
Happy Reading 🌹🌹
Terdengar suara ketukan antara benda padat dengan kaca meja, menghadap ke arah jendela bening dalam ruangannya dengan menyandarkan punggung Bara menatap gedung-gedung tinggi di depannya dengan pikiran yang berkecamuk.
Di tangan kirinya memegang sebuah foto di mana seorang wanita keluar dari ruangan dokter kandungan, ya siapa lagi jika bukan Alice. Wanita yang memporak-porandakan kewarasan Bara beberapa waktu belakangan ini.
"Apakah aku harus mengubur dalam cintaku, Alice." Ucap Bara pelan.
Hembusan nafas panjang dan kasar terdengar, Bara segera membuka laci dari meja kerjanya dan mengambil beberapa berkas yang berisi bukti-bukti yang sudah Bara kumplkan selama ini.
Kedua netra Bara menatap bukti-bukti di depannya dengan pandangan yang sulit di artikan, dengan kasar Bara menaruhnya di atas meja kerja.
"Hah, bagaimana aku menyampaikannya kepadamu Alice."
Bara memijit pelipisnya dengan kasar, kepalanya terasa berdenyut karena permainan orang-orang di sekitar Alice dan Kenan.
"Baiklah, sebagai sahabat yang baik aku akan mengalah dan membantu kalian."
Bara segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar untuk bertemu dengan Kenan, namun langkah Bara terhenti karena Jundi berada di depannya dengan membawa paper bag di tangannya.
"Apa kamu mau pergi?" Tanya Bara dengan menaikkan sebelah alisnya.
Jundi memberi hormat sebelum menjawab, "Tidak, Tuan. Ini titipan dari Nyonya Citra untuk anda dan Dokter Rasyah." Jawab Jundi jujur.
"Ada apa nenek sihir itu, kenapa tiba-tiba baik." Ucap Bara merasa heran.
"Di dalam tas ini berisi pakaian yang harus Anda kenakan di pernikahan Tuan Kenan dan Nona Selena lusa." Jelas Jundi pelan.
Bara melebarkan kedua matanya dengan sempurna, "APA! Ulangi lagi." Teriak Bara dengan memegang kedua sisi pundak Jundi.
"Tuan Kenan dan Nona Selena akan menikah lusa." Ulang Jundi menatap lekat Bara.
__ADS_1
"Breng*sek! Ayo cepat kamu ikut aku." Bara dengan emosi yang meletup-letup berjalan dengan menyeret Jundi.
Kedua pria dengan suasana hati yang berbeda tersebut, memasuki lift untuk menuju lantai dasar perusahaan Santosa. Tiidak membutuhkan waktu lama, keduanya telah sampai di lantai santu dengan langkah lebar dan aura yang menyeramkan.
Bara berjalan keluar dan segera masuk ke dalam mobil di ikuti dengan Jundi, "Ke mansion Kenan Wijayakusuma." Kata Bara dengan suara dingin.
Sopir perusahaan mengangguk dan segera menjalankan mobil sedan berwarna hitam tersebut pergi dari area perusahaan menuju alamat yang di tuju, terdengar nafas Bara yang memburu dengan kasar bahkan Bara memukul kaca mobil dengan keras meski tidak sampai rusak.
"Breng*sek kamu Kenan!" Ucap Bara kesal.
"Apa Alice tahu hal ini?" Tanya Bara tanpa melihat ke arah Jundi.
"Saya rasa belum, Tuan. Menurut orang kita, pengacara dari keluarga William telah mengurus surat perceraian keduanya dan sepertinya Nona Alce sudah menerima surat itu." Jawab Jundi jujur.
Bara nampak mengetuk-ngetukkan jemarinya di jendela mobil, "Coba hubungi Rasyah." Ucap Bara pada Jundi.
Jundi segera menghubungi Dokter Rasyah sesuai perintah Bara dan menyerahkan ponselnya kepada Bara karena sudah terhubung.
"Apa benar Alice hamil?" Tanya Bara dengan membuang pandangannya ke luar jendela.
"Tanpa aku menjawab pasti kamu sudah mengetahuinya." Kata Dokter Rasyah yang sudah mendapatkan laporan dari Ferdy.
"Apa pria bod*oh itu tau?" Tanya Bara lagi.
"Belum, aku malah mendapatkan kabat jika lusa mereka akan menikah." Dokter Rasyah berkata sambil tertawa.
"Mau sampai kapan bermain kucing-kucingan seperti ini?" Tanya Bara lagi.
"Kami hanya mengikuti perintah saja." Kata Dokter Rasyah singkat.
"Kamu ingat, kamu ingin sekali membalas Kenan karena selalu mendapatkan juara kelas?" Bara mengingat ucapan Dokter Rasyah saat pertama kali kenal.
__ADS_1
"Hahaha, itu sudah sangat lama. Kamu masih mengingatnya." Kata Dokter Rasyah yang mengingat masa lalunya dengan Kenan.
"Bukankah sekarang pembalasan yang lebih mengasikkan daripada juara kelas, biarkan pria bodo*h itu menikah dan kita bermain di hari pernikahannya." Bara memberikan ide balas dendam untuk Kenan.
"Ide yang bagus, aku harap Alice jangan sampai tahu dulu. Karena kandungannya sempat lemah, dia baru tiga haru lalu pulang dari rumah sakit." Kata Dokter Rasyah mengingatkan kepada Bara.
Bara sontak menegakkan tubuhnya karena kaget, di tatapnya Jundi dengan tajam karena Bara tidak mendapatkan laporan apapun dari asisten maupun mata-mata yang sudah dia sebar.
"Baiklah, aku akan menemui Kenan sekarang." Jawab Bara yang masih menatap sebal ke arah Jundi.
"Untuk apa?" Tanya Dokkter Rasyah bingung.
"Meghajarnya, apalagi." Kata Bara jujur.
"Biarkan Ken sadar dengan perasaannya sendiri, kamu tahu dia sudah beberapa hari tidak bisa memejamkan kedua matanya. Dia bilang selalu muncul bayangan Alice saat menangis dan marah, jika Ken melihat orang menangis dan marah maka dia akan muntah-muntah." Dokter Rasyah menjelaskan keadaan calon Ayah yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
"Benarkan? Aku rasa itu setimpal. Baiklah jika begitu aku akan menemui Alice saja, saat seperti ini dia memputuhkan pundak yang kokoh." Jawab Bara dengan tertawa renyah.
"Dasar gila, sudah aku harus kembali bekerja masih banyak pasien yang harus aku tangani."
Bara mematikan sambungan telfonnya setelah Dokter Rasyah menutup begitu saja, "Kenapa kamu tidak mebgatakan padaku jika Alice masuk rumah sakit, huh!" Ucap Bara dengan melempar ponsel Jundi ke bangku samping.
"Maaf Tuan." Jawab Jundi.
"Putar arah, kita pergi ke mansion William." Ucap Bara dengan bersedekap dada, menyandarkan punggung dan memejamkan kedua matanya.
Kenapa kisah cinta serumit ini.
...🐾🐾...
__ADS_1