mendapatkan sesuatu yang sejak tadi dia cari dan hampir membuatnya menangis karena kesal, rinngisan keluar dari bibi Alice membuat Ken sangat khawatir.


"Kepana sayang? Apa di gigit, bagaimana jika di beri susu formula saja." Ucap Ken cepat tanpa memberi kesempatan semua orang untuk menjawabnya.


Hingga pukulan keras mendarat di pundak Kenan, terasa sangat pedih di pundaknya. "Mama, kenapa memukul Kenan!" Sungutnya.


"Bod*ohmu sudah mengakar sepertinya, Ken, Ini hal biasa yang di alami wanita setelah melahirkan dan pertama kali menyusui anaknya." Omel Citra pada putranya.


"Benar, itu hal wajar Tuan. Karena kondisi payudara terutama ****** Nona Alice sedang sensitif sekali. Jangankan untuk di kecap oleh bayi di pegang saja sudah sangat sakit." Jelas perawat yang masih setia menemani Alice melakukan IMD.


Ken hanya ber oh ria, "Tapi kenapa saat denganku kamu mendesa*h sayang." Ucap Ken bingung.


"Mas! Kenan!"


Teriak Alice dan kedua mertuanya kepada pria yang sudah resmi menjadi ayah beberapa jam lalu. Perawat yang mendengar ucapan Ken hanya melipat bibirnya dalam agar tidak kelepasan tertawa.

__ADS_1


Alice merasakan jika puntingnya sudah di lepas oleh sang putra, perawat segera menggendong kembali bayi merah itu dan menaruhnya di dalam box bayi. Sedangkan Alice segera merapikan kembali pakaiannya yang tadinya terbuka untuk melakukan IMD.


"Nona, untuk selanjutnya putra Anda sudah dapat di beri asi seperti biasanya. Saya undur diri dulu." Ucap sang perawat.


"Terima kasih, sus." Jawab mereka serentak.


Kenan sedikit berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan box bayi, menatap bayi yang masih berwarna merah itu.


"Putraku sangat tampan, hidunya, matanya, bibirnya, benar-benar seperti aku." Ucap Kenan yang hanya mendapatkan senyuman dari tiga wanita di dalam ruangan itu.


"Tapi ... kenapa pipinya sangat chubby, lihat dagunya, pahanya. Perasaan tidak ada yang gemuk di keluarga kita." Lanjut Kenan sembari menyentuh bagian-bagian tubuh anaknya.


"Kamu terlalu bersemangat saat menyiramnya." Goda Elizabet ambigu.


Tawa Citra pecah di ruangan itu membuat sang abang bayi menggeliat dan langsung Ken menatap tajam Mamanya, "Ups! Maaf." Jawab Citra setengah berbisik.


Ken menepuk pelan kaki putranya yang mulai tenang, "Oh iya, siapa nama anak kalian? Apa kalian sudah menyiapkan namanya?" Tanya Elizabet kembali.


Alice dan Kenan saling memangdang, "Sudah Ma." Jawab Ken dengan wajah bahagia,


"Siapa?" Tanya Citra yang sudah tidak sabar.


"Nathan Wijayakusuma." Jawab Kenan yang di angguki Alice.


"Nama yang bagus, Mas." Ucap Alice.


"Oh! Baby Nat." Kata Citra bahagia.


Ruangan luas itu kini sudah sepi, hanya tinggal Kenan dan keluarga kecilnya. Kedua orang tua dan mertuanya kembali ke mansion untuk bersiap menginap di rumah sakit, sedangkan Kenan Kini berada di atas brangkar memeluk tubuh sang istri.


Mengelus surai hitam Alice dengan lembut, "Sayang, terima kasih sudah memberi kesempatan untukku kesekian kalinya. Maaf sudah membuatmu terluka di masa lalu. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kalian berdua, mungkin aku akan menjadi gila. Maafkan aku yang sudah terlena dengan masa laluku, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. I love you, aku sangat menyayangimu Alice. Tetaplah di sisiku sepanjang usiaku." Ucap Ken pelan dengan suara bergetar.


Alice yang tidak tidur terlalu pulas dapat mendengar ucapan Kenan, di dalam hati yang paling dalam Alice juga sangat bahagia karena cita-citanya membina rumah tangga menjadi kenyataan.


"Terima kasih sudah memperhatankan kami, Mas. Aku sangat mencintaimu di sepanjang hidupku, kamu akan menjadi ayah yang hebat untuk anak-anak kita nanti." Ucap Alice dalam hati.


Kenan memeluk pinggang Alice dengan posesive, begitu juga Alice yang semakin mengeratkan pelukannya kepada sang suami, menenggelankan dirinya pada cinta yang besar.


... 🐾🐾...


Keluarga adalah kompas yang membimbing kita. Mereka adalah inspirasi untuk mencapai ketinggian yang luar biasa dan kenyamanan ketika kita goyah. - Brad Hanry

__ADS_1


__ADS_2