
Happy Reading 🌹🌹
Di luar prusahaan Wijaya terlihat dua mobil. Mewahmolik dua atasan perusahaan masuk ke dalam basement.
Kening Ken berkerut karena melihat mobol Bara mengikutinya di belakang.
"Apa hari ini ada pertemuan dengan Bara?" Tanya Ken pada dirinya sendiri.
Di luar perusahaan terlihat Ferdy berlari menuju basement untuk menyambut Kenan, Ferdy juga nampak bingung saat Bara keluar dengan Jundi dari dalam mobil.
Ken yang melihat Bara berjalan perlahan mendekat, "Apa kita memiliki janji hari ini?" Tanya Ken penasaran.
"Tidak." Jawab Bara singkat.
"Lalu, kenapa kamu datang ke perusahaanku?" Tanya Bara lagi.
"Hanya ingin mampir ngopi saja." Jawab Bara cepat.
Ken semakin bingung apakah perusahaan Santosa sudah jatuh miskin, "Apa perusahaanmu sidah jatuh miskin sehingga tidak mampu membeli kopi." Ucap Ken.
"Hemm, kopi di perusahaanmu berbeda." Jawab Bara asal.
Bara berjalan mendahului Ken selaku pemilik perusahaan Wijaya, Jundi memberikan hormat kepada Ken dan mengikuti langkah Bara.
Ken segeea berjalan cepat menyusul Bara yang di ikuti Ferdy di belakangnya.
Terlihat kedua pria tampan dan rupawan bahkan kekayaan tidak habi untuk tujuh turunan memasuki perusahaan Wijaya.
"Apa kamu menggaji karyawanmu hanya untuk bergosip?" Tanya Bara yang berjalan beriringan dengan Kenan.
"Tentu tidak, aku tidak membutuhkan karyawan sampah." Jawab Ken tegas.
Keduanya memasuki lift, segera Ferdy menekan tombol menuju lantai CEO dimana ruangan Ken berada.
"Fer, apa kamu mendengar sesuatu?" Tanya Ken di belakang bersama bara.
Ferdy hanya membuang nafasnya pelan, "Ini tentang Nona Alice." Jawab Ferdy jujur.
Bara dan yang lainnya terlihat kaget mendengar nama Alice di sebutkan.
"Kenapa?" Bara terlihat sangat antusias setelah mendengar nama Alice.
__ADS_1
"Ekhm, ada apa dengan Nona Alice Fer?" Timpal Jundi yang mencoba tidak membuat semua sadar jika Bara tertarik dengan Alice.
Bagaimana Jundi tahu jika Bara mulai menyukai Alice , tentu saja setelah kepulangan mereka dari perusahaan Wijaya.
Dengan marah, Bara menyuruh Jundi untuk mencuci tangannya yang bersalaman dengan Alice sebanyak sepuluh kali. Bahkan pakaian yang di kenakan Jundi harus di buang kedalam bak sampah karena sedikit tercium bau parfum Alice.
"Jun, ke sini."
"Saya tuan."
"Cepat cuci tanganmu di sini"
"Di sini tuan?"
Jundi di berhentikan Bara di depan wastafel yang biasa di gunakan para karyawan ketika akan masuk perusahaan Santosa.
Terlihat Bara memgangguk dengan yakin, segera Jundi mencuci tangannya di bawah kucuran air kran.
"Lagi."
Bara menyuruh Jundi mencuci tangannya lagi.
Jundi masih diam menuruti permintaan bara, hingga berulang lima kali membuat Jundi menghentikan aktivitasnya.
"Bukan, tapi kamu menyentuh sesuatu yang indah." Jawab Bara tegas.
Jundi menghembuskan nafasnya kasar, "Apa tuan, tolong jelaskan kepada saya." Timpal Jundi.
"Tidak perlu tahu, sekarang cepat cuci tanganmu lagi." Bara menyalakan kembali kran yang mati tersebut dengan cepat.
Akhirnya Jundi mengikuti kemauan Bara yang tidak masuk akal tersebut, Jundi merasa jika dirinya telah menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya dia sentuh. Tapi apa!
"Tuan, lihat jemari saya sampai keriput karena terlalu banyak mainan air."
Jundi mengangkat kedua tangannya di depan Bara memperlihatkan ujung jemarinya yang keriput sepertu kulit ayam.
"Baiklah cukup, sekarang kamu pergi ke toko depan sana. Lepaskan semua pakaianmu dan buang di bak sampah." Perintah Bara kepada Jundi.
Jundi terperangah di tempat, Ya Tuhan apakah Jundi melakukan kesalahan fatal hari ini.
"Pakaian saya masih bersih dan baru Tuan, kenapa harus di buang." Ucap Jundi frustasi.
__ADS_1
Bara menyeret Jundi sedikit mendekat ke arahnya dan mulai mengendus seperti anjing pelacak polisi. Masih tertinggal parfum yang manis milik Alice.
Kemudian, Bara mencium jas miliknya kenapa tidak ada yang tertinggal di pakaiannya.
Bara baru teringat jika Jundi dan Ferdy yang dekat dengan Alice, mengingat hal itu membuat Bata berdecak kesal.
"Sudah sana, kamu ikuti saja perintahku. Belilah pakaian yang banyak sebagai gantinya." Jawab Bara yang melepaskan Jundi.
Jundi mencium tubuhnya sendiri, terlihat harum. Kenapa Bara menyuruh membuang pakaiannya da membeli pakaian baru.
Jundi hanya pasrah, berjalan di depan toko perusahaan dengan berjalan kaki dan memborong pakaian untuk dirinya sebelum Bara berubah pikiran.
"Mbak, kesini.'
" Saya tuan."
"Coba cium, apa yang salah dengan bau tubuhku?"
Pegawai butik sedikit kaget dengan permintaan Jundi, "Hey! Jangan berpikiran mesum. Aku hanya ingin tahu apa alasan bosku menyuruhku membuang jas mahal ini."
Jundi terlohat kesal karena melihat wajah pegawai yang seakan akan mendapatkan pelecehan.
"Oh, maaf tuan."
"Sudah cepat."
Jundi melepaskan jasnya dan menyerahkan kepada pegawai butik. Terlihat gadis itu mengendus persis seperti Kenan.
"Tuan habis berkencan ya?" Tanya pegawai dengan wajah polosnya.
"Maksudmu?" Jawab Jundi kaget bukan kepalang.
"Di jas Tuan tertinggal parfum manis milik perempuan." Kata pegawai jujur.
"Benarkah!"
Jundi memgambil jasnya dan mencium dengan lebih dalam, benar sedikit bau manis yang bukan parfum miliknya.
Bagaikan kaset rusak, Jundi teeingat jika dirinya beedekatan dengan wanita hari ini adalah dengan Alice. Asisten Kenan.
Terbit senyum tipis Jundi, "Ah, Tuan Bara ternyata menaruh hati dengan Alice." Gumam Jundi.
__ADS_1
...🐾🐾...