
Happy Reading 🌹🌹
Alice berjalan memasuki mansion dengan menghela nafas pelan, kedua netra Alice mengedarkan pandangannya ke seluruh menjuru mansion. Nampak sepi, mengingat jika kedua mertuanya tengah berada di luar negeri sedangkan untuk Kakek Wijaya entah ke mana.
"Nona sudah pulang?" Tanya seorang maid yang sangat Alice kenal.
"Sudah, oh iya aku memiliki sesuatu untukmu. Kumpulkan semua maid dan penjaga mansion di halaman belakang ya." Ucap Alice dengan senyum yang mengembang sempurna.
Maid tersbeut nampak ingin bertanya namun di urungkan, melihat majikannya sudah berjalan cepat menaiki tangga. Segera maid yang cukup dekat dengan Alice memanggil rekan-rekannya untuk berkumpul di halaman belakang sesuai perintah Alice.
Sedangkan Alice segera membuka kamar dan menaruh tansnya begitu saja di sofa, mengganti sepatu helsnya dengan sepatu rumahan yang nyaman. Kaki panjang dan rampingnya berjalan ke dalam walk in closed, terlihat satu koper besar berwarna abu-abu yang masih utuh.
Tanpa menunggu lama segera Alice menarik koper besar itu dengan susah payah, membawanya menuruni anak tangga satu persatu. Meski berat dan lelah namun Alice sangat tidak sabar membagikannya kepada para pekerja di mansion ini.
Nampak kedua penjaga tergopoh-gopoh mendekat ke arah majikannya yang nampak muncul dengan menarik koper besar yang berat.
"Biarkan kami saja, Nona." Ucap penjaga.
Alice menngangguk dengan tersenyum, "Terima kasih." Jawab Alice dengan menyerahkan koper tersebut.
"Baiklah, ayo duduk saja di tanah kita membuat lingkaran." Ucap Alice yang sudah sampai.
Nampak para maid saling menatap bingung, tidak mungkin majikannya di biarkan duduk di atas tanah yang kosong. Alice segera menjattuhkan bobot tubuhnya di atas tanah dan segera di ikuti yang lainnya.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Alice yang melihat seorang maid beranjak dari duduknya.
"Mengambil kursi untuk anda, Nona." Jawabnya jujur.
"Heh, tidak masalah kita duduk saja begini, Matahari juga tidak begitu terik hari ini, tolong taruh kopernya ke tengah." Ucap Alice kepada maid dan penjaga yang membantunya tadi.
Nampak semua pegawai mansion Wijaya tengah menanti apa yang akan majikannya perlihatkan, hingga semua nampak berseru dengan riang.
"Wah...."
"Kalian mungkin sudah tahu, jika aku dan suamiku habis dari Bali. Aku membawakan sedikit oleh-oleh untuk kalian, tolong jangan lihat dari harganya meski hanya barang murah tapi aku tulus membawakannya untuk kalian." Ucap Alice lembut dengan memandangi seluruh pegawai mansion.
__ADS_1
"Ya ampun Nona, kami justru yang berterima kasih karena Nona masih mengingat kami mekipun sedang berlibur dengna Tuan Kenan." Ucap kepala Maid dengan perasaan haru.
"Benar Nona, seharusnya Nona tidak perlu repot-repot membawakan kami hadiah. Meskipun kami juga berharap...hahaha." Ucap penjaga kebun dengan guyonnya.
Ucapan tukang kebuh mendapatkan sorakan rekan-rekannya dan di akhiri dengan tawa, Alice yang melihatnya juga ikut bahagia.
"Baiklah, kalian duduk yang rapi. Akan aku bagikan." Ucap Alice dengan lembut.
Alice membagikan masing-masing pekerja dengan satu tas yang berisi macam-macam pernak pernik dan juga makanan khas Bali. Sengaja Alice hanya membelikan untuk para pekerja mansion dan juga rekan kerjanya di kantor, karena Alice berfikir jika keluarga sang suami sudah sangat cukup mampu untuk membeli semua barang tersebut.
"Apakah kalian suka?" Tanya Alice dengan wajah cerah.
Semua pegawai nampak mengangguk dengan senyum bahagia mereka, "Kami sangat menyukainya Nona, sekali lagi terima kasih." ucap penjaga.
"Sama-sama, yasudah kalian bisa bubar atau masih ingin di sini. Aku akan kembali masuk untuk istirahat." Ucap Alice dengan menutup kembali kopernya.
"Nona tidak makan siang dulu, akan segera kami masakkan." Ucap seorang maid bagian dapur.
