
Happy Reading 🌹🌹
Kening Citra berkerut dalam, melihat Alice yang sudah kembali tanpa Kenan.
"Di mana Kenan?" Tanya Citra dengan nada angkuh.
"Masih di kantor." Jawab Alice singkat.
Alice terus melenggang pergi tanpa niatan berhenti untuk menanggapi mertuanya, sikap Alice membuat Citra naik pitam.
"Berhenti!." Seru Citra yang bangkit dari duduknya dengan kasar.
Alice menghentikan langkah kakinya yang akan menaiki anak tangga, memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan ibu mertuanya.
Terlihat Citra yang sudah berdecak pinggang dengan metap tajam Alice, "Mau kemana kamu!" Ucapnya.
"Tentu saja ke kamar." Jawab Alice dingin namun masih sopan.
"Enak saja, pindah kamu ke kamar gudang. Kakek sedang tidak ada di mansion jadi kamu tidak berhak mendapatkan fasilitas apapun dari keluarga Wijaya." Kata Citra panjang lebar.
"Alice akan pindah jika suami Alice yang menyuruh, selamat sore Ma." Jawah Alice dengan tersenyum tipis bahkan memanggil Citra Mama.
Citra melebarkan kedua matanya, bagaimana bisa Alice mendapatkan beneranian itu. Sedangkan Alice tersenyum puas melihat wajah ibu mertuanya yang shock.
"Kamu harus kuat Alice, Ken sudah mengajakmu memulai dari awal. Saatnya kamu meluluhkan hati ibu peri." Gumam Alice dengan menaiki anak tangga menuju kamar.
Sedangkan Citra mendengus kesal di bawah, "Tidak bisa di biarkan, dia akan semakin berani jika aku tidak segera mengusirnya dari mansion ini." Gumam Citra dalam hati.
Segera Citra pergi dari ruang tengah menuju kamarnya untuk melakukan sesuatu yang sudah tidak dapat berlarut lama.
Alice merebahkan tubuhnya di atas kasur besar dengan sprei berwarna biru dongker tersebut, terlitas bayangan kejadian di perusahaan di mana Ken mengatakan jika ingin memulainya dari awal.
Tiba-tiba Alice terkikik sendiri memikirkan Ken yang akan kembali menciumnya namun tidak jadi lantaran ulah Ferdy dan Jundi.
"Mesum! Hust hust, aku harus segera mandi dan shamponan agar otakku tidak kotor." Ucap Alice yang langsung bangkit dari rebahannya.
Segera Alice masuk ke dalam kamar mandi tanpa membawa baju ganti, mengingat jika Ken masih di kantor dan tidak mungkin pulang dalam waktu cepat.
Di perusahaan Wijaya, terlihat pria dengan badan kekar tengah bersandar dengan posisi tengkurap di pinggir tempat tidur dengan wajah pucat dan penuh keringat.
"Minumnya Tuan." Ucap Ferdy membukakan air minerat botol untuk Kenan.
"Lemas sekali tubuhku Fer." Ucap Ken lirih.
__ADS_1
"Lain kali Anda jangan memakan makanan milik orang lain lagi Tuan." Jawab Ferdy tenang.
Ken menoleh ke arah Ferdy dengan tatapan tajam, "Cih, kamu tidak tahu yang namanya romantis." Umpat Ken dalam hati.
"Jika Anda berfikir apa yang Anda lakukan adalah hal romantis itu salah Tuan, karena yang romantis itu ketika pria menyiapkan sesuatu untuk seorang wanita. Sedangkan yang Anda lakukan hari ini lebih terkesan kekanakan dan pecemburu." Ucap Ferdy panjang lebar tanpa dosa kepada Ken.
"Aku hanya ingin memakan apa yang Alice makan. Diamlah, jangan banyak bicara." Jawab Ken sengit kepada Ferdy.
Ferdy mengulum senyumnm tipisnya, "Cemburu bilang bos!" Ucap Ferdy kepada Ken dengan memakai kaca mata hitam dan tersenyum miring, namun hanya berani dia lakukan di dalam hati dan bayangannya saja.
...***...
Terdengar deru mobil semakin mendekat, membuat dua wanita yang berada di dalam mansion Wijaya segera berjalan keluar.
Dalam diri mereka yakin jika itu adalah Kenan, benar saja terlihat Ken keluar dari dalam mobil dengan bantuan Ferdy.
Alice tersenyum lebar menyambut suaminya pulang dirinya segera berjalan mendekat mengambil tas kerja Ken juga menyalami Ken seperti yang biasa Mamanya lakukan saat Ayahnya pulang.
