Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 130


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Di mansion Wijaya, terdengar tangis seorang wanita. Tepatnya di salah satu kamar mansion itu.


"Maafkan, Mama. Yah." Ucap Citra dengan bersimpuh di kaki suaminya.


Kalevi hanya diam seribu bahasa dengan pandangan di buang ke sembarang arah.


"Mama menyesal dan mengaku salah, maafkan Mama." Lanjut Citra lagi.


"Setelah merusah kehidupan putramu sendiri dan mengetahui wanita yang kamu gadang-gadang akan membahagiakan Kenan, justru kini Kenan terpuruk." Kalevi yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.


Mendengar suara Kenan yang tegas dan dingin membuat Citra semakin takut, takut jika Kalevi meninggalkannya.


Citra menggeleng cepat dengan memohon ampun kedua tangan yang ada di depan dadanya, "Mama bersalah, Mama bersalah. Mama hanya tidak ingin Kenan menikah dengan wanita yang tidak dia cintai, Yah." Jawab Citra lagi.


Kalevi menghembuskan nafasnya kasar, bahkan Citra mampu mendengarnya. Kalevi merogoh saku celananya dan memberikan sebuah foto yang sudah lecek kepada Citra.


"Jika kemarin kamu masih terus bersikeras membela wanita mura*han itu, lihat lah baik-baik kenapa Ayah tidak pernah menyetujuinya. Sudah aku katakan kepadamu berulang kali, jika Ayah memiliki alasan yang akan membuatmu menyesal." Cecar Kalevi kepada Citra.


Citra mengusap air mata yang membuat kedua matanya kurang jelas melihat gambar, terlihat wajah Selena tengah bermesraan dengan beberapa pria yang berbeda-beda di setiap gambar.


"Apa kamu puas sudah membuat Kenan bercerai dengan Alice? Sejahatnya kamu kepada Alice menantu kita, dia tetap baik dan menyayangimu. Masakan rendang beberapa waktu lalu itu adalah masakah Alice yang kamu puji-puji, setelah Kenan menutuskan pindah rumah Alice tidak jarang mengirimkan makanan yangbdi titipkan di depan pos satpam dan melarang untuk mengatakan jika itu masakannya. Kamu ini seorang ibu sama halnya dengan Elizabet, apa kamu pikir Elizabet dan William akan diam saja sebagai orang tua jika anaknya di siksa?" Kalevi berkata panjang lebar dengan dada yang bergemuruh, membayangkan tangis Alice dan Kenan yang terpuruk setelah kejadian itu.


Air mata Citra semakin deras menetes membasahi foto yang berada di atas lantai, "Mama akan meminta maaf kepada keluarga William, Mama yang akan membawa menantu kita kembali Ayah." Citra berkata dengan suara parau nya.


"Sudah terlambat, Ma. Mereka akan bertemu di pengadilan lusa." Jawab Kalevi dengan wajah sendu.


Kalevi turun hingga tingginya menyamainsang istri, membawa Citra ke dalam pelukannya. Nampaktubuh Citra yang bergetar karena sudah hampir dua jam menangis memohon ampun kepada Kalevi.


"Halau semuanya, Ayah... Hiks, gunakan semua uang dan koneksi yang kita miliki jangan sampai mereka bercerai." Tangis Citra semakin pecah rasa bersalah menggerogoti hatinya.


Kalevi hanya mempu menenangkan Citra, meski pun mampu menghalau perceraian anaknya. Jika Alice mengingunkan perpisahan mereka bisa apa.


*


*


*


Mahari kembali ke peraduannya, membuat langit yang awalnya sangat cerah kini berubah menjadi temaram.


Mobil-mobil keluar dari berbagai perusahaan untuk kembali pulang, bis-bis bergantian berhenti di setiap titik stasiun menurunkan dan mengangkut penumpang.


Setiap detik, menit, jam membuat langit semakin gelap dan di salah satu titik bumi banyak lampu yang mulai menyala dengan berbagai warna.


Di sebuah diskotik, dentuman musik yang memekakkan telinga, asap rokok yang mengepul hingga memenuhi langit-langit dan menebarkan aroma nya segelara arah.

__ADS_1


Tawa pengunjung yang selalu terdengar di setiap sudut, lantai dansa yang sudah di penuhi dengan gaya tarian masing-masing.


Tempat yang ramai ini sangat sepi bagi seorang pria yang duduk di depan meja bartender, dengan memakai kemeja putih, dan lengan yang di gulung hingga sampai siku.


Meneguk minuman keras dengan tidak sabar di setiao gelasnya, tidak jarang minuman berwarna kuning dengan aroma kuat itu tidak masuk ke dalam mulutnya dengan sempurnya.


Air vodka mengalir membasahi leher hingga berakhir di kemeja putihnya, seorang wanita dengan pakaian sexy bahkan saat menungging mungkin penutup intinya nampak.


Berjalan menuju Kenan yang tengah mabuk-mabukan, nampak dari pria yang banyak masalah.


