
Happy Reading 🌹🌹
Melihat mobil SUV berwarna putih keluar dari pekarangan mansion, membuat Kenan yang awalnya memberontak dengan kuat tiba-tiba pandangannya menjadi gelap dan ambruk.
Membuat Citra dan para maid yang memegangi Ken berteriak histeris, "Panggilan para penjaga, cepat!" Seru Citra panik.
"Kenan! Kenan! Bangun sayang, Ken!"
Citra menepuk pipi Kenan pelan, menggoyangkan tubuh anaknya dengan kencang agar Kenan segsra sadar.
"Cepat bawa ke dalam kamar!" Perintah Citra yang melihat para penjaga sudah ada di sana.
Segera dua penjaga menggendong Kenan menuju lantai dua di mana kamar majikannya berada.
Nampak kamar yang masih rapi, hanya selimut tebal yang menyingkap sedikit mungkin karena Kenan memanggil Alice untuk turun ke lantai satu menemui Citra.
Segera di rebahkannya tubuh pria jangkung yang tengah tidak sadarkan diri di atas kasur king size tersebut, para penjaga segera keluar hanya tinggal Citra dan beberapa maid di sana.
"Panggilkan Dokter Rasyah segera."
Maid mengangguk dan segera keluar dari kamar Kenan, sedangkan Citra nampak khawatir dan bingung.
"Aku harus menghubungi Kalevi, ah... Tidak tidak dia pasti akan sangat marah atau menghubungi Ayah tidak mungkin juga ... Aku harus bagaimana!" Runtuk Citra frustasi.
Sedangkan maid kepercayaan Alice memang menghubungi Dokter Rasyah, namun juga menghubungi Kakek Wijaya karena memang maid tersebut diutus untuk memantau rumah tangga sang cucu.
Kurang lebih dua puluh menit, Dokter Rasyah telah sampai di mansion Kenan bersamaan dengan Kakek Wijaya dan Kalevi.
Maid segera mengatakan semuanya berada di kamar Kenan, dengan langkah lebar dan tergesa-gesa ke tiga pria itu berjalan menaiki tangga menuju kamar utama.
Cklek
Citra yang mengoleskan minyak memutar kepalanya ke sumber suara, merasa kaget karena ada sang suami dan ayah mertuanya.
"Tolong menyingkir sebentar Nyonya, saya akan memerikaa keadaan Tuan Kenan." Ucap Dokter Rasyah sopan.
Meskipun Dokter Rasyah adalah salah satu sahabat Kenan, namun Dokter Rasyah tetap profesional ketika sedang melakukan pekerjaannya.
Citra mengangguk kaku dan segera berdiri dari siai ranjang Kenan, memberi ruang untuk Dokter Rasyah.
__ADS_1
Kalevi yang marah langsung mencengkram pergelangan Citra, menyeretnyakeluar dari kamar tersebut.
"Sayang, lepaskan!" Citra memberontak dalam cengkraman Kalevi.
Langkah Kalevi berhenti dan segera menghadap ke arah Citra, menghempaskan cekalan tangannya kasar.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Kalevi marah.
"Mama hanya berkunjung dan menanyakan apakah benar Selena hamil cucu kita." Jawab Citra jujur.
Kalevi mengusap wajahnya kasar, "Ma, semua ini belum pasti. Bagaimana bisa kamu ceroboh seperti ini, huh!" Geram Kalevi kepada Citra dengan suara tertahan.
"Itu sudah pasti, Kenan begitu mencintai Selena dan begitu juga sebaliknya. Ingat, jika bukan karena kamu dan Ayah, Kenan tidak akan sejauh ini dengan Selena." Kata Citra yang menyalahkan Kalevi kembali.
"Mama tidak tahu apapun kenapa Ayah begitu tidak suka dengan Selena, sudah aku katakan kau cukup diam dan menurut padaku selama ini." Ucap Kalevi yang memojokkan Citra.
Citra tertawa hambar, "Apa aku kurang menurut selama ini, aku selalu menurut bahkan sebelum bertemu dan menikah denganmu. Kau dan orang-orang itu hanya menjadikanku tahanan di rumah!" Seru Citra dengan mata yang membulat sempurna.
"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf sayang. Tapi tolong jangan ikut campur urusan rumah tangga putra kita."
Kalevi merasa sangat bersalah melihat istrinya mau menangis, menarik tubuh wanita yang sudah puluhan tahun menemaninya selama ini.
