
Happy Reading 🌹🌹
Kenan dan yang lainnya tengah duduk di meja makan yang berisi lima orang termasuk asisten Bara.
"Kamu ingin pesan apa sayang?" Tanya Ken lembut dengan menyingkirkan anak rambut Alice.
Alice yang mendapatkan perlakuan manis dari Ken merasa tersipu malu sedangkan Bara merasa muak karena sejak tadi hanya Ken saja yang selalu memanggil Alice dengan sebutan sayang.
"A-aku ingin sop buntut dan orange jus saja." Ucap Alice gugup.
"Aku juga sama." Ucap Bara setelah Alice selesai menyebutkan pesanannya.
Ken menatap tidak suka ke arah Bara begitu jiga sebaliknya, seakan ada aliran listrik pada tatapan kedua pria tampan dan kaya tersebut.
Kenan tahu jika Bara menaruh hati kepada Alice, bagaimana bisa Kenan tahu tentu saja melalui Ferdy yang akan melaporkan semuanya kepada Ken jika dirinya bertanya.
Awalnya Ken tidak percaya karena mustahin seorang Bara mudah jatuh cinta kepada perempuan, itu bukan seperti Bara.
Lambat laun Ken menyadari jika apa yang dia pikirkan memang benar adanya, di saat Bara selalu menjemput Alice di halte bis bahkan saat Alice tidak ada di halte bis, Bara dengan sabar menunggu kedatangan Alice.
Mengingat alasan Ken kepada Alice karena Kakek Wijaya akan melewati halte bis, hanya bualan belaka.
Jika tahu Bara jatuh cinta kepada Alice, kenapa justru mendekatkan mereka? Ada hal lain dari pemikiran Kenan, Ken merasa jika Alice sosok wanita karir dan tidak akan betah diam diri di rumah. Selain itu, Ken juga akan lebih mudah membuat Bara mundur untuk mengubur perasaannya dalam-dalam kepada Alice.
"Aku juga samakan dengan pesanan istriku." Ucap Ken.
"Jika begitu kita semua sama saja pesanannya, benarkan Fer? Bagaimana menurutmu?" Tanya Jindi yang tersenyum mencari pendukung.
"Apa?"
Ferdy bingung dan melihat sekeliling, Ferdy menjadi pusat perhatian di meja makan siang ini.
"O... oh benar aku setuju." Kata Ferdy dengan menganggukkan kepalanya cepat karena tidak tahu apa yang tengah mereka bahas.
Bagaimana Ferdy tidak dapat fokus, karena Ferdy sudah di hadapkan pada menu makanan di restoran favoritnya. Ada menu baru yang ingin dia coba dan beberapa menu yang biasa dia pesan.
"Baik, jadi lima sop buntut dan lima orange jus ya Tuan?" Tanya pelayan dengan sopan.
"Apa! Ta-tapi, baiklah."
Ferdy terlihat kaget apa yang menjadi menu makan siangnya hari ini. Sop buntut? Orange jus? musnah sudah rawon dan sop tengkleng yang sudah mengitari kepalanya.
"Ada apa Fer? Kamu bisa pesan yang lain jika tidak suka." Ucap Alice dengan suara merdunya.
"A---***."
"Kenapa?" Tanya Alice khawatir.
"Tidak Nona, aku suka." Ucap Ferdy dengan tersenyum paksa.
Pelayan restoran undur diri setelah memastikan pesanan tamu mereka, Ferdy menoleh ke arah Jundi dengan kesal.
Terlihat wajah Jundi yang memohon maaf karena menyeret Ferdy dalam pusaran kematian.
Tidak membutuhkan waktu lama pesanan mereka telah tersaji di meja makan, terlihat Alice tersenyum lebar karena sudah lama tidak menyantap makanan favoritnya.
"Selamat makan." Ucap Alice yang mengambil kuah sop buntut.
Ferdy dan Jundi mengurungkan niatannya yang akan mulai makan karena melohat Ken dan Bara tengah menatap intens Alice dengan memegang sendok di tangan kanan mereka.
