
Happy Reading 🌹🌹
Kenan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Alice dengan erat, menghirup aroma tubuh Alice dengan dalam.
Kedua tangan ramping Alice membalas pelukan Ken dengan lembut, mengusap lembut punggung serta rambut Ken yang basah karena keringat.
"Perutmu sakit?" Tanya Alice pelan.
Ken mengangguk sebagai jawabannya, seperti anak kecil yang tengah sakit bersikap manja dengan ibunya.
Alice berjalan mundur hingga kedua kakinya membentur pinggir kasur membuatnya terjerembab ke belakang karena Ken tidak ingin melepaskan pelukannya sedikitpun.
"Mas, menyingkirlah kamu berat. Mas...."
Alice memanggil Ken agar bangkit dari atas tubuhnya, namun tidak ada jawaban dari Kenan yang masih tetap berada di atas tubuh istrinya.
Terlihat beberapa kali Alice mengguncang tubuh Ken namun tidak ada respon sekuat tenaga Alice menggulingkan tubuh Kenan ke arah kiri.
Dengan panik Alice langsung duduk dan menepuk kedua pipi Ken cepat, wajah Kenan benar-benar pucat bahkan suhu tubuhnya dingin.
"Ken! Mas! Bangun, Kenan jangan bercanda." Seru Alice yang masih berusaha membangunkan suaminya.
Alice yang tengah panik mencoba menyadarkan Kenan, bersamaan dengan datangnya Rasyah dan Ferdy.
"Ken/Tuan." Seru kedua pria tersebut.
Rasyah dan Ferdy berlari mendekati tempat tidur dimana Alice sudah menangis, "Ada apa dengan Kenan." Tanya Alice terisak.
"Tenanglah, aku akan memeriksanya." Jawab Rasyah tanpa melihat ke arah Alice.
Dengan cepat dan cekatan Dokter Rasyah membukan tas kerja dan mengambil peralatannya, Alice hanya duduk dengan lelehan air mata yang selalu dia seka.
Melihat pria yang baru saja mengajaknya mengarungi bahtera rumah tangga beberapa jam lalu kini tengah tidak sadarkan diri.
"Bagaimana, Dok?" Tanya Alice dengan khawatir.
"Tenang saja Nona, Ken hanya dehidrasi karena mengalami diare yang luar biasa. Lain waktu, hindarkan makanan pedas darinya." Jelas Rasyah pelan.
Alice mengangguk cepat, melihat Dokter Rasyah memasang jarum infus di punggung tangan Kenan.
"Aku akan datang besok lagi untuk mengganti cairan infusnya." Ucap Rasyah dengan wajah dingin tanpa melihat Alice.
"Baik, terima kasih dok." Jawab Alice sopan.
"Baiklah sudah selesai, aku sudah meresepkan obat untuknya." Kata Dokter Rasyah kepada Alice.
Alice menerima kertas obat yang di berikan oleh Dokter Rasyah, hingga Dokter Rasyah pergi dari kamar mereka.
__ADS_1
Ferdy melihat kesedihan di mata Alice merasa iba, "Nona, biar Saya belikan ke apotik." Ucap Ferdy menawarkan diri.
"Eh, emm... baiklah. Terima kasih Ferdy." Kata Alice yang sedikit kaget.
Ferdy hanya mengangguk setelah menerima kertas berisi resep obat untuk Kenan dan pergi meninggalkan sepasang suami istri.
Alice kembali mendudukkan dirinya di atas kasur, mengusap pelan jidat Kenan dengan lembut. Wajah yang biasa terlihat garang dengan tatapan tajam kini bagaikan bayi yang tidak berdaya.
*
*
*
Citra yang melihat Ferdy terburu-buru keluar dari dalam mobil dengan cepat mencegatnya.
"Mana obatnya." Pinta Citra.
Ferdy sedikit ragu untuk memberikannya karena sekarang yang lebih berhak merawat Ken adalah Alice istrinya.
"Sudah sini, lama banget." Ucap Citra sewot.
Segera Citra naik ke kamar Ken dengan membawa nampan berisi bubur dan air putih.
Ferdy menghela nafas pelan menatap punggung Citra menjauh menaiki anak tangga, "Huh, semoga tidak ada drama ibu tiri lagi." Ucap Ferdy pelan.
Ferdy menutuskan duduk di kursi ruang makan jika Ken atau Alice membutuhkannya, segera maid membuatkan minum begitu melihat asisten anak majikan mereka tidak pergi meninggalkan mansion Wijaya.
Citra masuk dengan membawa nampan berjalan menuju tempat tidur mereka, meletakkan nampan selembut mungkin agar tidak mengganggu Kenan.
