
Happy Reading
Selena keluar dari kamar mandi dengan wajah secerah mentari yang tertutup awan di langit Amerika, dengan bersenandung kecil. Selena memasak salad dan membakar daging untuk makan malamnya bersama suami, dirinya tidak sabar agar segera berganti hari.
"Ah, Mommy sangat bahagia jika kamu benar hadir di dalam rahim." Ucap Selena dengan mengelus perutnya yang masih rata.
Selena menyibukkan dirinya di dalam dapur. Mengambil sayuran segar yang berada di dalam kulkas dan mengeluarkan dua daging sapi bagian tenderloin agar menjadi suhu ruang. Mencuci selada air, tomat, bawang bombai, dan mentimun.
Memotong kecil-kecil sayuran segar agar tidak berantakan saat makan tidak lupa menambahkan minyal zaitun kesukaan Josh, mengaduk hingga rata dan mendiamkan nya. Selena beralih ke arah daging, setelah memanaskan telfon hingga benar-benar panas. Segera dia menaruh daging sapi itu hingga asap mengepul, percikan daging menghasilkan bunyi yang indah.
Cukup lama Selena memanggang daging hingga menjadi medium rare, hingga semuanya Selesai. Selena menaruh daging di atas nampan berlapis alumunium foil agar dapat dia panggang saat Josh pulang untuk memanaskannya lagi.
Tidak terasa jika langit sudah berganti gelap. Dirinya segera pergi mandi setelah selesai memasak steak daging untuk makan malam. Dengan hati-hati Selena melagkahkan kakinya agar tidak terpeleset, mandi dengan bersih dan wangi. Hari ini Selena tidak ingin berhubungan badan dengan Josh. Di sela-sela kegiatannya memasak, Selena mencari tahu tentang wanita hamil muda.
Belum merasakan namanya mual-mual tapi sudah terlambat menstruasi, "Apakah Josh yang akan ngidam seperti di dalam novel." Ucap Selena terkekeh pelan membayangkan suaminya ngidam.
Tiga puluh menit berlalu, Selena segera keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk yang melilit di tubuh rampingnya, tidak lupa juga handuk yang melingkar di kepalanya karena keramas.
Dengan cepat dia berganti pakaian dan berjalan ke arah meja rias, mengeringkan rambutnya yang cukup panjang menggunakan hair draiyer. Senyum cantik terus menghiasi wajahnya, dia sudah tidak sabar memberikan akar bahagia kepada sang suami.
Mendengar pintu apartemen terbuka sontak saja membuat Selena segera mematikan hair driyer dan mengkah keluar, terlihat pria tampan mengenakan mantel hitam dan juga tas berbentuk kotak yang biasa di bawa oleh pegawai kantoran.
"Beby." Ucap Selena yang langsung memeluk tubuh Josh.
Josh heran tapi membalas pelukan sang istri, "Kamu harum sekali, beb. Apa kamu bersiap melayaniku malam ini?" Tanya Josh dengan suara serak.
Selena mendorong pelan tubuh suaminya, "Tidak, malam ini aku ingin di peluk saja. Ayo cepat mandi, aku sudah memasakkan makan malam untuk kita." Jawab Selena mengambil tas kerja suaminya.
"Siapkan pakaianku." Ucap Josh.
Dengan menganggukkan kepala, Selena segera mengikuti langkah Josh yang masuk ke dalam kamar. Membantu Josh membuka jas, melepas dasi, dan kemejanya setelah menaruh tas di sofa sudut kamar. Josh menatap lekat wajah istirnya yang nampak berbeda tapi dia tepis.
"Sudah, mandilah aku akan menyiapakan pakaianmu. Beb." Kata Selena menepuk pelan dada bidang Josh.
Josh melangkah panjang menuju kamar mandi, dirinya juga sudah sangat lelah bekerja dengan setumpuk dokumen yang harus dia selesaikan hari ini juga.
Namun, kening Josh mengkerut dalam karena melihat tempat pasta gigi Selena tidak ada dan di jadikan satu ke tempatnya. Melihat sekeliling apakah terjadi sesuatu selama dia pergi bekerja, tapi tidak ada hal aneh apapun yang ada di dalam.
Mengendikkan kedua bahunya, Josh segera menyikat giginya terlebih dahulu sebelum melakukan ritual mandi. Sedangkan Selena cemas jika Josh menemukan hasil tespec nya hari ini dengan mengambil pakaian untuk suaminya.
__ADS_1
Josh keluar dari dalam kamar setelah berganti pakaian, melihat istrinya yang berbeda hari ini membuat Josh bertanya-tanya.
Selena yang sibuk menyiapkan makanan di atas meja, menolehkan kepalanya ke arah belakang. Terlihat Josh yang hanya berdiam diri di dekat pintu kamar.
"Beby, kenapa hanya melamun!" Ucap Selena dengan suara yang cukup keras.
"Oh, iya. Ada acara apa hari ini beb? Kenapa kamu sangat bahagia sekali?" Cecar Josh kepada sang istri.
Selena yang tengah mengambil salad di dapur mengigit bibirnya agar menahan diri tidak mengatakan kabar gembira kepada Josh karena belum pasti.
"Tidak apa-apa, aku hanya senang saja. Kamu tidak lembur beberapa hari ini beb." Jawab Selena tidak sepenuhnya berbohong.
