
Happy Reading 🌹🌹
Lenguhan suara terdengar lirih, perlahan kedua mata mengerjab. Nampak langit-langit berwarna putih yang pertama kali di lihatnya.
"Alice, kamu sadar." Panggil Elizabeth dengan wajah sedihnya.
"Alice di mana, Ma?" Tanya Alice lemas.
"Kamu di Rumah Sakit sayang, hiks... Alice maafkan Mama dan Ayah." Jawab Elizabet seraya memeluk tubuh sang putri dengan erat.
Alice sontak meraba perutnya kaget, "Bayi...."
"Semua baik-baik saya, bayimu baik-baik saja sayang." Elizabet segera memotong ucapan Alice karena melihat sang putri yang panik.
Hembusan nafas lega terdengar, "Jangan menangis, Ma." Ucap Alice.
Elizabet menangguk namun masih meneteskan air mata, "Selamat sayang, kamu akan menjadi seorang Ibu." Kata Elizabet dengan mencium kening Alice.
Air mata Alice tidak dapat di bendung lagi, senang, dan sedih menjadi satu kesatuan yang haqiqi di dalam hati Alice saat ini.
"Mama juga akan segera menjadi seorang nenek." Jawab Alice tersenyum bahagia.
"Jangan menangis sayang, kasihan bayimu. Dia pasti akan sedih jika tau Ibunya bersedih." Kata Elizabeth lembut dengan mengusap air mata sang putri.
"Alice hanya terlalu bahagia, Ma." Ucap Alice yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Apa Kenan tahu?" Tanya Elizabet hati-hati.
Alice menggeleng lemah, "Tapi, dia yang ngidam." Jawab Alice tersenyum kecil.
"Bagus, biarkan dia ngidam sampai tidak bisa apa-apa. Buat Ayahmu menderita cucuku." Elizabet mengelus perut ya sedikit menojol tersebut dengan pelan.
"Baik, nenek." Jawab Alice yang menirukannsuara anak kecil.
Kedua wanita beebeda usia teraebut nampak tertawa bersama, sejenak mereka melupakan masalah yang saat ini tengah di hadapi oleh dua keluarga tersebut.
Saat meninggalkan mansion Kenan, Alice yang merasa perutnya sakit akhirnya tidak kuat menahannya.
__ADS_1
Sehingga itu, membuat Alice pingsan. Membuat Elizabet dan William panik dengan kecepatan tinggi William memacu mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Berungung, rumah sakit terdekat adalah rumah sakit milik Kakek Wijaya. Dokter Ana yang melihat pasiennya terkapar tidak sadarkan diri, segera berlari untuk menanganinya.
Elizabet dan William hanya mampu menunggu di luar ruangan dengan perasaan khawatir, takut jika Alice mengalami depresi atau sejenisnya.
Cukup lama Dokter Ana memeriksa Alice, hingga Dokter Ana keluar dari ruangan pasien.
Elizabet dan William yang duduk di kursi tunggu segera berdiri menghampiri Dokter Ana.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya Elizabet khawatir.
"Mari ikut saya ke ruangan." Jawab Dokter Ana sopan.
Sejenak Elizabet dan William saling pandang, namun segera keduanya mengikuti Dokter Ana menuju ruangan sang dokter.
"Bagaimana, Dok? Apa sangat serius penyakit putri saya?" Tanya William yang sudah duduk di kursi berhadapan dengan Dokter Ana.
"Ini karena kehamilan Nona Alice yang masih muda, Tuan." Jawab Dokter Ana pelan.
"Hamil?" Beo William dan Elizabet kaget.
"Kita akan punya cucu, Ayah." Ucap Elizabet dengan nada bergetar.
William merangkul pundak sang istri agar tenang, "Baiklah dokter, apakah ada hal lain lagi yang bisa kami lakukan?" Tanya William kembali.
"Seperti ibu hamil pada umumnya Tuan, tidak boleh stres, makan makanan yang bergizi, dan sering olahraga ringan salah satunya berjalan kaki." Jawab Dokter Ana.
"Baik, Dok. Terima kasih." Ucap William.
"Untuk sementara waktu Nona Alice rawat inap di rumah sakit terlebih dahulu agar saya dapat memantaunya secara langsung." Kata Dokter Ana yang di angguki kedua orang tua Alice.
*
*
*
__ADS_1
Sama halnya yang terjadi dengan Alice, Kenan juga sudah sadar saat Dokter Rasyah tengah menancapkan jarum infus di punggung tangannya.
"Alice." Panggil Ken lirih.
Dokter Rasyah hanya mencebik saja, berbeda Kakek Wijaya yang hanya diam mengamati dengan duduk di sofa.
"Alice!" Ken langsung terduduk dan hampir ambruk.
"Hey! Tenanglah Kenan." Dokter Rasyah menghalau agar Ken tidak jatuh.
Ken langsung menutup hidung dan bibirnya, berlari ke dalam kamar mandi di ikuti Dokter Rasyah karena tengah memegang cairan infus Kenan.
Terdengar suara Ken yang tengah muntah di dalam kamar mandi, karena mendengar suara ribut-ribut di dalam kamar Kenan membuat Citra dan Kalevi berlari masuk.
"Ada apa, Ken." Citra yang suda masuk menatao bingung ke arah putranya.
Dokter Rasyah yang sudah tahu kehamilan Alice hanya diam tidak berkata apapun, namun dalam hatinya bersorak riang melihat sahabatnya yang menyebalkan ini menggantikan ngidam Alice.
Suara air closed yang di tekan Dokter Rasyah terdengar nyaring, "Apakah sudah?" Tanya Dokter Rasyah.
"Huek ... Baumu membuatku mual." Kembali lagi Kenan mual.
Citra mendekat dan mengambil cairan infus, membuat Dokter Rasyah berjalan keluar kamar mandi, namun bukannya berhenti acara mualnya.
Kenan semakin bertambah parah, "Mama menjauhlah." Pinta Kenan pelan.
"Ken, ayo kita ke rumah sakit. Mama takut kamu sakit parah." Jawab Citra tidak ingin menjauh dari Kenan.
"Ck, kau ini muntah seperti orang hamil saja Ken." Celetuk Kalevi malas yang tengah duduk di sofa.
Deg.
Jantung Kenan berdebar dengan kencang, apakah benar Selena mengandun anaknya karena Alice belum juga hamil sampai saat ini.
"Lihat, ini karena anakmu yang ada di kandungan Selena. Jadi, Mama harap kamu tetap menikahi Selena. Mama tidak mau cucu Mama akak di cap menjadi anak haram." Cecar Citra kepada Kenan.
Kalevi pun kaget dengan ucapannya, berbeda dengan kedua pria yang sejak tadi diam tanpa berkata apapun.
__ADS_1
...🐾🐾...