"Kau apakan putraku." Ucap Citra dengan mendudukkan dirinya di samping kasur.
Alice merem*at handuk yang ada di dalam genggamannya, "Alice tidak melakukan apapun, Mas Kenan hanya sakit perut." Jawab Alice pelan.
Sudut bibir Citra sedikit terangkat mendengarkan panggilan Alice untuk putranya, kampungan. Pikir Citra.
"Jangan panggil putraku dengan panggilan kampungan seperti itu, aku membesarkannya dengan sendok emas dan memberikan yang terbaik didunia ini."
Alice menggigit bibirnya dalam, "Apa salahnya memanggil Mas, di Indonesia panggilan Mas sudah sangat wajar dalam rumah tangga." Jawab Alice menatap Citra.
"Aku tidak suka panggilan itu untuk anakku." Kata Citra tegas.
"Anakmu sudah menjadi suamiku, seharusnya Anda tidak ikut campur dalam rumah tangga kami. Selama Mas Kenan tidak mempermasalahkan panggilanbya, Alice tetap akan memanggilnya dengan Mas meskipun Anda wanita yang melahirkannya tidak menyukai panggilan itu." Alice berkata panjang lebar tidak kalah tegas dengan Citra.
Sorot mata Citra semakin membenci keberadaan Alice, setelah menikah dan mengambil keuntungan sekarang wanita muda yang ada di hadapannya mulai ingin memonopoli Kenan. Tidak akan Citra biarkan.
Mendengar suara ribut membuat kening Ken mengkerut dalam, perlahan kedua natanya terbuka membiasakan cahaya masuk kedalam korbea mata.
__ADS_1
Sedangkan Alice dan Citra masuh bersitegang dengan saling menatap dengan pikiran mereka masing-masing.
"Sayang."
Mendengar suara lirih dan lemas Ken membuat atensi kedua wanita itu kembali lagi, "Mas, apa yang kamu rasakan?" Tanya Alice lembut.
Ken hanya mengulas senyum menatap Alice, Citra beedehem untuk menetralkan rasa terkejutnya karena Kenan memanggil Alice dengan sebutan sayang.
"Mama bantu bangun, kamu harus makan dulu." Kata Citra dengan lembut.
"Sayang, bantu aku bangun." Kata Ken pada Alice seperti bayi yang sedang merajuk.
Alice mengangguk seraya tersenyum dan mulai membantu Ken untuk duduk dengan bersandar di kasur.
Citra yang melihatnya semakin mendengus kesal namun bagaimanapun tidak bisa meninggalkan mereka berdua saja saat ini.
"Mama sudah buatkan bubur untukmu seperti biasanya." Citra berkata lembut kepada Kenan.
Alice hanya diam sedangkan Ken melihat sendok berisi bubur yang masih menggantung di udara dan melihat ke arah Alice.
Alice sadar namun dirinya menghindar, "Mas, aku buatkan teh hangat tawar ke bawah dulu. Mas di sini dengan Mama dulu ya." Kata Alice yang mulai meringkut turun dari atas kasur.
Ken hanya mengangguk, Alice dengan cepat berjalan keluar dari dalam kamar. Bukan Alice tidak peka dengan apa yang di inginkan Kenan namun Alice tidak ingin menambah Ibu mertua semakin membencinya.
Ferdy yang melihat Alice turun langsung berdiri dari duduknya, "Apa ada sesuatu?" Tanya Ferdy cepat.
Alice menaikkan kedua alisnya, "Tidak." Jawab Alice singkat.
"Lalu kenapa Nona turun? Apa Nona di sakiti Nyinya Citra?" Tanya Ferdy kembali.
"Tidak, Mama sedang menyuapi Kenan bubur. Aku turun karena ingin membuatkan teh hangat untuk suamiku. Apa kamu mau?" Kata Alice panjang lebar.
Ferdy ber oh ria saja, "Tidak, aku sudah...."
Ferdy menoleh ke arah meja dan Alice mengikuti tujuan Ferdy terlihat satu cangkir kosong dan satu cangkir yang masih sedikit mengepul asapnya.
"Belum ada satu jam sudah dua cangkir kopi?" Tanya Alice yang kemudian tertawa pelan.
Ferdy menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, "Aku mengantuk sekali." Jawabnya.
"Kamu dapat tidur di kamar tamu, biarkan maid yang mengantarmu Fer." Kata Alice lembut.
Ferdy mengangguk saja, melihat ke belakang memandang punggung Alice yang tengah berbucara kepada seorang maid.
"Aku hanya khawatir." Gumam Ferdy dalam hati.
...🐾🐾...
__ADS_1
...Autor membawakan rekomendasi novel yang bagus untukmu, jangan lupa mampir 🌹🌹...