
Happy Reading
Mentari bersinar dengan terang tanpa terhalang awan, menghiasi langit biru siang ini. Hawa panas yang hantarkan sangatlah menyengat hingga kulit terasa terbakar meskipun baru keluar lima detik pertama.
Wanita dengan pakaian rumah sakit, tengah duduk termenung di depan jendela kamar rawatnya. Membuang pandangannya jauh kedepan, ke arah jalan raya yang sangat sibuk, dan juga orang-orang yang berlalu lalang. Pendengarannya menangkap suara riuh di luar rumah sakit, entah suara sirine maupun suara petugas medis.
Kedua tangannya memeluk perutnya yang sudah rata kembali, memeluk dengan lembut. Wajah yang tidak ada ekspresi tapi kedua matanya memancarkan kesedihan yang mendalam, hingga suara pintu terdengar terbuka.
Selena sudah tahu siapa yang tengah berjalan mendekat, dia enggan untuk menoleh maupun sekedar bertanya. Satu kotak jus jerus di letakkan di pinggir jendela.
Dari sudut matanya nampak pria jangkung yang sudah berpakaian rapi berdiri tegap di sebelah kanannya, tangan kiri di masukkan ke dalam saku celana sedangkan tangan lainnya meminum kopi yang masih nampak panas.
"Sayang." Panggil Josh yang masih menatap ke depan seperti yang Selena lakukan.
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir wanita cantik itu, diam seribu bahasa yang dia lakukan sejak sadar dan sepertinya akan terus seperti itu.
Josh mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana, sebuah lembaran foto yang dia dapatkan dari pengawal bayaran nya, Di letakkan di depan Selena yang masih enggan menatapnya, hingga bola mata Selena bergerak tertuju pada lembaran foto.
Kedua mata wanita itu sudah berkabut akibat air mata yang mengumpul di pelupuk matanya, karena terlalu banyak air mata yang keluar sehingga tidak sanggup menampungnya. Kristal bening luruh hingga membasahi kedua pipinya, pandangannya terkunci pada orang yang berada di dalam foto.
Josh masih setia menunggu Selena mengucapkan sesuatu, dirinya sangat frustasi karena Selena hanya diam lebih tepatnya mendiamkan dirinya, "Sayang bicaralah, aku lebih suka kamu memakiku daripada mendiamkanku seperti ini." Akhirnya Josh mengutarakan isi hatinya kepada Selena.
"Josh."
__ADS_1
Mendengar suara snag istri membuat Josh berbinar senang, Josh menoleh ke arah Selena sehingga pandangan keduanya bersibobrok. Melihat kedua mata wanita yang dia cintai sudah basah karena air mata membuat Josh tergerak untuk mengusapnya.
Gerakan tangan Josh terhenti di udara ketika Selena melanjutkan ucapannya, "Mari kita bercerai, lepaskan aku Josh. Kita tidak akan pernah bahagia jika pernikahan ini di teruskan, kita hanya akan saling menyakiti." Ucapnya dengan air mata yang kembali menetes.
Josh menarik kembali tangan yang ingin menyeka air mata Selena, mengepalkan kedua tangannya untuk menekan amarah yang siap meledak.
"Sampai aku mati, kita tidak akan pernah bercerai Selena." Ucap Josh tegas dan penuh penekanan.
"Jika begitu biarkan aku yang mati, Josh." Jawab Selena yang membuat Josh mencengkram kuat kedua pundak Selena.
Pandangan yang tajam dan penuh intimidasi dia tujukan kepada wanita yang membuatnya jatuh cinta dan menderita secara bersamaan.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati, Selena. Camkan itu!" Seru Josh yang melepas cengkramannya dengan kasar.
Memukul perasaan sesak yang menjalar di dalam harinya, tenggorokannya tercekat seakan suara tangisnya tak boleh keluar "Sakit! sungguh menyakitkan! Ayah ... hiks, jemput Lena." Racaunya yang masih tergugu.
Lena adalah panggilan Selena sejak kecil terutama keluarganya. Tidak ada yang tahu, karena ketika keluar mereka akan memanggil secara lengkap Selena.
Selena menangis dengan tersendat-sendat, menatap kembali lemabaran foto yang di berikan oleh Josh. Tangan kiri nya meremat penuh kebencian dan luka.
*
*
__ADS_1
Josh duduk sendiri di kursi taman dengan kedua tangan menopang kepanya, jemarinya meremas rambut hitam itu dengan erat. Dia sangat marah kepada dirinya yang selalu lepas kendali di depan Selena, bahkan Josh sangat tahu bagaimana penderitaan wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
"Mau sampai kapan kita seperti ini, Sel." Ucap nya sedih.
Josh menengadahkan kepalanya memandang langit yang cerah tanpa ada awan di sana, hanya warna biru muda dan matahari sebagai temannya.
"Bukankah matahri itu sepertimu, sayang. Bersinar terang tapi tidak tersentuh, dari jauh sudah terasa betapa panasnya apalagi mencoba mendekat. Mungkin, tubuh ini akan hancur sebelum mencapai nya." Ucap Josh seorang diri.
Ponsel Josh berdering membuat pria tampan itu mengusap ujung matanya yang mulai basah, terlihat nama pengawal bayarannya.
"Bagaimana?" Tanya Josh to the point.
"Dia tidak memiliki anak, Tuan. Dia hanya hidup bersama suami yang pemabuk dan suka berjudi. Saat ini mereka tengah bertengkar hebat, apakah saya perlu membantunya?" Lapor sang pengawal.
"Jangan muncul, awasi dan kumpulkan semua bukti untuk menjebloskan pria itu jika di butuhkan. Kita akan bergerak jika istriku menginginkannya." Jawab Josh dengan tegas.
"Baik Tuan."
Josh segera mematikan sambungan telfonnya begitu saja, menghirup udara sebanyak mungkin untuk mendinginkan hati yang sempat panas. Menolehkan kepalanya ke arah kamar sang istri.
Terlihat jendela yang masih terbuka dan sedikit tirai yang terkadang keluar dari dalam. "Kita selesaikan secepatnya sayang dan aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu." Ucap Josh tulus.
__ADS_1