
Happy Reading
Alice dan Ken masih berada di atas tempat tidur dengan selimut tebal menutupi tubuh mereka, "Mas, sebaiknya kita pulang dulu ke mansion utama. Tidak enak karena sudah satu minggu kita pergi dan saat pulang tiba-tiba pindah rumah tanpa berpamitan maupun mengabari keluarga." Ucap Alice panjang dengan suara pelan.
Ken terdiam sesaat, ada benarnya juga apa yang di katakan istrinya.
"Bagaimana jika Mama melarang kita untuk pindah rumah?" Tanya Kenan hati-hati.
"Kita bisa sampaikan ini kepada Mama dengan cara yang baik-baik, jika memang Mama melarang kita untuk pindah tidak apa kita tinggal di mansion utama." Jawab Alice yang sedikit ragu-ragu
Ken memeluk erat istrinya dengan tubuh polos, "Bagaimanapun kita harus pindah sayang, Mas nggak mau kamu sampai di sakiti oleh Mama lagi." Ucap Ken pelan mencurahkan kegundahan hatinya.
Alice mengangguk, didirnya merasa terharu karena Ken benar-benar melindunginya dari Citra.
"Yasudah, ayo sayang kita mandi dan segera pulang ke mansion utama." Ucap Ken yang mulai bangkit dengan mengambil boxer dan dipakainya.
"Tapi tidak ada handuk." Ucap Alice pelan.
"Gampang, kita tinggal pakai saja baju yang kering untuk mengeringkan tubuh kita." Kata Ken dengan santai.
Bibir Alice sedikit berkedut mendnegar penuturan suaminya, "Apa Mas dulu anak pramuka?" Tanya Alice yang melihat Ken mulai membuka koper yang berisi pakaian.
"Pernah waktu SMA." Jawab Ken tanpa melihat ke arah istrinya.
Alice hanya ber oh ria saja, pantas jika Ken tidak begitu memusingkan handuk. Sedangkan Alice yang memang kurang suka kegiatan di lapangan seperti pramuka tentu saja belum pernah melakukan apa yang Ken katakan.
"Jika begitu, Mas mandi dulu." Ucap Ken yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Alice hanya mengangguk dan mendudukkan dirinya di atas kasur dengan memegang erat selimut tebal agar tidak merosot, dirinya mengambil ponsel dari dalam tas jinjingnya. Terlihat lima panggilan tidak terjawab dengan nomor asing.
Kening Alice berkerut siapa pemilik nomor asing ini, hingga ponselnya bergetar dan menampilkan nomor asing yang sudah menelfonnya lima kali tadi. Dengan perasaan takut dan penasaran, rasa penasaran lebih mendominan isi otak Alice.
"Hallo." Ucap Alice dengan suara lembut.
Orang yang ada di sebrang telfon langsung beridiri dari duduknya dengan cepat, bahkan suaranya seakan tercekat karena saking senangnya.
"Hallo, jangan main-main dengaku ya!" Seru Alice yang mengancam orang iseng tersebut.
"Ha-hallo, Alice." Ucap seorang pria yang membuat kening Alice mengkerut.
"Ini aku, Bara." Lanjut Bara cepat.
Alice menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap nomor baru yang tidak bertuan.
__ADS_1
"Alice, kamu masih di sana?" Ucap Bara lagi.
"Oh, maaf Tuan Bara. Aku tidak tahu karena belum menyimpan nomormu." Jawab Alice jujur.
Bara hanya meggaruk tengkuknya yang tidak gatal, terlihat bibir bawahnya di gigit-gigit pelan karena keadaan yang cukup absurd baginya.
"Maaf, karena aku meminta nomormu dari Jundi tanpa mengatakannya dulu padamu." Ucap Bara jujur.
Alice mengangguk padahal Bara tentu tidak dapat melihatnya, "Ada apa Tuan menelfonku? Apa ada masalah dengan proyeknya?" Cecar Alice dengan nada khawatir.
"Iya...ti-tidak. Makhsudku tidak, hanya aku sudah lama tidak bisa datang ke proyek." Ucap Bara yang tergagap.
"Tuan sakit?" Tanya Alice.
Bara berkedip cepat, detak jantungnya tidak normal karena mendapatkan perhatian dari Alice. Padahal Alice hanya bertanya saja, seakan ada wangsit yang menghampiri Bara.
"Huk..Huk...Huk... iya Alice, aku sedang sakit beberapa hari lalu dan hari ini baru masuk ke perusahaan. Kapan kamu akan pulang?" Tanya Bara dengan dramanya.
"Aku sudah pulang Tuan, besok aku akan berangkat ke kantor." Jawab Alice.
Bara yang di dalam ruangannya mengepalkan tangan di depan dadanya dengan berjingkrak senang, "Huk..huk.. Alice bisakah kamu datang ke apartemenku besok, aku sepertinya tidak akan kuat jika harus datang ke kantor dan menjemputmu." Ucap Bara yang berdrama lemah saat ini.
Alis Alice bergelombang, "Kita bisa betemu di proyek saja langsung Tuan." Ucap Alice heran.
Alice yang mendengar suara batuk berdahak Bara sedikit iba, "Baiklah Tuan, aku akan menjemput Anda dengan Ferdy besok pagi." Ucap Alice.
