
Happy Reading 🌹🌹
Sisa gelas kristal yang berada di atas meja kembali jatuh berhamburan, tangan kanan Alice mencengkram buat pecahan gelas hingga membuat darah segar mengalir dari tangannya.
"Kenapa! Kenapa tidak sejak awal kalian mengeluarkanku dari keluarga Wijaya!" Teriak Alice histeris.
Bara dengan cepat berlari memeluk tubuh Alice untuk menenangkannya, Kenan hanya mampu diam terpaku dengan menatap nanar ke arah Alice.
"Dan kamu, kenapa kamu tidak bisa mengingat semuanya!" Teriak Alice kepada Kenan.
Kepala Alice rasanya ingin meledak memikirkan semua fakta hari ini.
"Maaf, karena aku terlalu banyak memberinya obat tidur." Seorang wanita yang sejak tadi diam menjadi penonton.
Mourin berjalan mendekati Alice, "Maafkan kami Alice, kami tidak bermakhsud untuk mempermainkanmu. Karena, Ken yang masih terbelenggu dengan masa lalunya sehingga membuatnya menjadi bodoh. Padahal, dia sudah sangat mencintaimu." Lanjut Mourin dengan tegas tanpa takut apapun.
Pria asing yang sejak tadi diam akhirnya angkat suara, "Maafkan istriku yang sudah membuat rumah tangga kalian hancur, aku akan membawanya kembali ke negaraku hari ini." Sela Josh dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana nya.
Selena menggelng kuat, "Tidak! Aku tidak sudi kembali kepadamu, aku sedang mengandung dan itu bukan anakmu!" Teriak Selena yang negitu ketakutan.
"Aku sudah tahu dan pria itu tinggal jasadnya saja, apa kamu ingin mengunjungi makamnya." Jawab Josh dengan bibir menyeringai.
Mendengar ucapan Josh membuat siapapun kaget, "Dasar gila! Kau gila Josh." Teriak Selena.
"Kamu yang membuatku bertindak gila, Selena! Cepat seret dia kembali ke negara kita." Josh berkata dengan tegas dan sotor mata tajam.
Kedua pria berbadan kekar menyeret Selena dengan paksa keluar dari dalam gedung pernimahannya sendiri. Nampak, Selena meronta dan memohon kepada siapa saja untuk membebaskannya.
Josh turun mendekati Kenan, menepuk pundak pria yang hampir menikahi istrinya Selena.
"Buktikan jika kamu begitu gila kepada istrimu, aku harap di masa depan kalian bahagia. " Ucap Josh yang kemudian berjalan meninggalkan ruangan pernikahan itu.
__ADS_1
Sedangkan, Citra sejak tadi diam mendengar perdebatan dan mengetahui kenyataan jika Alice selama ini yang tersakiti akibat ulah putranya merasa sangat bersalah.
Tangannya bergetar hebat, kedua kakinya seakan lumpuh untuk berjalan. Pandangannya terkunci pada sosok wanita muda yang begitu kacau hari ini melebihi siapa pun.
Ayah Kalevi hanya mampu diam seribu bahasa dan membantu istrinya agar dapat berdiri dengan tegap.
Sedangkan William tetap pada pendiriannya, "Bawa Nona Alice pulang!" Ucap William dengan tegas tanpa bantahan.
Para body guard keluarga William yang sejak awal mengikuti majikannya segera menggendong Alice secara bridal style, karena kondisinya yang tidak mungkin berjalan.
"Kenapa, ayah begitu membenciku? Apa salahku, aku sudah menyelesaikannya dengan Alice bahkan kami mulai membangun rumah tangga seperti pada umumnya." Kenan yang sejak tadi hanya mampu menjadi penonton kini kembali bersuara.
"Stop." Ucap Alice lirih.
Alice juga ingin tahu alasan orang tuanya begitu tega merusak rumah tangganya dengan menghadirkan masa lalu Kenan.
William dan Elizabet yang akan meninggalkan ruangan itu menghentikan langkahnya, William berbalik menghadap ke arah Kenan.
