Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Jundi Nelangsa


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Sudah satu minggu lamanya, Ken dan Alice berbulan madu di pulau Dewata Bali.


Terlihat Ken dan Alice tengah menerima telfon dengan wajah serius dan tenang, yah selama mereka berbulan madu keduanya sepakat mematikan gawai masing-masing karena ingin fokus dengan kegiatan dan liburan mereka.


"Baik, Mah. Alice dan Kenan baik-baik saja." Kata Alice yang meyakinkan Elizabet di sebrang telfon.


"Sayang, jika memang Kenan lebih memilih wanita lain pulanglah. Atau kami akan menjemputmu Alice." Jawab Alizabet yang tidak mudah percaya dengan ucapan Alice.


"Mama, rumah tangga kami baik-baik saja. Semua itu salah paham. Karena wanita itu selalu datang ke perusahaan bahkan Alice sudah terbiasa dengan kehadirannya." Ucap Alice.


"Bagaimana kamu bisa tenang Alice!" Seru Elizabeth yang kaget.


"Karena Kenan selalu menolaknya lalu kenapa Alice harus panik, Ma." Jawab Alice tenang.


Terdengar helaan nafas panjang, hingga kini berganti suara.


"Alice, Ayah harap kalian memiliki keluarga yang bahagia." Ucap William tulus.


"Terima kasih Ayah, jika Kenan menyakiti Alice maka jemputlah Alice." Jawab Alice dengan wajah serius.


"Tentu saja, jika Kenan menyakitimu maka Alice harus menuruti ucapan Ayah dan Mama." Ucap William tenang namun terbesit ketakutan.


"Tentu Ayah, maafkan Alice karena membuat keputusan secara sepihak dulu." Kata Alice kepada sanga Ayah.


"Yang lalu biarlah berlalu Alice, saat ini Ayah dan Mama hanya dapat berdoa kebahagiaanmu bersama Kenan." Jawab William.


"Terima kasih, Ayah. Alice tutup dulu karena akan berangkat ke Bandara." Kata Alice sopan.


"Hati-hati dan mampirlah ke mansion, kami sangat merindukanmu." Jawab William.


Alice hanya tersenyum dan mengangguk sejurus kemudian mematikan sambungan telfon miliknya.


"Apa sudah selesai?" Tanya Ken yang memeluk Alice dari belakang.


"Sudah." Jawab Alice pelan.


"Pasti kedua orangtuamu marah sekali akibat berita itu, maafkan aku." Kata Ken dengan oenuh rasa sesal.


"Tidak, mereka hanya khawatir." Jawab Alice jujur.


"Emm, maaf sudah menyakitimu." Lanjut Kenan.


"Jangan di ulangi lagi." Kata Alice singkat.


Ken mengangguk di samping wajah Alice dan mengecup pelipis istrinya dengan penuh sesal, akibat tindakannya yang sembrono dan terlalu menuruti keinginan Citra membuat rumah tangga Ken hampir hancur.


"Ayo kita berangkat, sayang." Ucap Ken mengingat waktu penerbangan mereka.


"Ayo." Jawab Alice.

__ADS_1


Ken mengecup bibir tipis Alice sekejap dan menggandeng tangan kecil nan lembut itu untuk berjalan meninggalkan penginapan.


Mobil hotel sudah menanti mereka, ketika berangkat tidak membawa apapun ketika pulang mereka membawa dua koper besar berisi pakaian yang mereka beli dan juga oleh-oleh.


Alice dan Kenan masuk ke dalam mobil hitam untuk menuju bandara, tidak memerlukan waktu lama mobil hitam tersebut mulai melaju meninggalkan area hotel.


Ken dan Alice membuang oandangan mereka ke arah luar, menyimpan memori indah di dalam pikiran dan hati masing-masing.


"Aku sangat bahagia." Ucap Ken tiba-tiba.


Alice menolehkan kepalanya ke arah Kenan, terlihat Ken masih menatap jalanan hingga memberikan sebelah wajahnya saja.


"Aku juga." Kata Alice tersenyum


Kurang lebih empat puluh lima menit waktu yang mereka tenpuh menuju bandara, akhirnya mereka telah sampai.


Segera keduanya keluar bersamaan dengan sang sopir, sopir membuka bagasi belakang dan menurunkan dua koper besar milik tamu hotel tempatnya bekerja.


"Ini tips untukmu." Ucap Ken kepada sopir dengan menyodorkan beberapa lembar uang merah.


Sopir terlihat berbinar senang karena tidak sedikit yang di berikan oleh Ken, "Terima kasih Tuan." Jawabnya.


Ken mengangguk, segera Ken membawa dua koper besar masuk ke dalam bandara dan sopir pergi kembali ke hotel.


