
Happy Reading 🌹🌹
Seorang pria tampan tengah tersenyum dengan mengendarai mobil pribadinya, dengan menyelipkan airphone di telinga kirinya dan sesekali pandangannya mengarah ke layar kecil yang berada di depan mobil.
Mencari kontak sang pujaan hati, Alice. Tanpa menunggu lama, Bara menekan tombol panggilan pada nomor wanita tersebut.
Tak berselang lama panggilannya terjawab, "Halo, Alice." Ucap Bara.
Kening Bara mengkerut kasar karena mendengar benda jatuh atau Alice yang jatuh, Bara terus memanggil nama Alice.
Segera Bara menepikan mobilnya di bahu jalan dan terus memanggil Alice namun tempat itu terlalu ramai, dapat di pastikan jika Alice sedang brada di dekat jalan raya.
Pendengaran dan konsentrasi Bara sepenuhnya dipusatkan pada sebrang telfon, hingga mendengar suara Alice.
“Aku pikir tak akan sakit, tapi ternyata sakit.” Ucap Alice yang sudah menangis di pinggir jalan dengan menutup wajahnya dengan berjongkok.
“Apa yang terjadi padanya?” gumam Bara pelan dengan mendengarkan Alice menangis melalui sambungan telfonnya.
Bara segera melajukan kembali mobilnya dan berusaha mencari Alice, dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Bara terus mengedarkan pandangannya ke seluruh bahu jalan kanan dan kiri.
"Apa, Alice berada di perusahaan Wijaya." Ucap Bara pelan.
Bara menancapkan gas mobilnya dalam hingga melesat cepat menuju perusahaan Wijaya, padahal Bara berencana menuju apartemen pribadinya sembari menunggu Alice datang.
Hingga Bara menepikan mobilnya dengan cepat saat kedua netranya menangkap sosok wanita yang tengah berjongkok di bahu jalan.
Segera Bara melepas hadsetnya dan keluar dari dalam mobil, berjalan cepat dengan langkah lebarnya.
"Alice." Panggil Bara dengan nafas memburu, terbukti dadanya yang naik dan turun.
Alice merasa di panggil mendongakkan kepalanya ke atas, nampak Bara yang menatapnya dengan pandangan kasihan. Alice tidak suka itu, Alice tidak suka di kasihani oleh orang lain.
Segera Bara mensejajarkan tubuhnya hingga menyamai Alice, menarik lengan Alice hingga wajah cantik itu bersandar di dada bidang Bara.
"Tenanglah Alice, jangan menangis." Ucap Bara dengan memeluk erat wanita pujaan hatinya.
Alice yang berusaha membendung tangisannya, ternyata pertahanan Alice jebol juga hari ini. Mencoba memaafkan Kenan namun hatinya tak mampu, Alice menangis dalam pelukan Bara dengan suara yang menyayat.
Bahkan Bara terus mengusap punggung Alice dengan lembut, terus menguatkan Alice.
"Tenanglah Alice, aku mohon jangan menangis." Ucap Bara lagi.
__ADS_1
*
*
*
Kicauan burung menemani kedua insan yang sudah lama berdiam diri tanpa suara, hanya duduk bersebelahan di bawah pohon yang cukup rindang sembari memandangi pemandangan di depan mereka.
Alice dan Bara, Bara membawa Alice di sebuah taman kota. Ingin sekali Bara mengantarkan Alice ke mansion atau ke apartemennya namun Alice tolak.
Dengan sabar, Bara menunggu Alice hingga tenang. Sebotol soda dingin berada di tangan Bara, Bara memutar kepalanya ke samping menatap wajah Alice yang sesekali masih melelehkan air mata dari kedua mata indahnya itu.
"Alice, sebenarnya ada apa? Apa aku harus menghubungi Kenan untuk menenangkanmu?" Tanya Bara yang jiwa keponya meronta-ronta.
Tidak ada jawaban dari Alice, justru air matanya kembali turun membuat Bara mendesah pasrah. Di teguknya air soda hingga tandas dan merem*at botol sampai tak berbentuk.
Terdengar suara botol yang nampak masuk ke dalam bak sampah, karena Bara menbuangnya dengan cara di lempar.
"Alice, oh ayolah! Ceritakan kepadaku, kenapa kamu menangis hem?" Tanya Bara dengan wajah memelas.
"Kenapa kamu begitu tertarik dengan urusan orang lain?" Alice akhirnya membuka suaranya meskipun dengan suara serak.
Bara hanya tersenyu simpul, "Minumlah, wajah dan suaramu jelek sekali." Ucapnya sembari menyodorkan satu kaleng soda untuk Alice.
Dengan pelan, Alice meminum air soda itu yang kemudian tersenyum.
Alis Bara menukik tajam melihat senyum lebar Alice, "Tadi menangis dan sekarang tersenyum, dasar aneh." Ucap Bara dengan menggelengkan kepalanya pelan.
