Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Drama Bara


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Mentari pagi keluar dari peraduannya, membuat warna langin yang awalnya petang berganti terang. Nampak dua insan tengah bersiap untuk pergi ke kantor, dengan telaten Alice mengenakan dasi untuk suaminya.


"Kenapa kamu pendek sekali." Ucap Ken dengan menatap lekat wajah sang istri.


Alice mencubit pinggang Ken hingga membuat pria itu menjerit kaget, "Mas saja yang terlalu tinggi." Sungut Alice dengan bibir mnegerucut.


Ken tertawa gurih mendengar jawaban pintar sang istri, "Sayangku cantik sekali hari ini, tidak berdandan sudah cantik. Apalagi saat...." Ken menggantung ucapannya dengan senyum jailnya.


"Saat apa, Mas?" Tanya Alice yang mendongakkan kepalanya hingga pandangan keduanya saling bertatapan.


"Saat di bawahku dengan menjerit, ohh Mass... ahh yah di situ...Hahaha." Kenan menirukan Alice saat mereka melakukan perjalanan ke surga dunia.


Settt!


Alice langsung menarik dasi Ken hingga membuat leher Kenan tercekik dengan cepat dan langsung melepaskannya, membuat Ken kaget dan terbatuk-batuk dengan wajah yang merah padam dan juga otot wajah yang beberapa nampak timbul di permukaan.


"Dasar mesum!" Sungut Alice kesal.


Alice kesal karena dia sangat malu akibat lelucon sang suami, segera Alice duduk di kursi rias dan menatap tajam pantulan Ken dari cermin. Alice lebih baik segera menyelesaikan riasannya daripada meladeni ucapan Kenan yang mesum pagi ini.


Batuk Kenan mulai reda dan masih meneruskan tawanya, "Uhuk! Uhuk! Hahaha, oh ya ampun sayangku." Ken sampai menjatuhkan bobotnya di sofa karena merasa lucu melihat istrinya ketika tengah marah.


Alice hanya mencebik kesal melihat sang suami yang begitu bahagia menggoda dirinya.


Ken dan Alice segera turun ke lantai satu untuk bergabung sarapan bersama anggota keluarga yang lainnya, nampak semuanya tengah berkumpul.


"Pagi semuanya." Ucap Ken dan Alice bersamaan.


"Pagi." Jawab ketiganya serentak.


Alice sedikit kaget karena Citra mau mebjawab sapaan paginya kali ini, nampak Alice memandang Citra tak berkedip. "Apa Mama sudah menerimaku." Gumam Alice dalam hati.


"Sayang."


Ken menggoyangkan tangan Alice sehingga Alice kembali pada dunia nyata, terlihat dirinya menjadi pusat perhatian di ruang makan Wijaya.


"Ayo duduk." Ucap Ken yang menggeser kursi sedikit ke belakang agar Alice mudah duduk. Alice segera duduk dan melayani Ken seperti biasanya begitu juga Kakek Wijaya tapi tidak kepada Ayah Kalevi karena ada Mama Citra di sini.


Citra hanya menatap datar ke arah Alice tidak ada ekpresi yang menggambarkan emosi tertentu, entah apa yang terjadi kepada Citra selama mengikuti Kalevi bekerja hingga ke luar kota bahkan sering menginap beberapa hari.


Semua melakukan sarapan dengan tenang tanpa ada perdebatan di sana, sesekali bertanya tentang pekerjaan dan kegiatan masing-masing hari ini. Seperti sekarang, Ayah Kalevi dan Mama Citra sudah terlebih dahulu meninggalkan mansion karena akan terbang ke Singapura untuk menghadiri ulang tahun salah satu rekan Kalevi.

__ADS_1


Alice menghirup udara dalam dan menghebuskannya dengan kasar berharap Ibu mertuanya dapat menerima dan membuka hatinya untuk Alice sehingga Alice dan Ken dapat menjalani biduk rumah tangga dengan tenang.


"Ayo sayang, kita nanti terlambat." Ajak Ken dengan merangkul pundak Alice.


Alice berjalan beriringan dengan Kenan, segera keduanya masuk ke dalam mobil dengan di kendarai oleh Ken sendiri. Ken ingin membuat kenangan bersama sang istri.


"Mas, jangan lupa mengantarkan aku ke apartemen Tuan Bara." Ucap Alice kepada suaminya.


Ken menaikkan sebelah aslinya, "Bara benar sakit, sayang?" Tanya Ken sedikit curiga dengan Bara.


"Kemarin Tuan Bara bilang begitu, katanya dia batuk dan demam tinggi saat menelfon Alice." Jawab Alice jujur.


Ken mencebik kesal dalam hati, "Pasti dia modus." Gerutu Ken


Namun, Ken harus profesional mengingat dirinya sendiri yang memutuskan agar Alice menghandel proyek kerjasama dengan perusahaan Santosa. Sedikit ada rasa menyesal namun rasa ingin sang istri belajar lebih banyak dalam pikiran Kenan.


Ken menyetir membelah jalan raya yang cukup pada di pagi hari, mobil Ken menepi di dekat penjual bubur ayam. "Mas akan belikan bubur dulu untuknya." Ucap Ken, Ken langsung keluar mobil dan berjalan menuju gerobak penjual bubur.