"JANGAN! ma-makhsudku kamu saja biarkan Ferdy membantu Kenan di perusahaan. Kamu tahu sendiri perusahaan hanya di handel oleh Ferdy selama kalian pergi." Kata Kenan berbohong untuk memprovokasi perasaan Alice.
Alice memandang pintu kamar mandi yang masih tertutup, benar apa yang di katakan Bara. Pasti Ken akan kesulitan jika Ferdy juga ikut bersamanya di proyek.
"Baiklah Tuan." Jawab Alice setuju.
Bara bersorak hore di sana tanpa bersuara, dirinya berhasil memprovokasi otak dan perasaan Alice, "Baiklah, Alice. Aku tunggu besok." Kata Bara.
Alice mengangguk dan mengakhiri panggilan tanpa menjawab ucapan Bara, bersamaan dengan hal itu, Ken sudah keluar dengan pakaian lengkapnya juga baju yang terlihat basah di tangan Kanannya.
"Siapa yang menghubungimu sayang?" Tanya Ken berjalan mendekat ke arah Alice.
"Tuan Bara, Mas. Dia sedang sakit dan mengatakan sudah lama tidak datang ke proyek." Jawab Alice apa adanya.
"Sakit?" Beo Kenan.
Alice hanya mengangguk saja, "Besok aku akan langsung berangkat bekerja, Mas. Tidak enak jika tidak ada yang menghandel proyek." Kata Alice meminta ijin kepada suaminya.
__ADS_1
"Tapikan, kita baru pulang sayang. Biarkan saja Ferdy yang datang ke proyek bersama Bara." Ken protes dengan keinginan istrinya.
"Sayang, kita sudah seminggu pergi meninggalkan perusahaan di tangan Ferdy. Ijinkan aku berangkat, biar Ferdy tidak terlalu berat dalam pekerjaannya." Bujuk Alice kepada suaminya.
Ken terdiam memandangi wajah cantk Alice, "Baiklah, Mas juga akan berangkat bekerja. Jangan dekat-dekat dengan Bara." Ucap Ken dengan mengultimatum Alice kembali.
Alice hanya tersenyum simpul, lucu sekali suaminya ini jika sedang cemburu.
"Iya, Mas." Jawab Alice.
Alice segera meletakkan ponselnya dan mulai menjuntaikan kedua kakinya di lantai. Berjalan menuju koper dengan selimut tebal yang masih menutupi tubuh rampingnya. Terlihat Alice mengambil beberapa potong pakaian sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Alice segera berjalan ke arah kamar mandi dan Ken duduk berselonjor di atas tempat tidur sembari menunggu istrinya, terlihat Ken tengah berselancar di salah satu platform jual beli online. Melihat sesuatu yang menarik indra penglihatannya, segera Ken mengklik untuk melihat barang-barang dari toko online tersebut.
Terlihat pernak-pernik bayi yang sangat lucu dan menggemaskan, "Apa aku perlu berbelanja sekarang." Gumam Ken dalam hati.
Terlihat jemari Ken memasukkan banyak barang di keranjang belanjaannya semua barang dia beli satu per satu setiap warna, "Tidak masalah jika warna pink untuk bayi laki-laki." Ucap Ken lirih dengan tersenyum lebar hingga menunjukkan deretan gigi putihnya.
Tidak berselang lama, Alice keluar. Alice tidak keramas karena mengingat jika tidak ada handuk maupun hairdraiyer di rumah baru mereka.
"Ada apa Mas kamu tersenyum sendiri di depan ponsel?" Tanya Alice yang curiga.
"Hah? Ini membeli barang." Jawab Ken yang hanya memandang Alice sekilas.
Alice berjalan mendekat dan sekidit membungkukkan tubuhnya agar dapat melihat layar ponsel suaminya, seketika kedua mata Alice membulat sempurna.
"Mas, untuk apa membeli pakaian dan barang-barang bayi sebanyak ini? Apa untuk kado rekan kerjamu?" Cecar Alice dengan penasaran.
Ken menggeleng pelan, dirinya meletakkan ponsel dan duduk menghadap Alice yang berdiri di samping ranjang mereka, "Tidak sayang, Mas tentu membeli untuk anak kita." Jawab Ken.
Alice sontak kaget, dirinya bahkan sampai meraba perut ratanya. "Mas, Alice belum hamil." Ucap Alice lirih.
Ken menarik pergelangan tangan Alice dengan lembut dan memeluk pinggang ramping Alice, di dekatkannya telinga Ken di perut rata istrinya.
"Sebentar lagi sayang, Mas yakin sebentar lagi dia akan hadir." Ucap Ken penuh keyakinan tinggi.
Alice berubah muram, dirinya takut jika sampai mengecewakan Kenan. "Bagaimana jika lama Tuhan memberikan kita anak?" Ucap Alice lirih.
"Kita akan terus berusaha dan menunggunya dengan sabar sayang." Ucap Ken dengan mendongakkan wajahnya hingga menatap wajah Alice dari bawah.
"Alice takut, bagaimana jika Mas meninggalkan Alice." Pikiran Alice semakin semrawut dan negatif saja isinya.
"Tidak akan, hanya kamu istriku satu-satunya." Ucap Ken dengan mengecup perut rata Alice.
__ADS_1
Alice bergitu bahagia mendengar ucapan Kenan, manis sekali mulut suaminya ini.