Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Bali


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Ini makanan untuk Tuan Kenan dan Nona Alice." Ucap ketua maid.


"Baik." Jawab maid lainnya.


Seorang maid berjalan menuju lantai dua menuju kamar Ken dan Alice.


Tok


Tok 


Tok


Maid mengetuk pintu pelan, tidak ada jawaban dari dalam membuat maid kembali mengetuk pintu dengan keras. Sedangkan di dalam kamar Alice memukul pelan dada bidang Kenan untuk menyudahi aktivitas mereka.


Terdengar deru nafas yang tersengal-sengal, baik Kenan maupun Alice berlumba menghirup oksigen sebanyak mungkin. Keduanya saling menatap dengan tatapan saling menginginkan.


Hingga, kembali lagi ketukan pintu harus megurungkan niatan mereka kembali karena ketukan pintu semakin keras. Keduanya berdiri dengan merapikan pakaian mereka kembali dengan saling diam dam menyeka bibir basah keduanya.


"A-aku buka dulu." Ucap Kenan.


Alice mengangguk cepat dan langsung berlalu ke dalam ruangan walk in closed untuk berganti pakaian yang layak bukan mengenakan baju handuk lagi.


Segera Alice mengunci pintu dari dalam dan menyandarkan punggungnya, tangan kanannya memegang ke dada terasa degub jantung yang berdetak dengan kecang, "Astaga, apa yang baru saja kami lakukan. I-ini kedua kalinya." Ucap Alice pelan.


Perlahan tangan kanannya memegang bibir tipis yang terasa kebas itu hingga menerbitkan senyum melengkung sempurna dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Berbeda dengan Alice yang larut dalam kebahagiaannya, Ken membuka pintu dengan wajah yang terkesan sangat dingin serta marah. Maid yang melihatnya tsedikit gemetar.


"Apa kau tidak bisa menaruhnya di depan pintu." Ucap Ken dengan dingin.


"Ma-maaf tuan." Jawab maid dengan terbata.


Ken langsung mengambil nampan dengan kasar dan menutup pintu keras hingga membuat Alice maupun maid yang berada di depan terlonjak kaget.


"Hais, ada saja gangguan." Gerutu Kenan dengan menaruh nampan di atas nakas.


Tidak lama, pintu walk in closed terbuka terlihat Alice keluar dengan pakaian rumah santainya. Dengan celana pendek dan kaos lengan pendek dengan ukuran standar.


"Makanannya sudah datang?" Tanya Alice dengan menutup pintu walk in closed.


Ken hanya berehem saja, dirinya sudah bad mood untuk melakukan apapun hari ini. Kepalanya terasa berdenyut karena sesuatu didalam dirinya sudah ingin segera di tuntaskan namun tidak tercapai.


"Kenapa Mas?" Tanya Alice duduk di samping Kenan.


"Sayang, bisakah kita bulan madu hari ini juga." Jawab Ken dengan wajah memelas.


Alice terkekeh geli, "Kenapa?" Tanya Alice lembut.


"Bisakah kita melakukannya hari ini?" Tanya Ken lagi.


"Tentu saja, kapanpun Mas jika menginginkannya." Jawab Alice lembut.


Ken menatap Alice cengan wajah berbinar, "Benarkah sayang!" Seru Ken tidak sabar.


Alice mengangguk pelan dengan wajah malu-malu, "Tapi kita makan dulu." Jawab Alice.


"Baiklah, aku akan pesan pesawat untuk ke Bali hari ini juga sayang." Kata Ken dengan girang.


*


*

__ADS_1


*


Terlihat pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai di tengah malam, terlihat Ken dan Alice keluar dari pesawat. Beruntung masih ada penerbangan karena Kenan mendadak yang memesan tiket pesawat.


Semua keperluan yang di butuhkan Ken dan Alice sudah di siapkan oleh Ferdy. Asisten yang dapat di andalkan, "Sayang itu mobil kita." Tunjuk Ken ke arah salah satu mobil berwarna putih.


Ken menggenggam tangan Alice dengan lembut, keduanya berjalan dengan bergandengan tangan terlihat sangat harmonis dan serasi.


"Malam Tuan." Sapa sopir.


"Malam, langsung saja ke hotel." Jawab Kenan.


Sang sopir membukakan pintu belakang agar tamu hotelnya segera dapat beristirahat karena perjalanan jauh.


Dua jam lalu.


Ken langsung berjalan ke arah balkon untuk menghubungi Ferdy.


"Halo, Tuan." Ucap Ferdy.


"Fer, segera siapkan hotel dan segala keperluanku dengan Alice di Bali. Hari ini aku akan terbang ke sana." Jawab Ken tanpa basa basi.