*


*


*


"Ck, mereka ngapain sih lama banget." Gerutu Bara.


Mendengar atasannya uring uringan setiap hari setelah mengetahui jika Alice pergi berbulan madu dengan Kenan ke Bali.


Membuat kehidupan Jundi nelangsa, bagaimana tidak. Laporan dan rapat yang seharusnya di hadiri oleh Bara semua di limpahkan kepada Jundi.


Sedangkan Bara hanya duduk dengan menatap ponselnya setiap detik, menit, jam, hari. Bahkan ini sudah satu minggu namun Bara masih sama tidak ada gairah dalam bekerja.


"Namanya juga bulan madu." Saut Jundi.


Bara menatap Jundi sinis, "Diam saja kamu, dasar jomblo." Olok Bara.


"Jomblo teriak jomblo." Kata Jundi sewot.


"Apa kamu bilang! Mau kamu aku pecat." Seru Bara yang meletakkan ponselnya di atas meja.


"Itu Nona Alice memanggil." Tunjuk Jundi pada ponsel Bara.


Seketika Bara tersenyum cerah dan mengambil ponselnya, bersamaan dengan itu Jundi sudah kabur dari ruangan Bara.


"JUNDI...." Teriak Bara melempar kotak pena ke arah pintu.

__ADS_1


Jundi berlari dengan wajah tegang bahkan tidak menggunakan lift melainkan tangga darurat.


"Mampus kau Jundi." Gerutu Jundi pada dirinya sendiri.


Terdengar deru nafas kasar dan dada yang naik turun dengan cepat, ya Jundi berlari tanoa sadar sampai lantai satu dan langsung merobohkan dirinya duduk di lantai.


"Hah... Hah... Hah... Astaga, kenapa manusia bucin jadi mengerikan." Ucap Jundi.


Beberapa karyawan yang melindah Jundi hanya tertawa pelan bahkan mendengarkan ucapan Jundi yang mereka anggap lucu.


Jundi tidak merespon lingkungannya yang jelas saat ini tubuhnya terasa panas dan ingin menempel di tempat yang dingin.


Tak


Tak


Tak


Terdengar bunyi langkah kaki mendekat ke arah Jundi, "Apa sekarang kau berubah menjadi tunawisma?" Ucapnya denfan suara datar.


Jundi membuka kedua kelopak matanya, terlihat pria yang sangat familiar dan langsung secepat itu kesadaran Jundi kembali.


"Astaga! Kamu penyelamatku." Seru Jundi yang langsung berdiri dan meneluk Ferdy.


"Hey! Lepaskan!" Seru Ferdy dengan mendorong Jundi cukup keras.


Feedy berdehem karena para pegawai perempuan memandang ke arah mereka, "Oh Ferdy pahlawanku!" Ucap Jundi lebay dan merentangkan tangannya kembali.


"Apa sih, menyingkir atau aku lempar kau Jun." Tegas Ferdy dengan mnghindar dari depan Jundi.


"Nona Alice apakah sudah kembali?" Tanya Jundi.


"Belum." Jawab Ferdy singkat.


Jundi merengek dengan bergelayut ke lengan Ferdy, "Nasibku akan semakin sengsara dan menderita Ferdy, Tuan Bara semakin menyiksaku." Adu Jundi kepada Ferdy.


"Itu urusanmu." Jawab Ferdy ketus.


"Kenapa kamu tidak berperi keasistenan, Fer." Drama Jundi semakin menjadi.


"Lepaskan! Aku akan benar-benar menghajarmu Jundi." Omel Ferdy.


"Tolong hubungi mereka Fer, hubungi Tuan Kenan agar segera pulang membawa Nona Alice." Jundi menatap ke arah Ferdy dengan memelas.


"Kau gila! Mereka sedang bulan madu dan aku hanya temannya, pasti Tuan Kenan sedang bermesraan dengan Nona Alice." Tolak Ferdy tegas.


"Bagaimana dengan nasibku Fer, lihat... Lihatlah Fer, kantung mataku bahkan hampir sampai dagu belum lagi rambutku mulai rontok dan tumbuh uban. Aaaa... Bagaimana ini Ferdy, aku bahkan belum menikah." Jundi berkata sembari memegang kabtung mata dan membuka rambutnya yang sudah beberapa hari belum keramas.


"Emm, kau tidak mandi berapa hari?" Tanya Ferdy menutup hidung.


"Aku mandi kok." Jawab Jundi.

__ADS_1


Jundi menggaruk rambut dan mengendus jemarinya seperti anjin*g, "Hanya belum keramas lima hari." Ucap Jundi dengan cengir kudanya.


...🐾🐾...


__ADS_2