
Happy Reading πΉπΉ
Kalevi yang tengah duduk di ruang tengah, mengalihkan pandangannya ke arah tangga karena suara kaki yang di timbulkan oleh Kenan.
"Ada apa Ken?" Tanya Kalevi khawatir karena melihat Alice yang kesakitan di gendongan Kenan.
"Alice mau melahirkan!" Seru Kenan yang terus berjalan melewati Kalevi begitu saja.
"Melahirkan? Melahirkan! Cucuku!"
"Mama! Mama!"
Kalevi terdiam sesaat, mencerna ucapan dari Kenan. Dirinya baru ingat jika Alice hamil membuat dirinya berteriak kegirangan dan berlari menuju kamarnya.
Citra yang tengah sibuk membaca novel online yang berjudul CINTA PERTAMA MEMBAWA LUKA karya Momy Ida, terperanjat kaget karena pintu kamar di buka dengan cepat.
"Ayah!" Sungut Citra karena terganggu.
"Mama! Cepat cepat, cucu kita keluar eh Alice melahirkan." Lidah Kalevi terpeleset karena bersemangat mengabari Citra.
Citra langsung menyingkap selimut tebalnya dan membuka masker kertas yang tengah dia pakai, "Ayo! Cepat Ayah kita susul mereka."
Citra menyambar tas jinjing dan menggeret Kalevi segera keluar dari mansion.
Melihat mobil Kenan yang baru akan berjalan Citra segera berlari meninggalkan Kalevi, "Tunggu!" Teriaknya.
Kenan berhenti dan pintu mobil sudah terbuka, Citra sudah duduk di kursi belakang dengan Alice dan kursi depan di isi Kalevi.
"Cepat jalan, Ken." Kalevi menepuk pundak Kenan dengan keras.
Dengan cepat, Kenan mengendarai mobilnya membelah jalan raya yang sudah lenggang karena waktu menunjukkan pukul dini hari.
"Sayang, tahan ya... Hirup nafas ... Keluarkan." Ucap Citra menuntun Alice agar tetap tenang.
Alice mengikuti perintah ibu mertuanya, namun rasa sakit yang awalnya hilang datang kini semakin intens membuat Alice maupun Citra meringis di kursi belakang.
"Ma ... Sakit." Lirih Alice.
Citra mengelus punggung menantunya dengan lembut, setidaknya dapat sedikit menetralisir rasa sakit yang muncul.
"Kamu tidak memakai dalaman?" Tanya Citra lembut.
Alice menggeleng, menatap Kenan yang tengah fokus menyetir mobil. Citra paham jika Ken pasti yang memakaian dress untuk istrinya.
"Tidak masalah sayang, malah bagus karena melahirkan haruslah telan*jang hanya akan di tutupi tubuh dengan selimut tipis." Jelas Citra dengan lembut.
__ADS_1
(Ini pengalaman autor ya π kurang tau jika di Rumah Sakit lainnya apakah di suruh telan*jang saat mulai pembukaan)
Alice mengangguk sembari mengatur nafasnya, kini mobil telah berhenti di depannrumah sakit.
Kalevi segera turun dan berlari masuk ke dalam rumah sakit, "Dokter! Suster! Menantu saya mau melahirkan!" Seru Kalevi panik.
Perawat yang mendengar teriakan Kalevi, segera berlari membawa brangkar ke luar rumah sakit. Kalevi yang panik hanya berlari mengikutinya dari belakang.
Sedangkan Kenan, menggendong Alice secara bridal style. Tangan kanan Alice sudah menjambak rambut Ken dengan keras hingga membuat kepala Ken miring ke kiri.
"Duh ... Duh ... Duh! Aw, sayang jangan keras-keras." Ken mengaduh kesakitan dengan berjalan mendekat ke arah brangkar.
"Ah, sakit Mas!" Air mata Alice sudah luruh dari ujung matanya.
Melihat pasien sudah di rebahkan atas brangkar, dengan cekatan dua perawat membawa masuk ke rumah sakit dengan di ikuti Kenan dan kedua orang tuanya.
Dokter Ana yang mendapatlan laporan jika Alice datang segera datang untuk memeriksa pasiennya.
Ken dan kedua orang tuanya yang melihat Dokter Ana berlari menuju ruang persalinan, memberikan jalan agar segera menangani Alice.
Dokter Ana hanya memberi salam singkat dan langsung masuk ke salam ruangan, terlihat wanita muda yang tengah mencengkram kuat pinggiran besi brangkar.
