Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 100


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Alice segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya, selain ingin menghindari pertengkaran. Alice juga tak kuat jika mengingat kejadian terakir saat Ken menyebut nama wanita lain.


"Hiks ... Sakit Ken. Lebih baik kita berpisah." Lirih Alice di sela tangisnya.


Tubuh ramping Alice merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai dingin kamar mandi, tubuhnya bergetar habat akibat perasaan yang dia pendam.


Teringat jika saat ini Alice tidak sendiri, ada malaikat kecil yang tumbuh di dalam rahimnya.


"Maafkan Mommy sayang, seharusnya mommy menjadi wanita yang lebih kuat untukmu. Mari kita membuat Daddy menyesal sudah membuat kita sedih, bantu Mommy sayang."


Tangan Alice terulur mengelus perut ratanya dan berkomunikasi dengan calon buah hatinya.


Suara gemericik air terdengar di dalam kamar mandi, membuat Kenan terduduk di atas lantai dengan nafas yang memburu.


Marah! Sedih! Kesal! Kecewa! Semua perasaan itu bercampur menjadi satu bahkan jauh lebih sakit sehingga tidak dapat di jabarkan lagi dengan kata-kata.


Setitik air mata turun dari mata pria itu, "Menyesakkan sekali." Gumam Ken pelan.


Ken akhirnya memutuskan untuk pergi keluar dari mansion ke suatu tempat, pikiran dan hati Ken tengah kacau dengan sekelumit permasalahan dalam rumah tangganya saat ini.


*


*


*


"Bagaimana keadaan Mourin?" Tanya Bara dengan bertumpu satu tangan di jendela mobil.


"Sudah sadar, Tuan. Nona Mourin ingin bertemu dengan Anda." Jawab Jundi sopan.


"Kita ke rumah sakit." Perintah Bara pada Jundi.

__ADS_1


Jundi mengangguk dan membelokkan mobil yang dia kendarai menuju rumah sakit, di mana Mourin di rawat beberapa minggu ini.


Hembusan nafas kasar terdengar dari Bara, "Apa yang sedang kamu rencanakan Alice. Apapun itu, aku akan membantumu." Ucap Bara dalam hati.


"Selidiki wanita yang bersama Alice hari ini, Jundi." Bara kembali bersuara.


"Baik, Tuan." Jawab Jundi.


Mobil yang di kendarai Bara telah sampai di pelataran rumah sakit, segera kedua pria dengan badan tegap itu berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit di mana Mourin di rawat.


Dengan langkah lebar dan pembawaan yang berwibawa, membuat para pekerja dan pasien lain begitu segan kepada Bara.


"Di kamar VVIP tuan." Ucap Jundi yang memencet lift untuk menuju ruangan Mourin.


Denting bunyi lift terdengat, menandakanjika keduanya telah sampai pada lantai yang di tuju.


Jundi memberitahu ruangan Mourin di rawat dan segera membuka pintu untuk Bara, pintu terbuka perlahan nampak ruangan putih yang begitu luas dengan segala fasilitasnya.


Seorang wanita tengah duduk dengan menyantap makan siangnya, Mita dan sang suami yang melihat kedatangan Bara segera memberi hormat begitu juga Mourin.


Jundi mengusur halus kedua orang tua mourin untuk meninggalkan ruangan, kedua orang tua Mourin segera keluar dari ruangan begitu juga dengan Jundi.


Bara berjalan mendekat ke arah brangkar Mourin dan menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi tunggu pasien.


"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Bara dengan wakah datar.


"Sakit." Jawab Mourin singkat dengan meneruskan makan siangnya.


Bara hanya menghela nafas pelan dan menunggu Mourin menghabiskan makan siangnya, sebelum Bara berbicara serius dengannya.


"Sudah selesai, apa yang membawa Tuan ke mari?" Tanya Mourin dengan menyeka bibirnya.


"Apa yang kamu dapatkan." Ucap Bara to the point.

__ADS_1


"Ambilkan ponsel milikku, itu." Mourin menunjuk ke atas nakas.


Bara segera mengambil dan menyerahkan kepada Bara, dengan cepat Mourin membuka case ponsel miliknya dan mengambil sebuah sd card berwarna hitam.


Tangan Bara terulur mengambil dan menyimpannya di dalam jas, "Semua sudah ada di sini?" Tanya Bara lagi.


"Aku hanya mendapatkan itu dan sepertinya mereka bukan orang-orang keluarga Wijaya." Jawab Mourin jujur.


"Maksudmu ada orang lain yang sedang bermain." Kata Bara dengan wajah serius.


Mourin menganggukkan kepalanya cepat, "Benar, kau lihat kondisiku. Jika saat itu tidak ada pengawal dari keluarga Wijaya dan orang suruhanmu. Aku pasti sudah mati." Ucap Mourin dengan wajah masam.


"Kau pantas mati karena mencoba mencelakai Alice." Jawab Bara menohok.


"Ck, apa kamu pikir aku punya kekuaran setelah perbuatanmu itu." Mourin berdecih mengingat Bara yang membuat perusahaan sang ayah hampir colabs.


"Setidaknya, kamu dapat berguna untukku." Kata Bara santai.


"Aku rasa rumah tangga Kenan dan Alice akan hancur, aku tahu bagaimana liciknya Selena apalagi ada orang yang membantunya di belakang layar. Setidaknya, satu misiku berhasil meskipun berakir di rumah sakit seperti ini." Mourin berkata panjang lebar menerawang masalah tiga minggu lalu.


"Apa kamu tidak tahu orang suruhan yang mencoba melindungi Selena?" Tanya Bara dengan penasaran.


"Hemm ... Aku tidak yakin, sebelum aku pingsan sempat melihat seorang pria namun tidak jelas wajahnya karena penglihatanku berkunang-kunang." Jawab Mourin serius.


Keduanya nampak menghela nafas panjang, "Jangan mengganggu istri orang lagi, seperti tidak ada wanita lain saja." Mourin kembali berkata.


Bara menaikkan sebelah alianya dalam, "Makhsudmu? Kamu?" Tanya Bara datar.


"Yah, secara aku pintar, cantik, kaya...."


Tak


"Jangan bermimpi."

__ADS_1


"Hey! Awas saja kau, jika tangan dan leherku tidak di gips sudah ku jambak rambutmu." Seru Mourin kesal melihat Bara yang meninggalkannya setelah menyentil dahinya.


...🐾🐾...


__ADS_2