
Happy Reading 🌹🌹
"Kenapa lama sekali." Kesal Kenan yang melihat Ferdy baru datang setelah menunggu hampir satu jam lamanya.
"Maaf, Tuan. Saya harus menyelesaikan rapat bersama Tuan Wijaya." Jawab Ferdy berbohong.
"Cepat bawa ke sini, aku hampir mati kelaparan." Oceh Kenan yang masih kesal.
Ferdy meletakkan semua pesanan Kenan di atas meja dengan rapi, dengan memiringkan kepalanya ke kanan Ferdy menatap heran ke arah Kenan.
"Seperti familiar." Ucap Ferdy pelan.
"Apanya." Kata Kenan nyolot.
Ferdy hanya berdecih kesal dan mendudukkan dirinya berhadapan dengan Kenan, nampak Kenan bergitu serius membaca catatan cara memasak usus yang dia lihat di televisi.
Kenan nampak asik dengan acara masak-masaknya sedangkan Ferdy hanya menatap heran ke arah sahabatnya.
Cukup lama untuk memasak usus sapi tersebut hingga kriuk, tanpa berlama-lama Kenan mengambil dengan sumpit dan mencocolkannya ke dalam saus pedas yang sudah di dapatkan dari membeli usus sapi itu.
Melihat Ken yang nampak menikmati makanan usus sapi membuat Ferdy menelan ludahnya kasar, Ferdy juga ingin mencicipi jeroan sapi yang sudah membuatnya antri tiga puluh menit.
Tak!
"Mau apa kau!" Ken mencegah sumpit Ferdy yang akan mengangkat usus sapi miliknya.
"Makan." Jawab Ferdy acuh.
"Tidak boleh! Kamu beli saja sendiri." Larang Ken.
"Ini aku beli pakai uangku, jika kau lupa!" Kata Ferdy mendelik kesal.
"Kau tidak rela membelikannya untuk temanmu." Ucap Ken dengan mata berkaca-kaca.
Ferdy mengurungkan niatannya untuk. Makadan melemparkan sumpit di atas meja, "Makanlah sampai perutmu meledak." Kata Ferdy dengan bersedekap dada dan menyenderkan punggungnya.
"Apa kau begitu frustasi hingga memakan makanan pedas, aku tidak membawakan obat untukmu." Lanjut Feedy yang menatao heran ke arah sahabatnya.
Ken tersenyum dengan kembali memasukkan usus sapi ke dalam mulutnya, "Tidak pedas sama sekali kok, oh iya ... Kakek yang datang ke kantor?" Tanya Ken di sela aktivitasnya.
"Iya, Alice belum pulang?" Tanya Ferdy dengan mencari keberadaan istri sahabatnya.
"Belum, mungkin sebentar lagi." Jawab Ken dengan sibuk acara mukbangnya.
"Apa yang akan kamu lakukan mengenai Selena?" Tanya Ferdy dengan wajah serius.
"Entahlah, aku sedang tidak ingin membicarakannya." Jawab Kenan masa bodoh.
"Ck, bodoh! Sebenarnya apa yang kalian lakulan di dalam apartemen, ah ... Aku tahu, kalian membuat bayi." Kata Ferdy dengan kalimat mengejek.
__ADS_1
Kenan yang awalnya bersemangat makan kini menghentikan acara makan pagi dan siangnya.
"Fer, kita sudah kenal lama. Tidak mungkin aku sebejad itu kepada wanita, apalagi aku melakukan pertama dengan Alice istriku. Aku tidak ingat apapun kejadian hari itu, tiba-tiba terbangun di pagi hari dan langsung pulang ke rumah." Jawab Kenan menjelaskan.
Ferdy menatap kedua manik hitam sahabatnya, tidak ada kebohongan di sana. Benar, tidak mungkin Kenan sembarangan menyentuh wanita yang bukan istrinya, Ferdy sangat tahu itu.
"Tapi semua rekaman CCTV tidak ada, baik di depan apartemen maupun basement Kenan. Aku curiga jika ada seseorang yang ingin memisahkanmu dengan Alice." Ferdy mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
"Alice sudah meminta cerai dua kali kepadaku." Kata Ken dengan tersenyum getir.
Ferdy yang mendengarnya kaget, "Lalu bagaimana sekarang." Ucap Ferdy.
"Apa kamu tahu di mana mantan suami Selena?" Tanya Kenan serius.
"Aku tidak yakin, aku sudah mencari ke rumahnya tapi rumah itu sudah kosong." Jawab Ferdy jujur.
"Aku tidak ingin berpisah dengan Alice Fer." Kata Ken sendu.
"Tidak ingin melepaskan Alice, namun ingin mempertahankan Selena di sisimu? Aku rasa itu mustahil Kenan, kamu harus ingat Alice berbeda dengan Selena, meskipun Alice berpisah denganmu dia tidak susah untuk mencari penggantimu." Jawab Ferdy yang mebcubit hati Kenan.
"Bara." kata Ken pelan.
"Ya, Bara. Setidaknya Alice lepas darimu dan mendapatkan sekelas Bara."
