Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Kecemburuan dan Kemarahan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Di sebuah mansion mewah, terlihat seorang wanita tengah mengamuk di dalam kamar dengan membanting barang-barang pribadinya.


Suara pecahan kaca, gucci, dan benda tunpul lainnya menggema di dalam kamar verukuran besar dengan nuansa feminim tersebut.


Terdengar jeritan dan isak tangis Mourin. Ya, semenjak beredar video pertengkaran dirinya dan Alice istri dari oria yang dia cintai membuat Mourin menjadi bulan-bulanan para netizen.


Bahkan tidak hanya dari dalam negeri, rekan-rekan Mourin yang dari luar negri beberaoa menghubungi dan menanyakan kebenaran video tersebut.


notifikasi ponsel terus berbunyi membuat Mourin mengambil dan melihat dari layar apung ponsel. Hujatan demi hujatan dia terima.


"Aaaaa!"


Prang!


Bunyi pecahan kaca dan barang-barang lainnya kembali menggema, ponsel pribadi Mourin di lempar dengan frustasi.


"Ini semua karena Kenan dan istrinya!" Racau Mourin seorang diri.


Mourin tergugu dengan menyembunyikan wajahnya, dirinya merasa sangat di permalukan akibat ulah Alice dan Kenan.


"Aku akan menghancurkan kalian." Ucap Mourin lirih.


Berbeda dengan Mourin yang mengamuk dan merencanakan hal busuk, Bara dan Jundi tengah menuju perusahaan Wijaya karena nomor ponsel Alice maupun Kenan tidak dapat di hubungi.


Tidak membutuhkan waktu lama, mobil Bara telah sampai di perusahaan Wijaya. Dengan cepat Bara keluar dan berjalan masuk ke dalam perusahaan.


Bara memasuki lift bersama Jundi yang telah menyusulnya menuju lantai tigapuluh di mana ruagan Alice berada.


Bunyi lift terdengar bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, dengan langkah lebar dan tubuh tegao Bara berjalan keluar.


Alis Bara bergelombang karena melihat meja Alice kosong, "Mungkin Nona Alice sesang berada di ruangan Tuan Kenan." Ucap Jundi..


Bara melanjutkan langkahnya dan mengentuk pintu ruangan Ken namun tidak ada balasan dari dalam.


"Mungkin Nona Alice dan Tuan Ken sedang anu... Itu Tuan." Jundi kembali berkata namun tidak dapat menjelaskan secara gamblang.


"Apa." Kata Bara dengan wajah dingin menatap Jundi.


"Itu... Begini."


Jundi memperagakan menggunakan dua tanganbya yang di bentuk mengerut dan menyatukan kedua ujungnya, saling memutar satu sama lain.


Dalam otak Bara, Ken dan Alice sedang berciuman karena peragaan Jundi.


Brak!


Kosong~

__ADS_1


Krik... Krik... Krik....


"Mana!" Seru Bara tanpa sadar.


"Eh, mana saya tau Tuan." Jawab Jundi tanpa dosa.


"Kau!" Bara geram dengan sikap Jundi yang terkadang mengesalkan.


Terdengar suara pintu terbuka membuat Bara dan Jundi menoleh ke arah suara, Bara berharap jika itu adalah Alice.


"Tuan Bara." Panggil Ferdy.


Wajah Bara yang penuh harap menjadi datar dan bete, "Kemana Alice?" Tanya Bara kesal.


"Nona Alice sedang ada perlu." Jawab Ferdy ambigu.


"Dengan siapa? Di mana?" Cecar Bara.


Baik Ferdy maupun Jundi hanya menatap Bara yang tidak sadar banyak bertanya.


"Apa. Ayo cepat jawab!" Seru Bara lagi.


"Dengan Tuan Kenan." Jawab Ferdy jujur.


Bara menghela nafas panjang, sudah pasti Kenan mengurung Alice dengan alasan agar dia tidak di ajak arisan oleh Tante Citra. Ck, memikirkannya saja membuat Bara kesal.


"Tuan Kalevi, beliau sedang ada rapat direksi di bawah. Mungkin sebentar lagi akan selesai." Jawab Ferdy sopan.


"Paman Kalevi?" Ulang Bara.


"Benar, silahkan menunggu di dalam ruangan." Kata Ferdy.


