Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
Apakah Dia Mencuri Ciuman Pertamaku?


__ADS_3

Happy Reading 🌹🌹


Waktu menunjukkan pukul lima sore, namun baik Alice maupun Kenan belum beranjak dari tempat duduk mereka. Keduanya terlihat serasi saat bekerja. Hingga Ferdy keluar dari ruangannya dan melihat meja Alice hanya tersisa setengah tumpukan dokumen daripada tadi pagi.


"Nona, sudah waktunya pulang." Ucap Ferdy yang sudah berdiri di sisi meja Alice.


"Hemm, sebentar lagi Fer. Kalian duluan saja." Jawab Alice yang menoleh ke arah Ferdy kemudian kembali fokus pada PC di depannya.


"Tapi di kantor tidak ada yang lembur Nona, di sini tidak boleh ada yang lembur." Jelas Ferdy.


Alice menghentikan gerakan jarinya dan sekali lagi menoleh ke arah Ferdy namun kini kursinya di putar seluruhnya.


"Mana ada perusahaan seperti itu Fer, bagaimana perusahaan dapat bekerja dengan maksimal." Jawan Alice yang tidak percaya.


"Memang benar Nona, semenjak Tuan Kenan menjawab sebagai CEO di perusahaan Wijaya merubah peraturan yang tidak membolehkan karyawan lembur karena harus memaksimalkan jam kerja mereka sesuai jamnya." Jelas Ferdy lagi.


"Tapi aku belum selesai." Kata Alice dengan menunjuk tumpukan dokumen di samping kirinya.


"Bisa di lanjutkan besok lagi Nona." Ucap Ferdy sopan.


Terlihat pintu Ken terbuka terlihat sosok pria menjulang tinggi dengan dasi yang sudah tidak rapi lagi, terlihat wajah yang begitu lelah.


"Ayo kita pulang." Ucap Ken dengan berjalan melewati keduanya.


Ferdy langsung berjalan menyusul Kenan, sedangkan Alice masih duduk melihat kedua pria itu. Apakah dirinya juga di ajak Ken untuk pulang bersama.


Terlihat Ferdy menoleh ke belakang dengan tangan melambai ke arah Alice untuk menyusul, Alice menuding dirinya dengan cepat Ferdy mengangguk karena mood Ken sedang tidak baik-baik saja.


Dengan cepat Alice menyimpan file-file yang sudah dia kerjakan dengan cepat, si*al sekali kenapa pria itu sangat sulit tebakannya. Setelah semua selesai, segera Alice menyambar tasnya untuk menyusul keduanya.


Menghela nafas kasar, Alice harus sabar menunggu lift yang tengah turun dari lantai 30 tersebut karena Ken tidak menunggunya. Di sisi lain Ken tengah kalut dengan pikirannya, memikirkan isi pesan singkat dari Citra.


"Tuan, apakah kita akan menunggu Nona Alice?" Tanya Ferdy pelan.


"Pulang." Jawab Ken singkat.


Ferdy mengangguk dan segera menyalakan mesin mobilnya, perlahan mobil BMW mewah tersebut keluar dari dalam basment perusahaan Wijaya. Lampu belakang terlihat menyala merah karena mobil BMW berbelok ke kiri.


Bersamaan dengan hilangnya mobil Ken, keluarlah Alice yang terlihat keluar dengan nafas memburu karena keluar dari dalam lift dan berlari.

__ADS_1


"Hah, astaga! mobilnya sudah tidak ada." Ucap Alice pada dirinya sendiri.


Alice masuk ke dalam basement berharap jika Ken menunggunya namun harapannya musnah, dirinya hari ini akan pulang naik taxi karena tidak tahu rute bis yang membawa ke daerah mansion Wijaya.


Tangan kiri Alice menyetop taxi yang melintas, segera Alice membuka pintu belakang dan memberikan almaat kepada sang sopir ke alamat mansion Wijaya.


...***...


Makan malam, seperti biasa jika Kakek Wijaya berada di mansion semua terlihat damai begitu juga Citra, Kenan, dan Alice. Citra tidak berani menyentuh Alice barang sujung rambut pun ketika Kakek Wijaya di mansion.


"Bagaimana hari pertamamu kerja, Alice?" Tanya Kakek Wijaya.


"Baik Kek." Jawab Alice jujur


"Bagaimana Kenan dengan pekerjaanmu?" Kakek Wijaya berganti bertanya kepada sang cucu.


"Seperti biasa." Jawab Ken tanpa melihat ke arah Kakeknya.


"Jika ada yang sulit kamu bisa bertanya kepada Kenana, Alice." Ucap Kakek Wijaya.


"Baik Kek." Jawab Alice lagi.