*
*
*
Kenan termenung di balkon kamar dengan memandang langit, nampak burung-burung terbang membentuk kelompok kembali menuju sarang mereka.
Pikiran Kenan melayang, merenungkan langkah apa yang harus dia lakukan jika menemui jalan bungu seperti ini.
Hingga suara mobil yang asing di telinga Ken mengusik, Ken segera beranjak dari kursi da berjalan ke pinggir pagar balkon.
Tangannya mencengkram besi pagar balkon dengan erat, pandangannya menatap tajam pada dua insan yang nampak akrab tersebut.
Terlihat Alice melambaikan tangan pada mobil sedan milik Bara, bagaimana Kenan tahu? Tentu saja karena Bara keluar dari dalam mobilnya.
Alice segera masuk ke dalam mansion miliknya, sedangkan Kenan segera berjalan keluar dari kamar dengan emosi yang meletup-letup.
"Dari mana saja kau!" Suara dingin mebyambut Alice yang baru saja berjalan masuk ke dalam mansion.
Sejenak Alice memandang wajah suaminya yang nampak menahan amarah, Alice tidak menggubris ucapan Kenan dan meneruskan langkahnya hingga melewati tubuh jangkung itu.
Wajah Alice yang biasanya hangat dan ramah saat bertatapan dengan nya kini telah berganti dengan wajah datar dan dingin.
Alice hanya melakukan tugas istri karena terpaksa. Kenan pernah mengajaknya berbicara namun Alice tak begitu menanggapi nya seperti hari ini.
__ADS_1
Masih membekas dalam hati rasa sakit yang di berikan oleh Kenan kemarin. Nama Selena masih terngiang-ngiang di telinga Alice.
Kenan segera menyusul Alice ke dalam kamar dengan amarah yang semakin meledak, nampak Alice tengah mencopot aksesoris miliknya.
"Aku tanya, darimana kamu!" Ucap Kenan dengan penuh penekanan.
"Bekerja." Jawab Alice singkat.
Kenan meraup wajahnya dengan kasar, ini bukan saatnya emosi karena Alice juga masih marah dengannya.
"Kamu masih marah?" tanya Kenan hati-hati menatap wajah datar sang istri.
Alice menghentikan aksinya, dia berbalik menatap datar wajah sang suami yang berdiri berhadapan dengannya.
"Lain kali aku akan menyebut nama pria lain saat bersetubuh dengan mu. Agar kamu pahan dan tahu betul apa yang aku rasakan!" jawab Alice datar dengan nada dingin menusuk tepat ke ulu hati Kenan.
Pria tampan itu termangu, tangannya terkepal erat. Merasa sakit hati dan tak terima mendengar istrinya berkata demikian.
"Jangan kurang ajar kamu, Alice! Jaga bicara mu saat berhadapan dengan ku!" tegas Kenan dengan nada dingin membuat Alice tertawa kecil. seperti nya Kenan perlahan menunjukkan siapa hati dirinya yang sebenarnya.
Selama ini Kenan selalu bersikap lembut dan perhatian padanya, namun sekarang hanya tersisa Kenan yang selalu membuat nya marah dan patah hati. Dari nada bicaranya pun menunjukkan betapa angkuhnya Kenan.
"Bukankah kamu yang lebih dulu kurang ajar padaku, menyebut nama wanita lain saat tidur dengan ku, bukankah itu perlakuan yang sangat kurang ajar?!"
Alice membalas perkataan Kenan dengan kata-kata menusuk.
Wanita itu tak bisa diam lagi karena saat ini pernikahan mereka sedang tak baik-baik saja. Cukup di masa lalu Alice bersikap lemah, namun sekarang dia tak sanggup lagi di injak-injak harga dirinya.
"Apa tidak cukup kamu mendiamkanku tiga minggu ini dan sekarang, kamu pulang dengan pria lain di saat hubungan kita tidak baik-baik saha, huh!" Teriak Kenan dengan emosi yang meletup-letup.
"Aku sedang tidak ingin berdebat! Aku ingin mandi." Alice memilih mengakhiri pembicaraan mereka, dia tak ingin melanjutkan perdebatan mereka. Sebab dia sadar bahwa Kenan lah yang memantik api amarah.
"Aku belum selesai bicara!" teriak Kenan marah tak membuat Alice menghentikan langkahnya. Wanita cantik itu terus saja melangkah mengabaikan Kenan yang memanggilnya.
"Alice!"
"Aku belum selesai bicara."
Dok!
Dok!
Dok!
"Buka pintunya! Kamu yang lebih dulu mengajak ku bertengkar lalu kenapa kamu pergi, huh?!"
Kenan berteriak kesal seraya mengacak-acak rambutnya frustasi.
Pria itu benar-benar nerasa kesal dan marah, dia juga merasakan ada yang berbeda dalam dirinya, merasa lebih berani mengungkapkan perasaan nya pad Alice saat ini.
__ADS_1
"Akk," jerit Ken kesal dengan membanting lampu kamar mereka.
...🐾🐾...