"Baiklah." Jawab Bara dingin.


Bara berjalan masuk tanpa mengatakan apapun lagi sedangkan Jundi memberikan tanda tanduk menggunakan jari telunjuknya ke arah Ferdy.


Ferdy membalas dengan tanta T_T untuk mengejek Jundi yang pasti menangis di dalam hati.


*


*


*


"Kamu sudah menunggu lama Bara?" Tanya Kalevi yang berjalan masuk ke dalam ruangan CEO.


Bara segera berdiri begitu melihat Kalevi berjalan masuk dengan Ferdy di belakangnya.


"Lumayan, Paman. Bagaimana kabar Paman? Sudah lama tidak bertemu." Jawab Bara dengan berpelukan sebentar dengan Kalevi.

__ADS_1


"Baik, sudah lama kamu tidak datang ke mansion. Mainlah jika ada waktu luang." Ucap Kalevi dengan ramah.


"Terima kasih, Paman." Jawab Bara.


"Kata Ferdy kita akan pergi ke proyek?" Tanya Kalevi memastikan.


"Benar, Paman. Biasanya di temani Alice karena penanggung jawab proyek ini adalah Alice." Jelas Bara pada Kalevi.


"Sepertinya Alice akan segera pensiun... Hahaha." Kata Kalevi dengan tertawa bahagia.


Bara dan Jundi terlihat tertegun dengan perkataan Kalevi, "Apa Alice akan bekerja di perusahaan keluarganya?" Tanya Bara pelan.


"Bukan... Bukan... Saat ini Alice dan Kenan tengah pergi berbulan madu. Sebentar lagi kami akan mendapatkan keluarga baru, jika Alice hamil otomatis berhenti bekerja." Jawab Kalevi dengan menggebu karena kebahagiaan yang meluap-luap membayangkan suara anak kecil memenuhi mansion.


"Apa!" Bara tidak sengaja berteriak dengan kedua mata membeliak lebar setelah mendengar ucapan Kalevi.


Dalam bayangan Bara, Alice dan Kenan bercum*bu dengan ganas dan panas. Bahkan Bara tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras membayangkan setiap inci tubuh Alice di jamah oleh Kenan.


"Ada apa, Bara?" Tanya Kalevi bingung.


"Bu-bukan apa-apa Tuan Kalevi mari kita pergi ke proyek sebelum mantahari semakin tinggi." Potong Jundi yang tahu jika Bara tengah bermain dengan pikirannya sendiri.


"Oh, ayo." Jawab Kalevi mengangguk.


Kalevi berjalan beriringan dengan Bara setelah Jundi sedikit mendorong tubuh atasannya agar tersadar kembali ke kenyataan.


Keempat pria dengan suasana hati berbeda memasuki lift untuk menuju lantai satu, Kalevi yang bahagia, Bara yang marah dan cemburu Jundi serta Ferdy yang pasrah menerima peran mereka.


Kini, Kalevi dan Bara tengah berada di dalam mobil menuju proyek dengan di sopiri oleh Ferdy sedangkan Jundi duduk di sebelah Ferdy.


"Mereka pergi ke mana, Paman?" Tanya Bara yang kembali bersuara meski terkesan dingin.


Kalevi menoleh ke arah Bara, "Paman tidak tahu, Kakek tidak mengatakannya kemana mereka. Mungkin Ferdy tahu." Jawab Kalevi jujur.


Bara menendang kursi supir dari belakang dengan menggunakan ujung sepatu mahalnya, Kalevi hanya diam mengamati dengan sejuta tanya karena sikap Bara yang menurutnya berlebihan.


"Tuan Kenan dan Nona Alice tengah berada di Bali." jawab Ferdy jujur.


"Berapa lama?" Tanya Bara lagi.


Ferdi dan Jundi menatap bangu belakang melalui spion tengah mobil, "Tidak tahu, Tuan." Jawab Ferdy lagi.


"Cih, bagaimana bisa Kenan memiliki asisten yang tidak becus sepertimu." Kata Bara tajam bak belati namun tak nampak.


Ferdy menghela nafas panjang sedangkan Jundi menoleh ke arah Ferdy dengan mengangkat kangan kiri yang terkepal.


"Fighting!"


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2