
Happy Reading 🌹
Dokter Ana dan rekan kerjanya, segera meluncur di kediaman keluarga William. Setelah mendapatkan panggilan telfon dari sopir keluarga William dan juga Dokter Rasyah.
Tidak membutuhkan waktu lama, kedua dokter berbeda unit itu berjalan masuk dengan cepat ke dalam mansion William.
Maid yang melihat kedatangan dua dokter segera berlari menyambutnya.
"Di mana, Nona Alice?" Tanya Dokter Ana khawatir.
"Mari, Dok."
Maid berjalan cepat di depan dokter menuju kamar majikannya, tidak membutuhkan waktu lama dokter telah sampai di kamar.
Nampak Alice menangis dalam pelikan ibunya, melihat kedatangan dokter. Elizabet hanya memberi isyarat agar segera mengobati luka di tangan sang putri.
Dengan cekatan rekan Dokter Ana membersihkan luka milik Alice, di beri antiseptik agak tidak terjadi infeksi dan mengambil beberapa serpihan gelas kaca yang ada di telapak tangannya menggunakan penjepit.
Terdengar suara ringisan dari wanita muda yang masih dalam pelukan ibunya, mungkin wanita itu merasakan perih pada lukanya.
"Apakah dalam?" Tanya Dokter Ana pada rekan kerjanya.
"Beruntung tidak dalam, tidak menerlukan jahitan." Jawab rekan kerjanya.
Dokter Ana bernafas lega, rekan kerjanya menyelesaikan pekerjaannya sebelum membungkus telapak tangan Alice dengan kain kasa.
Dokter Ana hanya mampu melihat dengan wajah penuh tanda tanya, apa yang terjadi dengan ibu hamil tersebut dan bagaimana bisa kekasihnya Rasyah tahu. Apakah mereka berada di TKP yang sama?
"Nyonya, luka nya tidak boleh terkena air sampai lukanya kering dan setiap hari harus di ganti kain kasanya." Kata rekan kerja Dokter Ana.
"Baik, Dok. Terima kasih." Jawab Elizabet yang menolehkan kepalanya.
"Untuk obatnya bagaimana, Dok?" Tanya Elizabet kemudian.
__ADS_1
"Untuk obatnya akan saya resepkan setelah Dokter Ana memeriksa kondisi kandungan Nona Alice, Nyonya." Jawab sang dokter.
Elizabet menganggukkan kepalanya tanda mengerti, "Sayang, sekarang periksa dulu baby nya ya." Kata Elizabet lembut.
Alice hanya mengangguk dan melepaskan pelukannya dari tubuh sang Mama, dengan pelan Elizabet membantu putrinya untuk tidur agar Dokter Ana mudah memeriksanya.
Dokter Ana tersenyum hangat ke arah Alice dan mendapatkan senyuman pula meski tidak selebar biasanya.
Dokter Ana memeriksa tubuh Alice dengan teliti, mengingat riwayat terakir yang dia sampaikan kepada kedua orang tua Alice.
"Nona harus banyak beristirahat dan jangan berfikiran berat, akan saya resepkan beberapa vitamin dan obat anti nyeri saja untuk tangannya yang terluka." Kata Dokter Ana panjang lebar.
"Terima kasih." Jawab Alice pelan.
*
*
*
Seorang wanita dengan gaun tidur berwarna putih tengah termenung seorang diri di dalam kamar yang sangat terang karena banyak cahaya matahari yang masuk.
Wanita itu adalah Alice, setelah kejadian kemarin. Alice lebih suka mengurung dirinya di dalam kamar.
Duduk di pinghir jendela dengan menekuk kwdua kakinya, menyandarkan kepala dan pungging di tembok. Memandang lurus ke arah jalanan yang berada di samping jalan kamarnya.
Ketukan pintu terdengar, Elizabet membuka pintu perlahan dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Alice." Panggil Elizabet lirih.
Alice hanya diam bergeming tidak melakukan pergerakan, entah apa yang Alice rasakan saat ini. Marah, kecewa, sedih, sakit hati, semua melebur menjadi satu.
Elizabet hanya dapat memandang sedih sang putri, dengan langkah kecilnya. Wanita ibu satu anak itu berjalan mendekati Alice.
__ADS_1
Duduk di depan Alice dengan nampan yang masih dia pegang, "Sayang, Alice." Panggil Elizabet lagi agak keras.
Alice akhirnya mengalihkan pandangannya, ya hanya pandangannya tidak dengan tubuhnya. Menatap wanita yang sudah melahirkannya di depan.
"Ayo makan dulu, kasihan anakmu nanti kelaparan." Ucap Elizabet lembut.
Alice mengangguk dan memperbaiki duduknya tapi masih diam seribu bahasa, dengantelaten Alice menerima suapan demi suapan yang Mamanya sodorkan di depan bibirnya.
Setetes air mata turum dari mata tua Elizabet, sejak masuk ke dalam kamar Alice. Perasaan Elizabet menjadi sakit, akibat ulahnya juga yang mendukung keputusan William membuat putrinya harus merasakan kesakitan di dalam hati.
"Maafkan, Mama." Kata Elizabet dengan bibir gemetar dan menyeka air mata yang terus turun.
Alice mengambil piring yang ada di tangan Elizabet dan menaruhnya di atas lantai, tubuh Alice bergerak maju memeluk tubuh Elizabet.
"Maaf, Ma." Alice berkata dengan suara parau.
Keduanya nampak berpelukan dengan menangis, tanpa keduanya sadari William hanya mampu berdiri di depan pintu Alice yang memang masih terbuka cukup lebar.
Tanpa berkata apapun, William pergi dari kamar putrinya dan mengurungkan niatannya untuk bertemu dengan Alice.
Maid yang melihat mansion William nampak sepi dengan aura yang dingin hanya dapat menghela nafas panjang, mereka hanya mampu mengikuti perintah majikannya. Bekerja dengan tekut tanpa membuat kesalahan apapun.
Sopir keluarga yang melihat William segera membukakan pintu untuk nya, segera William masuk dan di tutup dengan cepat.
"Ke kantor pengacara." Ucap William dingin.
"Baik."
Mobil SUV putih mulai meninggalkan mansion untuk menuju tempat tujuan, di dalam mobil hanya ada keheningan yang tercipta.
...🐾🐾...
...Autor pengen tamatkan cepat, keknya autor mulai bosan sendiri 🤣 kalian bosan gak?...
__ADS_1