
Happy Reading 🌹🌹
Tawa sumbang William memenuhi ruang tamu mendengar ucapan Citra, "Apa dengan permintaan maafmu dapat menyembuhkan luka di hati putri kami? Tidak!" Ucap William dengan menatap nyalang wanita di depannya.
"Benar, perkataan maafku memang tidak akan bisa menyembuhkan luka hati Alice.Namun, bagaimanapun aku tetap meminta maaf. Luka hati Alice tidak serta merta hanya kesalahaku dan Kenan, tapi kalian juga ikut andil di dalamnya. Meskipun kalian orang tua yang menginginkan kebahagiaan untuk Alice, kalian juga egois sama sepertiku! Orang tua mana yang tidak menginginkan kebahagiaan untuk anak mereka, coba katakan siapa orang tua yang tidak menginginkan anak mereka bahagia." Jawab Citra dengan bibir bergetar menahan tangis.
William dan Elizabet terdiam mendengar ucapan Citra, tenggorokan mereka serasa tercekat. Apa yang di katakan Citra memang tidak ada yang salah, seluruh orang tua di dunia ini pasti mengutamakan kebahagiaan anak mereka.
Citra menghapus air matanya dengan kasar, "Aku sebagai orang tua, mengaku banyak salah kepada Alice. Aku sudah salah mengira jika Alice hanya menginginkah harta keluarga Wijaya. Namun, berjalannya waktu aku sudah menyerah untuk memisahkan mereka. Tapi ... kalian menghadirkan Selena di antara mereka. Benar jika Kenan masih hilang arah untuk menentukan pilihannya, aku mengakui itu. Asal kalian tahu, aku hanya ingin Kenan menikah dengan wanita yang dia cintai bukan lewat perjodohan seperti yang Ayahku lakukan." Citra mengtarakan apa yang ada di dalam pikiran dan hatinya.
"Dan kalian, pasti tahu tentang kehamilan Alice. Lebih kejam aku atau kalian, memisahkan anak dan orang tua. A-aku benar-benar meminta maaf kepada kalian." Lanjut Citra yang sudah menangis.
Ucapan Citra terhenti karena melihat wanita muda mengenakan dress bermotif bunga-bunga, keduanya secara bersamaan memanggil. Mendapatkan respon kurang baik dari Alice, Citra langsung bersimpuh di hadapan Alice. Membuat William dan Elizabet kaget karena tindakan Citra yang mendadak
"Apa yang Anda lalukan!" Teriak Alice marah.
Entah kenapa Alice marah, apakah marah karena Citra yang merendahkan dirinya di hadapan Alice atau marah sebab yang lain.
"Alice ... Mama minta maaf, maafkan Mama. Mama salah menilaimu, ampuni Mama." Ucap Citra yang sudah berurai air mata.
"Maaf untuk apa? Apa Anda berbuat salah kepada ku atau keluargaku?" Tanya Alice yang sudah mengepalkan tangan kirinya dengan erat sehingga membuat otot biru Alice nampak dari permukaan kulitnya yang berwarna putih.
"Banyak! Mama memiliki banyak salah kepadamu dan juga orang tuamu, Alice maafkan Mama. Kamu boleh membalas perlakuan Mama agar puas dan memaafkan Mama." Citra berkata yang sudah bangkit dan berjalan mendekat ke arah Alice.
Alice perlahan berjalan mudur dengan menatap tajam wanita paruh baya di depannya, nampak sekali wajah lelahnya dan mata yang mulai sembab.
"Berhenti. Aku sudah memaafkanmu, pergilah." Jawab Alice seraya mengusir Citra.
"Tidak, Mama tidak akan pergi selangkahpun sebelum kamu memaafkan Mama, Alice. Tampar Mama seperti Mama menamparmu dulu, Alice. Tampar Mama ... tampar Alice." Citra mengambil tangan Alice dan memukulkan telapak tangan lembut itu di pipi Citra.
"Apa yang, Mama lakukan!" Seru Alice dengan melepaskan cekalan tangan Citra.
Citra luruh ke lantai dengan tangisnya, memukul dadanya yang terasa sesak. "Alice maafkan Mama, Mama hanya mampu mengatakan Maaf kepadamu. Tolong, jangan tinggalkan Kenan. Kenan sangat mencintaimu Alice jangan pisahkan anak dengan ayahnya." Ucap Citra dengan tubuh gemetar karena tangis yang tergugu.
Alice hanya mampu mencengkram tangannya kuat dengan merema*s dress yang dia kenakan, kedua matanya sudah berkabut bahkan sudah menumpahkan cairan bening dari mata indahnya. Alice menutupi wajah nya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
Tangis Alice pecah, dada Alice terasa terhimpit batu besar. Sangat menyesakkan dan menyiksa, melihat putrinya menangis Elizabet menghampiri Alice dan memeluknya.
