
Happy Reading 🌹🌹
"Ayah, Alice istirahat duluan ya." Ucap Alice yang sudah bersiap.
"Tidak ingin makan siang bersama, Ayah?" Tanya William yang memandang wajah anaknya.
"Tidak hari ini, Alice sudah ada janji dengan teman Alice." Jawab Alice dengan tersenyum hangat.
"Teman? Siapa, apa Ayah kenal." Cecar William kepada Alice dengan kening yang berkerut dalam.
"Kapan-kapan akan Alice kenalkan, Alice pergi dulu Ayah. Bye." Alice mencium pipi kanan William dan segera berlalu dari ruangan CEO.
"Hati-hati...!" Teriak William yang hanya mendapatkan balasan lambaian tangan Alice.
Alice segera mengendarai mobil merahnya menuju Cafe Kaktus, di mana cafe itu berada di dekat perusahaan Wijaya.
Alice tidak masalah mendatangi sahabatnya di tempat yang cukup jauh dari kantornya, mengingat jika Mutia seorang karyawan meskipun Alice juga namun pemilik perusahaan adalah ayah Alice sendiri.
Ponsel Alice berbunyi segera Alice mengangkat dengan melouspikernya.
"Halo." Suara pria asing terdengar di telinga Alice.
"Ya, siapa?" Tanya Alice penasaran.
"Maaf Nona, ini saya Dokter Rasyah." Jawab pria di sebrang telfon.
"Iya, ada apa dok?" tanya Alice kembali.
"Begini, Kenan sakit bisakan Nona datang ke Rumah Sakit saat ini." Ucap Dokter Rasyah pelan.
Mendengar ucapan Dokter Rasyah sontak membuat Alice mengerem mendadak, "Apa! Ba-baik saya akan segera ke sana." Jawab Alice shock.
Segera Alice memutar mobilnya secara sembrono bahkan mengabaikan segala umpatan yang dia dapat dari pengendara lainnya.
Pikiran Alice kalut mendengar Kenan sakit, "Tadi pagi baik-baik saja, kenapa bisa sakit." Ucap Alice pelan.
Dengan kecepatan sedang, Alice menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Di mana Dokter Rasyah bekerja.
Dokter Rasyah segera berjalan melewati koridor rumah sakit menuju ruangan lain.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" Seru seorang wanita di dalam.
Pintu ruangan terbuka hingga kepala Dokter Rasya menyembul ke dalam ruangan, "Apa aku mengganggumu?" Tanya pria tampan dengan senyum dimplenya.
"Beb, masuk saja. Aku pikir siapa." Jawab Ana tersenyum lembut.
__ADS_1
Dokter Rasyah hanya tertawa pelan dengan menutup pintu ruangan kekasihnya, sejenak mereka berpelukan.
"Apa yang membawamu kemari beb? Tidak mungkin jika kamu merindukanku." Ucap Ana merajuk karena kekasinya ini adalah dokter yang amat sangat sibuk.
"Aku ingin meminta bantuanmu." Jawab Domter Rasyah dengan wajah serius.
"Bantuan? Apa?" Cecar Ana kepada Dokter Rasyah.
"Periksa kandungan." Kata Domtwr Rasyah dengan tenang.
Dokter Ana adalah dokter kandungan, kedua mata Dokter Ana membelakak lebar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Si-si-siapa yang kamu hamili?" Tanya Dokter Ana terbata.
Dokter Rasyah yang melihat kekasihnya menangis karena salah paham segera memeluk Dokter Ana kembali.
"Hey! Bukan aku, tapi istri Kenan." Jelas Dokter Rasya.
"Kenan? Siapa, aku tidak mengenalnya." Dokter Ana menatap curiga.
"Kenan Wijayakusuma." Jawab Dokter Rasyah singkat.
Ana mendorong dada bidang Dokter Rasyah cepat, menatap wajah kekasihnya dengan wajah terkejut.
"Kamu temannya? Serius? Wah, bisakah aku naik jabatan?" Dokter Ana berkata dengan penuh semangat.
Tak
"Kamu sudah bekerja di rumah sakit sebesar ini masih ingin jabatan, dasar mata duitan." Omel Dokter Rasyah.
Dokter Ana mencebik saja, "Padahal kau sendirinjuga mata duitan." Gumanya.
