Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 115


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Terdengar pintu ruang kerja William di ketuk, segera William mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Selamat pagi, Tuan" Ucap seorang pria paruh baya dengan stelan jas dan juga tas berbentuk kotak berwarna hitam di tangan kanannya.


"Pagi, silahkan duduk." Jawab William mempersilahkan sang tamu untuk duduk di sofa.


Segera William menelfon bagian OB untuk membawakan dua minuman karena pembicaraan keduanya akan cukup lama, tidak membutuhkan waktu lama OB masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Beruntung di lantai William memiliki pantry sendiri sehingga tidak membuat tamu menunggu lama.


"Bagaimana, Tuan. Apakah ada kenadala?" Tanya William dengan sopan.


"Tidak sampai detik ini, surat perceraian sudah keluar dari pengadilan tinggal di bubuhi saja oleh kedua pihak." Jawab sang pengacara yang mengeluarkan map.


William menerima map yang di serahkan kepadanya, membuka map dan membaca seluruh isi dari surat perceraian tersebut.


"Di dalam surat sesuai kemauan Anda, tidak ada harta gono gini untuk Nona Alice." Kata sang pengacara menjelaskan.


"Bagus, terima kasih. Jika keduanya sudah tanda tangan, harus menunggu berapa lama agar perceraian mereka benar-benar sudah sah?" Tanya William.


"Saya tidak dapat memastikannya, Tuan. Jika kedua belah pihak sudah deal bercerai tidak perlu menunggu lama berbeda halnya jika salah satu pihak mengajukan banding untuk menolak proses perceraian ini." Jawab sang pengacara.


"Tolong lakukan apapun agar perceraian ini berhasil." Kata William dengan nada memohon.


"Akan saya usahakan, Tuan." Jawab sang pengacara.


Cukup lama keduanya berbincang mengenai langkah apa yang akan di ambil untuk proses perceraian dengan cepat, hingga sang pengacara undur diri dan William mengantarkannya sampai di depan pintu ruangannya.


William yang tengah menutup pintu ruangannya, mendengar suara ponselnya berdering melihat siapa yang menelfon segera William mengangkatnya.

__ADS_1


"Ada apa?"


"...."


"Benarkah! Kirimkan buktinya kepadaku."


Segera William mematikan sambungan telfonnya dan tidak lama kemudian sebuah foto masuk ke dalam ponsel pribadinya, dengan pandangan yang sulit di artikan. William segera mengambil kunci mobil untuk pulang ke mansion nya.


Dengan langkah lebar terkesan tergesa-gesa, William berjalan menuju lift yang akan membawaknya ke lantai dasar, tidak membutuhkan waktu lama kini William telah sampai di lantai basement di mana banyak mobil terparkir di sana termasuk mobil pribadinya.


Mobil SUV berwarna putih berjalan perlahan meninggalkan area basement perusahaan menuju jalan raya, menyalakan lampu sent sebelah kiri hingga mobil William tidak nampak lagi dari mata para penjaga perusahaan.


Menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, mobil SUV berwarna putih telah sampai di mansion yang cukup besar. Segera William memarkirkan mobilnya di tempar parkir dan berjalan beberapa meter menuju pintu utama.


Melihat majikannya yang pulang lebih awal membuat maid yang melihatnya segera menyapa, "Di mana Alice dan Elizabet?" Tanya William yang tidak sabar.


"Baiklah, tolong bawakan aku jus buah." Kata William yang meneruskan langkahnya menuju kedua wanita yang dia cintai.


Wajah bahagia muncul di bibir Willian, dia berencana memberi kejutan kepada kedua wanita tersebut namun langkahnya terhenti saat sayup-sayup mendengar percakapan antara ibu dan anak tersebut. Bahkan mendengarkan tangin sang putri, dalam hatinya paling dalam William merasa sangat sakit dan menyesal.


Hingga suara langkah kaki maid yang mendekat membuat ketiganya mulai sadar, "Tuan, minumnya." Ucap maid pelan.


"O-oh, taru saja di sana dengan milik istri dan anakku." Ucap William terbata.


Maid melanjutkan langkah kakinya menuju gazebo dimana majikannya berada, sedangkan William memunggungi kedua wanita yang dia cintai dengan menyeka air matanya dengan cepat dan kasar.


"Ayah!" Panggil Alice yang merasa heran karena sang Ayah tidak segera menghampiri mereka.


"I-iya, sebentar." William segera berjalan menuju gazebo dan maid kembali masuk ke dalam.

__ADS_1


Alice merentangkan kedua tangannya saat melihat William sudah dekat dengannya, dengan senang hati William memeluk tubuh sang putri dengan penuh kasih, mendaratkan cuman ke pipi sang istri.


"Alice tidak di cium?" Protesnya dengan bibir yang mengerucut.


William dan Elizabet hanya tertawa pelan dengan memeluk kembali tubuh putrinya.


"Kenapa Ayah pulang lebih awal, sepertinya ini belum ada pukul 12 siang." Ucap Alice penasaran.


"Ayah tidak memiliki pekerjaan, jadi pulang saja untuk bertemu cucu Ayah." Jawab William pelan.


Alice membalas senyum William namun pandangannya mengarah pada map yang masih William gengam bahkan hampir lecek karena terlalu kuat genggamannya.


Kedua mata Alice membesar saat membaca sedikit tulisan di depan map kertas tersebut. "Itu surat cerai, Alice ya Ayah?" Tanya Alice pelan dengan menatap intens kedua mata sayu William.


William mengangguk kaku tanpa bersuara, menyerahkan map pertas dari pengadilan kepada sang putri, Alice menerima dengan penuh keteguhan hatinya.


Di pandanginya map itu dan meraba pelan depan map, "Tidak aku sangka akan secepat ini, Ken. Akhirnya keinginanmu berpisah denganku dulu tercapai dan kamu dapat menikah dengan wanita yang kamu cintai." Gumam Alice dalam hati.


William dan Elizabeth hanya diam seribu bahasa tidak mengatakan apapun, menguatkan Alice mereka rasa tidak perlu biarlah Alice rampuh untuk menjadi kuat ibarat ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu indah.


Setitik air mata terjun bergitu saja dari mata Alice sehingga membasahi kertas map yang ada di depannya, "Baiklah Ayah...Mama, Alice harus istirahat dulu nanti akan Alice tanda tangani secepatnya." Alice segera berdiri dan berjalan begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya.


Baik, William dan Elizabet hanya dapat memandang sedih punggung Alice yang mulai menjauh dan hilang karena sudah masuk ke dalam mansion, "Apa Ayah sudah keterlaluan, Ma?" Tanya William kepada Elizabet sang istri.


Pandangan William masih terkunci menatap ke arah mansion, di mana Alice telah menghilang dari pandangannya. Elizabet hanya dapat menghembuskan nafas panjang dan mengelus lengan sanga suami.


...🐾🐾...


__ADS_1


__ADS_2