
Happy Reading 🌹🌹
Ini adalah hari libur sehingga baik Kenan mauoun Alice hanya ada di mansion, terlihat Ken tengah serius menatap layar televisi di kamar sedangkan Alice membersihkan taman belakang.
"Alice, kamu tidak lelah?" Tanya Kakek Wijaya yang duduk sembari menonton sang menantu menanam bunga.
"Tidak Kek." Jawab Alice sedikit berseru karena jarak mereka yang cukup jauh.
Kakek Wijaya hanya tersenyum, menyesap air es yang sudah di sediakan oleh para maid.
Kenan yang mendengar suara Alice dan Kakeknya mulai terusik, sejak pagi suara tawa selalu di dengar oleh Kenan di lantai dua.
"Cih, hanya menanam bunga seramai itu." Omel Kenan dengan memencet remote televisi miliknya denga kasar.
Lagi-lagi, Ken mendengar suara tawa di arah luar kali ini tidak hanya Alice dan sang kakek sepertinya para maid juga ikut brsenang-senang.
"Nona, apakah kita perlu membeli bunga tambahan?" Tawar seorang maid kepada Alice.
"Tidak perlu, ini sudah lebih dari cukup. Minggu depan saja kalian belikan bunga lily warna putih untuk di tanam mengelilingi mansion ini." Jawab Alice dengan tertawa pelan.
"Sepertinya kita mengerjakan semua ini bisa tiga bulan lamanya jika setiap akhir pekan Nona." Kelakar salah satu maid menimpali candaan Alice.
"Benar dan kalian akan berjemur dengan sukarela bersamaku." Jawab Alice dengan tertawa.
"Apa Nona suka bunga lily?" Tanya salah seorang maid.
"Hemm, iyaa. Terutama lily putih, dalam mitologi Yunani Kuno disebutkan kalau bunga lily berasal dari susu yang ditumpahkan oleh Dewi Hera ke bumi. Konon katanya Dewi Hera sedang menyusui puteranya, Hercules. Lalu secara tidak sengaja ia menumpahkan air susunya ke bumi. Berdasarkan mitologi tersebut, arti bunga lily selalu diidentikkan dengan kesucian dan kemurnian layaknya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Bunga ini juga dianggap sebagai lambang keindahan karena Dewi Hera merupakan salah satu dewi tercantik yang ada dalam mitologi Yunani."
Alice bercerita panjang lebar kepada para maid yang menanam bunga bersamanya, para maid dan tukang kebun yang mendengarkannya berdecak kagum karena mendengar nama Dewa - Dewi mitologi Yunani.
__ADS_1
"Wah, pantas saja Nona Alice menyukainya. Filosofi bunga itu sangat indah dan hebat." Ucap tukang kebun kepada Alice.
"Benar, Mamaku sangat menyukai bunga lily jadi Alice juga menyukainya." Jawab Alice dengan tersenyum.
Ada perasaan sesak menyeruak di dalam hati Alice, rasa rindu kepada Mamanya. Kedua mata Alice bahkan terasa panas namun dengan cepat dia mengadahkan wajahnya agar tidak ketahuan jika ingin menangis.
Beruntung sinar matahari cukup terik haro ini, karena yang melihat ke arah matahari pasti matanya akan berair.
Namun, penglihatan Alice terpaku pada sosok pria yang berdiri di pinggir balkon kamarnya. Dia adalah Kenan, suaminya.
Keduanya saling menatap namun dengan cepat Alice memutuskan pandangannya, dirinya tidak ingin terlalu jauh merasakan perasaan yang dulu pernah di berikan kepada seorang pria.
"Ah, sudah selesai. Terima kasih atas kerja kerasnya." Ucap Alice kepada para maid dengan wajah gembira.
Alice segera berjalan menuju kran yang berada tidak jauh darinya, membersihkan kedua tangan dan kaki karena bermain tanah hampir setengah hari ini.
Seorang maid mendekat memberikan handuk kecil kepada Alice.
Alice segera berjalan menuju Kakek Wijaya yang sudah menunggunya sejak tadi, "Kakek tidak pergi istirahat?" Tanya Alice.
"Tidak, Kakek ingin menghabiskan waktu denganmu pekan ini." Jawab Kakek Wijaya.
Alice tersenyum, kembali seorang maid membawakan roti, potonga buah, dan jus jeruk untuk Alice.
Ken yang melihat maid kembali masuk menghadangnya, "Buatkan aku kopi." Ucap Ken.
"Baik Tuan." Jawab maid sopan.
Ken melangkahkan kakinya menuju meja dimana Kakek dan Alice tengah duduk bercengkrama.
__ADS_1
"Kamu datang, Ken." Ucap Kakek Wijaya.
"Hanya bosan saja." Jawab Ken sekenanya.
Maid menyajikan kopi untuk Kenan dan segera pergi lagi.
"Bagaimana pekerjaan kantor, apakah sangat banyak?" Tanya Kakek Wijaya.
"Tidak." Jawab keduanya kompak.
"Baguslah, kapan kalian akan pergi bulan madu?" Tanya Kake Wijaya.
Ken hanya diam melihat respon Alice, "Alice masih ingin berdua dengan Kenan saja, Kek." Jawab Alice pelan.
"Kamu belum ingin memiliki anak, Alice?" Tanya Kakek Wijaya lagi.
Alice terdiam sesaat, "Tentu saja ingin Kek, tapi bukan sekarang. Sekarang Alice hanya masih menikmati pekerjaan Alice dan kesibukan sebagai istri Kenan." Jelas Alice dengan tersenyum.
"Kakek hampir lupa jika belum lama ini kamu baru lulus, tentu saja seperti anak muda lainnya menikmati asam manisnya dunia kerja." Ucap Kakek Wijaya membenarkan.
"Iya benar Kek, Alice harap Kakek bersabar." Kata Alice pelan.
Entah kapan Kakek Wijaya harus bersabar, mungkin selamanya Alice tidak akan memberikan keturunan kepada keluarga Wijaya.
Sedangkan Ken yang mendengar ucapan Alice, menolak secara halus untuk hamil tidak sadar mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
Tatapannya menghunus ke arah Alice yang tengah tersenyum, bercengkrama dengan sang kakek. Apakah benar Alice tidak sudi untuk menganduk anaknya, sungguh ini melukai harga diri Kenan.
Ken menghela nafasnya kasar, menyesap kopinya pelan untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Namun, penolakan Alice yang secara halus terus terngiang di telinganya.
__ADS_1
...🐾🐾...