Josh hanya ber oh saja, "Pekerjaan sedang tidak banyak." Kata Josh dengan mengambil sebotol anggur di dalam rak anggur.
"Begitu, emm... beb, apa aku boleh meminta uang lebih?" Tanya Selena hati-hati.
Josh meletakkan botol anggur cukup keras membuat Selena sedikit terperanjat kaget, dengan perasaan takut dia mendongak menatao wajah suaminya yang nampak berubah. Kedua tangannya saling bertautan dan mere*at untuk menyalurkan rasa gugupnya.
"Untuk apa lagi? Tas atau barang mewah apa yang ingin kamu beli?" Tanya Josh dengan suara dingin.
"Bu-bukan untuk itu, a-aku hanya ingin berjalan-jalan ke mall saja." Jawab Selena lirih hampir tidak terdengar.
"Hanya $500." Ucap Selena lagi.
Plup.
Suara tutup anggur mewah terbuka, "Baiklah." Jawab Josh singkat.
"Terima kasih, beb." Kata Selena yang hanya mendapatkan anggukan kepala Josh.
Josh menuangkan anggur ke gelas kristal tapi di hentikan oleh Selena saat akan menuangkan di gelas kosong satunya, "STOP! o-oh aku sedang tidak ingin minum anggur beb. Aku ingin munum jus saja." Cegah Selena yang membuat Josh semakin menatap penuh selidik ke arah wanita tersebut.
"Kenapa? Kamu suka dengan anggur ini, ada apa denganmu!" Ucap Josh dengan nada dingin dan menenkan.
"Tidak, beb. Aku hanya bosan saja ingin minum jus." Bohong Selena dengan wajah memelas.
Josh langsung meneguk anggur merah yang terasa membakar tenggorokannya itu dengan sekali teguk, meletakkan dengan kasar dan menatap lurus ke arah Selena.
Makan malam hari ini hening, hanya obrolan ringan seperti apa yang di lakukan Selena selama Josh tinggal kerja dan begitu juga sebaliknya. Selena cukup senang mendengarkan saat Josh bercerita dunia luar apartemen, karena Selena memanglah lebih banyak berdiam diri di dalam apartemen jika pergi harus bersama Josh.
__ADS_1
Sesuai apa yang di katakan oleh Selena, malam ini benar-benar hanya tidur dengan berpelukan tidak ada desa*han dan jeritan yang memenuhi kamar apartemennya. Selena menyusupkan ke dada bidang Josh dnegan bibir yang tersenyum tipis, seakan tidak sabar menunggu subuh hari.
*
*
*
Langit seakan berpihak kepada Selena, dengan cepat langit yang gelap kini telah terang meski tidak seterang biasanya karena langit masih senantiasa menurunkan salju di langit Amerika. Selena dengan pelan mengerjabkan kedua matanya, mengumpukan jiwanya kebali agar dapat memulai kativitas yang setiap hari dia lakukan.
Seulas senyum tersunggung di wajah cantiknya menatap pria yang masih terlelap dalam tidur, dengan perlahan dia menyingkirkan tangan yang nampak posesiv memeluknya. Dengan hati-hati dia meletakkan tangan kanan Josh agar tidak terbangun.
Dengan mengendap-endap seperti pencuri, Selena berjalan menuju kamar mandi untuk mengecek sekali lagi. Josh yang mendengar suara gemericik air hanya menggerakkan badannya sebentar tapi melanjutkan tidurnya.
Di dalam kamar mandi, Selena mengambil wadah dan sisa tespeknya. Dengan menampung kembali air seni nya ke dalam cangkir dan membuka semua tespeck yang tersisa enam tespek. Dengan perasaan berdebar dan tangan gemetar, Selena mencoba tetap tenang.
Berjongkok di atas lantai kamar mandi dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sudah lima menit dia mencelupkan alat tes kehamilannya. Menghembuskan nafas panjang agar tidak terbawa suasana karena mengingat jika Josh ada di rumah.
"Ya Tuhan, semoga kabar bahagia." Doa Selena dalam hati.
Mengambil ke enam alat tespek dengan tangan gemetar, kedua mata Selena di tutup rapat seakan takut jika dirinya kecewa. Perlahan tapi pasti kedua mata Selena membuka perlahan, garis dua! Dengan cepat membuka kedua matanya dengan sempurna.
"Aaa!"
Secepat kilat Selena menutup mulutnya dengan kegirangan dengan berjongkok, Josh yang mendengarkan teriakan Selena di dalam kamar mandi langsung terbangun dan meloncat dari atas kasur.
Cklek
Cklek
Suara daun pintu di putar tapi tidak berhasil karena Selena mengunci dari dalam, gedoran pintu yang keras terdengar. Membuat Selena yang berada di dalam kalang kabut karena wadah tespek masih berceceran.
"Buka pintunya! Beb! Are you oke!" Teriak Josh dengan tetap menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Iya, aku baik-baik saja!" Jawab Selena dengan berteriak sambil memunguti bungkus tespek dan membuang air seninya ke dalam closed.
Brak!
Pintu kamar mandi terbuka dengan keras dan secara paksa, membuat Selena menoleh dengan gerakan tangan yang berhenti. Menatap wajah Josh yang tampak khawatir dengan nafas memburu. Spontan Selena meram*at bungkus tespeknya karena perasaan takut menjalar di dalam hatinya.
__ADS_1