"Selamat malam, Nona. Saya periksa dulu ya." Ucap Dokter Ana lembut.
Dokter Ana segera duduk di kursi depan inti Alice, memeriksa pembukaan.
Dengan nafas pendek-pendek, Alice tidak dapat menjawab apapun ucapan Dokter Ana.
"Apa Nona ingin di dampingi Tuan Kenan?" Tanya Dokter Ana lembut.
Alice hanya mengangguk cepat, sebenarnya selama persalinan tidak di anjurkan orang lain masuk selain pasien dan tenaga medis. Semua di lakukan untuk menjaga ruangan agar tetap steril.
Melihat pintu ruang oersalinan terbuka, membuat Kenan dan kedua orang tuanya berdiri dengan raut wajah khawatir.
"Ada apa dok? Bagaimana istri saya?" Tanya Kenan cepat.
"Masih pembukaan delapan, Tuan. Silahkan ikuti perawat untuk mengenakan pakaian steril sebelum masuk ke ruang persalinan." Jawab Dokter Ana lembut.
"Terima kasih." Jawab Ken yang langsung mengikuti perawat menuju satu ruangan berisi pakaian steril.
"Sayang." Kenan segera berjalan cepat menghampiri Alice.
Wajah Alice yang pucat pasi dengan keringat yang sudah membasahi wajah dan tubuhnyaa.
"Mas." Ucap Alice lirih.
__ADS_1
Kenan menggenggam tangan Alice dengan kedua tangannya, "Kuat sayang, demi anak kita." Ucap Ken yang sudah menangis.
Alice mengangguk dan masuklah kembali Dokter Ana. Dokter Ana kembali mengecek pembukaan Alice tapi belum sempurna.
"Tahan dulu, Nona jangan mengejang." Ucap Dokter Ana.
"Ah, sakit." Alice serasa tidak kuat merasakan nyeri yang semakin intens menyerangnya.
Ken hanya dapat menangis, Tuhan pindahkan rasa sakit istriku kepadaku saja.
"Sayang, kita SC saja ya." Bujuk Kenan.
"Tidak, Mas. Alice kuat." Jawabnya.
"Mas gak tega melihat kamu kesakitan seperti ini sayang." Ucap Kenan yang sudah menangis.
Pembicaraan keduanya terhenti karena mendengar perkataan Dokter Ana, "Nona, pembukaan sudah sempurna... Ikuti perintah saya." Ucapnya.
Alice mengikuti intruksi daro Dokter Ana, menghirup udara dan mulai mengejang agar anaknya cepat keluar dari dalam rahim.
"Aaaah!" Teriak Alice.
Kenan hanya pasrah menjadi pelampiasan istrinya, rambut di jambak, lengan di cakar, dan pundak yang di gigit.
Dengan suka rela, Kenan menjadi samsak dadakan untuk sang istri.
"Hah... Hah... Tidak sanggup Dok." Ucap Alice yang sudah lemas.
"Nona rambutnya sudah terlihat, berjuang sekali lagi." Ucap Dokter Ana.
"Sayang, kamu pasti bisa. Kamu ibu yang hebat dan istri yang hebat sayang. Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu sayang, ayo berjuang berasama." Kenan mengimbuhi ucapan Dokter Ana.
Alice kembali berjuang untuk melahirkan buah hatinya, "Aaaaa...!" Alice berteriak dan mengejang dengan sisa tenaganya.
Suara tangis bayi melengking di ruang prsalinan, dengan cekatan perawat segera mejepit ari-ari bayi merah dan menutuskannya.
Air mata Alice kembali meleleh, perasaan bahagia membuncah di dalam hatinya. Kenan sudah terisak menangis karena dirinya sangat takut jika terjadi sesuatu di salah satu antara mereka.
"Selamat Nona dan Tuan, putra anda terlahir dengan selamat dan tampan." Ucap Dokter Ana tersenyum hangat ke arah mereka.
"Sayang terima kasih sudah berjuang untuk anak kita, i love you... Really really love you Alice." Ucap Kenan dengan menghujani kecupan di aeluruh wajah sang istri.
"Hiks ... Kita jadi orang tua, Mas." Tangis Alice pecah.
Kenan memeluk tubuh yang penuh dengan keringat itu, membiarkan bayi di bersihkan oleh perawat dan juga Dokter Ana yang masih mengerjakan sisa pekerjaannya.
__ADS_1
...πΎπΎ...