
Happy Reading 🌹🌹
Dokter Rasyah segera mematikan sambungan video call nya dengan Kenan karena mendengar suara teriakan sahabatnya.
Segera Dokter Rasyah menanggalkan jas kebesarannya dan berlari keluar ruangan kerjanya, beruntung waktu makan siang dan tidak ada pasien yang ada janji dengannya hari ini.
Dokter Ana yang melihat kekasihnya nampak terburu-buru hanya dapat menatapnya penuh tanya, ingin menyusul namun Dokter Rasyah sudah tidak nampak lagi.
Blam!
Suara pintu mobil tertutup kencang, dengan memutar kunci mobil Dokter Rasyah segera menghidupkan mesin mobilnya.
Perlahan, mobil berwarna merah itu bergerak meninggalkan area Rumah Sakit untuk menuju mansion Kenan.
Dalam perjalanan Dokter Rasyah mencoba menghubungi Ferdy, tiga kali panggilan barulah di angkat.
"Ada apa!" Sentak Ferdy di ujung telfon.
"Kenan sudah mengetahuinya, cepat susul aku ke mansion Kenan!" Seru Dokter Rasyah.
Beruntung jarak antara Rumah Sakit dan mansion Kenan tidaklah jauh, hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit kini mobil Domter Rasyah telah masuk ke area mansion.
Dengan serampangan Dokter Rasyah memarkirkan mobilnya, langkah lebarnya berlari masuk ke dalam mansion. Seorang maid yang melihat kedatangan teman majikannya merasa bersyukur.
"Tuan, tolong Tuan Kenan. Sejak kembali ke mansion Tuan Kenan tidak keluar kamar dan mengamuk di dalam." Ucap maid kepercayaan Alice.
Dokter Rasyah mengambil pena yang ada di saku kemejanya, memegang tangan maid dan menuliskan sesuatu di kulit lengannya.
Terasa geli dan malu menjadi satu, bahkan wajah maid tersebut sudah memerah bak kepiting atau udang rebus.
"Segeralah ke apotik dan tunjukkan catatan ini." Ucap Domter Rasyah cepat.
Maid hanya mengangguk dan keduanya segera pergi ke tempat tujuan masing-masing, Dokter Rasyah menaiki tangga sekaligus dua agar cepat sampai.
Deru nafas nampak terlihat cepat, terlihat dari dada bidang dokter yang turun naik dengan cepat.
Ingin rasanya menerobos masuk namun Dokter Rasyah urungkan, dirinya mendudukkan diri di samping pintu kanar Kenan, dan menikmati suara benda pecah, jeritan, dan tangisan yang ada di dalam kamar utama.
Bukan tidak ingin menenangkan perasaan sahabatnya. Namun, Dokter Rasyah memberi waktu agar Kenan dapat meluapkan rasa kecewa dan sedihnya karena hal yang jauh lebih besar sudah menantinya di depan mata.
Tidak berselang lama, nampak Ferdy dan Bara berlari masuk ke dalam mansion Kenan. Dokter Rasya melambaikan tangan agar keduanya segera naik.
"Kenapa kamu tidak masuk!" Seru Ferdy dengan suara tertahan.
"Heih, tenanglah. Duduk sini dulu biarkan Kenan puas menghancurkan semua barang di dalam kamar." Jawab Dokter Rasyah santail.
"Dasar gila." Umpat Ferdy.
"Bosmu yang gila." Kata Dokter Rasyah dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Bosku juga sahabatmu." Jawab Ferdy tak ingin kalah.
"Ck, dia itu sahabat kalian." Bara berkata dengan berdecak kesal.
"KITA!" Seru Ferdy dan Dokter Rasyah bersamaan.
Ketiganya saling pandang dan tergelak bersama, melupakan sejenak apa tujuan mereka datang ke mansion.
Hingga, seorang maid datang dengan satu kantung plstik dari apotik berukuran sedang.
"Dokter, pesanan Anda." Ucap maid sopan.
"Terima kasih, tolong buatkan es jeruk untuk kami bertiga." Jawab Dokter Rasyah dengan menerima plastik tersebut.
"Baik, Dok."
Maid segera turun untuk membuatkan minuman, sedangkan Dokter Rasyah sudah berdiri dengan di ikuti Bara dan Ferdy.
Perlahan pintu kamar Kenan terbuka, pemandangan yang terlihat sangat kacau. Bagaikan di terjang angin put*ing bel*iung di dalam kamar utama.
Pecahan beling berterabaran di atas lantai marmer, dengan perlahan ketiganya berjalan dengan menyingkirkan dengan kaki yang terbalut sepatu kulit kwalitas terbaik.
Nampak seorang pria yang masih menangis dan begitu memprihatinkan. Bercak darah bercecer di lantai akibat luka yang di timbulkan dari oecahan kaca.
"Ken." Pangil Ferdy pelan.
"Tolong aku." Ucap Kenan dengan suara tersendat-sendat.
Ferdy segera mensejajarkan tububnya setinggi Kenan dan memeluk tubuh pria yang biasa arrogant itu.
"Akan kami bantu, tenanglah." Ucap Ferdy menepuk pelan punggung Kenan yang basah.
"A-Alice ... Anakku...." Kenan menyebut Alice dan bayi yang masih ada dalam kandungan.
Ketiga pria nampak membuang pandangannya dan menyeka mata mereka yang sudah berembun.