Deg
Jantung Ken seakan berhenti berdetak mendapatkan perlakuan dari Alice, kedua netranya menatap lekat ke arah wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
Seulas senyum Ken perlihatkan untuk Alice secara implusif Ken mengecup kening Alice di depan Ferdy dan Citra.
Perilaku keduanya membuat Citra membelalakkan kedua netranya, dirinya tidak percaya apa yang baru saja terjadi di hadapannya.
Alice berjalan lebih dulu dengaj cepat karena dirinya sangat malu, sedangkan Ken berusaha sekuat tenaga agar tidak menjadi bahan olokan Ferdy.
"Ken, kamu baru pulang." Ucap Citra yang mengikuti Kenan dari belakang.
"Iya Ma, Ken banyak kerjaan." Jawab Ken berbohong.
"Kenapa tidak kamu serahkan kepada sekertarismu, seharusnyansekertaris itu pekerjaannya membantu atasan bukan seenaknya sendiri seperti ini." Ucap Citra dengan suara sinis ketika melihat Alice yang sudah kembali turun ke lantai satu.
"Sudahlah Ma, jangan membuat keributan." Tegur Kenan kepada Citra.
Ken mengingat dirinya akan melindungi Alice dan menulai hubungan rumah tangga ini dengan baik.
"Jangan membelanya Kenan! Itu sudah pekerjaannya jika tidak becus untuk membantumu pecat saja dan jadikan Mourin menjadi sekertarismu yang baru. Dia pasti lebih dapat di andalkan dari pada wanita benalu itu." Citra semakin berani menghina Alice karena merasa Ken mulai membela Alice.
Alice hanya menghela nafas panjang mendengar semua ucapan mertuanya, "Di minum, Mas." Ucap Alice lembut dengan menyodorkan satu cangkir teh dihadapan Kenan.
"Mas?" Beo Ken dan Ferdy.
__ADS_1
Citra merasa tidak percaya apa yang baru saja dia dengar, "Mas! Heh, kamu panggil dia Tuan. Ingat statusmu di keluarga ini." Tegur Citra sengit.
"Ingat, aku adalah istri Kenan. Menantu Anda." Jawah Alice dengan tenang.
"Tidak sudi aku memiliki menantu sepertimu, jangan pernah bermimpi aku akan menerimamu di kekuarga ini. Kamu tidak lebih dari wanita mura*han!" Sentak Citra tajam kepada Alice.
Alice tersenyum simpul, kata mura*han yang keluar dari bibur mertuanya seakan sebuah kalimat yang biasa saja tidak semenyakitkan dulu ketika pertama kali dirinya di tuduh sebagai wanita mura*han.
"Tenang saja, lambat laun Anda akan menerima saya sebagai menantu. Bagaimanapun Saya adalah istri putra Anda." Kata Alice dengan suara tenang dengan menatap lekat wajah Citra yang merah padam.
Suara perut Ken mengalihkan suasana tegang yang terjadi di ruang tengah.
"Aw! Perutku." Rintih Ken mencengkram perutnya.
"Ken/Mas, kamu kenapa?" Tanya kedua wanita yang terlihat khawatir.
Ken segera meletakkan cangkir teh yang belum sempat dia minum dan langsung bangkit berlari menuju kamarnya.
Alice segera berlari mengikuti Kenan sedangkan Citra hanya diam di lantai satu dengan melihat keduanya pergi.
"Kenapa dengan Kenan, Fer?" Tanya Citra keoada asisten putranya.
"Tuan tidak sengaja memakan makanan pedas Nyonya." Jawab Ferdy jujur.
"Apa! Cepat panggilkan dokter." Seru Citra.
"Sudah, dokter sedang menuju ke mari." Ucap Ferdy.
Citra menghela nafas kasar, hari ini benar-benar membuat darah tinggi Citra terus naik bahkan hampir meledak keluar.
Alice dengan khawatir duduk di pinggir temoat tidur dengan menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, hanyan terdengar sesekali suara air closet.
Hingga tiga puluh menit lamanya Ken akhirnya keluar, terlihat wajah yang pucat dengan cucuran keringat.
Alice segera bangkir dari duduknya dan menghampiri Kenan, "Ayo kita ke dokter." Ucap Alice khawatir.
Ken yang melihat raut wajah Alice begitu khawatir dengan dirinya membuat sesuatu dalam hati Ken senang, "Peluk aku." Pintanya.
Tanpa meminta ijin Ken memeluk tubuh Alice san menyandarkan kepalanya di pundak kanan Alice, Alicen cukup terkejut dengan tindakan Kenan namun Alice tersenyum senang.
"Kita akan membangun rumah tangga yang bahagia Ken." Gumam Alice dalam hati.
...🐾🐾...
__ADS_1
Autor membawakan rekomendasi novel yang bagus untuk kalian, mampir ya 🌹🌹