
Happy Reading 🌹🌹
Angin berhembus kencang hingga mengga mampu merontokkan dedaunan yang berada di pohon. Membuat pakaian yang di kenakan orang-orang bergerak seiring kekuatan angin.
Guntur mulai terdengar meski tidak sampai memekakkan telingan, setitik dua titik air dari langit mulai turun membasahi tanah yang kering.
Bres!
Seakan tidak memberi kesempatan kepada kerumunan orang yang masih menaungi oara pelayat, hujan langsung turun dengan lebat.
Berutung para pengawal sudah sedia payung berwarna hitam yang cukup lebar sejak awal, Kenan berada di bawah satu payung bersama Alice, Elizabeth dan Citra, William dan Kalevi, Bara dan Ferdy, Kakek Santosa dan seorang wanita.
Para pelayan dengan cepat meninggalakan pusaran terakir Kakek Wijaya, menyisakan keluarga inti dan beberapa orang terdekatnya.
Tidak ada yang bersuara kecuali suara air hujan dan guntur, derasnya hujan tidak membuat mereka meninggalkan Kalevi sendirian di sana. Mereka seakan setia menemani dan ikut merasakan kesedihan pria paruh baya yang akan menjadi seorang kakek.
Air hujan yang mengguyur kota berhenti, menyisakan dedaunan dan ranting yang basah, membuat aroma tanah begitu kental di indera penciuman.
Aroma tanah setelah terguyur air hujan, seakan sudah menjadi hal yang lumrah. Sama halnya dengan manusia yang hidup sudah sewajarnya jika menutup usia.
Mansion Wijaya terasa hening dan sepi, semua penghuni nampak mengurung diri dadi dunia luar. Menyembunyikan kesedihan yang mendalam dari publik.
Kenan yang tengah memeluk tubuh istrinya, mengelus surai hitam panjang dengan lembut. Merasakan hembusan nafas yang lembut dan teratur membuat Kenan yakin jika Alice sudah terlelap dalam mimpinya.
Kenan memutuskan untuk tinggal di mansion utama semenjak sang Kakek jatuh sakit beberapa hari yang lalu. Beruntung Alice tidak keberatan dan juga bayi di dalam kandungannya baik-baik saja.
Perlahan, Ken mengangkat kepala Alice yang tertidur di lengan kanannya. Meletakkan di bantak epuk dan segera beranjak dari atas tempat tidur.
Membenarkan selimut dan memberi kecupan sebentar di dahi sang istri dengan penuh cinta. Kenan menegakkan tubuhnya menghirup udara dengan dalam.
Dadanya terasa terhimpit dengan ribuan ton batu, dengan lagkah lebarnya Kenan berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
Alice membuka kedua matanya perlahan menatap pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar dengan mata sendu.
__ADS_1
Perlahan bangkit dan menyingkap selimut berwarna biru tua. Kaki kecil nan ramping berjalan mengendap mendekati kamar mandi.
Terdengar suara isak tangis yang nampak tersendat dan tertahan, Alice hanya diam dan duduk di atas lantai untuk menunggu suaminya.
Di dalam kamar mandi, Kenan memukul dada bidangnya berkali-kali agar rasa sesaknya hilang. Menyandarkan tubuhnya ke tembok dengan menenkuk kedua kakinya, menenggelamkan wajah tampannya.
"Kakek." Ucap Ken dalam tangisnya.
Alice yang mendengar suara sayup-sayup dari dalam kamar hanya mengusap pelan air matanya, dirinya tidak tahu jika sang suami begitu kehilangan sosok orang yang begitu berperan besar atas pernikahan mereka. Cukup lama Ken berada di dalam kamar mandi.
Kenan membasuh wajahnya dengan air agar tidak ketahuan oleh Alice, meskipun kedua matanya sembab Ken berharap Alice masih tidur dengan nyenyak. Berdehem untuk menormalkan suaranya, Ken tidak boleh bersedih karena siapa lagi yang akan menjadi tempat bersardar keluarganya jika bukan Kenan.
Melangkahkan kaki menuju pintu, membukanya perlahan. Kening Kenan mengkerut dalam karena melihat tempat tidurnya yang kosong.
