
Happy Reading 🌹🌹
Suara deru mobil terdengar mendekat, Alice nampak sibuk memasak di dapur. Ya, meskipun Alice marah namun Alice tetap melayani suaminya seperti istri pada umunya. Memasak untuk sarapan dan makan malam, menyiapkan pakaian kerja, menyediakan kopi di pagi hari, membersihkan rumah, dan juga menata taman agar sedap di pandang.
Langkah kaki terdengar melangkah masuk, namun Alice enggan untuk menyapa Kenan. Dirinya masih marah kepada sang suami, Ken merasa bersalah kepada Alice berjalan mendekat dan mendekap erat tubuh ramping sang istri.
Merasakan lengan kekar memeluk perut rampingnya membuat Alice kaget untuk sesaat, namun segera di normalkan kembali karena tidak ingin membuat keduanya celaka terkena cipratan miyak goreng panas.
"Jangan begini, Mas. Aku sedang memasak." Ucap Alice pelan.
Ken menelusupkan wajahnya ke ceruk leher sang istri mencari tempat favorit dan ternyamannya, menghirup aroma khas Alice hingga memenuhi rongga paru-parunya.
"Kenapa?" Tanya Alice pelan.
"Aku rindu." Jawab Ken.
"Setiap hari sudah bertemu, apa yang Mas rindukan." Ucap Alice lembut dengan mengacak surai hitam sang suami.
"Maaf, maafkan aku. Aku salah karena menolong Selena tanpa ijin darimu sayang, tapi sungguh aku tidak berselingkuh di belakangmu." Ken berkata panjang lebar menjelaskan kepada Alice di saat keduanya tidak marah.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Mas? Memaafkanmu sudah menjadi kebiasaanku." Kata Alice yang membuat hati Ken tercubit.
Ken mengeratkan pelukannya, "A-aku tidak bisa mengusir Selena dari apartemen, karena dia hanya hidup sebatang kara. Beri waktu dia untuk menemukan tempat tinggal baru dan pekerjaan." Ucap Ken yang masih sempat-sempatnya melindungi Selena.
"Terserah, Mas. Itu apartemen miliknya darimu bukan, aku tidak ada hak mencampuri hartamu yang sudah di berikan kepada wanita masa lalumu." Alice berkata karena akan semakin sakin mendengar ucapan Kenan kedepannya.
"Terima kasih kamu sudah mengerti aku, Sayang." Ucap Ken tanpa tahu malu.
"Mas sudah mendapatkan apa yang di ingingkan bukan, sekarang lepaskan aku dan segeralah mandi agar cepat makan malam." Kata Alice.
"Aku akan membantumu memasak." Ucap Ken yang melepaskan pelukannya.
"JANGAN! sudah sana pergilah mandi Mas, biarkan aku yang memasak." Tolak Alice cepat bahkan langsung mendorong Kenan agar menjauh.
Ken hanya memasang wajah masam dan berpamitan kepada Alice untuk mandi kemudian makan malam seperti yang di perintahkan kepada Alice. Hingga Alice mendapatkan pesan, dengan cepat mengelap tangannya yang basah dan membuka pesan. Nampak sang ayah yang tengah menelfon saat pesan tersebut baru dia terima.
"Halo, Ayah." Ucap Alice.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Nak? Tanya William halus.
"Baik, Ayah dan Ibu apa kabar?" Jawab Alice sembari bertanya kabar kedua orang tuanya.
"Kami baik sayang, oh iya. Apa kamu kembali bekerja di perusahaan Wijaya?" Tanya William.
"Tidak, Ayah. Alice hanya di rumah seperti Ibu." Jawab Alice dengan tersenyum.
"Begini, Ayah ingin kamu bekerja di perusahaan kita sendiri. Kamu tahu Alice, kesehatan Ayah sudah mulai menurun jika sampai Ayah melakukan kesalahan maka pengorbananmu dan hasil kerja keras Ayah akan sia-sia. Bekerjalah memimpin perusahaan." William mengutarakan maksud dan niatan menghubungi Alice.
"Tapi, Alice harus meminta ijin kepada suami dulu." Jawab Alice pelan.
"Ayah yakin Kenan akan menyetujuinya, kamu hanya bekerja di perusahaan keluarga bukan perusahaan orang lain." Kata William dengan tenang.
"Alice akan sampaikan kepada Ken dulu, Ayah." Jawab Alice pelan.
"Baiklah, segera kabari Ayah." Ucap William.
