
Happy Reading 🌹🌹
Alice yang melihat Kenan berlari masuk ke dalam mansion memegang dadanya berdegup begitu kencang, "Jangan buat Mama nampak merindukan Papamu." Ucap Alice kepada bayinya.
Banyaknya luka yang kau torehkan di hatiku. Berbulan-bulan terpisah dan aku masih mencintaimu dengan sepenuh hatiku.
Mendengar derap langkah yang cepat membuat Alice semakin gugup, nampak dari kedua tangannya yang mere*mat gaunnya. Dirinya sudah siap berhadapan langsung dengan Kenan, bagaimanapun dia menghindari Kenan pasti suatu saat akan tetap bertemu.
Suara pintu terbuka dengan cepat dan kasar membuat Alice kaget. Namun, dengan cepat menguasai dirinya agar tidak terbawa suasana.
Kedua pandangan bersibobrok, menatap satu sama lain dengan dalam. Perasaan rindu sudah meledak saat ini juga, Kenan berjalan dengan langkah lebarnya ke arah Alice.
Entah sejak kapan Kenan memeluk tubuh Alice dengan erat, mencium bertubi-tubu pucuk kepala Alice dengan air mata yang sudah meleleh membasahi wajah tampannya. Bibir Alice bergetar dan mengingitnya dengan kuat agar tidak nampak lemah di depan Kenan.
"Apa yang kamu lakukan!" Teriak Alice dengan mendorong kuat tubuh Kenan.
Kenan menatap wajah wanita yang sudah merenggut hati dan kewarasannya dengan wajah
penuh penyesalan, melihat wajah Alice yang tengah marah dan menatap tajam ke arahnya
tidak membuat Kenan gentar sedikitpun.
"Sayang, dengarkan aku." Pinta Kenan dengan suara sendu.
"Kamu sungguh tidak sopan! Masuk ke dalam rumah orang lain tanpa permisi, huh!" Ucap Alice yang mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu bukan orang lain Alice Wijayakusuma!" Kata Kenan dengan tegas.
"Satu hari lagi Kenan, aku adalah Alice William!" Seru Alice yang tidak kalah tegas.
"Sudah cukup aku memberimu waktu untuk sendiri Alice. Aku memang tidak memaksa untuk
menemuimu, aku melakukan semuanya dengan pelan agar kamu tidak tersakiti dengan perbuatanku. Tapi kenapa ... kenapa kamu tidak pernah melihat ke arahku Alice!" Teriak Kenan yang sudah bingung harus melakukan apalagi untuk mendapatkan maaf dari istrinya.
"Bo*doh. Aku tidak pernah memintamu untuk melakukan semua itu." Jawab Alice dengan
__ADS_1
nada penuh penekanan.
"Aku memang bodoh tidak melakukan apapun dengan benar, kamu tidak memintaku untuk melakukan semua itu karena aku mencintaimu Alice, aku mencintaimu. Maafkan semua kebodohanku yang telah menyakitimu sayang, maafkan aku ... aku benar-benar meminta maaf kepadamu."
Kenan perlaran luruh di atas lantai dengan kedua lutut yang di tekuk, kedua tangannya menangkup jadi satu di depan dadanya. Memandang wajah Alice dengan dalam, meski pandangan Kenan nampak buram. Namun, Kenan tetap berusaha agar dapat memandang wajah cantik istrinya.
Alice membuang pandangannya ke sembarang arah, di dalam hati paling dalam. Alice begitu sakit dan sedih melihat bagaimana kacaunya pria yang dulu begitu arogant saat pertama kali bertemu.
"Percerain akan tetap berjalan, Kenan." Ucap Alice tanpa menatap ke arah Kenan.
"Maafkan aku yang sering membuatmu kecewa, sayang. Jika perpisahan yang kamu pinta, untukku adalah sebuah malapetaka. Aku hanya ingin kita tetap bisa bersama membangun rumah tangga yang bahagia dengan anak-anak kita." Jawab Kenan dengan suara serak karena menangis.
"Aku memang bukan yang sempurna, aku sadar hidupku tidak berarti tanpa kehadiranmu. Aku juga bukan orang yang berkuasa dalam hubungan pernikahan ini, tapi aku sadar jika aku tidak berdaya tanpa kehadiranmu. Mohon maafkan aku sayang, aku berjanji akan selalu mencintaimu dan menjagamu. Kalian adalah jantung kehidupanku." Lanjut Kenan lagi.