"Tidak perlu, aku belum lapar." Tolak Alice lembut.
*
*
*
Terdengar suara gemericik air di dalam kamar berukuran besar yang sepi itu, tidak berselang lama suara ait telah mati hingga keluar Alice yang mengenakan baju handuk dengan rambut basahnya.
Alice mendudukkan dirinya di sofa sembari menunggu rambutnya yang basah cukup kering untuk di hairdraiyer, jemari lentiknya merogoh tas jinjing untuk mengambil ponsel.
Kening Alice mengkerut dalam karena memiliki banyak panggilan tidak terjawab, nampak Ferdy, Bara, dan Kakek Wijaya.
"Ada apa ya, apa masalah pekerjaan?" Gumam Alice.
Segera Alice menghubungi Ferdy terlebih dahulu karena takut jika Ken membutuhkans esuatu, mengingat jika Ken dan Ferdy tengah ada keperluan keluar.
__ADS_1
"Halo,ada apa Fer? Apa kamu dan Kenan membutuhkan dokumen penting?" Alice mencecar pertanyaan tanpa menunggu Ferdy berkata.
"Oh, bukan Nona. Begini Nona, karena proyek di lapangan ada sedikit masalah sehingga Anda langsung saja ke proyek sampai proyek itu selesai, saya sudah menghubungi Tuan Bara untuk masalah ini." Jelas Ferdy pelan.
Ucapan Ferdy membuat alis Alice bergelombang, "Lalu yang membantu Kenan siapa?" Tanya Alice kemudian.
"Saya akan meminta mantan sekertaris yang kemarin untuk menggantikan posisi anda sementara waktu, Nona." Jawab Ferdy cepat dan mantap.
Alice mengangguk di sebrang telfon tanda mengerti, "Baiklah, jika begitu aku akan mengambil dokumen kerjasama dan proyek yang tertinggal di perusahaan."
"Tidak perlu Nona, seluruh berkas dan dokumen sudah saya kirimkan ke Perusahaan Santosa sehingga anda dan Tuan Bara besok bisa langsung ke proyek." Kata Ferdy dengan tenang.
"Baiklah, maaf merepotkanmu Ferdy." Ucap Alice dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa Nona, ini sudah tanggung jawab saya sebagai asisten Tuan Kenan." Jawab Ferdy.
"Jika begitu aku tutup, jangan lupa kalian makan siang pasti sangat lelah bekerja di luar kantor." Ucap Alice yang kemudian mematikan sambungan telfonnya tanpa menunggu jawaban Ferdy.
Nampak Ferdy mengehla nafas panjang, memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. "Maafkan aku Nona Alice." Gumam Ferdy.
Ferdy melangkah keluar dari ruangannya dan berjalan ke arah kantor Kenan, tanpa mengetuh pintu Ferdy langsung membukanya dengan cepat dan memasang wajah datar. Terlihat Selena menangis di samping Ken dengan menyandarkan kepalanya di bahu pria beristri itu.
Ken yang kaget dengan kehadiran Ferdy secara reflek menjauh dari Selena begitu saja, "Fer, i-ini bukan seperti yang kamu pikirkan." Ucap Ken tergagap.
Namun Ferdy hanya mentap datar ke arah Kenan dan Selena, kehadiran Ferdy membuat Selena menjadi kesal karena mengganggu acara merayunya.
"Tuan, saya baru saja mendapatkan telfon dari Nona Alice untuk mengajak anda makan siang dan untuk anda Nona Selena, segeralah pergi karena akan menimpulkan gosip jika seorang wanita terlalu lama di ruangan pria beristri." Ucap Ferdy pelan namun tajam.
Selena memejamkan kedua matanya dan mengatur nafasnya agar tidak terpancing emosi, "Maaf Ken, aku tidak tahu jika kamu sudah menikah. Maaf juga Ferdy, aku pamit dulu jika begitu." Selena segera beranjak dari duduknya dengan membawa tas jinjing mewah di tangan kanannya.
Ferdy menyingkirkan tubuhnya hingga Selena dapat dengan mudah melewatinya, kepala Ferdy miring guna memastikan jika Selena benar-benar pergi.
"Apa kamu puas." Ucap Ken tiba-tiba.
"Apa kamu juga puas membohongi Alice, keluar perusahaan pantatmu. Kamu berduaan dengan wanita lain di dalam ruangan sedangkan istrimu mencemaskanmu di rumah, jika tidak memiliki hati setidaknya pakai otakmu Kenan." Jawab Ferdy sarkas dan segera meninggalkan Ken begitu saja.
__ADS_1
...🐾🐾...