"Alice sudah sampai, aku akan menjemputnya di lobby dulu." Dokter Rasyah berkata setelah membaca pesan Alice.
"Kamu harus membayarku dengan dinner romantis hari ini." Ucap Dokter Ana kepada Dokter Rasyah sebelum kekuar ruangan.
"Tentu." Jawab Dokter Rasyah dengan mengediokan sebelah matanya genit.
Dokter Ana hanya terngaga dintempat dan tertawa hambar, "Di mana image dinginnya." Gerutunya.
Nampak, Alice tengah duduk di kursi lobby rumah sakit. Dokter Rasyah berjalan cepat ke arahnya.
"Nona." Panggilnya.
Alice menolehkan kepalanya dan berdiri, "Bagaimana keadaan Kenan?" Tanya Alice cepat.
"Ayo ikuti saya." Dokter Rasyah berjalan di depan Alice.
Alice mengikutu langkah lebar Dokter Rasyah dengan cepat di belakangnya, nampak wajah khawatir pada dirinya.
"Ayo masuk, Nona." Ucap Dokter Rasyah yang membuka ruangan Dokter Ana.
__ADS_1
Alice memgangguk dan langsung masuk begitu saja tanpa memperhatikan tulisan ruangan tersebut.
Kedua mata Alice menelisik ruangan kosong tersebut, nampak seorang dokter wanita yang menunggunginya tengah menyiapkan peralatan. Tembok-tembok ruangan itu di penuhi gambar bayi dan ibu hamil.
"Dokter Rasyah, sepertinya kita salah ruangan." Ucap Alice yang menoleh ke arah pria tampan berjas putih itu.
"Tidak, Nona." Jawab Dokter Rasyah pelan.
Alis Alice menukik tajam, hingga suara Dokter Ana memecahkan kebingungannya.
"Selamat siang, Nona Alice. Perkenalkan saya Dokter Ana spesialis kandungan." Ucap Dokter Ana sopan.
"Kandungan?" Beo Alice.
Dokter Ana dan Dokter Rasyah mengangguk, Alice nampak terhuyung kebelakang. Pikiran jeleknya berkecamuk saat ini.
"A-apa Kenan menghamili Selena?" Tanya Alice lirih.
Dokter Ana dan Dokter Rasyah nampak kaget mendengar ucapan Alice. Ana yang tida tahu apapun hanya mampu diam dan menatap kekasihnya saja.
"Tidak Nona, saya menyuruh anda datang karena anda yang akan periksa kehamilan." Jawab Dokter Rasyah lembut.
"Aku? Tapi aku tidak hamil." Jawab Alice jujur.
"Lebih baik kita periksa dulu Nona untuk memastikannya, silahkan berbaring di sini." Dokter Ana berkata sopan kepada Alice.
Alice berjalan ke kursi dan meletakkan tasnya, melangkah dan menaiki brangkar hati-hati dengan di bantu Dokter Rasyah.
"Maaf, pakaiannya saya naikkan sebentar." Ucap Dokter Ana dengan menyibakkan pakaian kerja Alice.
Dokter Rasyah memilih duduk di sofa, menunggu hasil pemeriksaan sembari bermain ponsel miliknya.
Perut rata Alice di beri gel hingga membuat sensai dingin di perkukaan kulitnya, sebuah alat mulai di gerakkan di atasnya.
Bergerak perlahan kekanan dan ke kiri, "Lihatlah Nona, ini ada kantung bayi." Tunjuk Dokter Ana menggunakan alatnya dengan cara di zoom.
"Bayi?" Beo Alice dengan bibir bergetar.
"Benar, saya perkirakan usia kandungan 6 minggu masih memasuki trimester pertama." Jelas Dokter Ana dengan tersenyum lembut.
Kedua mata Alice berkabut, bahkan pemandangannya nampak buram akibat air mata yang memenuhi kedua matanya hingga kristal bening itu meluncur bebas.
"Bayiku." Gumam Alice pelan.
Dokter Ana segera mengambil foto USG dan membersihkan gel dari atas perut Alice menggunakan tisu.
"Sudah selesai Nona." Kata Dokter Ana lagi.
Kini Alice, Dokter Rasyah dan Dokter Ana tengah duduk berdekatan. Dokter Ana menyerahkan hasil foto USG kepada Alice.
"Aku hamil." Ucap Alice menangis haru.
__ADS_1
...🐾🐾...