Seperti kebiasaan Alice, Alice hanya mengangguk sebagai jawaban iya dan mematikan sambungan telfon jika di rasa sudah tidak perlu.
Hidung Alice mengendus dengan tajam, "Bau gosong masakan siapa ini." Ucapnya pelan.
Kenan yang turun dari lantai dua berteriak dan segera berlari ke arah dapur, Alice kaget melihat penggorengannya yang sudah terbakan oleh jagoan merah. Tanpa berfikir panjang, Kenan mengambil keset dan berlari ke kamar mandi ci celupkan ke dalam bak mandi yang terisi penuh dengan air.
Clas!
Kepulan asap nampak jelas saat Ken melemparkan keset basah ke dalam wajan yang terbakar itu dengan cepat, Alice memegang dadanya dengan nafasnya yang naik turun.
"Sayang kamu tidak apa-apa?" Tanya Ken panik dengan memegang kedua pundak Alice memiringkan tubuh istrinya ke kanan dan ke kiri.
"Hah, ti-tidak apa-apa." Jawab Alice terbata karena shock.
Ken langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat, dirinya begitu takut jika terjadi sesuatu kepada sang istri. Kecupan kecil di daratkan kepada Alice dan mengelus punggungnya pelan karena Ken merasa jika tubuh istrinya gemetar
*
*
__ADS_1
*
Di apartemen.
Suara lenguhan terdengar di dalam kamar, terlihat dirinya berusaha duduk meski merasa jika lehernya snagatlah sakit.
"Achh, di mana aku?" Gumam Selena pelan dengan menahan sakit pada tengkuk lehernya.
Kedua bola mata Selena melebar, dia ingat jika menelfon Kenan namun kesadarannya hilang saat membuka pintu. Sontak hal tersebut membuat Selena ketakutan.
"Aku harus menghubungi Kenan, bagaimana jika ada orang yang menjahatiku." Ucap Selena.
Segera Selena beranjak dari atas kasurnya dengan cepat, menghiraukan rasa pusing dan sakitnya untuk mencari ponsel yang entah di mana. Dengan menjelajah semua ruangan dan sudut apartemen, hingga ketemu ponselnya yang berada di lantai depan pintu masuk.
Dengan cepat Selena mengambilnya, melihat apakah ada yang aneh dengan ponsel miliknya. Segera Selena mencari kontak Kenan dan menghubunginya, cukup lama Selena melakukan panggilan kepada Ken namun tidak ada jawaban.
"Si*al, kemana sih kamu Ken, angkat telfonku." Omel Selena.
Nampak, Selena berjalan mondar mandir di depa televisi dengan ponsel yang di tempelkan pada tengika kanannya. Tidak ada jawaban padahal Selena sudah menghubungi Kenan berulang kali, Arghh! Selena melempar ponsel dengan marah karena Ken tidak kunjung mengangkat panggilannya.
"Pasti wanita itu menguasai Kenan saat ini, nikmati saja kebersamaan kalian. Aku akan menghancurkannya!" Umpat Selena dengan tatapan penuh kemarahan dan kebencian
Dengan kasar Selena mengambil kembali ponselnya, bergerak mencari nomor seseorang yang membantunya lari dari cengkraman pria jahat itu.
"Halo, kapan kau akan membantuku! Aku sudah tidak tahan, ada seseorang yang bahkan ingin mencelakaiku. Aku yakin orang itu suruhan keluarga Wijaya." Cecar Selena begitu orang itu mengangkat panggilan Selena.
"Apa keluarga Wijaya mengetahui jika kamu telah kembali?" Tanyanya.
"Aku tidak tahu, pasti pria tua itu mengetahuinya." Umpat Selena kepada Kakek Wijaya.
"Bagus jika mereka tahu, kamu bisa muncul di depan mereka secara bebas sekarang." Jawanya.
"Kau gila! Istri Kenan bukan wanita lemah, bahkan dia merendahkanu dengan mulut tajamnya. Aku yakin jika Alice bahkan di lindungi oleh pria tua itu." Sentak Selena dengan geram.
"Tenanglah, selama kamu mengikuti perintahku maka kamu akan menjadi Nyonya Kenan." Ucapnya menjanjikan tahta tinggi di keluarga Wijaya.
Selena tersenyum miring, "Baiklah, asalkan aku dapat menyingkirkan istri Kenan segera." Kata Selena dengan angkuh.
__ADS_1
...🐾🐾...