Alice hanya duduk diam di dalam mobil dengan memandang punggung suaminya yang tengah antri bersama pembeli yang lain, "Ternyata dia pria yang hangat dan perhatian sekali, bahkan aku sempat cemburu karena Tuan Bara di belikan bubur oleh Kenan...ishh, tetap jaga kewarasanmu Alice." Ucap Alice dalam hatinya tanpa memutus pandangan ke arah Kenan.


Kenan kembali dengan dua kantung plastik di tangannya berjalan mendekat ke arah mobil dan segera masuk, "Kenapa beli banyak banget Mas?" Tanya Alice yang menerima kantung kresek agar Ken dapat memasang seat belt.


"Iya, nanti untuk Ferdy satu. Karena kita sudah meninggalkan pria malang itu bekerja keras seorang diri." Kelakar Kenan hingga membuat Alice tertawa pelan.


*


*


*


Sedangkan seorang pria tengah duduk diam di kursi dengan satu wanita yang tengah merias wajahnya, siapa lagi jika bukan Bara. Ya, untuk meyakinkan Alice jika dirinya sakit.


Bara memerintahkan Jundi untuk mencari perias yang handal, awalnya Jundi heran kenapa Bara membutuhkan perias. Teringat dirinya menguping pembicaraan Bara mungkin ada hubungannya dengan Alice.


"Bagaimana Tuan? Apakah ada yang ingin di tambahkan?" Tanya perias tersebut dengan sedikit menyingkir agar Bara dapat melihat hasilnya.


Bara menatap cermin di depannya dengan menolehkan wajahnya ke kanan dan kekiri, terlihat wajah yang begitu pucat dan kantung mata yang hitam. Benar-benar di buat se-nyata mungkin oleh perias tersebut.


"Bagus, aku puas. Aku sudah mentransfer bayaran untukmu." Ucap Bara.


"Terima kasih, Tuan." Jawab perias yang mulai mengemasi alat make up nya.


Bara segera berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam walk in closed, tidak banyak pakaian di apartemen miliknya hanya beberapa potong pakaian saja karena memang Bara jarang pulang ke apartemen melainkan ke mansion sang kakek.

__ADS_1


Bara segera berganti dengan piyama tidur, mengenakannya penuh kehati-hatian agar tidak mengenai make up yang menghiasi wajahnya. Bara juga sedikit meneteskan cairan yang membuat mata pedih agar kedua bola mata putihnya sedikit memerah.


Cairan ini biasa di gunakan para pemain film untuk berakting menangis, "Aduh.. sshhtt... pedih sekali." Umpat Bara pada benda laknat itu.


Bara segera menggapai tisu dan pelan membersihakn cairan bening itu, pelan dan penuh telaten meski menahan pedih.


"Hah? apakah luntur." Bara masuk ke dalam kamar mandi dan bercermin.


"Wah, benar-benar seperti mayat hidup," Ucapnya lagi.


Bara berjalan keluar menuju dapur terlihat jika airnya telah mendidih, segera Bara mematikan kompor dan mengambil sebuah tempat yang biasa di gunakan para pendetita ambeyen untuk duduk. Pelan Bara memasukkan air mendidih itu ke dalamnya.


"Aw...aw....aw....panas sekali." Bara meletakkannya dengan kasar padahal sudah memegang bagian leher benda tersebut.


Bara segera mengambil kain tebal untuk memegang benda itu dan kembali melanjutkan kegiatannya hingga selesai, di letakkannya bantal berisi air panas itu di bawah selimut tipis Bara yang sebelumnya seluruh tubuh Bara sudah di tempelinya hingga membuat tubuhnya hangat.


"Kenapa Alice lama sekali, sudah pukul setengah tujuh belum sampai sini." Ucap Bara pada dirinya sendiri.


Hingga suara bel apartemen berbunyi, Bara segera meloncat ke atas kasur dan menyelimuti dirinya hingga sebatas leher. Terasa di dalam selimut tubuhnya seperti berada di dalam sauna terasa panas. Perlahan keringat mulai muncul.


"Demi perhatian Alice, Bara." Gumamnya.


Bara terbatuk batik cukup keras agar sedikit terdengar hingga pintu apartemen meskipun mustahil, karena apartemen Bara sangat luas.


"Mas, sepertinya Tuan Bara tidak ada di dalam? Atau jangan-jangan dia pingsan?" Tanya Alice dengan wajah tegang dan serius.


"Tidak mungkin, sebentar Mas telfon dulu." Ken segera menelfon nomor Bara.


Mendengar ponselnya yang berdering, Bara segera mengambil dan melihat siapa gerangan yang menelfon. Ternyata Kenan.


"Ck, padahal aku berharap istrinya." Gerutu Bara, namun begitu Bara tetap mengangkatnya.


"Hallo." Ucap Bara ketus.


"Apa kau mati." Kata Kenan


"Ada apa.?" Tanya Bara malas.


"Cepat buka pintu apartemenmu, istriku bilau kau sedang sekarat." Jawab Ken sadis.


Mendengar ucapan suaminya membuat kedua bola mata Alice melotot dan reflek mencubit perut Ken agar tidak berbicara sembarangan. Mendnegar suara Alice yang tengah memarahi Kenan, membuat Bara melakukan dramanya lagi. Bara pikir justru Ken yang datang melainkan keduanya.


"Aku lemas sekali, bukanlah pintunya sendiri. Akan aku kirim nomor sandi pintu apartemen. Huk! Huk! Huk!" Jawab Bara dengan suara lemah dan lemas tidak se-sehat saat mengangkat telfon Ken tadi.

__ADS_1


...🐾🐾...


__ADS_2