"Sejak awal, kami lebih memilih perusahaan bangkrut daripada menjual kebahagiaan anak kami. Tapi, Alice masih memikirkan orang lain bagaimana dengan para pekerja yang mencari nafkah di perusahaan kami? Di saat ada investor yang ingin membantu, Alice mengorbankan dirinya agar perusahaan terus dapat beroprasi. Detik ini, kami sudah tidak peduli perusahaan akan bangkrut atau tetap beroprasi yang jelas kami mengambil Alice kembali dengan paksa. Kita akan kembali bertemu di pengadilan." William berkata dengan panjang lebar dan menggandeng Elizabet untuk pergi dari gedung.
"Kami tidak akan pernah bercerai, Alice dengarkan aku. Aku akan membawamu kembali bagaimanapun caranya!" Kenan berseru hingga suaranya memenuhi gedung itu.
Alice hanya mampu melihat Kenan dari balik tubuh pengawal nya, hingga sosok Kenan tidak nampak karena Alice telah keluar dari dalam gedung.
Mobil SUV berwarna putih sudah stand bay di depan hotel, Elizabet masuk terlebih dahulu dan di susul Alice barulah William.
"Kembali ke mansion dan hubungi dokter untuk datang." Ucap William dengan suara dingin dan tegas.
Elizabet membawa Alice ke dalam pelukannya, mengelus punggung sang putri menyalurkan rasa sayang yang tidak dapat di jabarkan dalam kata-kata.
"Maaf sayang, maafkan kami." Bisik Elizabet dengan mengecup pucuk kepala Alice.
__ADS_1
Perbuatan keduanya tidak dapat di benarkan, bahkan sejak awal Elizabet tahu jika cara yang di lakukan oleh mereka itu sangat salah. Mengingat perusahaan yang belum stabil sampai Bara datang dan memberikan bantuan. Membuat perusahaan William mampu terus beroprasi meskipun tanpa saham dari keluarga Wijayakusuma.
Dengan berani, keduanya mengambil langkah tersebut. Membebaskan Selena dari suaminya yang kejam, untuk hadir di dalam rumah tangga putrinya.
Tanpa di minta oleh William, Selena memang menginginkan kembali dengan Kenan. William hanya memberikan informasi terkait jadwal pekerjaan Kenan dan juga Alice.
Di dalam ruangan, Kenan berjalan dengan di papah oleh Dokter Rasyah untuk duduk di aalah satu kursi tamu.
Pandangan Kenan terkunci di tempat pecahan gelas di ujung ruangannya, di mana Alice kembali menangis akibat dirinya juga orang tuanya.
Kakek Wijaya berjalan menghampiri Bara, "Terima kasih sudah membantu, Kakek harap kamu mendapatkan jodoh yang sangat mencintaimu." Ucap Kakek Wijaya memeluk tubuh pria tampan itu.
Bara membalas pelukan sahabat kakeknya dengan perasaan tulus, "Terima kasih, Kek." Jawab Bara.
Semua yang terjadi hari ini berkat Bara, di detik-detik terakir Bara menyampaikan pesan untuk Kalevi dan Kakek Wijaya.
Dengan uang semuanya dapat berjalan lancar, Bara menyerahkan semua bukti yang dia dapat langsung dari William.
Bukan cara mengancam yang Bara gunakan, tetapi memberitahu bagaimana Alice dan Kenan saling mencintai. Hanya saja, Kenan belum menyadari itu sampai saat Alice di jemput paksa olehnya.
Bara juga bercerita kepada William, bagaimana hancurnya Kenan saat mengetahui jika Alice tengah mengandung anaknya. Anak yang sudah di nantikan oleh keduanya.
Beruntung, William masih memiliki sisi baik di hatinya. Dengan lapang, William menyerahkan semua bukti-bukti yang dia simpan dengan sangat baik.
"Tapi, kami tetap akan memproses perceraian mereka." Kata William tanpa bantahan.
"Itu terserah anda, saya hanya sebagai teman mereka dan anda sebagai orang tua. Tentu sudut pandang kita berbeda. Namun, alangkah lebih baik jika masalah mereka biarkan mereka selesaikan sendiri tanoa campur tangan orang lain termasuk orang tua." Jawab Bara dengan tenang sesuai pemikirannya.
...🐾🐾...
__ADS_1