Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 144


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Angin berhembus lembut malam ini, selembut apapun angin malam tetap dinginnya tetap menusuk hingga ketulang.


Warna langit yang hitam legam dengan bertabur sejuta bintang tidak lupa teman sejatinya bulan, yang selalu membersamai gelapnya langit malam.


Suara hewan malam tidak luput meramaikan suasana malam ini, suara jangkrik yang mungkin bersembunyi di semak-semak.


Setelah acara makan malam selesai, semua berkumpul sejenak di ruang keluarga. Jika dulu semua akan kembali dengan rutinitas masing-masing tapi semua kini berubah, mereka menyediakan waktu setidaknya satu jam untuk berkumpul dan bercengrama membicarakan hal-hal yang mereka lakukan hari ini.


Luka kehilangan orang tua tidak akan perbah sembuh sampai kita bertemu dengan mereka di surga, satu tahun tidak sembuh , dua tahun tidak sembuh, tiga tahun tidak sembuh. Itu semua hanga dapat di rasakan oleh orang yang sudah kehilangan orang tua.


Mendengar pintu walk in closed tertutup membuat Kenan meletakkan tablet dan fokus dengan Alice.


Memandang dari ujung kaki hingga ujung kepala, dia begitu amat sangat cantik dan sexy di mata Ken setiap harinya.


"Mas, tidak ganti pakaian?" Tanya Alice sembari berjalan ke arah Kenan.


Ken menarik lembut pergelangan tangan Alice hingga terduduk di atas pangkuannya, memeluk pinggang dengan begitu posesive, dan memberikan kecupan-kecupan kecil untuk buah hati yang sebentar lagi akan lahir.


Alice melingkarkan tanganya di leher Kenan, pandangan keduanya bertemu. Menikmati sentuhan lembut Ken di perut nya yang membuncit.


"Mas." Panggil Alice.


"Hemm, apa?" Tanya Ken menatap manik mata istrinya dengan lekat.


"I love you." Kata Alice sembari tersenyum.


"I love you to." Jawab Ken kemudian mencium bibir tipis namun menjadi candu untuk Ken.


Keduanya saling memangut satu sama lain, menghantaran rasa cinta, dan bahagia nya. Ciuman yang selalu membuat keduanya menjadi mabuk dan berakhir tanpa sehelai benangpun di atas kasur.


Lama mereka berciu*man karena perasaan bahagia sudah berhasil melewati berbagai kesulitan dalam biduk rumah tangga. Dari awal pertemuan hingga hadirnya masa lalu dan masalah lainnya yang bertubi-tubi datang menghampiri.


Alice melepaskan ciuma*an mereka kerena sudah merasakan pasokan oksigennya habis, Ken tersenyum simpul dan mengusap bibir istrinya yang hampir bengkak karena ulahnya.


"Aku bahagia." Kata Ken kepada sang istri.


"Memangnya kenapa?" Tanya Alice yang tidak sabar mengetahui jawabannya.

__ADS_1


"Aku memiliki istri sepertimu dan sebentar lagi kita memiliki anak." Jawab Kenan mengelus kembali perut istrinya.


"Mas, ingin punya berapa anak?" Tanya Alice penasaran.


"Kenapa bertanya seperti itu, apa kamu sudah siap hamil lagi setelah melahirkan." Kata Ken dengan menautkan kedua alisnya.


"Aku hanya penasaran saja, lihat kondisi kita. Kita berdua sama-sama anak tunggal." Jawab Alice dengan menjelaskan situasi.


"Bagaimana jika sepuluh?" Ucap Ken setelah berfikir sejenak.


Kedua mata Alice membulat sempurna, "Se-sepuluh?" Ulangnya dengan suara tidak percaya.


"Benar, sepuluh. Apa kurang?" Tanya Kenan.


Alice tersenyum yang berubah jadi tawa yang kaku, "Sepuluh ya, jika begitu Mas harus lebih bekerja keras dan giat lagi di kantor dan juga di tempat tidur." Jawab Alice dengan tetawa kecil.


"Tidak masalah, Mas akan terus bertani setiap malam sayang. Seperti malam ini, Mas ingin menjenguk baby agar lebih cepat keluar ke dunia." Kata Kenan yang membuat kedua pipi Alice memerah malu.


