
Happy Reading 🌹🌹
Mobil berwarna merah membelah lalu lintas yang mulai padat dengan kecepatam sedang, sesekali matanya melihat ke arah spion karena akan menyalip kendaraam di depannya.
Melakukan perjalanan dua puluh menit lamanya, Alice akirnya sampai di perusahaan Mitrabahtera. Segera Alice keluar dari dalam mobil setelah memarkirkannya di basement perusahaan.
Para karyawan menyapa atasannya dengan ramah Alice pun membalas tak kalah ramah juga, meskipun pengangkatan Alice sebagai petinggi perusahaan belum di sahkan namun William sudah memperkenalkan Alice kepada seluruh petinggi dan karyawan Mitrabahtera.
Kaki jenjangnya berjalan memasuki lift, perusahaan Mitrabahtera bukan seperti perusahaan Wijaya maupun Santosa yang memiliki lift pribadi untuk atasan mereka.
Perusahaan Mitrabahtera memang bukan perusahaan kecil, namun sejak merintis usaha. William tidak membedakan atara atasan dan bawahan, menurutnya tiga lift cukup untuknya toh hanya di jam-jam tertentu para karyawan mengantri menggunakan lift.
Tidak lama Alice telah sampai di lantai tujuannya, memasuki ruangan yang sudah tiga minggu ini menjadi tempat dirinya bekerja bersama sang ayah.
"Ayah." Panggil Alice kaget karena mendapati sang Ayah pagi ini sudah di kantor.
"Sudah sampai, kenapa pagi sekali kamu datang Alice?" Tanya Ayah William kepada Alice.
"Tidak apa-apa, hanya ada beberapa pekerjaan yang harus selesai hari ini Ayah." Jawab Alice berbohong.
Alice melangkahkan kakinya di meja yang tidak jauh dari meja sang Ayah, meletakkantas jinjing berwarna hitam di atas meja kerjanya.
"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari Ayah kan?" Tanya William curiga.
"Tidak, Ayah." Jawab Alice pelan tanpa melihat ke arah sang ayah.
"Minggu depan, datanglah ke mansion kota makan malam bersama." Ucap William kepada sang putri.
Alice mengangguk, "Baik Ayah." segera jemarinya berselancar dengan cepat di papan keyboard komputer miliknya.
Helaan nafas terdengar berat, dirinya harus mengajak bicara Kenan jika begitu. Tidak mungkin Alice menggunakan bahasa isyarat.
Ayah William menatap Alice dengan tatapan yang sulit di jabarkan.
*
*
*
__ADS_1
Sedangkan di perusahaan Wijaya, seorang wanita yang berpakaian cantik dan sexy tengah murka di depan resepsionis.
"Kenapa aku tidak boleh masuk! Kamu tidak tahu siapa aku, huh!" Serunya dengan angkuh dan suara keras.
"Maaf Nona ini perintah atasan." Jawab resepsionis tetap tenang dan sopan.
"Aku ini calon istri atasanmu! Aku akan menyuruhnya untuk memecatmu!" Seru Selena murka dengan menujuk wajah resepsionis dengan jari telunjuknya.
"Maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah." Jawab reseosionis lagi yang tak gentar melawan Selena.
Mutia yang melihat kerumunan segera berjalan mendekat akibat jiwa kepo yang meronta-ronta, "Ada tontonan apa sih, apa pembagian THR." Ucapnya pelan dengan berjalan cepat.
Suara tamparan terdengar keras, Selena menampar resepsionis dengan keras hingga wajah sang resepsionis itu terpelanting ke samping.
Dengan nafas yang memburu nampak dari naik turunnya dada Selena dengan cepat, "Tutup mulutmu! Aku calon istrinya Kenan dan tidak mungkin dia melarang calon istrinya untuk naik ke ruangannya!" Seru Selena dengan menatap nyalang ke arah reseosionis.
Mutia yang mendengarnya membelalakkan kedua matanya dengan lebar, "Apa! Istri tuan Kenankan Alice, sebenarnya apa yang terjadi. Aku harus memastikan kebenarannya kepada Alice." Gumam Mutia dalam hati.
Segera Mutia mengambil kamera miliknya dan memfoto keributan di meja reseosionis, mengirimkan dengan cepat kepada Alice dan mengajaknya bertemu.
"Aku membutuhkan penjelasanmu Alice, kita bertemu di Cafe Kaktus jam dua belas siang."
Begitulah isi pesan Mutia kepada Alice, saat Mutia hendak pergi datanglah Ferdy bersama Kakek Wijaya sebagai presider perusahaan.
Padahal Ferdy menatap tajam ke semua karyawan yang tengah berkerumun bukan hanya Mutia seorang, begitulah manusia yang memandang dari sudut berbeda dengan kita.