Tawa Alice pecah, "Karena minumannya enak makanya aku tersenyum, Bara." Jawab Alice lembut.
"Syukurlah, aku senang jika kamu ceria lagi." Kata Bara dengan mengacak poni Alice pelan.
"Benar, aku senang jika ada orang yang berkata aku tampak ceria. Setiap aku terluka, aku akan belajar untuk lebih ceria. Aku tersenyum dan belajar lagi, agar tidak kehilangan jati diriku." Ucap Alice dengan tersenyim getir mengingat kisah rumah tangganya dengan Kenan.
"Jika ada yang menyakitimu beri tahu aku." Ucap Bara serius.
"Jangan khawatir, aku akan tetap kuat dan ceria." Jawab Alice yang menoleh ke arah Bara.
"Jangan memaksakan tersenyum jika kamu sedang kesulitan Alice, kamu hanya akan merasa lelah." Kata Bara yang menatap intens kedua manik Alice.
"Jika kamu kesakitan beristirahatlah, apapun alasannya. Jika kamu sakit tetaplah kesakitan. Jika keadaan sulit, itu tetap sulit. Jangan pura-pura kuat Alice." Lanjut Bara lagi.
__ADS_1
Alice menatap kedua mata Bara dengan pandangan bergetar, tanpa sadar Alice kembali menangis.
Dengan lembut, Bara mengusap air mata Alice di pipinya yang sudah cukup memerah.
"Aku mencintaimu Alice." Bara berkata dengan jujur.
Alice melebarkan kedua bola matanya, menatap tidak percaya ke arah Bara. Tanpa sadar, Alice menggeser duduknya mundur hingga memberi jarak lagi untuk keduanya.
"A-apa yang kau katakan Bara, aku ini istri sahabatmu." Ucap Alice dengan nada bergetar bercampur amarah.
"Aku tahu Alice, apa kamu pernah mendengar jika orang jatuh cinta itu buta dan tuli." Kata Bara yang masih menatap lekat manik coklat indah itu.
Alice menggelengkan kepalanya kiat, "Aku pulang Bara, sepertinya kamu kelelahan setelah dari Eropa." Alice segera beranjak dari kursi taman itu.
"Kenan tidak mencintaimu Alice." Bara bersuara dengan tegas.
Alice terpaku di tempatnya, belum juga kedua kaki Alice melangkah pergi dari tempat itu namun mendengarkan kalimat yang membuat hatinya semakin sakit dan sedih.
"Aku tahu." Jawab Alice yang sedikit menoleh ke arah Bara.
Bara lantas langsung berdiri dengan wajah kagetnya, "Lalu kenapa kamu masih bertahan Alice. Rumah tangga macam apa yang kamu jalani." Cecar Bara dengan emosi yang mulai meletup-letup.
"Bukan urusanmu Bara, jangan pernah ikut campur masalah rumah tanggaku dengan Kenan." Ucap Alice dengan tegas yang masih setia memunggungi Bara.
"Selena sudah kembali, apa kamu akan terus menjadi bayangan untuk Kenan." Kata Bara dengan mengepalkan kedua tangannya.
Alice lantas membalikkan tubuhnya hingga kini saling berhadapan dengan Bara.
"Aku tahu Bara! Aku tahu!" Seru Alice dengan bibir bergetar.
"Apa dengan menerima cintamu akan menyelesaikan semuanya! Apa dengan menerima cintamu aku akan baik-baik saja! Tidak Bara! Aku mempertahankan suamiku karena aku mencintainya Bara." Ucap Alice lagi yang sudah menangis.
Kedua mata Bara berkaca-kaca, sakit? Tentu saja. Hati Bara sakit melihat wanita yang dia cintai terluka di depan kedua matanya sendiri.
"Kenapa kita tidak mencobanya dulu Alice, aku akan menyembuhkan lukamu dengan seluruh cintaku." Jawab Bara yang masih menatap manik mata coklat Alice.
Alice mengusap kasar air matanya dan tersenyum pedih, "Bara, kamu maupun orang lain tidak akan pernah tau rasa sakitnya hatiku. Mau sampai kapan kamu akan menyembuhkan luka hatiku dengan cintamu, sedangkan hatiku sepenuhnya untuk suamiku Kenan." Ucap Alice yang masih saja menangis.
"Maaf Bara, kita akiri saja pembicaraan ini. Aku harap kita tidak pernah membicarakan hal ini." Lanjut Alice yang melangkah meninggalkan Bara.
Bara menundukkan kepalanya, menatap nanar paving taman dan ujung sepatu mewahnya. Setitik air mata jatuh langsung ke tanah tanpa membasahi pipi Bara.
__ADS_1
"Ke-kenapa, meskipun membutuhkan seratus tahun untuk mendapatkan cintamu dan menyembuhkan lukamu. Tetap akan aku lakukan Alice." Ucap Bara lirih.
...🐾🐾...