Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 90


__ADS_3

Happy Reading


Dengan langkah ringan dan senang Alice segera keluar setelah sang sopir keluarga memberhentikan mobil yang dia tumbangi di depan pinutu utama Perusahaan Wijaya. Para penjaga perusahaan terlihat menatap heran ke arah Alice begitu juga beberapa karyawan Wijaya.


Bagaimana tidak menatap heran, mereka tahu mantan sekertaris atasan mereka bahkan turun dari mobil keluarga Wijaya. Terlihat dari plat nomor mobil keluarga Wijaya yang memiliki simbol perusahaan di sebelah kiri atas.


Alice melangkah menuju lift dan sesekali menyapa karyawan yang sempat dia kenal, hingga akhirnya Alice memutar kepalanya karena merasa suara melengking yang memanggil namanya. Nampak wanita yang berlari dengan membawa kopi dengan wajah ceria dan rambut kucir kuda sepertinya.


"Alice."


Mourin menubruk tubuh sahabatnya tersebut sejenak, "Kamu hilang kemana saja selama ini, bahkan setelah risen kamu sulit untuk bertemu dengan sahabatmu ini." Cecar Mourin dengan muka cemberut.


Alice terkekeh dan melangkahkan kakinya memasuki lift khusus atasan, kening Alice mengkerut karena melihat Mutia hanya berdiri saja di depan lift.


"Ayo masuk, Mutia." Ucap Alice halus.


Mourin melihat ke atas membuat Alice sadar jiika ini bukan lift untuk karyawan biasa, Alice segera menggapai pergelangan Mourin dan menariknya masuk ke dalam lift sehingga pintu lift tertutup dengan cepat.


"Ba-bagaimana jika kita ketahuan oleh para atasan, kamu sungguh sembrono Alice." Ucap Mutia yang panik dan sedikit kesal dengan Alice.


"Tenanglah, Rin." Jawab Alice dengan tertawa geli melihat tingah sahabatnya.


"Bagaimana aku bisa tenang, bagaimana jika aku di pecat atau kita akan di lempat dari gedung tinggi ini." Kata Mourin panik dan gelisah.

__ADS_1


"Hey! Tidak akan, Kenan tidak akan melakukan itu kepadaku." Ucap Alice dengan tenang.


"Benar, Ken ... Kenan?"


Mourin menjeda ucapannya bahkan menekan kata Kenan dengan menatap wajah sahabatnya dengan penuh tanda tanya.


"Aku istri Kenan." Ucap Alice tersenyum lebut ke arah Mourin.


Bruk!


"I-i-istri?" Beo Mourin dengan wajah tidak percaya dengan terduduk di lantai lift.


Beruntung lift hanya mereka berdua, segera Alice membantu Mourin untuk bangkit.


Mourin menatap wajah Alice dengan pandangan yang sulit di artikan, "Se-sepertinya aku harus makan siang dulu agar otakku dapat menerimanya." Ucap Mourin dengan wajah linglung.


"Hem, aku keluar dulu Mourin. Suamiku sudah meninggu makan siangnya." Kata Alice dengan memperlihatkan rantang yang ada di tangan kanannya sejak tadi.


Mourin hanya mengangguk melihat punggung Alice yang sudah berjalan menuju ruangan bosnya sedangkan pintu lift kembali tertutup.


Pandangan Alice menyerengit bingung, melihat meja sekertaris Kenan kosong dan nampaknya Ferdy juga tidak ada di dalam ruangannya. Alice mencoba mengintip ruangan Ferdy namun benar-benar kosong. Ah, mungkin sedang ada rapat.


Akhirnya Alice memutuskan untuk menuju ruangan Kenan.

__ADS_1


Cklek.


Pintu ruangan terbuka Alice berdiri mematung menatap Kenan dengan mata yang sudah mengembun dan menatap tajam ke pemandangan di depannya. Nampak kedua manusia berbeda lawan jenis tengan saling menindih, sungguh pemandangan yang menjijikkan.


Melihat suaminya yang panik, Alice segera menyerahkan rantang makanan dan berjalan bahkan berlari kecil dari lantai CEO tersebut menuju tangga darurat.


Alice berlari keluar dari gedung perusahaan milik suaminya. Dia menoleh belakang dan tidak melihat Kenan mengejarnya. Hati wanita itu terasa sangat sesak. Dia mengenal siapa wanita yang di peluk oleh Kenan tadi, yaitu mantan kekasihnya.


"Kamu benar-benar tega, Mas! Awas saja nanti malam kalau kamu pulang, aku tidak akan memberikan mu jatah! Biarkan kamu merengek sepanjang malam, aku tidak akan peduli lagi!" gumam Alice seraya menangis kesal karena cemburu.


Hati istri mana yang tidak panas bila mihat suaminya yang hampir berciuman dengan mantan kekasihnya itu, bahkan nampak tidak ada penolakan dari Kenan.


"Awas kalian berdua!" dengus Alice kesal seraya menghapus air matanya.


Istri mana yang tidak kesal bila melihat mantan kekasih suaminya kembali hadir dalam kehidupan mereka. Alice ingin marah, namun dia berusaha menahan nya. Wanita itu akan akan bersikap acuh tak acuh pada Kenan agar pria itu sadar bahwa dia telah melewati batasnya.


Andai saja tadi dia tidak ke kantor Kenan pasti saat ini hatinya baik-baik saja, tidak kesal seperti saat ini. Wanita cantik itu akan membalas perbuatan suaminya.


Berjalan cepat menuju jalan raya, hingga suara ponselnya berdering Alice merogoh tas jinjingnya, baru menggeser tombol hijau di layar ponsel namun harus jatuh di dalam selokan kering karena seseorang menyenggol pundak Alice cukup keras.


"Maaf." Ucapnya yang langsung berlalu dari hadapan Alice begitu saja.


Banyak karyawan dan orang berlalu lalang di sana namun tidak ada yang peduli dengan kesedihan Alice, “Aku pikir tak akan sakit, tapi ternyata sakit.” Ucap alice yang sudah menangis di pinggir jalan dengan menutup wajahnya dengan berjongkok.

__ADS_1


“Apa yang terjadi padanya?” gumam Bara pelan dengan mendengarkan Alice menangis melalui sambungan telfonnya.


__ADS_2