Dua bulan belakangan ini, Alice lebih mendominasi di atas ranjang. Bahkan dirinya tidam merasa malu saat sudah terhanyut di dalam gelora hasrat. Jika sudah selesai keesokan hari barulah Alice merasa sangat malu bagaimana permainan nya di atas ranjang bersama Kenan.


"Tentu saja." Jawab Alice mengedipkan sebelah matanya.


Kembali menci*um bibir istrinya dengan lembut tapi penuh gairah, merebahkan perlahan agar tidak menyakiti bayi yang masih berada di dalam kandungan.


Perlahan namun pasti, pakaian keduanya sudah lepas dari tubuh masing-masing. Mencium perut bulat yang polos itu dengan cepat dan lembut.


Memainkan dua bukit kembar yang sebentar lagi akan menjadi hak sang anak saat lahir, membuat Alice tidak bisa menahan suara des*hannya.


Memainkan tempo dengan lembut dan pelan. Namun, mampu membawa wanita yang berada di bawah nya terbang higga ke nirwana.


Suasana kamar yang semula romantis kini di penuhi dengan gairah, suara desa*han, jeritan kecil, dan saling memanggil satu sama lain.


Dinginnya AC sudah tidak mampu menandingi panasnya pergulatan malam ini, tampak dari keringat yang membasahi keduanya.


"Ah ... Sayang aku sampai." Teriak Kenan yang terbawa suasana mempercepat temponya.


Kenan ambruk di atas tubuh Alice tapi di topang dengan kedua sikunya agar tidak menindih perut sang istri.


Deru nafas yang cepat, berlomba-lomba menghirup oksigen sebanyak mungkin. Ken menggulingkan tubuhnya ke sebelah Alice dan mengatur nafasnya sejenak begitu juga Alice yang menormalkan nafasnya.

__ADS_1


"Sstt ... Aw."


Mendengar suara rintihan Alice membuat Ken dengan sigap mendudukkan dirinya di atas tempat tidur yang mulai terlelap akibat aktivitas panas nya.


"Kenapa sayang? Perutmu sakit lagi? Apa kontraksi lagi?" Cecar Kenan dengam wajah khawatir.


"Tidak apa-apa Mas, ini hanya kram. Mungkin kita terlalu bersemangat untuk menjenguk baby." Jawab Alice lembut.


Ken menghela nafasnya panjang, "Maafkan Mas ya, sayang. Ayo Mas bantu ke kamar mandi dan segera tidur." Ucap Kenan membelai surai hitam yang nampak basah akibat keringat.


Dengan di bantu Kenan, Alice berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan tubuh dari aktivitas intim mereka hari ini, hingga Alice merasakan sesuatu mengalir dari inti tubuhnya.


"Pipis." Gumam Alice.


"Kenapa sayang?" Tanya Ken yang melihat Alice hanya terpaku di depan wastafel.


Rasa nyeri kembali datang, membuat Alice hampir limbung jika tidak ada Ken di belakang menangkap tubuhnya dengan cepat.


"Aw, Mas... Sepertinya Alice akan melahirkan." Ucap Alice dengan menahan rasa sakit yang datang.


"Hah? Apa, yakin mau melahirkan sayang?" Kenan merasa linglung mendengar kata dari Alice.


Alice meremat pinggang Kenan, karena rasa sakit yang hilang pergi hilang pergi menderanya.


"Mas!" Teriak Alice yang sudah menangis.


Mendengar teriakan Alice membuat Kenan kembali sadar dan dengan cepat menggendong istrinya keluar dari dalam kamar mandi, mera lengannya basah tapi Kenan hiraukan karena mereka habis mandi mungkin hanya air biasa.


Dengan panik Kenan memakaian pakaian dress untuk Alice tanpa memakaikan dalaman apapun, saking paniknya Ken bahkan memakai dress Alice.


Membuat Alice yang menahan kontraksi tidak kuat untuk menertawai suaminya, "Mas, tenanglah gantilah pakaianmu." Ucap Alice.


Ken yang sadar segera melepas dress istrinya dan mengambil pakaian santainya, Alice sudah bersimpuh di atas lantai dengan mencengkram pinggiran sofa.


"Sayang!"


Ken segera menggendong Alice secara bridal style berjalan cepat menuruni anak tangga tapi tetap berhati-hati.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2