
Happy Reading 🌹🌹
Mentari bangun dari peraduannya, Alice secara perlahan keluar dari dekapan sang suami. Melihat jam dinding sejenak, waktu sudah menunjukkan setengah enam.
Segera Alice masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajah dan gosok gigi, dengan rambut yang di kuncir tinggi membuat leher jenjangnya terbebas.
Alice berjalan keluar, terlihat sang suami masih nyaman dalam mimpinya. Langkah kaki Alice menuruni anak tangga dengan cepat, menuju ke dapur untuk memulai masak sarapan.
Meski ada maid, namun untuk memasak Alice mengerjakannya sendiri. Dengan cekatan Alice mengeluarkan bahan masakan yang selalu dia siapkan setiap minggu di dalam box agar lebih cepat memasak, Alice segera mengupas bumbu dan mengirisnya.
Terlihat kepulan asap dengan aroma yang harum memenuhi area dapur, hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari tiga puluh menit sayur sop dan ayam goreng telah tersaji di atas meja dengan bau harumnya. Alice segera menanggalkan apron yang di kenakan dan berjalan dengan cepat menaiki anak tangga.
Membuka kamar, ranjang sudah rapi. Mungkin suaminya telah membantu membereskannya seperti biasa, Alice segera berjalan ke arah lemari mengambilkan pakaian dan menyiapkan segala hal yang akan di kenakan dan Ken bawa ke kantor.
Suara gemericik air terhenti, hingga pintu terbuka terlihat tubuh atletis berjalan keluar dengan sandal kamarnya. Melihat sang istri yang tengah menyiapkan perlengkapannya membuat Ken tersenyum hangat "Beruntung sekali memiliki istri seperti Alice." Gumamnya.
"Sayang." Panggil Ken.
Alice memutar kepalany ke belakang, "Apa Mas?" Tanya Alice
"Nanti kamu jadikan ke kantorku?" Ucap Ken memastikan.
Alice menegakkan tubuhnya, "Iya jika sempat, aku akan mampir Mas. Habis ini aku akan ke kantor Ayah dulu dan bertemu dengan Bara karena dia membutuhkan bantuanku." Jawab Alice yang membantu mengenakan kemeja putih pada tubuh Ken.
Alis Kenan bergelombang menatap wajahnya dengan pandangan yang sulit di artikan, "Bara? Bantuan apa, kenapa dia tidak menghubungiku?" Cecar Kenan cemburu.
"Aku tidak tahu, tapi Jundi mengetahuinya. Mungkin ada pekerjaan yang membutuhkan keahlianku." Ucap Alice yang memberikan celana panjang kepada Kenan.
Kenan menerima dan mengenakan celananya dengan wajah masam, "Padahal pryek sudah selesai, kenapa Bara sering mengajakmu bertemu." Gerutu Kenan.
Alice terkekeh dengan memungut handuk basah bekas Kenan, "Mana aku tahu Mas, Mas coba tanya saja sama Bara. Terakir aku membantu meneliti laporan keuangan perusahaan Santosa dan terjadi korupsi di sana ternyata. Mungkin Bara membutuhkan aku lagi." Jelas Alice yang kini menyisiri rambut Ken dengan berjinjit.
Ken menarik pinggang ramping istrinya dengan posesif, "Tapi Mas tidak suka, Mas akan bilang ke Bara jika jangan menghubungi kamu lagi biarkan pria mengesalkan itu memiliki sekertaris sendiri." Gerutu Kenan dengan wajah masam.
Cup!
__ADS_1
Alice mengecup bibir suaminya sekilas karena manyun seperti bebek, "Sudah cepat sini aku pakaikan dasinya, Mas. Kamu ada rapatkan hari ini." Ucap Alice yang meulai memasangkan dasi berwarna biru dongker.
"Pasti Ferdy yang memberitahumu ya, sayang." Ucap Ken sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Mau siapa lagi Mas, Selena?" Tanya Alice dengan wajah datar.
"Sayang, kita sudah membicarakan ini kemarin." Tegur Ken.
"Iya ... iya ... aku ingat, sudah selesai. Cepat turun dan sarapan." Kata Alice yang mesuk ke dalam kamar mandi.
*
*
*
"Hati-hati sayang, jika ada sesuatu segera hubungi aku." Ucap Ken dengan mengecup bibir tipis istrinya.
"Iya, Mas juga hati-hati." Jawab Alice yang keluar dari mobil sang suami.
