Belenggu Masa Lalu

Belenggu Masa Lalu
BML - BAB 143


__ADS_3

Happy Reading


"Sayang, jalannya pelan-pelan!" Ucap Kenan yang ngeri melihat Alice berjalan dengan cepat.


"Iya, Mas. Alice juga hanya berjalan tidak berlari." Jawab Alice santai.


Helaan nafas panjang terdengar dari bibir pria tampan itu, "Kita istirahat dulu ya, lanjut belanjanya nanti lagi." Ajak Ken kepada istrinya.


"Mas, capek?" Alice menoleh ke arah Kenan yang berada di sampingnya.


"Tidak, hanya saja Mas khawatir jika kamu kelelahan sayang." Jawab Ken lembut dengan menyelipkan rambut Alice ke belakang telinga.


"Aku tidak lelah, Mas. Masih banyak barang yang harus kita beli untuk anak kita nanti." Kata Alice berkedip cepat.


Kenan harus menekan emosinya jangan sampai dia berteriak di depan umum, menghadapi Alice yang belakangan ini menjadi lebih menjengkelkan menurutnya.


"Kita tidak lelah, tapi anak kita pasti lelah. Ayo kita duduk dulu, untuk barang yang belum terbeli biarkan Ferdy saja yang menyiapkannya atau Mama." Ucap Kenan lembut.


Raut wajah Alice tiba-tiba berubah menjadi mendung, kedua matanya sudah berkaca-kaca, "Tapi, aku ingin menyiapkan semuanya sendiri, Mas." Jawab Alice lirih.


Alice memasukkan pakaian bayi ke dalam keranjang yang Ken bawa, berjalan keluar toko dengan menyeka air matanya yang sudah luruh. Dia juga ingin menuruti Kenan, tapi banyak yang belum Alice persiapkan mengingat duka yang di alami keluarga Wijaya.


Kenan tidak akan tahu bagaimana excited nya seorang wanita yang akan melahirkan anak pertama, semua dari hal kecil hingga besar langsung di siapkan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain.


Kenan menyerahkan keranjang ke pegawai agar di simpankan terlebih dahulu dan segera mengejar istrinya yang sudah lebih dulu keluar toko.


"Sayang." Ken menyekal pergelangan tangan Alice sehingga membuat wanita itu berhenti.


"Lepaskan." Tolak Alice yang berusaha menghentikan tangisnya.


Ken memeluk tubuh Alice dari belakang, tidak memperdulikan tatapan para pengunjung terhadapnya. Alice menundukkan kepalanya karena malu dan juga sedih, di dalam hati Alice bercampur aduk hanya ingin menangis saja yang dia lakukan.


"Maaf, maafkan Mas. Kita akan menyiapkan semua perlengkapan bayi sendiri tanpa bantuan Mama ataupun Ferdy." Ucap Ken dengan mengelus perut buncit istrinya.

__ADS_1


"Apa benar?" Alice ingin memastikan ucapan suaminya.


"Benar, kita istirahat dulu. Lihat kakimu sudah bengkak bagaimana jika nanti kesemutan. Kamu akan kesusahan berjalan dan berbelanja lagi, tenang saja jika hari ini belum selesai masih ada hari esok." Jelas Kenan lembut.


Alice mengangguk, melepaskan belitan tangan Ken dan memutar tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan. Satu kecupan Alice daratkan di bibir tipis suaminya, menggandeng tangan Ken dan berjalan di salah satu stand makanan instan di dalam mall.


Membawa nampan dengan snack dan dua jus untuk Alice, "Terima kasih, Mas." Ucap Alice tulus.


"Makan yang banyak." Jawab Ken mengacak rambut istrinya.


Keduanya menghabiskan waktu sejenak untuk beristirahat sebelum kembali berbelanja, beruntung perusahaan tidak ada proyek besar sehingga Kenan dapat mengajukan cuti hingga HPL sang istri.


Ken dan Alice kembali masuk ke toko yang terakir mereka kunjungi, mengambil beberapa yang menurut Alice butuh. Saat akan memasukkan handuk bayi Alice di buat tercengang oleh Kenan.


"Mas, kenapa banyak banget!" Ujarnya.


"Mas capek sayang, kita sudah keluar masuk beberapa toko hari ini. Katamu semua bagus dan lucu jadi Mas masukkan saja semuanya di keranjang dan sisanya akan di kirim ke mansion." Rengek Ken dengan wajah memelas.


