Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 114


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Tiga hari berlalu ...


Alice tengah duduk bersama Elizabet di gazebo belakang mansion, bercengkrama hal-hal yang lucu dengan memandangi berbagai macam bunga yang akan mulai mekar.


Seorang maid datang dengan membawa camilan berupa potongan beraneka ragam buah segar dan segelas air putih, mengingat Alice tengah hamil muda, dan kesehanya sempat menurun.


Membuat Elizabet dan William mengawasi semua hal yang menyangkut cucu mereka. Maid segera undur diri saat menyajikan camilan untuk majikan mereka.


Tidak lupa Alice maupun Elizabet mengucapkan terima kasih, "Kenapa tidak di makan Alice?" Tanya Elizabet lembut.


"Ini Alice mau makan, Ma." Jawab Alice dengan menusukkan garpu kecil ke buah semangka.


"Apa kamu menginginkan sesuatu, sayang?" Tanya Elizabet kembali.


"Tidak, Ma. Cucu Mama tidak meminta yang aneh-aneh kok." Jawab Alice tersenyum.


Elizabet membalas senyumang sang putri dan mengusap surai hitam yang panjang dengan lembut. Jelas masih nampak Alice sedih, namun selalu di tutupi dengan senyuman cantiknya.


"Alice mengantuk." Ucap Alice pelan.


"Tidurlah di pangkuan, Mama." Kata Elizabet dengan membenarkan duduknya.

__ADS_1


Alice merebahkan tubuhnya dan menjatuhkan kepalanya di kedua paha Elizabet dengan pelan, nyaman sangat nyaman terlebih tangan dan jemari lentik Elizabet mulai mengelus surai hitam miliknya lagi.


Dengan punggung bersandar di pinggir gazebo, Elizabet dengan penuh kasih sayang mengelus surai hitam Alice.


"Ma...."


Alice memanggil Elizabet dengan suara pelan.


"Hem, apa sayang?" Kata Elizabet dengan pandangan lurus kedepan.


Sama halnya dengan Elizabet, Alice juga memandang bunga lily yang masih kuncup di hadapannya.


"Bagaimana perasaan Mama saat hamil Alice?" Tanya Alice pelan.


"Tentu sangat bahagia, Mama dan Ayah sangat bahagia." Jawab Elizabet tersenyum simpul.


"Tentu, Ayahmu jauh lebih bahagia bahkan Ayahmu sampai cuti hampir satu bulan lamanya karena takut Mama kenapa-napa." Kata Elizabet dengan tertawa kecil mengingat masa lalu.


Merasa pahanya basah membuat tawa Elizabet surut, "Mama juga yakin... Kenan akan sangat bahagia jika tahu kamu tengah hamil, sayang." Lanjut Elizabet dengan suara pelan.


"Tapi, Kenan jauh lebih bahagia saat wanita yang dia cintai hamil anaknya saat ini." Ucap Alice dengan bibir bergetar.


"Apa kamu yakin itu anak dari Kenan, sayang?" Tanya Elizabet penasaran.

__ADS_1


"Entahlah, Ma. Alice juga tidak tahu. Alice pernah beberapa kali melihat mereka hampir berciuman dan yang terakir mereka melakukannya di dalam ruangan Kenan." Alice berbicara panjang lebar dengan air mata yang terus turun dari mata sipitnya.


Rasa sesak, marah, dan kecewa menyeruak dalam hati Elizabet. Namun, Elizabet juga tidak bisa menyalahkan Kenan sepenuh nya mengingat jika pernikahan keduanya cukup mendadak.


"Kamu sangat mencintai Kenan?" Tanya Elizabet pelan.


"Sangat, A-Alice sa-sa... Hiks!"


Tangis Alice pecah saat menjawab ucapan sang Mama, terdengar suara tangis yang menyayat bagi siapa saja yang mengetahui pernikahan keduanya.


Elizabet ikut menangis tanoa suara, hanya mampu memberikan rasa nyaman dan kekuatan dari setiap sentuhannya.


"Aku merindukannya."


Tangan kekar dengan kulit yang mulai keriput akibat bertambahnya usia, meremat pinggiran map yang tengah dia bawa, kakinya terasa berat untuk melangkah saat mendengat suara tangis Alice.


Untuk sesaat ketiga orang tersebut dengan pikirannya masing-masing.


"Maaf, Ma. Sudah membuat basah pakaian Mama." Ucap Alice dengan suara paraunya.


"Tidak apa-apa sayang, mulai saat ini jangan pernah memendam perasaan dan bebanmu sendirian. Berbagilah dengan Mama." Jawab Elizabet mengusap sisa air mata Alice.


Dengan cepat Alice mengangguk dan memeluk tubuh Elizabet dengan erat, dalam hati dia merasa bersyukur memiliki orang tua yang sangat menyayangi dirinya.

__ADS_1


...🐾🐾...



__ADS_2