Para karyawan yang melihat Alice memberi hormat karena tahu jika wanita cantik dan tinggi itu adalah anak pemilik perusahaan. Ken segera menjalankan kembali mobilnya menuju perusahaan setelah mengantarkan sang istri ke perusahaan mertuanya.
Segera Alice keluar dan berjalan menuju ruangan yang berada tepat di depannya, perlahan pintu terbuka terlihat sang ayah tengah menelfon seseorang memunggungi pintu ruangan. Alice menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa sembari menunggu sang Ayah yang tengah serius menelfon seseorang.
"Alice, sejak kapan kamu sampai?" Tanya Ayah William kaget setelah membalikkan badannya.
"Sekitar lima menit yang lalu, Ayah." Jawab Alice sembarangan.
"Maaf lama, client Ayah menghubungi untuk mengajukan pertemuan bisnis besok." Jelas Ayah William yang berjalan menghampiri Alice.
Alice dan Ayah William nampak terlibat perbincangan yang serius, hampir dua jam lamanya mereka mengobrol tentang perusahaan dan juga Ayah William menjelaskan perkembangan perusahaan beberapa bulan belakangan ini.
Senyum lebar terlihat jelas di bibir keduanya, ternyata perusahaannya sudah membaik. Bahkan tanpa saham dari perusahaan Wijaya perusahaan keluarga William akan baik-baik saja, namun William tidak mengembalikannya hitung-hitung tambah modal usaha untuknya.
"Bagaimana kabar Kenan? Sudah lama tidak datang ke mansion maupun perusahaan." Tanya Ayah William tiba-tiba.
__ADS_1
"Ah, Kenan sedang sibuk Yah." Jawab Alice dengan lembut.
William menelisik wajah sang putri dengan seksama, hingga ponsel Alice berdering segera Alice mengambil ponsel di dalam tas jinjingnya. Segera Alice berjalan keluar untuk menerima telfon dari Bara.
"Mau kemana, Nak?" Tanya Ayah William dengan menaikkan sebelah alisnya karena melihat Alice yang sedang terburu-buru.
"Alice ada janji dengan teman Yah, Alice akan pulang sebentar untuk menyiapkan makan siang Kenan," Jawab Alice yang mencium kedua pipi sang ayah dan berlalu dari ruangan CEO.
Ayah William hanya menghela nafasnya saja melihat sang putri yang begitu perhatian kepada Ken, Alice segera memberhentikan sebuah taxi setelah keluar dari gedung perusahaan sang ayah.
"Antar saya ke alamat ini , Pak."
"Siap, Non."
Mobil taxi bergerak meninggalkan perusahaan William menuju alamat yang di berikan oleh penumpangnya, membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit hingga sampai mansion pribadi Kenan. Segera Alice memberika lembaran uang kepada sopir taxi dan keluar, berjalan dengan cepat masuk ke dalam mansion.
"Nona sudah datang." Ucap seorang maid.
"Hem, apa sudah kamu siapkan?" Tanya Alice pelan.
"Sudah Nona." Jawab Maid.
Alice segera menaruh tas jinjingnya dan menaikkan lengan pakaiannya hingga kesiku, mencuci tangan di wastafel dan segera mengenakan apron. Ya, Alice membuatkan makan siang untuk suaminya karena Ken sudah terbiasa masakan rumah masakan sang istri.
Cukup lama Alice berkutat di dapur, karena Alice memasak seafood kesukaan Kenan yang jelas tidak pedas. "Tolong masukkan ke dalam rantang, aku akan berganti pakaian." Ucap Alice lembut kepada maid dan melangkah menuju lantai dua.
Segera Alice berganti pakaian dengan cepat karena waktu jam makan siang sudah hampir tiba, belum lagi perjalanan ke perusahaan Santosa. Alice berjalan cepat menuruni anak tangga dengan mengikat rambutnya menjadi ekor kuda.
"Nona, sudah siap."
"Bagus, terima kasih. Aku keluar dulu."
Alice berjlan membawa rantag dan tas jinjingnya, seorang sopir sudah membukakan pintu belakang agar Alice dapat langsung masuk. Segera mobil mewah itu berjalan menebus jalan raya yang mulai padat karena jam makan siang.
Cklek.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka menampilkan sosok Alice yang berdiri mematung menatap Kenan dengan mata yang sudah mengembun. Pria tampan itu terkejut dan segera melepaskan Selena sebab tak ingin membuat istrinya semakin salah paham.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku bisa jelaskan semuanya!"