"Sa...." Ken mengurungkan niatannya yang berteriak memanggil Alice.
Merasa ada orang lain berada di sampingnya, membuat Kenan menolehkan kepalanya nampak Alice tertidur dengan posisi terduduk di depan pintu kamar mandi. Membuat Ken berjongkok dan menggendong istrinya secara bridal style.
Alice yang merasakan tubuhnya melayang dan mencium aroma tubuh Kenan, memaksa kedua matanya terbuka meski rasa kantuk menyerang sangat hebar, "Mas." Panggil Alice dengan suara serak.
Alice melepaskan luma*tannya, memandang kedua mata Kenan dengan dalam. "Anak kita ingin tidur di peluk oleh Papanya." Ucap Alice pelan.
Seulas senyum terbit di bibir Kenan, pria tampan yang sebentar lagi akan menjadi orang tua segera ikut merebahkan tubuhnya di kasur. Dengan posesif, Alice memeluk tubuh Kenan.
"Jangan jauh dari pandanganku." Ucap Alice yang sudah menyembunyikan wajahnya di depan dada bidang Kenan.
Ken dengan pelan mengelus surai hitam Alice, "Maaf ya, Mas sudah membuatmu khawatir." Jawab Ken lembut.
Alice menganggukkan kepalanya pelan, keduanya saling memeluk dengan posesif tapi penuh cinta. Seakan saling melindungi dan takut kehilangan satu sama lain.
*
*
__ADS_1
*
Entah kapan langit berubah menjadi gelap, lampu-lampu taman dan mansion di nyalakan semua sehingga menjadi terang benderang. Alice berjalan turun ke lantai satu meninggalkan suaminya yang masih tidur.
Maid yang melihat kedatangan Alice segere berjalan mendekat, "Mau makan malam, Nona?" Tanya maid.
"Apa ayah dan mama sudah makan malam?" Alice berbalik bertanya.
"Belum, Nona. Tuan dan Nyonya belum keluar dari kamar." Jawab maid jujur.
"Tolong buatkan makanan yang hangat untuk semua ya." Ucap Alice memerintah maid.
"Baik, Nona. Akan kami masakkan sup." Jawab maid yang langsung berjalan meninggalkan Alice.
Alice sejenak memandang kamar kedua mertuanya yang masih tertutup dengan rapat, biarlah nanti dia panggil sembari menunggu sup matang.
Kenapa Alice memilih sup untuk makan malam mereka, mengingat keluarga yang baru berduka tidak akan nafsu untuk makan, jangankan makan untuk menelan saja tidak sanggup. Setidaknya keluarga nya makan meskipun hanya sup yang menghangatkan perut dan tubuh.
"Nona, supnya sudah siap." Ucap maid yang sudah berada di depan Alice.
"Tolong siapkan, aku akan memanggil Ayah dan Mama." Jawab Alice lembut.
Alice segera berdiri dari duduknya dan maid dengan cepat menyajikan sup atas perintah Alice, kini Alice sudah berada di depan kamar mertuanya. Di ketuk dengan cukup keras agar kedua mertuanya dengar.
"Mama! Ayah!" Panggil Alice dari balik pintu.
Tidak ada tanggapan dari dalam kamar, Alice semakin mengetuk pintu dengan kuat karena khawatir dan cemas. "Mama! Ayah!" Panggil Alice kembali.
Kenan yang baru keluar dari kamar mendengar teriakan Alice dengan cepat berlari turun, jantungnya berdegup dengan kencang karena mendengar Alice memanggil kedua orang tuanya. Wanita muda dengan perut buncit sudah berdiri di depan pintu kamar orang tuanya.
"Ada apa sayang?" Tanya Kenan cepat.
"Mas, Mama dan Ayah tidak ada jawaban sejak tadi." Jawab Alice khawatir.
__ADS_1
Kenan memegang gagang pintu namun terkunci, di ketuk dengan kuat dan berteriak memanggil Kalevi dan Citra, hingga gagang pintu tergerak berbarengan dengan suara kunci yang terbuka dari dalam.
"Ayah!" Kenan langsung memeluk tubuh Kalevi begitu pintu kamar terbuka menampakkan sosok pria paruh baya.