__ADS_1
"Aaa... Mama, kenapa rasanya sangat menyesakkan!" Adu Alice kepada Elizabet dengan suara tersendat sendat.
"Sayang, tenanglah." Jawab Elizabet dengan mengelus surai hitam Alice.
"Hiks ...sangat menyesakkan, Ma." Ucap Alice kembali.
"Alice, maafkan Mama. Mama benar-benar minta maaf." Saut Citra yang masih menangis bersimpuh di depan Alice.
*
*
*
Di rumah sakit.
Kenan tengah makan bersama Bara, tidak ada obrolan di sana hanya hening dengan pikiran yang melayang entah kemana.
"Makanlah, kamu harus membutuhkan tenaga untuk menghadiri persidangan lusa." Ucap Bara yang melihat Ken hanya memainkan bubur di dalam sterofom.
"Apa kamu begitu bahagia?" Tanya Ken dengan menatap tajam ke arah Bara.
"Breng*sek! Kamu pikir Alice dan anakku barang diskonan!" Seru Kenan kesal.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Bara serius.
"Pertama, aku harus keluar dari rumah sakit sia*lan ini." Kata Kenan menggerakkan selang infusnya.
"Hemm ... sepertinya kamu harus bekerja keras untuk mendapatkan Alice dan anakmu." Bara berkata dengan menyeka bibirnya.
"Tidak masalah, meskipun aku harus menunggunya hingga ajal menjemput." Jawab Kenan dengan waja serius.
Keduanya berbicara dengan serius, entah apa yang tengah Kenan dan Bara obrolkan. Hingga suara pintu terdengar, nampak perawat dan dokter yang berjalan masuk ke dalam ruangan Kenan.
"Kapan aku boleh pulang?" Tanya Ken to the point.
"Anda sudah boleh pulang Tuan, kami hanya melakukan pemeriksaan terakir memastikan jika anda baik-baik saja." Jelas sang dokter.
__ADS_1
Ken mengangguk, dokter segera memeriksa kondisi terakir Kenan dan perawat mencabut jarum infus di punggung tangan Kenan menempelkan kain kasa agar darahnya tidak mengenai pakaian. Tidak lama, dokter dan perawat keluar dari dalam ruangan Kenan.
"Ayo antar aku pulang." Ucap Kenan pada Bara.
*
*
*
Kalevi yang mendapatkan panggal dari William bergegas pergi menuju mansion William. Dengan kecepatan tinggi Kalevi mengendarai mobil nya dari perusahaan Wijaya.
Karena Kenan sakit, membuat Kalevi sementara waktu menggantikan Kenan di perusahaan. Cukup lama perjalanan yang Kalevi tempuh karena jarak mansion William dan perusahaan Wijaya tidak pendek.
"Saya ingin menjemput istri saya." Ucap Kalevi cepat kepada penjaga.
Penjaga yang ingat ada tamu wanita paruh baya segera membukakan gerbang sehingga mobil yang di kendarai Kalevi dengan cepat masuk di plataran mansion.
Menghentikan mobil secara seramoangan, Kalevi berlari menuju pintu utama mansion. Dengan nafas terengah-engah dirinya berjalan mendekat ke arah Citra yang tergugu di lantai dengan menangis bersama Alice.
"Maaf sudah membuat keributan." Ucap Kalevi kepada William.
"Bawa pergi istrimu, meskipun Alice sudah memaafkan Citra tapi perceraian tetap akan berjalan." William berkata dengan tegas kepada Kalevi.
"Apa tidak bisa anak-anak kita yang memutuskannya, Wil." Ucap Kalevi dengan deru nafas yang masih memburu.
William membuang pandangannya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana panjangnya.
"Tidak! Semua sudah takdir." Jawab William tegas.
"Tadir yang mana? Takdir siapa? Takdir yang kamu buat untuk Alice dan Kenan, begitu? Jangan egosi Wil, kedua anak kita saling mencintai dan terlebih Alice tengah mengandung!" Kalevi mencecar William dengan emosi yang mulai terpancing mendengar ucapan William.
"Jika Kenan mencintai Alice, dia tidak akan pernah tergoda oleh wanita itu!" Seru William kepada Kalevi.
"Bagaimana tidak tergoda Wil, kamu memberinya jalan untuk menggoda Kenan dan membuat Alice selalu salah paham. Apa kamu pikir aku tidak tahu kamu selalu menghubungi wanita itu untuk memberitahukan jika Alice tengah di kantormu ataupun di mansion sendirian."
"Kita yang salah, Wil. Kamu dengan ke egoisanmu dan aku yang gagal mendidik Kenan!" Seru Kalevi dengan emosi yang sudah meledak.
__ADS_1
...🐾🐾...