Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 108


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


"Apa! Di mana putriku berada sekarang!" Seru William yang tengah menerima telfon dari seseorang di sebrang telfon.


Elizabet yang baru saja datang membawa potongan buah dengan tergesa mendekat ke arah sang suami, dengan wajah khawatir dan penuh tanda tanya kenapa dengan Alice.


"Ada apa dengan Alice, yah?" Tanya Elizabet cepat.


William menghela nafas panjang dan meraup wajahnya kasar, "Ayo kita jemput Alice, dengan persetujuan ataupun tidak dari keluarga Wijaya."


Ayah Willian menggandeng tangan istrinya, berjalan dengan cepat menuju pintu utama mansion. Elizabet mengikuti langkah suaminya dengan susah payah karena langkah sang suami yang berbeda dengan langkah kakinya, yah Alice menuruni tinggi badan dari William.


Tanpa banyak berkata apapun, William membukakan pintu depan untuk sang istri dan segera berlari menuju pintu satunya. Dengan cepat Elizabet dan William memasang seat belt, perlahan mobil SUV berjalan meninggalkan mansion keluarga William.


"Ada apa dengan Alice, Ayah. Ada apa dengan putri kita!" Seru Elizabet menuntut jawaban dari sang suami.


"Kenan menghamili wanita lain." Jawab William singkat dan jelas.


Tubuh Elizabet terpaku di tempat, mencengkram erat tali seat belt yang menyilang di depan tuhunya. Kedua matanya bergetar menatap wajah sang suami dari samping, memastikan jika suaminya sedang tidak bercanda.


Kedua bola mata Elizabet memanas hingga kristal bening lolos begitu saja dari mata tuanya, "Ti-tidak mungkin, putriku ... hikss. Ayah bagaimana dengan putriku, aaa!! Alice..." Tangis Elizabet pecah saat itu juga.


Suara raungan dari Elizabet menemani keduanya yang tengah menuju mansion, " Ayah, hatiku sakit! Aku gagal menjadi Ibu yang baik untuk putri kita, Alice pasti sudah lama terluka dengan memendam semua masalahnya sendiri, hiks ... kasian putri kita." Elizabet meracau dengan menyalahkan dirinya sendiri.


"Ini bukan salahmu sayang, ini salahku karena tidak becus menjadi kepala rumah tangga, seharusnya sejak awal aku tidak mempertahankan perusahaan dan mengorbankan putri kita satu-satunya." Jawab William dengan tegas dengan fokus menyetir.


"Ya Tuhan, kasihan anakku." Ucap Elizabet yang masih setia menangis.


Isakan pilu dari seorang ibu yang menyayat hati terus terdengar, terus menyalahkan dirinya karena terlalu percaya dengan semua ucapan Alice yang mengatakan baik-baik saja. Nyatanya tidak seperti itu, anaknya menanggung beban dan luka seorang diri.


"Mama akan membawa pergi Alice, Ayah. Mama tidak peduli lagi dengan keluarga Wijaya yang akan mengambil saham mereka di perusahaan kita. Lebih baik kita hidup sederhana daripada melihat Alice menangis." Ucap Elizabet dengan menyeka air matanya kasar.


Meski masih terdengar tangis yang tersendat-sendat karena Elizabet menahan agar tidak menangis, Elizabet tidak ingin Alice melihat kedua mata Ibunya bengkak tidak ingin membuat Alice semakin khawatir. Cukup lama keduanya melakukan perjalanan, hingga kini mobil SUV telah masuk di pekarangan mansion.


Elizabet mengedarkan penglihatannya saat masuk dari gerbang, banyak bunga lily putih, hatinya semakin remuk saat membayangkan wajah bahagia putrinya kini menjadi bayangan tangis kesediha. Dengan cepat Elizabet keluar dari mobil dan di ikuti oleh William.

__ADS_1


Keduanya memberi intruksi untuk para pelayan diam tidak menyambut mereka, mereka diam sejenak mendengarkan percakapan anak dan ibu yang tengah memunggungi mereka. Kedua tangan Elizabet mengepal dan menatap penuh benci kedua orang yang sudah merenggut kebahagiaan Alice.


"Kenan hanya mencintai A;ice, Ma. Tidak dengan yang lain."


Suara Kenan terdengar dingin dan tajam menjawab ucapan wanita yang menjadi besannya, William yang sejak tadi berdiam diri akhirnya bersuara.


"Sudah terlambat!"


Elizabet memandang Citra dan Kenan dengan tatapan hati seorang ibu yang terluka dan marah, terluka karena putri kesayangannya di sakiti oleh orang lain yang tidak turut andil dalam mendidiknya dan marah karena dia merasa gagal untuk melindungi Alice.


Dengan langkah cepat, Elizabet berlari ke lantai atas tanpa di hadang siapapun. Sedangkan William menatap Kenan tajam tanpa ekspresi ke arah Kenan.


"Ayah ... Kenan bisa jelaskan semuanya, ini semua tidak benar!" Kata Ken dengan berjalan cepat ke arah William.


Bug!