__ADS_1
Terlihat Alice dengan cekatan meracik kuah yang biasa untuknya, seakan sudah terhantut di dalam dunianya sendiri. Namun, itu tidak berlangsung lama karena suasana meja makan sangat tenang.
"Kalian tidak makan?" Tanya Alice pelan.
Tanpa berkata apapun Ken menggeaer mangkuk miliknya ke arah Alice dan di tukarkan dengan mangkuk milik Alice.
Bara hanya menatapnya begitu juga kedua asisten yang bagaikan manusia kasat mata di meja makan siang ini.
"I-itu punyaku." Ucap Alice lemas.
"Karena milikmu adalah milikku juga sayang." Jawab Ken dengan wajah datar.
Alice hanya mengerucutkan bibirnya, terpaksa Alice memakan sop buntut milik Kenan yang rasanya gurih karena seluruh sambal sudah dia masukkan kedalam sop buntut miliknya.
Semua mulai memakan makan siang mereka termasuk Kenan, Ken baru baru menyuapkan kuah sop buntut milik Alice langsung tersedak dan terbatuk-batuk.
"Anda tidak apa-apa Tuan/kamu tidak papa?"
Ucap Ferdy dan Alice bersamaan, terlihat wajah Kenan yang memerah dan masih terbatuk-batuk.
"Air." Ucap Ken.
Alice langsung mengambilkan orange jus dan di terima oleh Ken dengan cepat, di teguknya orange jus hingga tandas.
Ferdy menatap sop buntut yang ada di depan Kenan, terlihat beberapa kulit cabai yang mengapung pada kuahnya.
"Tuan...."
"Kamu masih tidak bisa memakan makanan pedas ya?" Tanya Bara dengan senyum remeh ke arah Kenan.
Alice kaget mendengar penuturan Bara dan menatap cepat ke arah Kenan. Ken yang merasa harga dirinya di injak oleh Bara segera berdehem beberapa kali untuk menetralisir rasa pedas yang seakan membakar tenggorokannya.
"Cih, aku tidak selemah itu." Jawab Ken sengit.
"Ken, makanlah milikmu ini." Alice berusaha menggeser mangkuk sup milik Kenan.
"Tidak sayang, aku tidak apa-apa ini tadi hanya terlalu lezat sehingga membuatku tersedak." Ken menghentikan gerakan Alice dan menggeser mangkui miliknya ke posisi semula.
"Kamu yakin?" Tanya Alice dengan wajah was was.
"Iya." Jawab Ken.
Ken kembali menyuapkan kuah sop buntut dengan level kepedasan maksimal tersebut ke dalam mulutnya, di bawah meja tangan kiri Ken mendengkram pahanya untuk menyalurkan rasa pedas yang membakar lidahnya.
Ferdy yang melihat Kenan memaksa memakan makanan pedas segera membuka toko apotik online untuk membelikan Ken obat diare agar setelah sampai di kantor Ken dapat langsung meminumnya.
Alice masih menatap Kenan karena wajah suaminya mulai merah padam, "Ken sudah jangan di teruskan." Larang Alice.
"Tidak sayang, lihat aku memakannya hampir habis. Ayo cepat selesaikan makan siangnya dan setelah ini kamu pulang ke mansion terlebih dahulu." Ucap Ken panjang lebar.
"Ada apa, waktu kerja masih lama." Kata Alice heran.
"Pokoknya pulang saja dulu, tunggu aku di rumah." Jawab Ken cepat.
Alice hanya mengangguk dan segera memakan sop buntut miliknya, sedangkan Bara melihat ke arah Kenan yang sudah hampir mati kepedasan.
"Kita lihat sampai kapan kamu akan berada di dalam kamar mandi Ken." Gumam Bara.
Ken sesekali memejamkan matanya seiring munculnya hawa panas dalam tubuhnya juga keringat yang mulai bermunculan membasahi dahi serta tubuh Ken yang terbalu jas hitam.
__ADS_1
Acara makan siang telah selesai dengan umoatan dan sumoah serapah Ken dalam hati karena menahan rasa pedas yang akan membunuhnya.