Citra hanya bisa terisak dengan memukul tubuh Kalevi yang dapat dia jangkau.
Citra Wibisena, seorang wanita yang sangat cantik dan pendiam. Keluarganya salah satu keluarga konglomerat meski menduduki dua puluh besar di negaranya.
"Apa-apaan kamu Citra! Buang semua barang murahan ini dan jangan bergaul dengan orang miskin!"
Wanita paruh baya berkacak pinggang di depan Citra dengan suara lantang, memandang Citra yang hanya tertunduk di depannya.
"Citra suka, Ma." Jawab Citra yang kala itu masih berusia 10 tahun.
Dengan kasar sang Mama membuang semua barang-barang tersebut di atas lantai, "Mama bisa membelikanmu barang yang jauh lebih mahal, mulai sekarang jangan pernah keluar rumah!"
Citra hanya dapat menangis dengan menatap beberapa barang yang di dapatkan dari teman-teman bermainnya di taman, saat itu Citra berkata jika akan ulang tahun.
Namun, karena teman-temannya merasa tidak akan bisa masuk ke dalam rumah Citra. Mereka berinisiatif memberi kado ulang tahun Citra lebih awal.
Semenjak saat itu, Citra selalu mendapatkan berbagai dokrin dari Mamanya. Bagaimana Citra harus bertindak dan bersikap.
__ADS_1
Citra kecil adalah anak yang periang dan baik, namun semua sikap itu tertimbun dengan seluruh dokrin dari Mamanya.
"Citra, kamu harus menjadi wanita yang anggun dan berkelas agar kehidupanmu selalu enak. Bisa menikah dengan pria kaya dan keturunanmu tidak kesusahan."
"Citra tidak boleh! Dia hanya dekat untuk memanfaatkanmu saja, ingat wanita yang baik tidak mendekati pria karena uang. Jika wanita mendekati karena uang, dia tidak lebih dati seorang ja*lang."
Hingga, saat Citra bertemu Kalevi di pesta ulang tahun perusahaan Wijaya. Citra yang saat itu hanya mengikuti keinginan orang tuanya.
"Hah, aku lelah." Keluh Citra.
"Mau duduk, Nona?" Tanya Kalevi muda yang mencondongkan kepalanya dari bwlakang Citra.
"Astaga!"
Citra terperanjat kaget karena perbuatan Kalevi, Citra yang tidak pernah berdekatan dengan pria asing kecuali pria yang selalu di kenalkan kepadanya dari ibunya sedikit risih.
Namun, bukan Kalevi jika menyerah begitu saja. Meski selalu mendapatkan penolakan namun Kalevi tetap mengikuti Citra kemanapun.
Bahkan, saat Citra mendapatkan tekanan dari Mamanya kembali untuk mendekati pria kaya.
"Kenapa kamu menjauh dari Tuan Kalevi, huh! Kamu bod*oh!" Sentak Mamanya saat itu.
"Ma, kata Mama tidak boleh mendekati pria karena uang." Jawab Citra apa adanya.
Plak
Tamparan melayang di pipi lembut Citra, "Dasar bodo*h, jika wanita itu lebih miskin dari kita dan menikahi pria kaya itu yang baru tidak boleh karena hanya wanita ja*lang yang melakukan itu! Apa kamu paham!" Sentak sang Mama.
Citra mengangguk cepat, memahami ucapan sang Mama.
Kalevi yang melihatnya merasa marah, pantas saja Citra seperti seorang boneka sejak mereka bertemu.
Ternyata remote pengendalinya adalah Mamanya sendiri, sejak saat itu Kalevi memutuskan menikahi Citra dan melarang orang tua Citra untuk mengunjungi istrinya.
Benar, mengurung Citra di mansion saat mereka menikah salah satu cara agar mertuanya tidak dapat bertemu dengan Citra.
Lambat laun sifat asli Citra nampak namun masih dominan sifat dokrin dari mertuanya, dengan sabar Kalevi dan Kakek Wijaya terus berupaya agar dokrin-dokrin itu hilang dari Citra.
Hingga, kedua mertuanya menghembuskan nafas terkirnya karena kecelakaan lalu lintas. Sejak saat itu barulah Kalevi memperbolehkan Citra keluar dari mansion karena Kalevi merasa jika sudah aman.
__ADS_1
...🐾🐾...