Kenan tersungkur ke atas lantai dengan keras akibat hantaman William yang tepat mengenai pipi kiri Kenan, sontak Citra berteriak dan menatap tajam William yang juga tengah menatap tajam dirinya.


"Apa yang kau lakukan!" Teriak Citra kepada William.


"Anakku tidak melakukan kesalahan apapun! Itu pilihanmu sendiri yang menikahkan Alice kepada Kenan!" Ucap Citra dengan berteriak.


"Sejak awal aku sudah menolaknya, asal kamu tau! Aku juga tidak sudi memiliki menantu seperti anakmu yang breng*sek ini." Jawab William dengan menendang Kenan yang belum bangkit dari atas lantai.


"Hey! putrimu itu wanita mura*han, apa kamu pikir aku tidak tahu tujuan kalian menyodorkan putri kalian ke keluarga Wijaya! Pasti harta, harta  yang kalian inginkan bukan!" Kata Citra yang melempar bunga segar ke arah William.


"Anakku wanita baik-baik, anakku hanya sial saja menjadi menantumu dan memiliki suami seorang ba*jingan seperti dia." Ucap William tajam.


Sedangkan dengan tergesa, Elizabet membuka pintu kamar lantai dua satu persatu, hingga suara pintu yang di buka dengan kasar membuat Alice terlonjak kaget. Nampak Elizabet memandang sedih ke arah Alice yang tengah duduk di lantai dengan memasukkan pakaian miliknya.


"Alice."


"Mama."


Ucap keduanya bersamaan dengan suara lirih, Elizabet berlari dan bersimpuh di lantai dengan cepat, membawa tubuh Alice ke dala pelukannya, "Hiks ... maafkan Alice, Ma." Ucap Alice yang membalas pelukan erat Elizabet.

__ADS_1


Elizabet ikut menangis, "Mama yang harus minta maaf sayang, maafkan Mama dan Ayah." Elizabet menghujani pucuk kepala sang putri dengan lembut.


Hingga mendengar ringisan Alice, membuat Alizabet melerai pelukannya, "Sayang, kamu kenapa?" Tanya Elizabet cepat.


Wajah Alice penuh keringat dingin dan kulit pucat pasi, namun Alice tetap tersenyum ke arah Elizabet


"Bawa Alice pergi, Ma." Ucap Alice lirih yang kembali menjatuhkan kepalanya di dada sang Ibu.


Alizabet mengangguk cepat, "Tentu, tidak perlu membawa apapun dari mansion ini. Biarkan semua barang dan kenangan tertinggal di sini. Ayo kita pulang." Ucap Elizabet dengan menyingkirkan koper besar yang sudah tertata pakaian milik Alice.


Elizabet tidak ingin Alice teringat kenangannya dengan Kenan, Elizabet tidak sudi jika sampai anaknya menangisi pria breng*sek seperti Kenan Wijayakusuma. Alice hanya mengangguk pasrah saja, dirinya hanya membawa tas jinjing yang berisi barang penting saja dan juga sebuah kemeja milik Kenan. Jika anak mereka merindukan aroma tubuh sang ayah maka Alice tidak perlu bertemu dengannya.


Elizabet membantu Alice berjalan, takut jika sampai Alice pingsan. Mendengar suara ribut-ribut di lantai satu tidak di perdulikan oleh kedua wanita yang baru saja turun dari lantai dua, Kenan yang melihat Alice turun dengan mertuanya segera merangkak di bawah kaki Alice.


"Sayang, jangan tinggalkan aku! Aku minta maaf, ini salahku. Aku akan membuuktikan jika aku dan Selena tidak pernah tidur bersama!"


Kenan memeluk sebelah kaki Alice dengan kedua tangannya, bagaikan anak koala. Memohon dan mengiba agar Alice tidak pergi, perasaan Kenan sangat sakit mebayangkan kehidupannya tidak ada Alice.


"Aku mohon, sayang!" Tangis Ken makin pecah di bawah kaki Alice.


Alice hanya diam tidak mengatakan apapun, William dan Citra yang melihat Kenan mengemis di bawah kaki Alice secara bersamaan menarik kerah pakaian Kenan hingga terjengkak ke belakang.


"Kita akan bertemu di pengadilan." Ucap Alice dengan menitikan air matanya.


Kenan menggeleng cepat, "Tidak! Alice! Sampai mati aku tidak akan menceraikanmu! Alice!" Kenan memberontak di pelukan William dengan di tahan Citra, memandang punggung wanita yang bersatus sebagai istrinya yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya.


"ALICE!" Teriak Kenan


William mendorong tubuh Kenan, "Akan aku kirim surat perceraian kalian secepatnya." Ucap William tegas dan berlalu dari hadapan Ken dan Citra.


Citra berteriak meminta bantuan agar Kenan tidak mengejar Alice, segera para maid membantu memegang Kenan sekuat tenaga mereka. Memandang mobil SUV berwarna putih hingga suaranya tidak lagi terdengar.


"Tuan."


"Kenan."

__ADS_1


__ADS_2