Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Perdebatan Meja Makan


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Malam telah datang, terlihat Alice yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Ken hanya duduk dengan menatap sang istri dengan rambut yang masih basah, terlihat sangat sexy. Ingin sekali Ken mencium bibir ranum Alice lagi setelah kejadian malam itu.


Hingga sesuatu dalam diri Ken bergejolak "Tahan Ken, jangan sampai membuat Alice enggan berdekatan denganmu." Gumamnya dalam hati.


Alice yang merasa di perhatikan menatap kembali ke arah Kenan, "Ada apa Mas?" Tanya Alice pelan.


"Tidak, ayo segera turun untuk makan malam." Jawab Ken mengalihkan konsentrasinya.


"Kita makan saja di kamar, Mas masih sakit." Kata Alice yang berjalan mendekat ke arah suaminya.


Ken menelan ludahnya kasar, padahal Alice menggunakan piyama lengan panjang bergambar boneka teddy bear tapi kenapa terlihat sangat menggairahkan di mata Kenan.


"Ti-tidak, aku sudah sembuh." Ucap Ken terbata dan gugup.


Twrasa hawa dingin menyentuh kulit wajah Kenan, terlihat Alice menempelkan punggung tangan kanannya di dahi Ken guna memeriksa suhu tubuh.


"Kenapa sangat panas." Ucap Alice pelan.


Ken langsung menggenggam tangan Alice agar menyingkir dari dahinya, "Gerah, aku akan turun duluan."


Segera Ken berdiri dengan kikuk dan berjalan cepat menuju pintu keluar kamar pribadinya, membuat Alice memiringkan kepala dengan memandang punggung Kenan.


"Sudah tau suhu tubuhnya tinggi, kenapa masih keluar kamar." Gerutu Alice dengan tingkah laku Kenan.


Ken berjalan cepat menuruni anak tangga dengan dada yang berdebar-debar, tidak munafik jika Ken menginginkan Alice sepenuhnya.


Mengingat jika mereka tengah mencoba memulai hubungan rumah tangga, membuat Ken tidak gegabah dalam hubungan intim.


Melihat Ken yang berjalan cepat terkesan buru-buru membuat Kalevi dan Citra yang sudah menunggu di meja makan memasang wajah heran.


"Ada apa Ken?" Tanya Kalevi ~ Ayah Kenan.

__ADS_1


"Tidak ada Ayah." Jawab Ken cepat.


"Lalu kenapa dengan wajahmu? Apa kamu demam?" Cecar Kalevi lagi.


Ken memegang pipinya yang terasa panas, namun bukan panas tidak enak badan melainkan hawa panas yang lain.


"Ken hanya kelelahan saja." Elak Kenan.


"Di mana Alice , kenapa tidak keluar? Apa dia tertular penyakitmu." Tanya Kalevi penuh selidik.


"Tidak Ayah, Alice sebebtar lagi akan turun." Jawab Ken yang kelabakan karena tuduhan sang Ayah.


Tidak berselang lama, wanita yang menjadi bahan obrolan terlihat tengah menuruni anak tangga.


Citra yang melihat senyum Alice memasang senyum remeh, "Tersenyum saja sepuasmu wanita ja*lang, karena sebentar lagi Ken akan sadar jika dia tidak mencintaimu." Kata Citra dalam hati.


Alice berjalan mendekat ke arah meja makan, "Selamat malam semuanya." Sapa Alice.


"Malam Alice." Jawab Kalevi tanpa Citra.


Dengan cekatan Alice mengambilkan makan malam untuk Ken dan juga dirinya sendiri, mengingat jika Ken masih belum sembuh total membuat Alice harus memilih makanan yang cocok untuknya.


"Apakah ini cukup?" Tanya Alice pelan kepada Ken.


"Cukup." Jawab Ken singkat.


Alice meletakkan piring di depan Kenan, "Selamat makan." Kata Alice.


"Terima kasih sayang." Ucap Ken dengan tulus.


Alice hanya mengangguk dan mulai menyantap makan malamnya menyusul Kalevi dan Citra yang sudah lebih dulu.


"Bagaimana pekerjaanmu Alice? Ayah dengar kamu menangani kerjasama dengan perusahaan Santosa?" Tanya Kalevi di sela makan malamnya.


"Baik Ayah, benar. Ken yang menyuruh Alice untuk menangani kerjasama tersebut." Jawab Alice jujur.

__ADS_1


"Kenapa harus dia, apa tidak ada pegawai lain. Jangan terlalu mudah percaya dengan orang lain meskipun dia satu atap dengan kita." Citra menimpali dengan sinis.


"Apa yang di katakan Mama benar, seharusnya kita tidak boleh mudah percaya meskipun sudah mengenal bertahun-tahun lamanya." Jawab Alice yang terkesan menyindir Citra.


"Sudah... Sudah... Alice kamu harus babyak belajar agar dapat membantu suamimu seterusnya." Kata Kalevi menengahi agar tidak panjang urusannya.


"Baik Ayah." Jawab Alice patuh.


Ken yang diam sibuk dengan pikirannya sebdiri, apakah dia harus menuruti permintaan Mamanya atau berkata jujur kepada Alice saat ini.


"Oh, iya sayang. Besok aku dan Kenan akan pergi ke acara arisan." Citra berkata kepada Kalevi sang suami.


Alice terlihat menyerengitkan dahinya dalam, untuk apa suaminya pergi arisan para wanita.


"Kenapa tidak mengajak Alice saja, Ma. Di sana Ken juga tidak akan bisa berbaur karena hanya pertemuan wanita saja." Jawab Kalevi penuh selidik.


"Ayah, Mama inginnya pergi bersama Kenan. Untuk memamerkan jika Mama memiliki putra yang hebat." Tolak Citra dengan tegas.


"Mas, sudah sembuh?" Tanya Alice menoleh ke arah Ken dan bertanya dengan suara lembut.


"Eh, su-sudah sayang." Jawab Ken terbata karena takut ketahuan.


"Benar? Jika Mas masih sakit, biar Alice saja yang akan mengantar Mama pergi arisan." Tawar Alice kepada suaminya.


"Tidak perlu, aku sudah merawat Ken bertahun-tahun. Tahu jika Ken sudah sembuh total gausah memanjakan putraku." Citra memotong pembicaraan Kenan dengan Alice.


"Alice hanya bertanya Ma, bagaimanapun Kenan sudah menjadi suami Alice." Kata Alice kepada mertuanya.


Citra hanya mendengus kesal, "Dasar penji*lat." Kata Citra.


Alice hanya mampu mencengkram sendok yang ada di tangannya, jika kemarin mendapatkan julukan wanita mura*han kini tambah sebagai penji*lat.


"Cukup! Mama jangan berbicara sembarangan, Kenan sudah memiliki istri jadi Kenan pergi atau tidaknya harys atas ijin Alice begitu juga sebaliknya." Tegas Kalevi dengan manaruh sendoknya secara kasar.


...🐾🐾...

__ADS_1


__ADS_2