"Oh, biarkan Alice aku yang antar saja Ken. Kamu pasti memiliki urusan penting setelah ini bersama Ferdy." Tawar Bara kepada Kenan yang saat ini tengah berdiri di lobby perusahaan.
"Tidak perlu, Alice akan di antarkan oleh sopir saja." Tolak Kenan.
"Kamu yakin? Bukankah harus menunggu lama untuk sopir menjemput dan ... Alice akan tahu jika kamu keluar masuk toilet." Jawab Bara dengan kalimat terakir yang berbisik di telingan Kenan.
"Brengse*k!" Umpat Ken dalam hati.
"Benar tuan, biarkan Tuan Bara yang memgantar Nona Alice saat ini." Saran Ferdy dengan cepat.
Terlihat Alice berjalan cepat dari arah lift menuju ke empat pria yang masih berdiri di lobby perusahaan Wijaya.
"Alice, kamu pulang bersamaku dulu. Aku sudah mengatakannya kepada Kenan sembari kita membicarakan kerjasama." Kata Bara cepat sebelum Ken melarangnya kembali.
"Apa tidak masalah, aku selalu merepotkanmu Tuan Bara." Jawab Alice yang melihat ke arah Ken dan Bara secara bergantian
"Ti---ahh, benar kamu pulang dulu dengan Bara. Aku ada urusan sebentar tunggu aku di rumah."
Ucap Ken cepat dan dia berlari ke arah lift di susul oleh Ferdy di belakangnya, Alice menatap penuh tanya kepergian suaminya.
"Ayo Alice." Bara membuyarkan atensi Alice.
"O-oh, mari Tuan." Jawab Alice sopan.
"Jangan panggil Tuan, Bara saja karena aku sudah tahu identitasmu." Ucap Bara lembut dengan teraenyum ke arah Alice.
Alice hanya membalas ucapan Bara dengan tersenyum tipis. Ketiganya melangkah pergi meninggalkan perusahaan Wijaya siang ini.
Berbeda dengan Bara yang mulai gencar mendekati Alice, Ken tengah kesal di dalam ruangannya.
"Mana obatnya!" Seru Ken kepada Ferdy.
"Masih belum datang Tuan, pengantar obat masih di jalan." Jawab Ferdy dengan melihat laju kurir.
Terdengar suara perut yang bergejolak akibat makanan pedas yang di makan Kenan. Ken langsung berlari ke arah kamar mandi yang berada di kamar pribadi dalam ruangannya.
Di dalam sana Ken segera menuntaskan panggilan alam, sedangkan Ferdy segera berlari menuju lantai satu untuk membeli obat di apotik.
Resepsionis yang melihat Ferdy berlari keluar dari dalam lift berteriak memanggil.
"Tuan!" Seru resepsionis.
Ferdy menghentikan langkahnya, terlihat seorang resepsionis tergopoh-gopoh menghampiri dirinya.
"Paket obat untuk Anda." Ucap resepsionis.
Dengan cepat Ferdy menerimanya, "terima kasih." Ucap Ferdy yang langsung kembali berlari menuju lift mengantarkan obat untuk Kenan.
"Tuan! Obatnya sudah datang." Seru Ferdy mengetuk pintu kamar mandi dengan membawa segelas air putih serta obat yang ada di kantong plastik.
Terdengar air closed yang di siram didalam kamar mandi, tidak lama kemudian Ken membuka pintunya.
Terlihat wajah Ken yang pucat, keringat membasahi tubuhnya, rambut yang sudah acak-acakan dan hanya mengenakan celana kolor saja.
Ferdy segera membukanan obat untuk Kenan dan menyerahkannya, dengan sekali teguk Ken meminum semuanya.
Ken kembali lagi masuk ke dalam kamar mandi, mendengar suara panggilan alam Ken membuat Ferdy segera menyingkir.
__ADS_1
"Lebih baik aku menyiapkan pakaian baru untuknya dan datang satu jam lagi." Ucap Ferdy pelan dengan meninggalkan ruangan Kenan.
... 🐾🐾...