Semua orang yang berkumpul di meja makan mulai memakan makanannya, Citra terlihat melirik ke arah Kenan juga Alice. Dalam hati Citra akan berhasil menjauhkan Alice dari sang putra kebanggaannya tersebut.


"Ken sudah selesai." Ucap Ken yang langsung berdiri meninggalkan meja makan begitu saja.


Alice mengunyah makananya secara perlahan dengan berfikir kenapa Ken begitu pendiam dan jauh lebih dingin. Apakah setelah ini Alice harus di kurung lagi di dalam gudang, begitu pikir Alice.


Sedangkan Ken masuk ke dalam kamar dan mendudukkan dirinya di kursi balkon dengan sepuntung rokok di tangan kanannya.


Menghela nafas panjang, kembali teringat pesan Mamanya yang menginginkan Kenan untuk pergi berkencang dengan Mourin.


Bukan Ken membenci Mourin hanya Ken tahu bagaimana perangai Mourin sejak dulu yang selalu mengejar-ngejarnya, namun bersembunyi di balik nama keluarga besarnya.


"Apa aku harus benar-benar melupakanmu." Gumam Ken dengan suara sendu.


Ken belum merelakan mantan kekasinya yaitu Selena yang bersanding dengan pria lain dibandingkan dirinya. Apa kurangnya Ken, wajah tampan, mapan, penerus satu-satunya keluarga Wijaya, dan terlebih begitu memanjakan Selena.


Dalam lamunannya, Ken menolehkan kepalanya kebelakang karena mendengar pintu terbuka. Terlihat wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya, apakah Ken harus menerima dengan lapang dada pernikahan ini dan memulai hidup baru bersama Alice.

__ADS_1


Alice yang terus di tatap Kenan hanya berkedip pelan, Ken menghembuskan napasnya pelan dan kembali menatap ke depan pemandangan balkon kamarnya.


Kening Alice berkerut karena tidak ada teriakan dan makian dari Ken hari ini. Alice hanya menghendikkan bahunya saja dan segera mengambil bantal dan selimut yang sudah di siapkan oleh maid untuknya.


Alice teringat jika dirinya tidak boleh menyentuh barang Kenan yang berada di kamar, segera Alice membentangkan kasur lipat kecil di atas lantai dan menaruh bantal juga memasang selimut untuk menutupi tubuhnya.


Tak!


Alice mematikan lampu utama membiarkan Kenan sendirian di luar kamar dengan hawa dingin yang semakin menusuk hingga tulang.


Tidak membutuhkan waktu lama, Alice sudah terlelap dalam tidurnya sedangkan Ken terlihat mematikan puntung rokok di dalam vas bunga kecil yang berada di depannya.


Terdengar suara geseran pintu karena Ken masuk ke dalam kamar akibat hawa dingin, lampu tidur menyambut dirinya. Ken melangkah untuk pergi ke walking closed berganti baju tidur.


Bruk!


Kaki Kenan tersandung sesuatu yang membuatnya jatuh tengkurap. Empuk, hangat, lembut... eh tunggu! Kenapa tidak sakit.


Ken membuka kedua matanya yang bersibobrok dengan kedua mata Alice yang bening, sejenak mereka terdiam sesaat karena sesuatu yang sudah sejak kapan Ken mendapatkannya kini kembali dia dapatkan.


Secara implusif, Ken mulai mengecap bibir Alice dengan lembut. Alice masih terdiam karena shock dan otaknya cukup loading karena setengahnya tertidur di timpa sesuatu yang berat.


Ken mengigit bibir Alice, membuat Alice mengaduh kesakitan. Tangan kekar Ken masuk ke bagian belakang leher Alice untuk menekan cium*an tersebut semakin dalam dan menuntut.


Lidah Ken menari dan mengeksplore bibir Alice dengan penuh perasaan bukan hawa nafsu saat melakukannya bersama Selena dulu.


Teringat Selena, Ken langsung melepaskan ciu*mannya. Menatap kedua manik hitam milik Alice dengan intes terlihat keduanya saling berlomba mencari pasokan udara.


"Maaf." Ucap Ken


Ken langsung beranjak dari atas tubuh Alice dan berjalan cepat menuju walking closed, mengunci pintu dengan rapat.


Alice masih dalam posisinya, tangan kanannya meraba bibir yang terasa perih.


"Apakah dia baru saja mencuri ciuman pertamaku?" Gumam Alice pelan.


...🐾🐾...


...HALLO AUTOR MEMBAWAKAN REKOMENDASI NOVEL YANG BAGUS UNTUK KALIAN. SEMBARI MENUNGGU ALICE BISA MAMPIR DULU 🌹...

__ADS_1



__ADS_2