"Bukan saatnya menangis, Ken. Sekarang berjuanglah untuk mendapatkan Alice dan anakmu." Ucap Dokter Rasyah dengan menepuk pundak Kenan pelan.
"Aku tidak menghamili Selena, Ras. Aku tidak ... tidak mungkin serendah itu." Tangis Kenan terus mengalun dalam kamar utama itu.
"Jika memang kamu tidak melakukannya, buktikan kepada Alice. Bukan menangis seperti ini." Kata Bara yang masih berdiri dengan angkuh.
Kenan melepas pelukannya dari Ferdy dan menatap tajam penuh amarah ke arah Bara, "Kau! Jauhi istriku mulai detik ini Bara!" Seru Kenan dengan mata yang nyalang.
Bara tersenyum miring ke arah Kenan, "Apa hakmu, Ken? Kamu dan Alice sudah proses cerai dan aku dengan senang hati akan merawat anakmu juga mantan istrimu." Bara berkata dengan santai seolah tidak merasa bersalah.
"Kau!"
"Sudahlah Ken, terima saja kenyataan kamu dan Alice sudah berakir. Jadi, jangan melarangku untuk mendekati Alice kecuali jika dia masih menjadi istrimu maka dengan sukarela aku siap menerima hukumanmu." Potong Bara yang semakin menyiram bengsin dalam api.
__ADS_1
"Aku dan Alice tidak akan oernah bercerai, camkan itu!" Sentak Kenan yang sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Aku harus mengingatkanmu lagi, Ken. Bukankah hari ini kamu telah bertemu dengan Alice untuk menandatangani surat perceraian?" Tanya Bara dengan senyum smiriknya.
Rahang Ken mengetat, "Fer, hubungi pengadilan halau proses percerainku dengan Alice." Perintah Kenan yang masih menatap penuh permusuhan ke arah Bar.
"Cobalah semampumu, Ken. Aku pastikan perceraian kalian akan tetap terjadi. Sampai bertemu di hari pernikahanmu." Kata Bara yang kemudian berbalik berjalan keluar dari kamar utama Kenan.
"Bara! Aku belum selesai bicara, Bara!" Kenan berteriak dan ingin berlari menyusul Bara.
"Menyusahkan." Ucap Dokter Rasyah berdecak kesal.
"Apa kau bilang, pergilah. Aku tidak membutuhkanmu!" Jawab Kenan dengan menatap tajam ke arah Rasyah.
"Lihaglah penampilanmu Ken, sangat menyedihkan. Apa kamu pikir Alice akan sudi menatap keadaanmu yang berantakan seperti ini." Kata Dokter Rasyah panjang lebar dengan menggerakkan pakaian Kenan yang compang camping.
Ken menyentak tangan Dokter Rasyah dengan keras, "Alice ku tidak seperti wanita pada umumnya, dia tidak akan menghindariku meskipun aku berpenampilan seperti ini." Kenan berkata dengan penuh emosi kepada Dokter Rasyah.
"Kamu terlalu percaya diri, Ken. Lihatlah sainganmu adalah Bara." Dokter Rasyah tersenyum kecil dengan mengingatkan Kenan.
"Aku tidak takut meskipun sainganku adalah seorang pangeran." Jawab Kenan cepat.
Bohong jika Kenan tidak takut dengan ucapan Rasyah, bagaimanapun Kenan tahu bagaimana Bara. Di usia muda menjalankan dua perusahaan besar di dua negara berbeda terlebih lagi tidak ada orang tua hanya Kakek Santosa saja.
"Baillah, kau pangerannya. Sekarang aku akan mengobatimu agar dapat menunggangi kuda menjemput Alice kembali ke istanamu." Kata Dokter Rasyah dengan memperagakan menggunakan gerakan tangan.
"Sepertinya tidak bisa, Ras. Sisa satu hari lagi Kenan akan menikah dengan Selena bahkan kita sudah mendapatkan sragam dan aku yakin jika keluarga William mendapatkan undangan dari Tante Citra." Sela Ferdy yang semakin memperkeruh perasaan Kenan.
"Aku akan membatalkannya." Ucap Ken cepat.
"Tidak mungkin, Ken. Banyak tamu undangan penting yang datang dan itu akan mempengaruhi perusahaan." Jawab Ferdy jujur.
"Aku tidak peduli." Kata Kenan tajam.
"Kamu tidak peduli? lalu kami yang bekerja di perusahaan Wijaya bagaimana, padahal kami bekerja di perusahaan Wijaya sebagai sumber penghidupan." Ferdy mengingatkan berapa banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan Wijaya.
"Apa kamu yakin tidak ingat apapun, Ken?" Tanya Dokter Rasyah penuh selidik.
Kenan menggeleng pelan dengan kepala tertunduk, "Tidak, saat itu tiba-tiba kesadaranku sudah hilang dan tidak ingat apapun. Namun, aku tidak tahu siapa yang di belakang Selena tapi aku pernah melihat dia keluar dari apartemen Selena. Apakah dia mampu berbuat sekejam itu kepada kami?" Ucap Kenan pelan.
"Apakah kamu mencintai Alice?" Tanya Domter Rasyah.
"Sangat... Aku sangat mencintainya." Jawab Kenan sendu.
"Ada kami."
...🐾🐾...
__ADS_1