"Mas tapi juga tidak semuanya, bayi itu tumbuh besarnya cepat." Kata Alice menghembuskan nafasnya panjang.


"Itu buang-buang uang, Mas." Ucap Alice mende*sah pasrah.


"Mas akan bekerja lebih keras lagi untuk kamu dan anak kita." Jawab Ken yang langsung mencium pipi chubby Alice.


Wajah Alice memerah karena perbuatan Kenan, sedangkan pelakunya berlalu begitu saja menuju kasir. Tidak semua barang di toko di borong oleh Ken sebenarnya. Hanya pakaian saja, selebihnya meminta setiap model di kirimkan satu.


Alice yang akan berjalan menghentikan langkahnya, merasakan nyeri yang datang membuat tangan Alice mencengkram rak besi kuat-kuat. Menghembuskan nafasnya pendek-pendek dan mengelus perut nya dengan lembut.


Pegawai toko yang melihat Alice hanya berdiam diri dengan wajah pucat sontak saja panik, "Nyonya! Apa Nyonya akan melahirkan?!" Ucap sang pegawai.


Mendengatkan suara pegawai tersebut, membuat beberapa pengunjung dan Kenan memperhatikan ke arah suara. Dengan cepat Kenan berjalan menuju ke arah Alice yang ternyata menjadi pusat perhatian.


"Sayang, apa kamu akan melahirkan?" Tanya Kena panik.

__ADS_1


"Hah? Sepertinya belum Mas, mungkin anak kita hanya menyapa saja." Jawab Alice pelan.


"Benarkah?" Ken memastikan lagi.


"Lebih baik segera ke rumah sakit, mungkin sudah mullai kontraksi. Hal wajar jika melahirkan lebih awal dari tanggalnya." Kata salah satu pengunjung kepada Alice dan Kenan.


"Terima kasih." Jawab Alice dan Ken bersamaan.


"Apa sudah selesai, Mas?" Tanya Alice kembali.


"Sudah, ayo ke rumah sakit. Aku akan menghubungi Dokter Ana." Jawab Ken dengan cepat.


"Kita pulang dulu." Ajak Alice.


Kenan menggendong Alice secar bridal style karena tidak ingin istrinya kenapa-napa, Alice melingkarkan tangannya ke leher Kenan menatap dengan intens wajah khawatir sang suami.


Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya telah sampai di lantai basement mall. Kenan segera menurunkan Alice dengan pelan, "Mas, kita pulang saja. Alice sudah tidak merasakan sakit lagi." Ucap Alice yang memegang pergelangan tangan Kenan.


"Apa kamu yakin sayang?" Tanya Ken memastikan lagi,


"Yakin, mungkin tadi hanya kram saja karena aku banyak berjalan hari ini." Jawab Alice lembut.


Kenan berjongkok di depan perut besar Alice, mengelus pelan sembari berkata, "Jagoan...princess, jangan buat Mama kalian kesakitan ya."


Alice tersenyum dan segera masuk ke dalam mobil, Ken segera berlari memutari mobil setelah memastikan sang istri duduk dengan aman dan nyaman. Keduanya tidak tahu jenis kelamin jabang bayi yang berada di perut Alice, biarlah menjadi kado terindah untuk dua keluarga besar.


Perlahan mobil sedan bergerak meninggalkan lantai basement dan berbaur dengan kerndaraan lainnya di jalan raya menuju mansion utama. Menempuh perjalanan hampir tiga puluh mneit karena jalanan yang cukup padat.


"Kenapa kamu mengajak Alice pergi lama sekali, Ken." Protes Citra pada anaknya.


Kenan hanya mendengus kecil, semenjak Citra mengiklaskan kepergian Kakek Wijaya dan fokus merawat Alice dan cucunya menjadi lebih over protectiv kepada Alice.


"Bukan salah Mas Kenan, Ma. Tadi Alice tidak ingin pulang karena keasikan berbelanja untuk keperluan baby." Jawab Alice lembut memegang punggung tangan ibu mertuanya yang sudah melingkar di lengan.

__ADS_1


"Yasudah, segeralah kalian bebersih badan dan segera turun untuk makan malam." Ucap Citra lembut kepada Alice.


"Kami ke kamar dulu ya,Ma." Pamit Alice.


__ADS_2