Ferdy yang tengah minum air jahe tersedak hingga menimbulkan rasa panas di hidung dan tenggorokannya, "Ap-apa Tuan, sekarang." Kata Ferdy memastikan.


"Benar, aku akan memesan tiket sekarang. Siapkan semuanya serta baju itu... emmm sesuatu yang dikenakan pada malam pertama." Ucap Kenan dengan sedikit malu-malu.


Air mengalir dari mulut Ferdy setelah otaknya konek bahwa Ken akan pergi berbulan madu dengan Alice, "Fer!" Seru Ken karena tidak mendapatkan jawaban.


"Ba-baik." Ferdy tergagap.


Ken langsung mematikan sambungan telfonnya dengan senyum terlihat jelas di wajahnya, Ken menoleh ke arah Alice terlihat jika istrinya tengah makan dengan tenang bahkan tidak menunggunya untuk bergabung.


Ken segera berselancar di satu aplikasi untuk memesan tiket pesawat, kelas busines adalah pilihan Kenan. Alice tidak boleh kelelahan karena mereka akan pergi berbulan madu. Segera Ken memesan tiket dengan penerbangan satu jam lagi.


"Sayang ayo kita berangkat." Ucap Ken tiba-tiba dengan berjalan ke dalam kamar.


"Tentu saja, aku sudah memesan tiket pesawat, satu jam lagi penerbangan kita. Penerbangan terakir hari ini." Jelas Kenan dengan enteng.


Alice menghela nafas panjang, "Aku belum menyiapkan pakaian kita." Kata Alice frustasi.


"Tidak pperlu membawa pakaian sayang, kamu terlihat sexy tanpa pakaian." Bisik Kenan di telinga Alice.


Alice memukul keras pundak Kenan hingga Ken mengaduh kesakita, "Mesum!" Pekik Alice.


"Sudah ayo cepat sayang, kita akan ketinggalan pesawat." Ken hanya mengambil jaket dan kunci mobil yang ada di dalam laci.


Alice segera berlari ke arah walk in closed untuk mengambil jaket juga tas jinjingnya, keduanya berjalan keluar dari kamar. Terlihat Citra hanya duduk sendiri di meja makan tanpa adanya Kalevi ayah mertua Alice.


Baik Kenan maupun Alice tidak ada yang menegur Citra, Alice masih sakit hati dengan sang mertua sedangkan Ken begitu kecewa dan marah pada dirinya sendiri juga Citra. Keduanya berjalan melewati meja makan begitu saja, Citra bibirnya sudah gatal ingin bertanya namun dirinya juga diam dan acuh dengan keduanya.


"Karena wanita itu, membuat Kenan mendiamkanku." Gumam Citra dengan menatap pantulan Alice dari kaca hias di sana.


Di sinilah Alice dan Ken, berada di lobby Six Senses Uluwatu untuk memastikan data pemesan benar, segera petugas memberikan kunci kamar kepada Kenan.


"Selamat beristirahat." Ucap resepsionis dengan sopan.


"Terima kasih mbak." Jawab Alice.


Ken dan Alice berjalan menuju kamar mereka yang sebelumnya sudah di pesankan oleh Ferdy, terlihat bangunan yang penuh seni indah, bahan modern dan alam menjadi satu, sangat asri dan tenang.


"Kamu bahagia?" Tanya Ken kepada Alice di perjalanan mereka.


"Sangat." Jawab Alice dengan tersenyum kepada Kenan.

__ADS_1


"Kita akan memproduksi Kenan junior." Kata Ken yang mengangkat Alice secara bridal.


Membuat Alice terpekik kaget dan mengalungkan tangannya di leher Kenan, Ken menempelkan kartu di pintu agar dapat terbuka dan mendorong pintu menggunakan lengannya. Terlihat kamar yang luas dengan sprei berwarna putih.


"Turunkan aku." Kata Alice mengerakkan kedua kakinya.


Ken menurunkan Alice pelan, segera Alice berlari kecil ke arah balkon menggeser pintu terliaht ada kolam renang pribadi di depannya dan di suguhi pemandangan lautan lepas. Angin malam begitu terasa dingin dengan membawa bau laut bersamanya.


Terasa tangan kekar melingkar di pinggang kecil Alice dengan menyandarkan dagu di pundaknya, "Indah." Ucapnya.


Alice mengangguk lagi, "Sangat indah, terima kasih Mas." Jawab Alice tersenyum tulus.


Ken berdiri tegak dan memutar tubuh istrinya hingga keduanya berhadapan, "Sekali lagi aku minta maaf sayang, aku sudah melukaimu. Maafkan aku." Kata Kenan dengan tulus.