Kenan semakin deras menangisi perbuatannya kepada Alice dan anak dalam kandungannya,
jika waktu dapat di putar. Kenan tidak akan memberi ruang untuk masa lalunya hadir di kehidupan pernikahan, bagaimana lagi penyesalan selalu berada di akhir kisah.
Hembusan angin yang menggoyangkan tirai, nyaring terdengar karena ruangan itu hanya ada
mendengarkannya. Di sekanya air mata Kenan karena sudah hampir tiga puluh menit keduanya diam tanpa ada kata apapun.
Ken berdiri dari bersimpuh dan masih setia menatap Alice yang membuang pandangannya
ke sembarang arah, terlihat air mata yang berhenti di pipi mulus sang istri. Ingin sekali Kenan menyeka air mata di mata wanita yang dia cintai.
"Mungkin kamu masih ingin sendiri, sayang. Maaf jika aku menerobos masuk ke dalam mansion tanpa izinmu. A-aku pergi." Kenan berkata dengan lebut namun serak.
Kenan memandang sejenak dan memutar tubuhnya, melangkah perlahan masih sekali lagi
menengok ke arah belakang berharap jika Alice menghentikannya. Namun, semua hanya mimpi terlihat Alice tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
Tubuh Ken sedikit terhuyung ke depan, beruntung tangan kirinya sempat memegang gagang pintu kamar Alice. Dekapan hangat dan erat di rasakan Kenan, merasakan punggung yang perlahan basah dan ada getaran.
"Bod*oh, kenapa kamu pergi, hiks ... kenapa kamu tidak menerobos masuk ke mansion sejak awal datang, kenapa kamu tidak menahanku untuk tidak meninggalkanmu...."
__ADS_1
Tangis Alice pecah di punggung Kenan, suara parau dengan bibir yang bergetar, suara sesenggukan nampak mendominasi ruangan feminim itu.
Kenan mengigit bibir bawahnya, perasaan bahagia yang sangat membuncah meledak di
hatinya. Kesabarannya untuk meminta maaf kepada Alice membuahkan hasil meskipun begitu sulit meyakinkan Alice yang selalu kecewa dengannya.
Kenan membalikan badannya dengan menggenggam erat tangan istrinya, nampak wajah sang istri dengan wajah sayunya, matanya yang memerah akibat banyaknya air mata yang
keluar, dan hidung merah seperti hidung santaclouse.
"Jangan menangis, hatiku sakit melihat air mata sedihmu. Maafkan aku sudah membuatmu
selalu sedih, akan aku ganti air mata kesedihanmu dengan seluruh kebahagiaan yang aku miliki." Ucap Ken dengan suara serah.
Alice memeluk tubuh suaminya kembali dan menumpahkan segala rasa rindu dan cinta di
setiap tangisnya, sama halnya dengan Kenan memeluk erat sang istri menghujani kecupan penuh cinta di pucuk kepala Alice.
"Aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Aku ingin melihat senyummu dan mendengar tawamu, aku ingin menggenggam tanganmu dan berkeliling dunia bersamamu, aku ingin menciummu di mana-mana, berbaring bersamamu di bawah bintang-bintang dan bangun bersamamu setiap pagi." Ucap Kenan dengan tulus kepada Alice.
Kedua pipi Alice memerah karena mendengat ucapan dari Kenan, tanpa berkata apapun Alice hanya mencubit kecil perut suaminya itu. Alice sangat malu saat ini, wajahnya terasa panas seperti udang di rebus.
Bukan mengaduh kesakitan Kenan justru tertawa karena dirinya sangat bahagia, "Kamu memaafkan dan memberikan pria bod*oh ini kesempatan, sayang?" Tanya Kenan yang masih memeluk tubuh Alice.
Alice hanya mengangguk sebagai jawaban karena tenggorokannya terasa tercekat dan hanya mampu menangis di dalam pelukan suaminya, pelukan yang selalu dia rindukan di setiap harinya, aroma yang selama ini hanya mamapu dia dapatkan dari kemeja Kenan yang dia bawa.
"Terima kasih, i love you."
Kedua tangan Kenan menangkup kedua pipi sang istri yang semakin berisi itu, Alice hanya mengangguk lagi sebagai jawabannya. Perlahan namun pasti, Kenan mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri dengan sedikit memiringkan kepalanya ke kiri.
"Al... Aaa!"
...🐾🐾...
Tidak setiap masalah harus diatasi dengan perpisahan, karena munculnya masalah menimbulkan perasaan emosi yang biasanya di kedepankan adalah ego. Bukan perkara siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi sama-sama mengalah untuk kelanjutan hubungan yang lebih baik lagi.
__ADS_1