"Ada apa ini?"
Selena membeku mendengar suara yang sudah lama tidak dia dengar.
"Apa kalian tuli." Ucapnya dingin.
"Maaf Tuan Wijaya, saya hanya menjalankan perintah Tuan Kenan untuk melarang nona ini menemui Tuan Kenan. Namun, nona ini tidak percaya dam berusaha menerobos masuk." Jawab resepsionis dengan menunduk.
Kakek Wijaya berjalan mendekat ke arah Selena dan menatap tajam wanita di depannya, ingin rasanya mendendang Selena saat ini juga namun Kakek Wijaya harus tetap menjaga wibawanya di depan para karyawan.
"Ada urusan apa lagi dengan cucuku? Bukankah kamu sudah tahu jika Kenan sudah menikah, kenapa kamu gemar sekali datang ke sini?" Cecar Kakek Wijaya yang pura-pura bodoh di depan Selena, seakan tidak tahu tujuan wanita di depannya.
Para karyawan kaget begitu juga Mutia, bahkan Mutia sudah dapat menyimpulkan jika Alice memang istri Kenan bukan wanita yang tengah berhadapan dengan presider mereka.
__ADS_1
Para karyawan mulai berbisik-bisik namun masih dapat di dengar oleh Selena dengan jelas, pandangan remeh dan merendahkan di dapatkan Selena saat ini.
"Aku ada urusan dengan Kenan, Kek." Jawab Selena dengan seujung keberaniannya.
"Hanya cucu dan menantuku saja yang boleh memanggilku kakek, kamu bukan siapa-siapa di keluarga Wijaya." Ucap Kakek Wijaya dengan tegas dan menohok.
Selena mencengkram tas jinjingnya dengan erat, emosinya semakin meledak-ledak saat tidak mendapatkan dukungan dari Kakek Wijaya.
Yah, sedari awal berpacaran dengan Kenan. Kakek Wijaya adalah orang pertama yang menentang dengan keras hubungannya.
"Maaf, aku hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting kepada Kenan." Ucap Selena menahan amarahnya.
"Sampaikan saja kepada resepsionis nanti akan di sampaikan kepada Kenan. Tidak perlu kamu menemuinya, ingat batasanmu." Kata Kakek Wijaya.
Kakek Wijaya segera berjalan berlalu dari kerumunan itu, sedangkan Ferdy membubarkan para karyawan untuk kembali bekerja.
Ferdy yang akan menyusul langkah Kakek Wijaya menghentikan langkahnya terlebih dahulu di samping Selena membisikkan sesuatu yang membuat wajah Selena menjadi pias.
Segera Ferdy berlalu dari Selena dengan senyum semirknya, cengkraman Selena bergetar karena ucapan Ferdy. Kedua kaki Selena bak jelly yang tidak mampu untuk berdiri.
"Tidak ... Tidak ... Aku tidak mau!"
Selena menggeleng dan kemudian berteriak seperti orang gila, bahkan bibirnya bergetar dan air matanya luruh begitu saja.
Keamanan yang melihat Selena segera menyeretnya keluar, tidak ada pemberontakan dari Selena. Selena benar-benar tidak kuat berjalan saat ini.
Kakek Wijaya dan Ferdy yang berada di dalam lift nampak diam dengan pikiran mereka masing-masing.
"Apa Kenan masih bertemu dengan wanita itu?" Tanya Kakek Wijaya serius.
"Benar Tuan, dari rekaman yang saya sembunyikan terakir pertemuan mereka adalah tiga minggu yang lalu. Tuan Kenan menyampaikan kepada Nona Selena untuk menjauhinya karena terjadi kesalahpahaman dengan Nona Alice." Jelas Ferdy jujur.
"Tiga minggu lalu?" Beo Kakek Wijaya.
"Benar Tuan, setelah itu. Tuan Kenan meminta bantuan saya untuk menyelidiki sesuatu namun sampai saat ini saya tidak dapat menemukan bukti apapun." Ucap Ferdy.
Kepala Kakek Wijaya memutar, menoleh ke arah Ferdy, "Apa yang kalian sembunyikan dariku!" Kata Kakek Wijaya tegas dan menatap tajam Ferdy.
"Saya juga kurang tahu, entah Tuan Kenan di jebak atau tidak. Yang jelas Tuan Kenan meminta saya mencari CCTV di apartemen Nona Selena." Jawab Ferdy dengan jujur dan lugas.
__ADS_1
"Apa! Bagaimana bisa kita kecolongam Fer, ini tidak bisa di biarkan. Jangan harap mereka berhasil merusak rumah tangga Kenan dan Alice, kita harus membuat rencana yang baru." Kata Kakek Wijaya yang berjalan keluar dari lift menuju ruangan Kenan.
...🐾🐾...