Alice mengangguk, "Hem, aku juga minta maaf belum menjadi istri yang baik untukmu." Jawab Alice tulus.


"I love you Alice." Ucap Kenan.


Kedua tangan Ken yang menangkup wajah kecil Alice, dengan sedikit membungkuk Ken menyentuhkan bibirnya dengan bibir tipis Alice. Dengan senang hati Alice mneyambutnya, dalam hatinya begitu berbunga-bunga meski mertuanya selalu bersikap tidak baik namun Kenan sudah banyak perubahan bagi Alice.


Alice melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh Kenan, sedangkan Kenan semakin memeluk erat pinggang kecil Alice dan mendekapnya hingga keduanya bersentuhan. Suara ciu*man anatar keduanya bagaikan simfoni indah di penginapan tersebut meski tidak terdengar oleh orang lain namun kunang-kunang dan lautan menjadi saksinya.


Bagaima kedua insan tengah di mabuk asmara tengah memasu kasih, Ken menggendong Alice bagaikan anak koala. Ci*man mereka tidak lepas, Ken berjalan masuk kedalam kamar dengan perlahan hingga tubuh Alice di baringkan di atas kasur besar.


Kedua tangan Ken tidak dapat di kondisikan, suara lengu*han keluar dari bibir tipis Alice di sela ciu*man mereka, Ken semakin bersemangat untuk membuat Alice benar-benar menjadi miliknya seutuhnya.


"Apa aku boleh sayang?" Tanya Ken dengan nafas terengah-engah.


Alice mengangguk malu, Ken tersenyum dan kembali menerjang Alice dengan ci*man mautnya. Entah sejak kapan keduanya sudah tidak memakai pakaian yang menutup tubuh mereka.


Ken begitu memuji kecantikan Alice, tidak hanya wajahnya namun tubuhnya sangat indah tanpa cacat sedikitpun. Kedua tangan Ken menjamah setiap inci tubuh istrinya. Keduanya hanyut dalam gelora panas penuh cinta, seakan merelakan satu sama lainnya.


Hingga Ken mulai menuntun untuk mulai memproses Kenan Junior, lelehan air mata dan pekikan Alice mengisi kamar tersebut tidak lupa desisan Kenan karena punggungnya di cakar oleh Alice.


"I love you." Ucap Ken lagi setelah berhasil dengan penuh perjuangan.


"I love you to." Jawab Alice dengan mata sembabnya.


Ken mencium kedua mata sipit Alice penuh kasih sayang, "Maaf sayang, ini juga pertama bagiku." Kata Ken jujur.


Alice mengangguk paham, sepasang manusia yang baru pertama merasakan surga dunia tengah berbagi peluh dan desa*han di kamar yang luas dengan di temani angin malam yang menerpa tirai putih hingga bergerak indah. Baik Kenan maupun Alice hanyalah pemain amatir yang baru meneguk madu dalam pernikahan.


"Hah...hah... sayang, ah." Racau Ken dalam permainannya.


"Ah, Mas!" Seru Alice menjambak rambut Kenan dan tubuhnya bergetar hebat.


Ken terus memompa tubuh Alice, karena dirinya belum menemukan ujungnya.


"Alice capek Mas." Rengek Alice di bawah kungkungan Kenan.


"Sebentar lagi sayang, se...bentar.. Ah." Jawab Kenan.


Tubuh Alice terombang ambing di bawah akibat permainan Kenan, sedangkan Kenan berusaha menuntaskan hasratnya namun ini terlalu nikmat untuk berhenti. Hingga Ken merasakan sesuatu ingin meledak dalam dirinya.


Membuat Ken semakin cepat dan cepat, membuat Alice kembali mencapai puncak dengan mengigit tangannya sendiri sedangkan Ken melonglong panjang dan menancapkannya sedalam mungkin berharap Alice segera hamil anak mereka.


Ken tumbang di atas tubuh Alice dengan nafas memburu begitu juga peluh yang membasahi keduanya, "Hah...Hah...maafkan aku sayang sudah membuatmu lelah." Kata Kenan.


Alice hanya mengangguk sudah tidak sanggup untuk berkata-kata.


"Ayo kita mandi." Ucap Ken yang masih berada di atas Alice.


"Keluarkan dulu, Mas." Jawab Alice yang masih merasakan sesuatu mengganjal.

__ADS_1


"Hehe, iya. Lupa." Kata Ken dengan cengir kudanya.


Ken menggendong Alice menuju kamar mandi, meskipun ini pertama juga untuk Kenan. Namun Ken sudah belajar banyak dari membaca novel berjudul Pernikahan Kontrak Sang CEO.


__ADS_2