"Aku mendapatkan mangsa, pria menyedihkan yang mudah aku goda." Gumamnya pelan.


Dengan rasa percaya diri tinggi, wanita itu bergelayut manja di lengan Kenan.


"Hai, kamu sepertinya membutuhkan hiburan." Ucap wanita itu berbisik dengan suara mende*sah untuk memancing birahi lawan jenis.


Bukannya terpancinga nafsu nya, justru Kenan terpancing emosi. Dengan kasar menghempas wanita malam itu dengan kasar hingga terjatuh di atas lantai.


"Menjauhlah dariku mura*han!" Seru Kenan dengan sempoyongan.


"Hey, bung! Jangan kasar sama cewek." Seorang pria tiba-tiba datang dengan mendorong pundak Kenan.


Kenan yang sudah mabuk dan emosi, langsung menghajar pria yang menyentuhnya hingga tersungkur di lantai.


Teman-teman pria itu tidak terima sehingga terjadilah perkelahian yang tidak bisa di hindarkan, dengan kondisi Kenan yang seperti ini tentu jelas kalah.


Kenan tersungkur di lantai dan tubuhnya di tendang, setitik air mata Ken turun melihat Alice yang bersiri tidak jauh darinya dengan wajah sedih.


Ferdy, Bara, dan Jundi yang mencari Kenan di dalam diskotik, berjalan dan mencari keberadaan Kenan.


"Itu Tuan Kenan!" Tunjuk Jundi pada kerumunan orang-orang.


"Ken!" Teriak Ferdy dan Bara bersamaan.


Ketiga pria itu berlari dan langsung menendang orang yang mengerubungi Kenan, Ferdy membabi buta menghajar mereka tidak ada bedanya dengan Bara.


Pyar!


Ferdy mengambil beberapa botol minuman keras dan menukulkan di kepala mereka, sedangkan Bara menghajar wajah dan membanting mereka di lantai.


Dengan dada naik turun dan nafas memburu, keduanya sudah melumpuhkan semua nya. Suara erangan terdengar dari orang yang menghajar Kenan.


Melihat petugas keamanan masuk, Ferdy menyuruh mereka membawa semua korban di larikan ke rumah sakit.


"Bawa mereka." Ucap Ferdy dingin.


Mereka hanya patuh terhadap perintah Ferdy, siapa yang tidak tahu Ferdy tangan kanan Kenan Wijayakusuma.

__ADS_1


Melihat seorang wanita berdiri dengan ketakutan hanya membuat Ferdy berdecih tidak memperdulikannya.


"Merepotkan sekali." Ucap Bara yang mendudukkan Kenan.


"Alice." Ken berkata dengan suara tidak jelas namun Bara masih paham.


"Hah, makanya jadi pria jangan plin plan." Gerutu Ferdy.


"Sudah ayo kita bawa ke rumah sakit dan hubungi orang tuanya." Kata Bara dengan memapah Kenan.


"Ayo pecund*ang!" Kata Ferdy sarkas ke arah Kenan.


Ferdy dan Bara memapah Kenan dari sisi kiri dan kanan dengan susah payah, ketiganya keluar dari diskotik dan menuju rumah sakit.


Mobil sedan melesat dengan cepat dari area diskotik, hanya ada keheningan di dalam mobil hingga Kenan memuntahkan seluruh isi perutnya.


Pintu kaca mobil di turunkan oleh Bara, suara racauan Kenan yang tidak jelas menemani perjalanan itu.


"Di mana Jundi?" Tanya Ferdy yang melihat kursi belakang hanya ada Kenan.


"Sudahlah, dia juga bisa pulang ke rumahnya sendiri." Jawab Bara tidak peduli.


"Benar juga."


Bara terus melajukan mobil tanpa menghiraukan keberadaan asistennya Jundi, sedangkan di sisi lain dua pria masih beradu otot.


"Lepaskan!"


"Kau yang lepaskan!"


"Aku hitung sampai ke tiga, kalau kau tidak lepaskan akan aku gigit."


"Cih, kau akan aku hajar!"


Keduanya berjalan dengan terus berputar, saling menatap tajam satu sama lain denga tangan kanan saling menjambak rambut satu sama lain.


"A... A... A... Kau jangan tarik rambutku!"


"A... A... A... Kau yang memulainya bod*oh! Jika rambutku rontok akan aku gunduli rambut bawahmu!"


Pria yang mendapatkan ancaman dari Jundi otomatis menutupi asetnya.


"Hey kalian! Teman kalian sudah keluar dari diskotik." Seru bartender dengan menopang dagu.


Jundi dan orang asing itu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, kedua mata mereka menelisik tempat yang sedang di bersihkan.


Keduanya langsung melepaskan cengkraman tangan masing-masing dan merapikan penampilan mereka.

__ADS_1


"Awas jika temanku kenapa-napa, akan aku rontokkan gigimu." Ancam Jundi dengan galak.


...🐾🐾...


__ADS_2